alexametrics
18.6 C
Malang
Wednesday, 29 June 2022

Suka Tantangan? Pacu Adrenalin Kamu di Komunitas Batu Runners

KOTA BATU -Banyak orang memilih untuk berlari sendirian di lapangan atau trek lari. Namun, mengikuti komunitas lari dapat mendongkrak semangat. Apalagi, tantangannya cukup membuat adrenalin terpacu, seperti para pelari yang tergabung dalam komunitas Batu Runners ini.

Para pelari Batu Runners bisa dibilang suka tantangan. Sebab, trek yang mereka pilih antimainstream, yakni jalur terjal pegunungan.

Saat ini aktivitas lari komunitas itu lebih banyak menerabas di jalur pendakian gunung atau perbukitan. Melalui jalur ekstrem ini mereka biasa tik tok atau pagi hari lari naik sampai ke puncak, lalu sore harinya turun.

Kapten atau Ketua Batu Runners Dwi Lestari mengatakan, saat didirikan tahun 2016 aktivitasnya lebih banyak melahap trek lari di jalan perkotaan sepanjang 5-10 kilometer (km).

Namun, seiring berjalannya waktu, kegiatan lari bergeser menerabas jalur pendakian gunung. Aktivitas itu dimulai 2017, berawal dari penasaran salah satu anggota yang juga sering mendaki gunung. Anggota tersebut, Dwi menjelaskan, punya ide untuk naik gunung sambil berlari dalam sehari, sehingga lahirlah trail run. Saat itu Batu Runners pertama kali lari ke Gunung Butak dengan jarak sekitar 20 km.

Selain itu, Batu Runners juga sering trail run ke Gunung Panderman, Gunung Arjuno lewat Pura Luhur Giri Arjuno (Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji), atau jalur Cangar (Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji). Kemudian juga ke Gunung Welirang dan juga Bukit Lincing via Kebun Teh Purwosari, Lawang, di bawahnya Gunung Arjuno.

“Awalnya, kegiatan trail run dilakukan hanya sebulan sekali. Tetapi, saat ini dilakukan menjadi seminggu sekali karena banyaknya permintaan dari para anggota,” ujar dia.

Biasanya, Dwi melanjutkan, minggu pagi pukul 05.00 berangkat naik gunung sampai sore, turun pukul 15.00. Anggota baru yang melakukan trail run membutuhkan penyesuaian satu kali kegiatan saja.

Mereka juga tidak perlu khawatir ditinggal. Karena dalam kegiatan itu, terdapat dua orang berposisi sebagai pacer atau pelari paling depan yang bertugas sebagai penunjuk jalan. Serta ada pelari sweeper atau yang paling belakang yang bertugas untuk menemani pelari lainnya yang masih tidak kuat dalam trail run.

”Sweeper biasanya untuk menyemangati teman-teman yang belum terbiasa trail run, dan seluruh pelari baik yang sudah biasa akan menyampingkan egonya untuk tidak meninggalkan yang lain,” kata Dwi.

Jadi, dia melanjutkan, posisi pacer juga akan menunggu di suatu titik ketika yang pelari lain sudah jauh untuk melanjutkan perjalanan.

Dwi memberikan tip dalam berlari trail run, yakni bagi pemula jangan memaksakan diri karena akan mudah kecapekan atau ngos-ngosan. ”Dinikmati dulu, kalau capek jalan saja, karena kalau ada paksaan akan menjadi malas. Kemudian napasnya tidak usah panjang ketika trail run,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, biasanya saat pertama kali trail run tubuh menjadi pegal-pegal. Tetapi untuk selanjutnya akan terbiasa. Meski kelihatannya berat, tetapi saat trail run tidak pernah ada anggota Batu Runners pingsan. Malah 2018 lalu komunitas ini pernah membantu mengevakuasi pendaki di Gunung Butak.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, Dwi mengatakan untuk kegiatan lari bersama atau trail run sementara waktu vakum. Ini untuk mematuhi aturan dari pemerintah untuk tidak berkerumun.

Pewarta: Nugraha Perdana
Foto: Istimewa
Editor: Nugraha Perdana

KOTA BATU -Banyak orang memilih untuk berlari sendirian di lapangan atau trek lari. Namun, mengikuti komunitas lari dapat mendongkrak semangat. Apalagi, tantangannya cukup membuat adrenalin terpacu, seperti para pelari yang tergabung dalam komunitas Batu Runners ini.

Para pelari Batu Runners bisa dibilang suka tantangan. Sebab, trek yang mereka pilih antimainstream, yakni jalur terjal pegunungan.

Saat ini aktivitas lari komunitas itu lebih banyak menerabas di jalur pendakian gunung atau perbukitan. Melalui jalur ekstrem ini mereka biasa tik tok atau pagi hari lari naik sampai ke puncak, lalu sore harinya turun.

Kapten atau Ketua Batu Runners Dwi Lestari mengatakan, saat didirikan tahun 2016 aktivitasnya lebih banyak melahap trek lari di jalan perkotaan sepanjang 5-10 kilometer (km).

Namun, seiring berjalannya waktu, kegiatan lari bergeser menerabas jalur pendakian gunung. Aktivitas itu dimulai 2017, berawal dari penasaran salah satu anggota yang juga sering mendaki gunung. Anggota tersebut, Dwi menjelaskan, punya ide untuk naik gunung sambil berlari dalam sehari, sehingga lahirlah trail run. Saat itu Batu Runners pertama kali lari ke Gunung Butak dengan jarak sekitar 20 km.

Selain itu, Batu Runners juga sering trail run ke Gunung Panderman, Gunung Arjuno lewat Pura Luhur Giri Arjuno (Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji), atau jalur Cangar (Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji). Kemudian juga ke Gunung Welirang dan juga Bukit Lincing via Kebun Teh Purwosari, Lawang, di bawahnya Gunung Arjuno.

“Awalnya, kegiatan trail run dilakukan hanya sebulan sekali. Tetapi, saat ini dilakukan menjadi seminggu sekali karena banyaknya permintaan dari para anggota,” ujar dia.

Biasanya, Dwi melanjutkan, minggu pagi pukul 05.00 berangkat naik gunung sampai sore, turun pukul 15.00. Anggota baru yang melakukan trail run membutuhkan penyesuaian satu kali kegiatan saja.

Mereka juga tidak perlu khawatir ditinggal. Karena dalam kegiatan itu, terdapat dua orang berposisi sebagai pacer atau pelari paling depan yang bertugas sebagai penunjuk jalan. Serta ada pelari sweeper atau yang paling belakang yang bertugas untuk menemani pelari lainnya yang masih tidak kuat dalam trail run.

”Sweeper biasanya untuk menyemangati teman-teman yang belum terbiasa trail run, dan seluruh pelari baik yang sudah biasa akan menyampingkan egonya untuk tidak meninggalkan yang lain,” kata Dwi.

Jadi, dia melanjutkan, posisi pacer juga akan menunggu di suatu titik ketika yang pelari lain sudah jauh untuk melanjutkan perjalanan.

Dwi memberikan tip dalam berlari trail run, yakni bagi pemula jangan memaksakan diri karena akan mudah kecapekan atau ngos-ngosan. ”Dinikmati dulu, kalau capek jalan saja, karena kalau ada paksaan akan menjadi malas. Kemudian napasnya tidak usah panjang ketika trail run,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, biasanya saat pertama kali trail run tubuh menjadi pegal-pegal. Tetapi untuk selanjutnya akan terbiasa. Meski kelihatannya berat, tetapi saat trail run tidak pernah ada anggota Batu Runners pingsan. Malah 2018 lalu komunitas ini pernah membantu mengevakuasi pendaki di Gunung Butak.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, Dwi mengatakan untuk kegiatan lari bersama atau trail run sementara waktu vakum. Ini untuk mematuhi aturan dari pemerintah untuk tidak berkerumun.

Pewarta: Nugraha Perdana
Foto: Istimewa
Editor: Nugraha Perdana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/