alexametrics
25.1 C
Malang
Tuesday, 11 May 2021

Awas, 1 dari 3 Orang di Indonesia Berisiko Terkena Hipertensi

RADAR MALANG – Penyakit tekanan darah tinggi alias hipertensi masih menjadi momok bagi sebagian orang. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat, prevalensi penderita hipertensi pada orang dewasa atau di atas 18 tahun mencapai 34,1 persen. Yang artinya, 1 dari 3 orang dewasa di Indonesia menderita tekanan darah tinggi.

Hal ini kebanyakan disebabkan karena gaya hidup yang tidak di imbangi dengan gerak atau olahraga yang cukup. Sebagai catatan, hipertensi melibatkan banyak faktor penyebab dan perlu diatasi dengan serius. Ini karena hipertensi memiliki risiko komplikasi ke lima organ penting yakni otak (stroke), mata (retinopati hipertensi), jantung (penyakit jantung koroner sampai dengan gagal jantung), ginjal (gagal ginjal kronis), dan pembuluh darah perifer.

Seseorang disebut menderita hipertensi bila tekanan sistolik di atas 140 mmHg dan diastolik lebih dari 90 mmHg.

Dokter Spesialis Kesehatan Olahraga dr Michael Triangto Sp KO menjelaskan, berlatih fisik secara rutin dan teratur akan memperkuat jantung. Sehingga, organ vital bisa memompa darah dengan lebih mudah. Jika jantung tidak bekerja keras, tekanan pada pembuluh darah pun turun. Dengan demikian, tekanan darah akan lebih rendah dan terhindar dari risiko hipertensi.

Kementerian Kesehatan menganjurkan untuk melakukan latihan fisik rutin dan teratur 5x seminggu, dengan total 150 menit per minggu. Latihan fisik sebaiknya menggabungkan antara latihan kardio, kekuatan, dan fleksibilitas. Bagi yang sudah memiliki hipertensi, tentu ada rambu-rambu tertentu untuk melakukan latihan fisik, agar tetap aman.

”Mereka yang menderita hipertensi disarankan untuk melakukan latihan fisik jenis aerobik, dengan intensitas ringan sedang. Misalnya berjalan kaki, bersepeda santai, atau berenang,” ujar dr Michael.

Namun jangan berlebihan, melakukan latihan fisik berat justru bisa berbahaya bagi penderita hipertensi. ”Tekanan darah dan denyut jantung bisa tidak terkontrol, dan akibatnya bisa fatal,” imbuh dr Michael.

Menurutnya, penting untuk memonitor tekanan darah, denyut jantung, dan saturasi oksigen selama berolahraga. Tidak hanya dialami oleh orang tua, mereka yang berusia muda dan produktif pun bisa menderita hipertensi.

Sumber: Jawa Pos

RADAR MALANG – Penyakit tekanan darah tinggi alias hipertensi masih menjadi momok bagi sebagian orang. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat, prevalensi penderita hipertensi pada orang dewasa atau di atas 18 tahun mencapai 34,1 persen. Yang artinya, 1 dari 3 orang dewasa di Indonesia menderita tekanan darah tinggi.

Hal ini kebanyakan disebabkan karena gaya hidup yang tidak di imbangi dengan gerak atau olahraga yang cukup. Sebagai catatan, hipertensi melibatkan banyak faktor penyebab dan perlu diatasi dengan serius. Ini karena hipertensi memiliki risiko komplikasi ke lima organ penting yakni otak (stroke), mata (retinopati hipertensi), jantung (penyakit jantung koroner sampai dengan gagal jantung), ginjal (gagal ginjal kronis), dan pembuluh darah perifer.

Seseorang disebut menderita hipertensi bila tekanan sistolik di atas 140 mmHg dan diastolik lebih dari 90 mmHg.

Dokter Spesialis Kesehatan Olahraga dr Michael Triangto Sp KO menjelaskan, berlatih fisik secara rutin dan teratur akan memperkuat jantung. Sehingga, organ vital bisa memompa darah dengan lebih mudah. Jika jantung tidak bekerja keras, tekanan pada pembuluh darah pun turun. Dengan demikian, tekanan darah akan lebih rendah dan terhindar dari risiko hipertensi.

Kementerian Kesehatan menganjurkan untuk melakukan latihan fisik rutin dan teratur 5x seminggu, dengan total 150 menit per minggu. Latihan fisik sebaiknya menggabungkan antara latihan kardio, kekuatan, dan fleksibilitas. Bagi yang sudah memiliki hipertensi, tentu ada rambu-rambu tertentu untuk melakukan latihan fisik, agar tetap aman.

”Mereka yang menderita hipertensi disarankan untuk melakukan latihan fisik jenis aerobik, dengan intensitas ringan sedang. Misalnya berjalan kaki, bersepeda santai, atau berenang,” ujar dr Michael.

Namun jangan berlebihan, melakukan latihan fisik berat justru bisa berbahaya bagi penderita hipertensi. ”Tekanan darah dan denyut jantung bisa tidak terkontrol, dan akibatnya bisa fatal,” imbuh dr Michael.

Menurutnya, penting untuk memonitor tekanan darah, denyut jantung, dan saturasi oksigen selama berolahraga. Tidak hanya dialami oleh orang tua, mereka yang berusia muda dan produktif pun bisa menderita hipertensi.

Sumber: Jawa Pos

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru