alexametrics
21.6 C
Malang
Sunday, 3 July 2022

Sembilan Hari Napak Tilas Spiritual ke Mesir, Palestina, dan Yordania (14): Mengejar Magrib ke Kubah As Sakhra, Prihatin di Al Qibli

Berada di kompleks Al Aqsho saya bersyukur, sekaligus sedih. Bersyukur, akhirnya berkesempatan salat di sana. Sedih, karena melihat secara langsung, tak semua muslim Palestina bisa salat di tempat mulia itu.
***

Dari makam Nabi Musa Alaihissalam (AS) di Jericho, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Masjid Al Aqsho di Yerussalem. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Dijadwalkan kami tiba di Aqsho saat Magrib. Sehingga bisa mengikuti jamaah Magrib di sana. Ini yang saya impi-impikan sejak lama. Bisa salat berjamaah di masjid termulia nomor tiga di dunia setelah Masjidilharam di Makkah, dan Masjid Nabawi di Madinah.
Masjid Al Aqsho juga merupakan masjid kedua yang dibangun di dunia setelah Masjidilharam. Ini mengacu pada hadis: Dari Abu Dzar Radhiyallahu‘anhu berkata ”Aku bertanya, ”Wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama kali dibangun?” Beliau menjawab, ”Masjidilharam.” Aku bertanya lagi: ”Kemudian (masjid) mana?” Beliau menjawab, ”Kemudian Masjidil Aqsho”. Aku bertanya lagi ”Berapa jarak (pembangunan) antar keduanya?” Beliau menjawab ”Empat puluh tahun.” (HR Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Dzar).
Kalaupun harus datang ke Masjid Al Aqsho, itu karena dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata. ”Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: ”Tidak boleh bersusah-payah bepergian, kecuali ke tiga masjid, (yaitu) Masjidilharam, Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjidil Aqsho” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Sore itu, perjalanan menuju ke Aqsho agak tersendat. Karena terkena macet. Padahal, jarak dari Makam Nabi Musa AS ke Aqsho sekitar 20-an kilometer. Harusnya tak sampai 30 menit sudah tiba. Tapi karena macet, 30 menit berlalu kami masih di jalanan.
Semakin mendekati kawasan Aqsho, kondisi lalu lintas semakin padat. Bus yang kami tumpangi pun merayap. Tapi, dari kejauhan, dari kaca jendela bus, saya bisa menyaksikan kubah emas yang menjadi ciri khas Aqsho. Begitu mata saya menangkap kubah emas itu, ingin rasanya saya berlari.
Syukurlah, kami tiba di Aqsho saat tepat masuk salat Magrib. Bus tak bisa masuk mendekati Aqsho. Kami harus turun di pinggir jalan, lalu berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer. Perjalanan menuju ke Aqsho, kami melewati perkampungan padat penduduk. Jalannya hanya bisa dilewati satu mobil.
Begitu mendekati pintu gerbang Aqsho, saya melihat polisi Israel berjaga-jaga. Ada 5 polisi Israel. Semuanya pria, lengkap dengan senjata laras panjangnya. Mata mereka mengamati satu per satu orang yang akan masuk ke Aqsho. Kawasan Aqsho saat ini memang dikuasai Israel. Inilah yang ironis. Sekaligus memprihatinkan.
Sore itu, saya melihat tak banyak yang datang ke Aqsho. Sangat berbeda dengan di Masjidilharam dan Masjid Nabawi yang jamaahnya berdesak-desakan. Di Aqsho, longgar sekali.
Dengan langkah terburu-buru, kami menuju ke masjid dengan kubah emas yang disebut Kubah As Sakhra atau Dome of the Rock. Sebelum kami ke sana, kami berwudu dulu. Antara tempat wudu dengan Kubah As Sakhra agak jauh. Dari tempat berwudu menuju ke Kubah As Sakhra kami melewati areal luas. Ada tanam-tanaman di areal itu. ”Kita akan salat Magrib di Masjid Kubah As Sakhra, dan nanti kita salat Isya di Masjid Al Qibli,” begitu pesan KH Muzakky, yang mendampingi kami.
Kompleks Aqsho berada di kawasan seluas kira-kira 14 hektare. Saat kali pertama saya menyaksikan kubah emas yang dipendari cahaya indah di malam hari itu, saya merasa merinding. Sempat tertegun sesaat. Seperti setengah tidak percaya, bahwa akhirnya bisa juga ke Aqsho.
Di kompleks Aqsho itu terdapat dua masjid utama. Pertama, adalah Al Aqsho al Qibli. Inilah kiblat pertama umat Islam sebelum Kakbah di Masjidilharam. Di masjid inilah, Nabi Muhammad SAW menjadi imam salat bersama para Nabi saat Isra Mikraj. Masjid utama kedua adalah Kubah As Sakhra yang disebut Dome of The Rock. Dari masjid inilah Nabi Muhammad SAW Mikraj ke Sidratul Muntaha.

SHOF LONGGAR: Penulis di Al Aqsho Masjid Al Qibli.

Sore itu, kami salat Magrib di Kubah As Sakhra. Begitu sudah masuk ke dalam masjid, kembali saya merasakan merinding. Lagi-lagi, sempat tertegun, seraya mengucapkan hamdalah dan tasbih berkali-kali, bersyukur, bahwa akhirnya bisa merasakan salat berjamaah di Al Aqsho. Interior di dalam Masjid Kubah As Sakhra sangat indah. Tak kalah indahnya dengan di Makkah maupun Madinah. Dan tampak terawat.
Sayangnya, yang berjamaah tak banyak. Saf salatnya tak sampai separo dari luasan masjid. Kebanyakan yang salat malam itu adalah para turis asing, seperti kami, dan kalaupun ada orang Palestina, rata-rata usianya sudah tua. ”Sejak dikuasai Israel, orang Palestina yang boleh ke Aqsho yang tinggal di Tepi Barat saja. Itu pun yang usianya di atas 50 tahun. Yang lebih muda nggak boleh,” tutur Nazzi, guide lokal dari Manaya Indonesia yang mendampingi kami selama di Palestina dan Israel. ”Warga muslim yang sudah lama tinggal di Yerussalem boleh ke Aqsho. Tapi, hanya pada hari Jumat saja dan saat salat Id,” jelasnya.
Mendengar cerita ini, saya sedih dan prihatin. Betapa kasihannya rakyat Palestina. Mereka yang lokasinya begitu dekatnya dengan Aqsho, tapi tak bisa leluasa ke Aqsho. Satu sisi saya kembali bersyukur, karena berkesempatan untuk berada di mihrabnya Aqsho.
Imam salat Magrib di Kubah As Sakhrah suaranya merdu. Usai salat Magrib, kami pun beriktikaf. Sambil berdoa agar istri, anak-anak saya, saudara, dan juga teman-teman, berkesempatan dan dimudahkan ke Aqsho.
Sambil menunggu salat Isya, kami diajak KH Muzakky pergi ke ruangan bawah tanah di Kubah As Sakhra. Di sana, saya diajak menuruni tangga. Dan ternyata di bawah masjid itu terdapat semacam gua. Di dalamnya terdapat gumpalan batu besar. ”Batu ini adalah pijakan Nabi Muhammad SAW saat beliau akan mikraj,” cerita KH Muzakky. Tapi, bagi orang Yahudi, batu itu dipercaya sebagai tempat Nabi Ibrahim AS hendak mengurbankan anaknya. Orang Yahudi meyakini yang dikurbankan bukan Ismail, melainkan Ishaq.
Batu besar itu dilindungi oleh pagar, dan terdapat tangga yang mengarah ke gua yang terdapat di bawah permukaan batu. Gua tersebut dikenal dengan sebutan ”The Well of Souls” atau Bir el-Arweh. Banyak orang yang meyakini di tempat ini roh orang yang telah meninggal berkumpul untuk menunggu hari kiamat. Mitos tersebut berkembang dengan pesat di masyarakat.

JEJAK MIKRAJ: Inilah batu yang terdapat di dalam Al Aqsho Masjid Kubah As Sakhra, yang diyakini sebagai pijakan Rasulullah SAW saat mikraj ke Sidratul Muntaha.

Suasana di ruangan seperti gua itu remang-remang dengan lampu yang dipasang. Saya melihat, ada beberapa orang sedang berzikir dan ada juga yang salat di tempat itu. Keluar dari tempat itu, saya ditunjukkan oleh KH Muzakky sebuah tempat seperti lubang. Bisa dirogoh. ”Ini tempat bekasnya telapak kaki Nabi Muhammad SAW saat akan mikraj,” ceritanya.
Tak berapa lama kemudian, azan salat Isya berkumandang. Kami pun bersiap-siap untuk beranjak ke Al Aqsho al Qibli. Di masjid inilah, Rasulullah menjadi imam salat yang diikuti arwah para Nabi dan Rasul. Jarak antara Masjid Kubah As Sakhra dengan Al Qibli sekitar 100-an meter. Jika Kubah As Sakhra kubahnya berwarna emas, Al Qibli kubahnya berwarna abu-abu.
Seperti halnya di Kubah As Sakhra, di Al Qibli yang berjamaah salat Isya juga tidak banyak. Malah lebih sedikit. Yakni sekitar sepertiga saf dari luasan masjid. Di dekat mihrab, saya melihat beberapa pria bersliweran. Tak ikut salat. Rupanya mereka adalah petugas dari Israel yang melakukan pemantauan dan pengawasan.
Setelah salat Isya, kami maunya pengen berlama-lama di dalam masjid itu. Tapi, KH Muzakky mengingatkan untuk segera bersiap-siap balik. ”Karena 30 menit setelah salat Isya, kompleks Al Aqsho akan ditutup,” katanya. Beginilah jika masjid yang seharusnya dikuasai umat Islam, tapi faktanya dikuasai Israel. Sungguh sangat disayangkan. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Berada di kompleks Al Aqsho saya bersyukur, sekaligus sedih. Bersyukur, akhirnya berkesempatan salat di sana. Sedih, karena melihat secara langsung, tak semua muslim Palestina bisa salat di tempat mulia itu.
***

Dari makam Nabi Musa Alaihissalam (AS) di Jericho, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Masjid Al Aqsho di Yerussalem. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Dijadwalkan kami tiba di Aqsho saat Magrib. Sehingga bisa mengikuti jamaah Magrib di sana. Ini yang saya impi-impikan sejak lama. Bisa salat berjamaah di masjid termulia nomor tiga di dunia setelah Masjidilharam di Makkah, dan Masjid Nabawi di Madinah.
Masjid Al Aqsho juga merupakan masjid kedua yang dibangun di dunia setelah Masjidilharam. Ini mengacu pada hadis: Dari Abu Dzar Radhiyallahu‘anhu berkata ”Aku bertanya, ”Wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama kali dibangun?” Beliau menjawab, ”Masjidilharam.” Aku bertanya lagi: ”Kemudian (masjid) mana?” Beliau menjawab, ”Kemudian Masjidil Aqsho”. Aku bertanya lagi ”Berapa jarak (pembangunan) antar keduanya?” Beliau menjawab ”Empat puluh tahun.” (HR Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Dzar).
Kalaupun harus datang ke Masjid Al Aqsho, itu karena dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata. ”Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: ”Tidak boleh bersusah-payah bepergian, kecuali ke tiga masjid, (yaitu) Masjidilharam, Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjidil Aqsho” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Sore itu, perjalanan menuju ke Aqsho agak tersendat. Karena terkena macet. Padahal, jarak dari Makam Nabi Musa AS ke Aqsho sekitar 20-an kilometer. Harusnya tak sampai 30 menit sudah tiba. Tapi karena macet, 30 menit berlalu kami masih di jalanan.
Semakin mendekati kawasan Aqsho, kondisi lalu lintas semakin padat. Bus yang kami tumpangi pun merayap. Tapi, dari kejauhan, dari kaca jendela bus, saya bisa menyaksikan kubah emas yang menjadi ciri khas Aqsho. Begitu mata saya menangkap kubah emas itu, ingin rasanya saya berlari.
Syukurlah, kami tiba di Aqsho saat tepat masuk salat Magrib. Bus tak bisa masuk mendekati Aqsho. Kami harus turun di pinggir jalan, lalu berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer. Perjalanan menuju ke Aqsho, kami melewati perkampungan padat penduduk. Jalannya hanya bisa dilewati satu mobil.
Begitu mendekati pintu gerbang Aqsho, saya melihat polisi Israel berjaga-jaga. Ada 5 polisi Israel. Semuanya pria, lengkap dengan senjata laras panjangnya. Mata mereka mengamati satu per satu orang yang akan masuk ke Aqsho. Kawasan Aqsho saat ini memang dikuasai Israel. Inilah yang ironis. Sekaligus memprihatinkan.
Sore itu, saya melihat tak banyak yang datang ke Aqsho. Sangat berbeda dengan di Masjidilharam dan Masjid Nabawi yang jamaahnya berdesak-desakan. Di Aqsho, longgar sekali.
Dengan langkah terburu-buru, kami menuju ke masjid dengan kubah emas yang disebut Kubah As Sakhra atau Dome of the Rock. Sebelum kami ke sana, kami berwudu dulu. Antara tempat wudu dengan Kubah As Sakhra agak jauh. Dari tempat berwudu menuju ke Kubah As Sakhra kami melewati areal luas. Ada tanam-tanaman di areal itu. ”Kita akan salat Magrib di Masjid Kubah As Sakhra, dan nanti kita salat Isya di Masjid Al Qibli,” begitu pesan KH Muzakky, yang mendampingi kami.
Kompleks Aqsho berada di kawasan seluas kira-kira 14 hektare. Saat kali pertama saya menyaksikan kubah emas yang dipendari cahaya indah di malam hari itu, saya merasa merinding. Sempat tertegun sesaat. Seperti setengah tidak percaya, bahwa akhirnya bisa juga ke Aqsho.
Di kompleks Aqsho itu terdapat dua masjid utama. Pertama, adalah Al Aqsho al Qibli. Inilah kiblat pertama umat Islam sebelum Kakbah di Masjidilharam. Di masjid inilah, Nabi Muhammad SAW menjadi imam salat bersama para Nabi saat Isra Mikraj. Masjid utama kedua adalah Kubah As Sakhra yang disebut Dome of The Rock. Dari masjid inilah Nabi Muhammad SAW Mikraj ke Sidratul Muntaha.

SHOF LONGGAR: Penulis di Al Aqsho Masjid Al Qibli.

Sore itu, kami salat Magrib di Kubah As Sakhra. Begitu sudah masuk ke dalam masjid, kembali saya merasakan merinding. Lagi-lagi, sempat tertegun, seraya mengucapkan hamdalah dan tasbih berkali-kali, bersyukur, bahwa akhirnya bisa merasakan salat berjamaah di Al Aqsho. Interior di dalam Masjid Kubah As Sakhra sangat indah. Tak kalah indahnya dengan di Makkah maupun Madinah. Dan tampak terawat.
Sayangnya, yang berjamaah tak banyak. Saf salatnya tak sampai separo dari luasan masjid. Kebanyakan yang salat malam itu adalah para turis asing, seperti kami, dan kalaupun ada orang Palestina, rata-rata usianya sudah tua. ”Sejak dikuasai Israel, orang Palestina yang boleh ke Aqsho yang tinggal di Tepi Barat saja. Itu pun yang usianya di atas 50 tahun. Yang lebih muda nggak boleh,” tutur Nazzi, guide lokal dari Manaya Indonesia yang mendampingi kami selama di Palestina dan Israel. ”Warga muslim yang sudah lama tinggal di Yerussalem boleh ke Aqsho. Tapi, hanya pada hari Jumat saja dan saat salat Id,” jelasnya.
Mendengar cerita ini, saya sedih dan prihatin. Betapa kasihannya rakyat Palestina. Mereka yang lokasinya begitu dekatnya dengan Aqsho, tapi tak bisa leluasa ke Aqsho. Satu sisi saya kembali bersyukur, karena berkesempatan untuk berada di mihrabnya Aqsho.
Imam salat Magrib di Kubah As Sakhrah suaranya merdu. Usai salat Magrib, kami pun beriktikaf. Sambil berdoa agar istri, anak-anak saya, saudara, dan juga teman-teman, berkesempatan dan dimudahkan ke Aqsho.
Sambil menunggu salat Isya, kami diajak KH Muzakky pergi ke ruangan bawah tanah di Kubah As Sakhra. Di sana, saya diajak menuruni tangga. Dan ternyata di bawah masjid itu terdapat semacam gua. Di dalamnya terdapat gumpalan batu besar. ”Batu ini adalah pijakan Nabi Muhammad SAW saat beliau akan mikraj,” cerita KH Muzakky. Tapi, bagi orang Yahudi, batu itu dipercaya sebagai tempat Nabi Ibrahim AS hendak mengurbankan anaknya. Orang Yahudi meyakini yang dikurbankan bukan Ismail, melainkan Ishaq.
Batu besar itu dilindungi oleh pagar, dan terdapat tangga yang mengarah ke gua yang terdapat di bawah permukaan batu. Gua tersebut dikenal dengan sebutan ”The Well of Souls” atau Bir el-Arweh. Banyak orang yang meyakini di tempat ini roh orang yang telah meninggal berkumpul untuk menunggu hari kiamat. Mitos tersebut berkembang dengan pesat di masyarakat.

JEJAK MIKRAJ: Inilah batu yang terdapat di dalam Al Aqsho Masjid Kubah As Sakhra, yang diyakini sebagai pijakan Rasulullah SAW saat mikraj ke Sidratul Muntaha.

Suasana di ruangan seperti gua itu remang-remang dengan lampu yang dipasang. Saya melihat, ada beberapa orang sedang berzikir dan ada juga yang salat di tempat itu. Keluar dari tempat itu, saya ditunjukkan oleh KH Muzakky sebuah tempat seperti lubang. Bisa dirogoh. ”Ini tempat bekasnya telapak kaki Nabi Muhammad SAW saat akan mikraj,” ceritanya.
Tak berapa lama kemudian, azan salat Isya berkumandang. Kami pun bersiap-siap untuk beranjak ke Al Aqsho al Qibli. Di masjid inilah, Rasulullah menjadi imam salat yang diikuti arwah para Nabi dan Rasul. Jarak antara Masjid Kubah As Sakhra dengan Al Qibli sekitar 100-an meter. Jika Kubah As Sakhra kubahnya berwarna emas, Al Qibli kubahnya berwarna abu-abu.
Seperti halnya di Kubah As Sakhra, di Al Qibli yang berjamaah salat Isya juga tidak banyak. Malah lebih sedikit. Yakni sekitar sepertiga saf dari luasan masjid. Di dekat mihrab, saya melihat beberapa pria bersliweran. Tak ikut salat. Rupanya mereka adalah petugas dari Israel yang melakukan pemantauan dan pengawasan.
Setelah salat Isya, kami maunya pengen berlama-lama di dalam masjid itu. Tapi, KH Muzakky mengingatkan untuk segera bersiap-siap balik. ”Karena 30 menit setelah salat Isya, kompleks Al Aqsho akan ditutup,” katanya. Beginilah jika masjid yang seharusnya dikuasai umat Islam, tapi faktanya dikuasai Israel. Sungguh sangat disayangkan. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/