alexametrics
22 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Mengenal Gaslighting Dalam Sebuah Hubungan, Toxic kah?

RADAR MALANG – Istilah gashlighting belakangan cukup santer terdengar di berbagai laman sosial media. Berhubungan dengan relationship, gashlighting merupakan salah satu bentuk manipulasi psikologis dalam sebuah hubungan. Baik keluarga, pertemanan hingga percintaan. Sebenarnya apa sih gaslighting itu?
Melansir dari popmama, Minggu (6/6), pelaku gaslighting akan diam-diam menabur benih keraguan ke dalam diri korban. Benih tersebut pelan-pelan bisa menyebabkan disonansi kognitif yang akan membuat korban mempertanyakan nilai serta harga dirinya sendiri, lho.
Seorang gaslighter cenderung mengontrol cara berfikir korbannya untuk mendapatkan yang diinginkan tanpa harus meminta atau mengkomunikasikannya secara langsung. Dari sini, pelaku gaslighting jelas berasal dari rasa ego yang berlebih.
Menurut ilmuwan psikolog dari SHINE Consulting, Lina Karlina S Psi, orang yang melakukan gaslighting biasanya adalah seorang narsistik. Yakni relatif bersikap diktator dan sosiopat.
“Makanya dia cenderung pintar memanipulasi sebuah kebohongan seolah menjadi suatu pembenaran yang nyata,” ungkapnya l.
Lina juga menambahkan bahwa pelaku atau gaslighter bahkan mampu membuat kepercayaan diri korban rusak, dan akhirnya membenarkan semua perkataan bahkan kebohongan yang diucapkan pelaku.
Untuk lebih memahami gaslighting, berikut adalah contoh ungkapan gaslighter terhadap korbannya,
Seorang gaslighter cenderung meremehkan perasaan korbannya lewat beberapa kata. Seperi, ‘Jangan berlebihan, deh’ atau
‘Kamu harus mengasihani diri sendiri’.
Selain itu, gaslighter juga akan memberitahu bahwa orang lain sedang membicarakan korban di belakangnya. Tujuannya tidak lain adalah untuk memanfaatkan kerentanan. Seperti lewat kalimat ‘Lihat semua keluarga membicarakanmu, mereka ragu dan itu sangat menyedihkan. ‘
Korban akan berkata kepada pelaku, namun dia akan membantahnya.
“Maksud kamu apa bilang kaya gitu?”
“Aku emang selingkuh, tetapi itu gara-gara kamu nggak peka”
Mengelak kebenaran.
“Kapan aku jalan sama dia? Kamu nggak usah ngarang dan nuduh gitu deh”.
Robin Stern, seorang penulis buku The Gaslighting Effect: How to Spot and Survive the Hidden Manipulation Others Use to Control Your Life, mengungkap tanda-tanda jika seseorang adalah korban gaslighting, diantaranya:
• Sering meminta maaf
• Merasa terisolasi dari teman dan keluarga
• Sulit membuat keputusan sendiri
• Merasa apapun yang diakukan adalah salah
• Sering mempertanyakan apakah terlalu sensitif
• Lebih cemas dan kurang percaya diri
• Merasa putus asa dan tidak bisa menikmati aktivitas yang biasa dijalani
• Selalu berpikir kalau semua permasalahan adalah kesalahan kita
• Mempertanyakan perkataan dan tindakan
• Merasa ada yang salah, tapi kesulitan mengidentifikasi kesalahan tersebut
Itulah beberapa hal yang perlu diketahui mengenai gaslighting. Selau hati-hati dan mari bangun hubungan yang sehat!
Penulis: Ambarul Fatima S.
RADAR MALANG – Istilah gashlighting belakangan cukup santer terdengar di berbagai laman sosial media. Berhubungan dengan relationship, gashlighting merupakan salah satu bentuk manipulasi psikologis dalam sebuah hubungan. Baik keluarga, pertemanan hingga percintaan. Sebenarnya apa sih gaslighting itu?
Melansir dari popmama, Minggu (6/6), pelaku gaslighting akan diam-diam menabur benih keraguan ke dalam diri korban. Benih tersebut pelan-pelan bisa menyebabkan disonansi kognitif yang akan membuat korban mempertanyakan nilai serta harga dirinya sendiri, lho.
Seorang gaslighter cenderung mengontrol cara berfikir korbannya untuk mendapatkan yang diinginkan tanpa harus meminta atau mengkomunikasikannya secara langsung. Dari sini, pelaku gaslighting jelas berasal dari rasa ego yang berlebih.
Menurut ilmuwan psikolog dari SHINE Consulting, Lina Karlina S Psi, orang yang melakukan gaslighting biasanya adalah seorang narsistik. Yakni relatif bersikap diktator dan sosiopat.
“Makanya dia cenderung pintar memanipulasi sebuah kebohongan seolah menjadi suatu pembenaran yang nyata,” ungkapnya l.
Lina juga menambahkan bahwa pelaku atau gaslighter bahkan mampu membuat kepercayaan diri korban rusak, dan akhirnya membenarkan semua perkataan bahkan kebohongan yang diucapkan pelaku.
Untuk lebih memahami gaslighting, berikut adalah contoh ungkapan gaslighter terhadap korbannya,
Seorang gaslighter cenderung meremehkan perasaan korbannya lewat beberapa kata. Seperi, ‘Jangan berlebihan, deh’ atau
‘Kamu harus mengasihani diri sendiri’.
Selain itu, gaslighter juga akan memberitahu bahwa orang lain sedang membicarakan korban di belakangnya. Tujuannya tidak lain adalah untuk memanfaatkan kerentanan. Seperti lewat kalimat ‘Lihat semua keluarga membicarakanmu, mereka ragu dan itu sangat menyedihkan. ‘
Korban akan berkata kepada pelaku, namun dia akan membantahnya.
“Maksud kamu apa bilang kaya gitu?”
“Aku emang selingkuh, tetapi itu gara-gara kamu nggak peka”
Mengelak kebenaran.
“Kapan aku jalan sama dia? Kamu nggak usah ngarang dan nuduh gitu deh”.
Robin Stern, seorang penulis buku The Gaslighting Effect: How to Spot and Survive the Hidden Manipulation Others Use to Control Your Life, mengungkap tanda-tanda jika seseorang adalah korban gaslighting, diantaranya:
• Sering meminta maaf
• Merasa terisolasi dari teman dan keluarga
• Sulit membuat keputusan sendiri
• Merasa apapun yang diakukan adalah salah
• Sering mempertanyakan apakah terlalu sensitif
• Lebih cemas dan kurang percaya diri
• Merasa putus asa dan tidak bisa menikmati aktivitas yang biasa dijalani
• Selalu berpikir kalau semua permasalahan adalah kesalahan kita
• Mempertanyakan perkataan dan tindakan
• Merasa ada yang salah, tapi kesulitan mengidentifikasi kesalahan tersebut
Itulah beberapa hal yang perlu diketahui mengenai gaslighting. Selau hati-hati dan mari bangun hubungan yang sehat!
Penulis: Ambarul Fatima S.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/