alexametrics
29 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Waspada Skoliosis, Begini Cara Screening Sederhananya

Seiring dengan bertambahnya usia, semakin banyak juga keluhan fisik yang sering dirasakan. Misalnya, nyeri tengkuk, leher dan bahu, serta pinggang. Namun, sedikit yang menyadari bahwa rasa nyeri di banyak tempat bisa menjadi salah satu tanda skoliosis.

Skoliosis atau kelainan tulang belakang yang membentuk huruf C atau S dapat menyerang anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Menurut dr Michael Triangto SpKO, dokter spesialis kedokteran olahraga di Jakarta, variasi usia itu merasakan sakit yang berbeda-beda. Jadi, banyak yang tidak menyadari terkena skoliosis. ”Contohnya, anak-anak dan remaja yang aktivitasnya banyak dan fleksibilitas tinggi cenderung enggak merasakan nyeri karena asyik dengan kesibukannya,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Namun kondisi ini berbeda jika terjadi di usia dewasa. Tubuh akan mulai merasa kaku dan kurang aktif bergerak sehingga rasa sakit lebih bisa dirasakan. Namun, banyak yang menyalahartikan rasa nyeri di banyak tempat. Misalnya, nyeri tengkuk yang kerap dinilai sebagai tanda kolesterol darah tinggi, apalagi jika dibarengi nyeri bahu. Atau, nyeri pinggang yang kerap diduga terjadi jepitan saraf. ”Padahal, nyeri di banyak tempat itu ciri khas skoliosis,” ungkap Michael.

Dia menjelaskan, terdapat beberapa hal yang memicu timbulnya skoliosis. Salah satunya, mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tulang belakang patah. Lalu juga kondisi tulang yang miring. ”Tulang belakang itu seharusnya seperti apartemen di Surabaya. Dari bawah sampai atas kan lurus tuh,” katanya. Bahkan penyakit berat seperti kanker tulang pun bisa menyebabkan skoliosis.

Skoliosis juga bisa diturunkan tanpa disadari. Lantas, meski tidak pernah mengalami kecelakaan berat dan tidak memiliki turunan skoliosis, apakah bisa berisiko skoliosis? ”Bisa karena melakukan gerakan-gerakan tidak simetris dalam jangka waktu panjang,” jelas Michael.

Dia mencontohkan, kondisi ini bisa terjadi pada seorang atlet dengan dominasi salah satu sisi anggota tubuh. Misalnya, bulu tangkis, golf, dan tenis. ”Mereka berlatih sejak kecil sampai usia emas 30 tahunan. Ototnya menjadi tidak seimbang,” terangnya.

Kebiasaan dan postur tubuh yang buruk juga berpengaruh. Misalnya, posisi mengetik di laptop dengan satu kaki diangkat sebelah sehingga tubuh tidak simetris. Atau, kebiasaan membawa tas berat di salah satu sisi saja. ’’Kalau sekali-dua kali, enggak bakalan skoliosis sih. Tapi, kalau dilakukan tanpa sadar bertahun-tahun, ya berbahaya,’’ tegas Michael.

Jika ingin memastikan skoliosis atau tidak, Michael menyarankan untuk pemeriksaan X-ray dengan berbagai posisi. Skoliosis golongan berat bisa ditangani dokter ortopedi dengan operasi. Skoliosis tergolong berat jika sudut lengkungnya lebih dari 40 derajat.

Namun, untuk penanganan skoliosis tahap ringan dan sedang, bisa dilakukan sport therapy dengan pengawasan kelompok dokter spesialis kedokteran olahraga. Skoliosis dikatakan ringan jika sudut lengkungannya kurang dari 10 derajat dan sedang jika lengkungannya mencapai 10–40 derajat. Sport therapy bisa membantu skoliosis tidak bertambah parah pada beberapa kasus tertentu. Misalnya, usia pasien terlalu muda untuk dioperasi.

Michael pernah menerima pasien 15 tahun dengan skoliosis berat sebesar 60 derajat. Orang tua pasien ingin anaknya dioperasi saat usia 18 tahun agar pertumbuhannya lebih optimal. Sembari menunggu, pasien menjalani sport therapy. ”Saat operasi, otot-ototnya sudah lebih kuat dan kondisi tidak bertambah parah,” tuturnya.

Ada bebeberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan skoliosis pada tulang belakang:

  1. Siapkan kamera ponsel. Lalu, arahkan kamera pada frame pintu. Sesuaikan garis frame pintu agar tampak lurus di kamera. Dengan begitu, kita bisa menilai jika hasil foto nanti benar-benar lurus.
  2. Lepas pakaian bagian atas. Lalu, berdirilah di depan kamera dengan memperlihatkan postur tubuh secara jelas. Sesuaikan dengan garis frame pintu.
  3. Lihat hasil fotonya. Jika leher terlihat miring, bahu tinggi sebelah, pinggul tampak menonjol sebelah, atau terdapat tonjolan belikat yang lebih jelas, sebaiknya waspada. Untuk diagnosis lebih pasti, lanjutkan dengan X-ray.

Sumber: Jawa Pos

Seiring dengan bertambahnya usia, semakin banyak juga keluhan fisik yang sering dirasakan. Misalnya, nyeri tengkuk, leher dan bahu, serta pinggang. Namun, sedikit yang menyadari bahwa rasa nyeri di banyak tempat bisa menjadi salah satu tanda skoliosis.

Skoliosis atau kelainan tulang belakang yang membentuk huruf C atau S dapat menyerang anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Menurut dr Michael Triangto SpKO, dokter spesialis kedokteran olahraga di Jakarta, variasi usia itu merasakan sakit yang berbeda-beda. Jadi, banyak yang tidak menyadari terkena skoliosis. ”Contohnya, anak-anak dan remaja yang aktivitasnya banyak dan fleksibilitas tinggi cenderung enggak merasakan nyeri karena asyik dengan kesibukannya,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Namun kondisi ini berbeda jika terjadi di usia dewasa. Tubuh akan mulai merasa kaku dan kurang aktif bergerak sehingga rasa sakit lebih bisa dirasakan. Namun, banyak yang menyalahartikan rasa nyeri di banyak tempat. Misalnya, nyeri tengkuk yang kerap dinilai sebagai tanda kolesterol darah tinggi, apalagi jika dibarengi nyeri bahu. Atau, nyeri pinggang yang kerap diduga terjadi jepitan saraf. ”Padahal, nyeri di banyak tempat itu ciri khas skoliosis,” ungkap Michael.

Dia menjelaskan, terdapat beberapa hal yang memicu timbulnya skoliosis. Salah satunya, mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tulang belakang patah. Lalu juga kondisi tulang yang miring. ”Tulang belakang itu seharusnya seperti apartemen di Surabaya. Dari bawah sampai atas kan lurus tuh,” katanya. Bahkan penyakit berat seperti kanker tulang pun bisa menyebabkan skoliosis.

Skoliosis juga bisa diturunkan tanpa disadari. Lantas, meski tidak pernah mengalami kecelakaan berat dan tidak memiliki turunan skoliosis, apakah bisa berisiko skoliosis? ”Bisa karena melakukan gerakan-gerakan tidak simetris dalam jangka waktu panjang,” jelas Michael.

Dia mencontohkan, kondisi ini bisa terjadi pada seorang atlet dengan dominasi salah satu sisi anggota tubuh. Misalnya, bulu tangkis, golf, dan tenis. ”Mereka berlatih sejak kecil sampai usia emas 30 tahunan. Ototnya menjadi tidak seimbang,” terangnya.

Kebiasaan dan postur tubuh yang buruk juga berpengaruh. Misalnya, posisi mengetik di laptop dengan satu kaki diangkat sebelah sehingga tubuh tidak simetris. Atau, kebiasaan membawa tas berat di salah satu sisi saja. ’’Kalau sekali-dua kali, enggak bakalan skoliosis sih. Tapi, kalau dilakukan tanpa sadar bertahun-tahun, ya berbahaya,’’ tegas Michael.

Jika ingin memastikan skoliosis atau tidak, Michael menyarankan untuk pemeriksaan X-ray dengan berbagai posisi. Skoliosis golongan berat bisa ditangani dokter ortopedi dengan operasi. Skoliosis tergolong berat jika sudut lengkungnya lebih dari 40 derajat.

Namun, untuk penanganan skoliosis tahap ringan dan sedang, bisa dilakukan sport therapy dengan pengawasan kelompok dokter spesialis kedokteran olahraga. Skoliosis dikatakan ringan jika sudut lengkungannya kurang dari 10 derajat dan sedang jika lengkungannya mencapai 10–40 derajat. Sport therapy bisa membantu skoliosis tidak bertambah parah pada beberapa kasus tertentu. Misalnya, usia pasien terlalu muda untuk dioperasi.

Michael pernah menerima pasien 15 tahun dengan skoliosis berat sebesar 60 derajat. Orang tua pasien ingin anaknya dioperasi saat usia 18 tahun agar pertumbuhannya lebih optimal. Sembari menunggu, pasien menjalani sport therapy. ”Saat operasi, otot-ototnya sudah lebih kuat dan kondisi tidak bertambah parah,” tuturnya.

Ada bebeberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan skoliosis pada tulang belakang:

  1. Siapkan kamera ponsel. Lalu, arahkan kamera pada frame pintu. Sesuaikan garis frame pintu agar tampak lurus di kamera. Dengan begitu, kita bisa menilai jika hasil foto nanti benar-benar lurus.
  2. Lepas pakaian bagian atas. Lalu, berdirilah di depan kamera dengan memperlihatkan postur tubuh secara jelas. Sesuaikan dengan garis frame pintu.
  3. Lihat hasil fotonya. Jika leher terlihat miring, bahu tinggi sebelah, pinggul tampak menonjol sebelah, atau terdapat tonjolan belikat yang lebih jelas, sebaiknya waspada. Untuk diagnosis lebih pasti, lanjutkan dengan X-ray.

Sumber: Jawa Pos

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru