Pola Penyebaran Virus Korona di Kota Malang Makin Rumit

MALANG – Wali Kota Malang, Sutiaji menyebut model penyebaran virus corona (Covid-19) di Kota Malang sudah bukan local transmission. Namun, sudah sampai pada tahapan community transmission (transmisi komunitas).

“Jadi pergerakan orang itu sudah bukan dari luar kota, tapi pergerakan komunitas (dalam kota). Karena ini sudah bukan transmisi lokal lagi, tapi transmisi komunitas. Ini sudah berbahaya,” ujar Wali Kota Malang, Sutiaji.

Community Transmission artinya pola penyebaran virus tersebut tidak lagi dapat dipetakan ke dalam tingkat local transmission dan ke dalam sejumlah klaster. Mudahnya, penyebaran covid-19 sudah sangat rumit dan tidak bisa lagi dipilah-pilah antarklaster. 

Penularan virus antar orang pun bisa terjadi di tengah masyarakat Kota Malang tanpa klaster khusus yang jelas. Orang nomor satu di Kota Malang ini berkaca dari dua kasus yang sudah terjadi di Bumi Arema.

Pertama, kasus pasien positif yang kemudian dinyatakan meninggal di Kota Malang, Jumat, (22/5). Pria berusia 67 tahun ini diduga jadi penerima maupun transmitter penyebar virus dari dan atau ke komunitasnya.

“Jadi dia malamnya itu masih mengikuti ronda, sebelum dia dibawa ke rumah sakit. Setelah itu ada demam, batuk. Setelah diswab, dia positif dan kemudian ada kabar meninggal dunia itu,” tukas Sutiaji, ditemui di kawasan Pasar Besar Kota Malang, Sabtu, (23/5).

Kasus kedua yang dijadikan contoh adalah kasus balita positif yang kini sembuh. Balita ini diketahui hanya tak pernah keluar kota. Namun, dia tertular dan dinyatakan positif beberapa waktu lalu. Disinyalir, tertularnya balita ini diduga berasal dari lingkungan sekitar komunitas orang tuanya.

“Tapi karena bayi ini imunnya bagus, tentu dia sudah bisa sembuh sekarang. Hanya saja orang tua ini yang rawan, apalagi yang punya penyakit itu yang bahaya,” tambah pria asli Lamongan itu.

Konklusinya, sudah ada klaster komunitas di dalam Kota Malang dalam hal penyebaran covid-19. Di mana sebelumnya, tertularnya pasien covid-19 di Kota Malang hanyalah mereka yang punya riwayat perjalanan dari wilayah episentrum kota lain yang lebih dulu masuk zona merah.

“Artinya, kita tidak tahu sekarang posisi virus ini menempel di mana dan ke siapa. Jadi istilahnya sudah klaster komunitas. Bisa jadi di Kota Malang sudah masuk generasi kelima,” tandasnya.

Maka dari itu, pria berkacama itu tak henti-hentinya meminta masyarakat Kota Malang untuk patuh aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Ia ingin warga patuh aturan dengan memakai masker, cuci tangan dan menjaga jarak (physical distancing). Sutiaji bersikeras, pasalnya dia ingin PSBB Malang Raya hanya berjalan satu periode saja.

Pewarta: Elfran Vido
Foto: Elfran Vido
Editor: Indra M