alexametrics
24.5 C
Malang
Thursday, 30 June 2022

Sembilan Hari Napak Tilas Spiritual ke Mesir, Palestina, dan Yordania (11): 2,5 Jam di Imigrasi Israel, Paspor Dicek Empat Kali

Dari Mesir, kami menyeberang ke Palestina. Tapi, mau tidak mau, harus melewati imigrasi Israel yang super ketat pemeriksaannya.
***

Baru dua makam Nabi dan Rasul, dari 25 Nabi dan Rasul yang wajib diketahui, yang kami ziarahi selama berada di Mesir. Yakni makam Nabi Harun Alaihissalam (AS) dan Nabi Saleh AS. Keduanya berada di kawasan Semenanjung Sinai. Meski demikian, ada versi lain soal makam keduanya. Ada juga yang meyakini, makam Nabi Harun AS terdapat di atas Gunung Hor, dekat lembah Petra di Yordania. Nabi Saleh AS ada yang meyakini makamnya juga terdapat di Yaman.
Jadi, memang ada beberapa versi soal makam Nabi Harun AS dan Nabi Saleh AS. Bagi saya, tidak jadi soal. Yang terpenting, sudah berniat untuk menziarahi makam kedua Nabi dan Rasul itu. Sekaligus menapaktilasi jejak sejarahnya yang patut dijadikan teladan.
Dari Nabi Harun AS kita bisa belajar bagaimana seharusnya bersaudara kandung itu rukun dan sejalan dalam mensyiarkan agama Allah SWT. Nabi Harun AS adalah saudara kandung Nabi Musa AS. Keduanya sama-sama berdakwah melawan kezaliman Firaun.
Sedangkan dari Nabi Saleh AS, kita bisa belajar tentang bagaimana berdakwah dengan kelembutan. Ketika mengajak kaumnya, Tsamud, untuk menyembah Allah SWT, kalimat-kalimat Nabi Saleh AS disampaikan dengan bahasa yang indah dan penuh keluwesan. Misalnya yang terdapat di dalam Alquran Surat Hud ayat 61: ”Wahai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada bagi kalian Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian pemakmurnya”.
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Alquran yang menceritakan tentang kisah Nabi Saleh AS dengan kaumnya, Tsamud.
Hanya saja, kesan saya ketika berziarah di makam Nabi Saleh AS dan Nabi Harun AS itu, kelihatan kurang terawat dengan baik. Bagi saya ini agak menyedihkan. Apalagi yang berziarah di sana juga tampak sepi. Rupanya, pemerintah Mesir kurang mempunyai kepedulian dalam menjaga dan merawat makam Nabi dan Rasul itu. Bisa jadi, mungkin karena saking banyaknya di Mesir makam para Nabi dan Rasul.
Dari lokasi makam Nabi Saleh AS, kami lantas melanjutkan perjalanan menuju ke Taba. Ini adalah kawasan perbatasan antara Mesir dan Israel. Rute kami selanjutnya adalah menuju ke Palestina. Utamanya Masjid Al Aqsho atau Baitul Maqdis. Inilah sebenarnya tujuan utama saya ikut tour ini.
Perjalanan menuju ke Taba dari Semenanjung Sinai, sempat membuat saya waswas. Beberapa kali saya membaca di berita, di kawasan itu, terutama dekat dengan Taba sering dijadikan lokasi pengeboman. Bahkan, pernah terjadi satu bus berisi turis asing dibom pada 2014 lalu, hingga menyebabkan empat meninggal. Itu terjadi ketika kondisi Mesir ricuh, buntut dari penggulingan Presiden Mesir Hosni Mubarak. Selama perjalanan, beberapa kali KH Muzakky, yang mendampingi kami, mengajak para anggota rombongan berdoa untuk keselamatan.
Dari tempat makam Nabi Saleh AS butuh waktu sekitar 2,5 jam menuju ke Kota Taba. Jaraknya sekitar 180-an kilometer. Tiba di Kota Taba, hari sudah menjelang malam. Sudah lewati waktu Magrib. Di Kota Taba itu, kami menginap semalam. Selanjutnya besoknya baru menyeberang ke Israel dan Palestina.
Di Kota Taba hanya ada satu hotel untuk diinapi. Umumnya bagi turis yang mau menyeberang ke Israel atau Palestina. Yakni Taba Hotel and Nelson Village. Karena ini adalah satu-satunya hotel yang paling dekat dengan perbatasan Taba-Israel, maka hotel itu lokasinya terpencil. Di tengah-tengah perbukitan. Dekat dengan Laut Merah. Dan juga berbatasan dengan Yordania. Malam itu, kami menginap di hotel tersebut.
Keesokan harinya, kami sudah bersiap-siap di lobi hotel. Sambil menunggu anggota lain yang satu rombongan, saya berjalan-jalan di depan hotel. Pemandangannya indah. Di depan hotel tampak kawasan pegunungan yang penuh dengan batu-batuan. Dari jauh berwarna kuning, disaput putihnya kabut. Di samping hotel, tampak birunya Laut Merah.
Pukul 08.00, kami semua sudah kumpul. Siap untuk melanjutkan perjalanan, melintasi perbatasan Mesir-Israel. Pukul 08.15 kami pun berangkat. Kali ini, kami harus berjalan kaki sekitar 300 meter menuju ke perbatasan. Agak repot, karena kami berjalan kaki sambil menenteng koper masing-masing.
Sebelumnya kami sudah diwanti-wanti oleh Khadafi, owner Manaya Indonesia yang membawa rombongan kami, untuk tidak memotret atau mengambil video selama berada di imigrasi Israel. Juga harus ingat dengan isian form permohonan visa yang sudah diisi sebelum berangkat. Karena sewaktu-waktu akan ditanyakan lagi. Misalnya, di isian form sebelumnya untuk pengajuan visa ke Israel harus diisi nama kakek. ”Biasanya waktu di imigrasi nanti ditanya nama kakek itu,” kata Khadafi. Ketika saya tanya mengapa nama kakek, Khadafi mengaku tidak tahu persis. ”Mungkin untuk ngecek konsistensi datanya saja,” ujarnya mengira-ngira.

TERPAKSA: Penulis berhenti sejenak di Tepian Laut Merah di Kota Eilat, Israel, setelah 2,5 jam diperiksa imigrasi.

Sebelum masuk ke imigrasi Israel, kami lebih dulu masuk ke imigrasi Mesir. Di sini, kami hanya dicek paspor. Seperti layaknya pengecekan di saat akan meninggalkan suatu negara. Kami diperiksa tak lama. Hanya ada dua petugas yang pagi itu memeriksa satu per satu paspor kami. Dan kebetulan hari itu juga belum banyak yang masuk ke imigrasi Mesir. Keluar dari imigrasi Mesir, kami berjalan kaki menuju ke imigrasi Israel. Dari jauh saya menangkap sebuah papan bertuliskan: Welcome to Israel.
Masuk ke imigrasi Israel, kami melewati sebuah ruangan. Dan untuk masuk ke ruangan itu harus satu per satu. Di ruangan ini, paspor kami diperiksa satu per satu, dan barang bawaan kami, termasuk koper juga dicek satu per satu. Dan koper harus dibawa masing-masing. ”Karena isinya bisa dicek satu per satu,” ujar Khadafi.
Petugas pertama di imigrasi Israel yang kami jumpai itu wajahnya tegang. Dia seorang perempuan. Masih muda. Kira-kira berumur 27-an tahun. Badannya tegap. Tatapan matanya tajam kepada satu per satu rombongan kami. Seakan sedang mengamati kami dengan penuh selidik. Dia ditemani seorang pria anggota tentara, lengkap dengan senjata laras panjangnya.
Selanjutnya kami berjalan menuju ke pemeriksaan XRay. Di sini semua barang bawaan kami kembali diperiksa. Dan di sini, kembali paspor saya dicek lagi. Saya lihat alat yang digunakan untuk memeriksa mirip MRI di rumah sakit.
Di tempat ini, barang bawaan dan juga setiap orang dipindai. Cukup lama kami mengantre di tempat ini. Saya melihat di tempat ini ada lebih banyak tentara. Kira-kira ada 7-10 orang. Ada yang berseragam doreng, ada juga yang berpakaian preman. Tapi sama-sama menenteng senjata laras panjang. Dan wajah mereka nggak ada yang ramah. Semuanya tegang. Nggak ada satu pun yang menyunggingkan senyumnya kepada kami.
Petugas yang melakukan pemindaian ada tiga orang. Semuanya perempuan. Dan di tempat ini, petugas imigrasi Israel mengambil paspor dari kami secara acak untuk ditahan sementara. Kebetulan, paspor saya yang ditahan. Yang lain diberikan, tapi paspor saya ditahan dulu. Lalu saya diberikan semacam kartu. Sekitar 15 menit, paspor kami diberikan lagi.
Keluar dari ruangan pemindaian sudah lancar? Belum. Karena kami harus melewati bilik pemeriksaan. Ada dua bilik. Di sinilah kami ditanya satu per satu. Dan di tempat ini, kami ngantrenya cukup lama. Di depan saya, ada seorang bapak, salah satu rombongan kami cukup lama ditanya. Hampir setengah jam. Saya sempat mendengar, si bapak itu menyebutkan berkali-kali nama orang tuanya. Saya melihat, Khadafi sibuk riwa-riwi mendampingi si bapak itu. ”Ada isian form dokumen yang kurang lengkap,” kata Khadafi. Tapi untunglah, bisa diatasi oleh Khadafi.
Ketika giliran saya yang ditanya, alhamdulillah cukup lancar. Saya hanya ditanya dari mana, sejak kapan bepergian, dan mau ke mana saja selama di Israel. Semuanya saya jawab dengan lancar, dan tidak sampai 5 menit saya sudah selesai. Saya tak ditanya nama kakek. Juga tidak ditanya nama orang tua.
Keluar dari bilik pemeriksaan, kami lega. Karena selanjutnya, kami menerima visa Israel. Karena Israel tak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia, maka visa itu tidak distempel di paspor kami. Petugas imigrasi Israel cukup memberi saya secarik kertas seperti kupon. Setelah itu saya terima. Selanjutnya adalah pos terakhir. Di sini, visa Israel kami dicek lagi. Dan keluar dari pos itulah, kami merasa lega.
Praktis, mulai masuk imigrasi Israel sampai keluar dari imigrasi Israel, butuh waktu sekitar 2,5 jam. Begitu ketatnya pemeriksaan dan pengecekan di imigrasi Israel. Paspor saya sampai diperiksa empat kali. Saya kalau tidak punya niat ke Masjidil Aqsho, sebenarnya tak sudi berurusan dengan Israel. Dan memang tidak ada cara lain untuk bisa mengunjungi Al Aqsho, kecuali harus mengurus visa Israel. Karena Al Aqsho saat ini memang berada dalam wilayah kekuasaan Israel.
Keluar dari imigrasi Israel, kami disambut dengan pemandangan indah Laut Merah, dan juga pegunungan. Kami disambut guide lokal yang mendampingi kami selama di Israel dan Palestina. Dia hanya menyebut nama panggilannya saja, yakni Nazzi. Masih muda. Perawakannya seperti kebanyakan perawakan bangsa Arab, tinggi besar. Dan berewokan.
Keluar dari imigrasi Israel, saya berada di Kota Pantai, Eilat. ”Kota ini berada di bagian paling selatan Israel,” kata Nazzi. ”Ada sekitar 45 ribu orang Yahudi tinggal di kota ini,” tambahnya.
Kota Eilat berbatasan langsung dengan Desa Taba, Mesir. Juga berbatasan dengan Yordania di bagian Timur, serta Arab Saudi di bagian Selatan arah Timur. Bagi Israel, posisi Eilat sangat penting. Baik dalam skala politik maupun ekonomi. Kota ini adalah kota yang berada di ujung utara Laut Merah. Dengan posisi strategis itu menjadikan Kota Eilat merupakan pelabuhan penting bagi Israel untuk akses keluar masuk aktivitas perdagangan dan transportasi dari Laut Merah. Karena itu Eilat adalah kota pelabuhan, kota industri, kota perdagangan, dan kota pariwisata yang sibuk di bagian Selatan Israel. ”Dulu, Kota Eilat pernah menjadi wilayahnya Mesir,” lanjut Nazzi. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Dari Mesir, kami menyeberang ke Palestina. Tapi, mau tidak mau, harus melewati imigrasi Israel yang super ketat pemeriksaannya.
***

Baru dua makam Nabi dan Rasul, dari 25 Nabi dan Rasul yang wajib diketahui, yang kami ziarahi selama berada di Mesir. Yakni makam Nabi Harun Alaihissalam (AS) dan Nabi Saleh AS. Keduanya berada di kawasan Semenanjung Sinai. Meski demikian, ada versi lain soal makam keduanya. Ada juga yang meyakini, makam Nabi Harun AS terdapat di atas Gunung Hor, dekat lembah Petra di Yordania. Nabi Saleh AS ada yang meyakini makamnya juga terdapat di Yaman.
Jadi, memang ada beberapa versi soal makam Nabi Harun AS dan Nabi Saleh AS. Bagi saya, tidak jadi soal. Yang terpenting, sudah berniat untuk menziarahi makam kedua Nabi dan Rasul itu. Sekaligus menapaktilasi jejak sejarahnya yang patut dijadikan teladan.
Dari Nabi Harun AS kita bisa belajar bagaimana seharusnya bersaudara kandung itu rukun dan sejalan dalam mensyiarkan agama Allah SWT. Nabi Harun AS adalah saudara kandung Nabi Musa AS. Keduanya sama-sama berdakwah melawan kezaliman Firaun.
Sedangkan dari Nabi Saleh AS, kita bisa belajar tentang bagaimana berdakwah dengan kelembutan. Ketika mengajak kaumnya, Tsamud, untuk menyembah Allah SWT, kalimat-kalimat Nabi Saleh AS disampaikan dengan bahasa yang indah dan penuh keluwesan. Misalnya yang terdapat di dalam Alquran Surat Hud ayat 61: ”Wahai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada bagi kalian Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian pemakmurnya”.
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Alquran yang menceritakan tentang kisah Nabi Saleh AS dengan kaumnya, Tsamud.
Hanya saja, kesan saya ketika berziarah di makam Nabi Saleh AS dan Nabi Harun AS itu, kelihatan kurang terawat dengan baik. Bagi saya ini agak menyedihkan. Apalagi yang berziarah di sana juga tampak sepi. Rupanya, pemerintah Mesir kurang mempunyai kepedulian dalam menjaga dan merawat makam Nabi dan Rasul itu. Bisa jadi, mungkin karena saking banyaknya di Mesir makam para Nabi dan Rasul.
Dari lokasi makam Nabi Saleh AS, kami lantas melanjutkan perjalanan menuju ke Taba. Ini adalah kawasan perbatasan antara Mesir dan Israel. Rute kami selanjutnya adalah menuju ke Palestina. Utamanya Masjid Al Aqsho atau Baitul Maqdis. Inilah sebenarnya tujuan utama saya ikut tour ini.
Perjalanan menuju ke Taba dari Semenanjung Sinai, sempat membuat saya waswas. Beberapa kali saya membaca di berita, di kawasan itu, terutama dekat dengan Taba sering dijadikan lokasi pengeboman. Bahkan, pernah terjadi satu bus berisi turis asing dibom pada 2014 lalu, hingga menyebabkan empat meninggal. Itu terjadi ketika kondisi Mesir ricuh, buntut dari penggulingan Presiden Mesir Hosni Mubarak. Selama perjalanan, beberapa kali KH Muzakky, yang mendampingi kami, mengajak para anggota rombongan berdoa untuk keselamatan.
Dari tempat makam Nabi Saleh AS butuh waktu sekitar 2,5 jam menuju ke Kota Taba. Jaraknya sekitar 180-an kilometer. Tiba di Kota Taba, hari sudah menjelang malam. Sudah lewati waktu Magrib. Di Kota Taba itu, kami menginap semalam. Selanjutnya besoknya baru menyeberang ke Israel dan Palestina.
Di Kota Taba hanya ada satu hotel untuk diinapi. Umumnya bagi turis yang mau menyeberang ke Israel atau Palestina. Yakni Taba Hotel and Nelson Village. Karena ini adalah satu-satunya hotel yang paling dekat dengan perbatasan Taba-Israel, maka hotel itu lokasinya terpencil. Di tengah-tengah perbukitan. Dekat dengan Laut Merah. Dan juga berbatasan dengan Yordania. Malam itu, kami menginap di hotel tersebut.
Keesokan harinya, kami sudah bersiap-siap di lobi hotel. Sambil menunggu anggota lain yang satu rombongan, saya berjalan-jalan di depan hotel. Pemandangannya indah. Di depan hotel tampak kawasan pegunungan yang penuh dengan batu-batuan. Dari jauh berwarna kuning, disaput putihnya kabut. Di samping hotel, tampak birunya Laut Merah.
Pukul 08.00, kami semua sudah kumpul. Siap untuk melanjutkan perjalanan, melintasi perbatasan Mesir-Israel. Pukul 08.15 kami pun berangkat. Kali ini, kami harus berjalan kaki sekitar 300 meter menuju ke perbatasan. Agak repot, karena kami berjalan kaki sambil menenteng koper masing-masing.
Sebelumnya kami sudah diwanti-wanti oleh Khadafi, owner Manaya Indonesia yang membawa rombongan kami, untuk tidak memotret atau mengambil video selama berada di imigrasi Israel. Juga harus ingat dengan isian form permohonan visa yang sudah diisi sebelum berangkat. Karena sewaktu-waktu akan ditanyakan lagi. Misalnya, di isian form sebelumnya untuk pengajuan visa ke Israel harus diisi nama kakek. ”Biasanya waktu di imigrasi nanti ditanya nama kakek itu,” kata Khadafi. Ketika saya tanya mengapa nama kakek, Khadafi mengaku tidak tahu persis. ”Mungkin untuk ngecek konsistensi datanya saja,” ujarnya mengira-ngira.

TERPAKSA: Penulis berhenti sejenak di Tepian Laut Merah di Kota Eilat, Israel, setelah 2,5 jam diperiksa imigrasi.

Sebelum masuk ke imigrasi Israel, kami lebih dulu masuk ke imigrasi Mesir. Di sini, kami hanya dicek paspor. Seperti layaknya pengecekan di saat akan meninggalkan suatu negara. Kami diperiksa tak lama. Hanya ada dua petugas yang pagi itu memeriksa satu per satu paspor kami. Dan kebetulan hari itu juga belum banyak yang masuk ke imigrasi Mesir. Keluar dari imigrasi Mesir, kami berjalan kaki menuju ke imigrasi Israel. Dari jauh saya menangkap sebuah papan bertuliskan: Welcome to Israel.
Masuk ke imigrasi Israel, kami melewati sebuah ruangan. Dan untuk masuk ke ruangan itu harus satu per satu. Di ruangan ini, paspor kami diperiksa satu per satu, dan barang bawaan kami, termasuk koper juga dicek satu per satu. Dan koper harus dibawa masing-masing. ”Karena isinya bisa dicek satu per satu,” ujar Khadafi.
Petugas pertama di imigrasi Israel yang kami jumpai itu wajahnya tegang. Dia seorang perempuan. Masih muda. Kira-kira berumur 27-an tahun. Badannya tegap. Tatapan matanya tajam kepada satu per satu rombongan kami. Seakan sedang mengamati kami dengan penuh selidik. Dia ditemani seorang pria anggota tentara, lengkap dengan senjata laras panjangnya.
Selanjutnya kami berjalan menuju ke pemeriksaan XRay. Di sini semua barang bawaan kami kembali diperiksa. Dan di sini, kembali paspor saya dicek lagi. Saya lihat alat yang digunakan untuk memeriksa mirip MRI di rumah sakit.
Di tempat ini, barang bawaan dan juga setiap orang dipindai. Cukup lama kami mengantre di tempat ini. Saya melihat di tempat ini ada lebih banyak tentara. Kira-kira ada 7-10 orang. Ada yang berseragam doreng, ada juga yang berpakaian preman. Tapi sama-sama menenteng senjata laras panjang. Dan wajah mereka nggak ada yang ramah. Semuanya tegang. Nggak ada satu pun yang menyunggingkan senyumnya kepada kami.
Petugas yang melakukan pemindaian ada tiga orang. Semuanya perempuan. Dan di tempat ini, petugas imigrasi Israel mengambil paspor dari kami secara acak untuk ditahan sementara. Kebetulan, paspor saya yang ditahan. Yang lain diberikan, tapi paspor saya ditahan dulu. Lalu saya diberikan semacam kartu. Sekitar 15 menit, paspor kami diberikan lagi.
Keluar dari ruangan pemindaian sudah lancar? Belum. Karena kami harus melewati bilik pemeriksaan. Ada dua bilik. Di sinilah kami ditanya satu per satu. Dan di tempat ini, kami ngantrenya cukup lama. Di depan saya, ada seorang bapak, salah satu rombongan kami cukup lama ditanya. Hampir setengah jam. Saya sempat mendengar, si bapak itu menyebutkan berkali-kali nama orang tuanya. Saya melihat, Khadafi sibuk riwa-riwi mendampingi si bapak itu. ”Ada isian form dokumen yang kurang lengkap,” kata Khadafi. Tapi untunglah, bisa diatasi oleh Khadafi.
Ketika giliran saya yang ditanya, alhamdulillah cukup lancar. Saya hanya ditanya dari mana, sejak kapan bepergian, dan mau ke mana saja selama di Israel. Semuanya saya jawab dengan lancar, dan tidak sampai 5 menit saya sudah selesai. Saya tak ditanya nama kakek. Juga tidak ditanya nama orang tua.
Keluar dari bilik pemeriksaan, kami lega. Karena selanjutnya, kami menerima visa Israel. Karena Israel tak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia, maka visa itu tidak distempel di paspor kami. Petugas imigrasi Israel cukup memberi saya secarik kertas seperti kupon. Setelah itu saya terima. Selanjutnya adalah pos terakhir. Di sini, visa Israel kami dicek lagi. Dan keluar dari pos itulah, kami merasa lega.
Praktis, mulai masuk imigrasi Israel sampai keluar dari imigrasi Israel, butuh waktu sekitar 2,5 jam. Begitu ketatnya pemeriksaan dan pengecekan di imigrasi Israel. Paspor saya sampai diperiksa empat kali. Saya kalau tidak punya niat ke Masjidil Aqsho, sebenarnya tak sudi berurusan dengan Israel. Dan memang tidak ada cara lain untuk bisa mengunjungi Al Aqsho, kecuali harus mengurus visa Israel. Karena Al Aqsho saat ini memang berada dalam wilayah kekuasaan Israel.
Keluar dari imigrasi Israel, kami disambut dengan pemandangan indah Laut Merah, dan juga pegunungan. Kami disambut guide lokal yang mendampingi kami selama di Israel dan Palestina. Dia hanya menyebut nama panggilannya saja, yakni Nazzi. Masih muda. Perawakannya seperti kebanyakan perawakan bangsa Arab, tinggi besar. Dan berewokan.
Keluar dari imigrasi Israel, saya berada di Kota Pantai, Eilat. ”Kota ini berada di bagian paling selatan Israel,” kata Nazzi. ”Ada sekitar 45 ribu orang Yahudi tinggal di kota ini,” tambahnya.
Kota Eilat berbatasan langsung dengan Desa Taba, Mesir. Juga berbatasan dengan Yordania di bagian Timur, serta Arab Saudi di bagian Selatan arah Timur. Bagi Israel, posisi Eilat sangat penting. Baik dalam skala politik maupun ekonomi. Kota ini adalah kota yang berada di ujung utara Laut Merah. Dengan posisi strategis itu menjadikan Kota Eilat merupakan pelabuhan penting bagi Israel untuk akses keluar masuk aktivitas perdagangan dan transportasi dari Laut Merah. Karena itu Eilat adalah kota pelabuhan, kota industri, kota perdagangan, dan kota pariwisata yang sibuk di bagian Selatan Israel. ”Dulu, Kota Eilat pernah menjadi wilayahnya Mesir,” lanjut Nazzi. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/