alexametrics
19.9 C
Malang
Monday, 23 May 2022

Waspada Silent Killer, Begini Tips Makan Sehat Saat Lebaran

RADAR MALANG – Lebaran sebentar lagi. Setelah berpuasa 1 bulan lamanya, tidak sedikit di antara orang-orang yang ‘balas dendam’ untuk memakan kudapan maupun hidangan yang tidak bisa dikonsumsi secara leluasa saat berpuasa. Namun hati-hati, jika tidak dikontrol pola makan seperti itu justru bisa membahayakan tubuh.

Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit UI, Muhammad Hafiz Aini memberikan tip pengaturan pemilihan makanan saat Lebaran. Salah satu yang terpenting adalah mengurangi makan makanan bersantan.

”Menggunakan prinsip isi piringku. Dilengkapi dengan makanan pokok, lauk-pauk, sayur, dan buah. Jumlah sayur dan buah dicukupi hingga setengah piring. Usahakan untuk mengurangi penggunaan santan,” terangnya seperti dikutip dari Antara.

Selain itu, sebaiknya hindari jumlah garam yang berlebihan. Misalnya kerupuk yang tinggi kalori dan natrium, juga karbohidrat tersembunyi agar tubuh tak terkena berbagai penyakit salah satunya hipertensi.

”Sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan keluhan, sehingga hipertensi sering disebut dengan silent killer. Beberapa gejala hipertensi yang umum di antaranya nyeri dada, dada berdebar, penglihatan buram, mudah lelah, pusing, dan sakit kepala,” tutur Hafiz.

Hafiz mengatakan, sekitar 1 miliar orang di dunia memiliki hipertensi dan sebanyak dua pertiganya ada di negara-negara berkembang. Dari total jumlah tersebut, 25,8 persen di antaranya adalah orang dengan hipertensi yang hanya sepertiganya terdiagnosis.

Faktor risiko hipertensi sebenarnya ada dua macam. Yaitu faktor yang tidak dapat diubah seperti usia, jenis kelamin, genetic. Sementara faktor yang dapat diubah yakni terkait gaya hidup seperti kurang aktivitas fisik, diet tidak sehat yang tinggi natrium/garam, obesitas, stres, dan merokok.

”Tekanan darah normal jika nilai sistol kurang dari 120 dan diastol kurang dari 80. Seseorang dengan tekanan sistol lebih dari 140 dan diastol lebih dari 90 harus melakukan kontrol rutin hipertensi di fasilitas kesehatan. Jika tekanan darah sistol lebih dari 180 dan diastol lebih dari 120 dan ada keluhan mendadak, dikenal dengan krisis hipertensi, jika mengalami keadaan ini harus segera dibawa ke IGD,” kata dia.

Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan saat melakukan pengukuran tekanan darah di rumah. Yaitu sebelum pengukuran pastikan istirahat 2–5 menit, posisi duduk, tidak minum kafein, minum obat rutin, dan tidak menahan buang air kecil.

Selanjutnya, pengukuran sebaiknya dilakukan 2–3 kali dengan selang 1 menit yang dilakukan saat pagi atau malam selama 3–7 hari untuk mendapatkan variasi dan rata-rata tekanan darah. Berikutnya, Anda disarankan menggunakan alat tensi digital (lengan), jangan lupa untuk kalibrasi alat, dan jangan banyak bergerak saat pengukuran.

Hafiz menambahkan, bagi Anda yang sudah terlanjur terkena hipertensi untuk bisa mengendalikan penyakit melalui PATUH. Yakni periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter; atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat, benar, dan rutin: Tetap diet dengan gizi seimbang; Upayakan aktivitas fisik secara rutin dan aman; Hindari asap rokok, alkohol, dan zat berbahaya lainnya.

”Kita harus bisa hidup sehat tanpa hipertensi, namun kalau sudah kena hipertensi, kita bisa hidup sehat dengan hipertensi,” demikian pesan dia.

Sumber: Jawa Pos

RADAR MALANG – Lebaran sebentar lagi. Setelah berpuasa 1 bulan lamanya, tidak sedikit di antara orang-orang yang ‘balas dendam’ untuk memakan kudapan maupun hidangan yang tidak bisa dikonsumsi secara leluasa saat berpuasa. Namun hati-hati, jika tidak dikontrol pola makan seperti itu justru bisa membahayakan tubuh.

Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit UI, Muhammad Hafiz Aini memberikan tip pengaturan pemilihan makanan saat Lebaran. Salah satu yang terpenting adalah mengurangi makan makanan bersantan.

”Menggunakan prinsip isi piringku. Dilengkapi dengan makanan pokok, lauk-pauk, sayur, dan buah. Jumlah sayur dan buah dicukupi hingga setengah piring. Usahakan untuk mengurangi penggunaan santan,” terangnya seperti dikutip dari Antara.

Selain itu, sebaiknya hindari jumlah garam yang berlebihan. Misalnya kerupuk yang tinggi kalori dan natrium, juga karbohidrat tersembunyi agar tubuh tak terkena berbagai penyakit salah satunya hipertensi.

”Sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan keluhan, sehingga hipertensi sering disebut dengan silent killer. Beberapa gejala hipertensi yang umum di antaranya nyeri dada, dada berdebar, penglihatan buram, mudah lelah, pusing, dan sakit kepala,” tutur Hafiz.

Hafiz mengatakan, sekitar 1 miliar orang di dunia memiliki hipertensi dan sebanyak dua pertiganya ada di negara-negara berkembang. Dari total jumlah tersebut, 25,8 persen di antaranya adalah orang dengan hipertensi yang hanya sepertiganya terdiagnosis.

Faktor risiko hipertensi sebenarnya ada dua macam. Yaitu faktor yang tidak dapat diubah seperti usia, jenis kelamin, genetic. Sementara faktor yang dapat diubah yakni terkait gaya hidup seperti kurang aktivitas fisik, diet tidak sehat yang tinggi natrium/garam, obesitas, stres, dan merokok.

”Tekanan darah normal jika nilai sistol kurang dari 120 dan diastol kurang dari 80. Seseorang dengan tekanan sistol lebih dari 140 dan diastol lebih dari 90 harus melakukan kontrol rutin hipertensi di fasilitas kesehatan. Jika tekanan darah sistol lebih dari 180 dan diastol lebih dari 120 dan ada keluhan mendadak, dikenal dengan krisis hipertensi, jika mengalami keadaan ini harus segera dibawa ke IGD,” kata dia.

Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan saat melakukan pengukuran tekanan darah di rumah. Yaitu sebelum pengukuran pastikan istirahat 2–5 menit, posisi duduk, tidak minum kafein, minum obat rutin, dan tidak menahan buang air kecil.

Selanjutnya, pengukuran sebaiknya dilakukan 2–3 kali dengan selang 1 menit yang dilakukan saat pagi atau malam selama 3–7 hari untuk mendapatkan variasi dan rata-rata tekanan darah. Berikutnya, Anda disarankan menggunakan alat tensi digital (lengan), jangan lupa untuk kalibrasi alat, dan jangan banyak bergerak saat pengukuran.

Hafiz menambahkan, bagi Anda yang sudah terlanjur terkena hipertensi untuk bisa mengendalikan penyakit melalui PATUH. Yakni periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter; atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat, benar, dan rutin: Tetap diet dengan gizi seimbang; Upayakan aktivitas fisik secara rutin dan aman; Hindari asap rokok, alkohol, dan zat berbahaya lainnya.

”Kita harus bisa hidup sehat tanpa hipertensi, namun kalau sudah kena hipertensi, kita bisa hidup sehat dengan hipertensi,” demikian pesan dia.

Sumber: Jawa Pos

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/