alexametrics
24.1 C
Malang
Thursday, 21 October 2021

Dekat dengan Adinda Cresheilla, Puteri Indonesia Jatim Asal Malang

Definisi proses tidak mengkhianati hasil sudah dibuktikan Adinda Cresheilla. Setelah banyak mengalami kegagalan dalam ajang pageant selama 6 tahun terakhir, 1 Oktober lalu dia terpilih menjadi Puteri Indonesia Jawa Timur 2021-2022. Selain dia, ada Hepy Mandiana Sari yang meraih predikat Puteri Indonesia Jatim Favorit 2021-2022.

Dalam pemilihan Puteri Indonesia Jawa Timur 2021-2022, Adinda mengusung tema advokasi program kesetaraan gender melalui platform digital ‘Better Equal’. Di balik penunjukan tema itu, dia membawa motivasi dari beberapa kegagalannya sejak 6 tahun silam. Dikatakan Adinda, perjalanannya dalam dunia pageant tidak semulus dugaan beberapa orang. Lika-liku kegagalan sudah pernah dirasakannya.

Salah satunya terjadi di tahun 2015 lalu, ketika dia gagal meraih kesempatan menjadi Puteri Indonesia Jatim. Namun, hal itu tidak membuatnya menyerah begitu saja. Alumnus Universitas Indonesia (UI) itu terus mengasah kemampuannya dengan mengikuti beberapa kompetisi nasional. Hasilnya, juga masih mengecewakan baginya, karena dia belum mampu lolos.

Kegagalan-kegagalan itu menjadi bahan refleksi baginya untuk mengevaluasi skill yang dimiliki. ”Saya berpikir keras, apa sebenarnya titik-titik yang bisa saya tonjolkan, bagusnya saya di mana. Jadi memang untuk sampai di Puteri Indonesia ini perjalanannya sangat panjang,” kata dia.

Pada kesempatan kedua mengikuti ajang itu, Adinda tidak hanya fokus pada performance di atas panggung. Namun, persiapan mental dan penguasaan public speaking terus diasahnya. ”Itu bukan hanya dilatih sebulan dua bulan, tapi terus dilakukan selama 6 tahun ini,” tambah dia. Dulu, diakuinya, ia sempat merasa malu untuk mengakui kegagalan. Namun saat ini, anak ketiga dari empat saudara itu justru bersyukur dan menyadari bila kegagalan itu membawa banyak pelajaran untuknya. ”Dan karena terpaan kegagalan itu saya bisa seperti sekarang ini,” imbuhnya.

Motivasi yang lainnya juga karena dirinya memiliki support system yang benar-benar mendukung passion-nya. ”Terutama ibu saya, ingat banget 6 tahun lalu saya menangis di pangkuan ibu karena gagal di Puteri Indonesia Jatim,” kenangnya.

Kini, dia berharap, amanah yang sedang diterimanya bisa membanggakan kedua orang tuanya. Ke depan, dia akan memaksimalkan kemampuannya untuk bersaing di ajang tersebut tingkat nasional. ”Karena ini membawa Jatim, saya berterimakasih sekali pada Ikatan Alumni Putri Indonesia (IAPI) Jatim atas kepercayaannya pada saya,” kata Adinda.

Sementara itu, untuk gelar Puteri Indonesia Jatim Favorit 2022 diraih The Winner Duta Hijab Radar Malang tahun 2017, Hepy Mandiana Sari. Perempuan kelahiran 1997 itu juga tidak menyangka atas perolehannya itu. Lantaran sebelumnya ia sempat merasa insecure karena harus bersaing dengan 12 finalis lainnya.

Namun, Alumnus Universitas Negeri Malang (UM) itu ingin membuktikan pada masyarakat luas bila meski berhijab, dia tetap bisa berkarya yang bisa membuahkan prestasi. Dalam kesempatan bersaing di ajang Puteri Indonesia Jatim itu, dirinya mengusung tema advokasi tentang rumah inspiratif. Yakni, sebuah komunitas yang mempunyai misi ”jadilah pemuda Indonesia yang terus berprestasi, teruslah menginspirasi untuk negeri, mari berbagi dengan hati”.

”Sebenarnya komunitas tersebut sudah ada sejak tahun 2016 lalu. Didirikan oleh mahasiswa UM, dan sejak tahun itu pula saya menjadi volunteer di sana sampai sekarang,” kata dia. Komunitas tersebut ingin melestarikan kembali budaya membaca, permainan tradisional yang mulai dilupakan, serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya.

Dia berharap, dengan predikat yang diraihnya itu, dia bisa terus mengoptimalkan potensinya dalam dunia pageant. Sebab baginya, ajang Puteri Indonesia Jatim ini adalah sebuah platform yang dapat mendukung women empowerment (pemberdayaan perempuan).

”Dengan advokasi, masing-masing bisa berkontribusi untuk negeri, yang juga mendukung serta menginspirasi perempuan lainnya, bahwa perempuan itu bisa berdaya,” kata dia. (ulf/by/rmc)

Definisi proses tidak mengkhianati hasil sudah dibuktikan Adinda Cresheilla. Setelah banyak mengalami kegagalan dalam ajang pageant selama 6 tahun terakhir, 1 Oktober lalu dia terpilih menjadi Puteri Indonesia Jawa Timur 2021-2022. Selain dia, ada Hepy Mandiana Sari yang meraih predikat Puteri Indonesia Jatim Favorit 2021-2022.

Dalam pemilihan Puteri Indonesia Jawa Timur 2021-2022, Adinda mengusung tema advokasi program kesetaraan gender melalui platform digital ‘Better Equal’. Di balik penunjukan tema itu, dia membawa motivasi dari beberapa kegagalannya sejak 6 tahun silam. Dikatakan Adinda, perjalanannya dalam dunia pageant tidak semulus dugaan beberapa orang. Lika-liku kegagalan sudah pernah dirasakannya.

Salah satunya terjadi di tahun 2015 lalu, ketika dia gagal meraih kesempatan menjadi Puteri Indonesia Jatim. Namun, hal itu tidak membuatnya menyerah begitu saja. Alumnus Universitas Indonesia (UI) itu terus mengasah kemampuannya dengan mengikuti beberapa kompetisi nasional. Hasilnya, juga masih mengecewakan baginya, karena dia belum mampu lolos.

Kegagalan-kegagalan itu menjadi bahan refleksi baginya untuk mengevaluasi skill yang dimiliki. ”Saya berpikir keras, apa sebenarnya titik-titik yang bisa saya tonjolkan, bagusnya saya di mana. Jadi memang untuk sampai di Puteri Indonesia ini perjalanannya sangat panjang,” kata dia.

Pada kesempatan kedua mengikuti ajang itu, Adinda tidak hanya fokus pada performance di atas panggung. Namun, persiapan mental dan penguasaan public speaking terus diasahnya. ”Itu bukan hanya dilatih sebulan dua bulan, tapi terus dilakukan selama 6 tahun ini,” tambah dia. Dulu, diakuinya, ia sempat merasa malu untuk mengakui kegagalan. Namun saat ini, anak ketiga dari empat saudara itu justru bersyukur dan menyadari bila kegagalan itu membawa banyak pelajaran untuknya. ”Dan karena terpaan kegagalan itu saya bisa seperti sekarang ini,” imbuhnya.

Motivasi yang lainnya juga karena dirinya memiliki support system yang benar-benar mendukung passion-nya. ”Terutama ibu saya, ingat banget 6 tahun lalu saya menangis di pangkuan ibu karena gagal di Puteri Indonesia Jatim,” kenangnya.

Kini, dia berharap, amanah yang sedang diterimanya bisa membanggakan kedua orang tuanya. Ke depan, dia akan memaksimalkan kemampuannya untuk bersaing di ajang tersebut tingkat nasional. ”Karena ini membawa Jatim, saya berterimakasih sekali pada Ikatan Alumni Putri Indonesia (IAPI) Jatim atas kepercayaannya pada saya,” kata Adinda.

Sementara itu, untuk gelar Puteri Indonesia Jatim Favorit 2022 diraih The Winner Duta Hijab Radar Malang tahun 2017, Hepy Mandiana Sari. Perempuan kelahiran 1997 itu juga tidak menyangka atas perolehannya itu. Lantaran sebelumnya ia sempat merasa insecure karena harus bersaing dengan 12 finalis lainnya.

Namun, Alumnus Universitas Negeri Malang (UM) itu ingin membuktikan pada masyarakat luas bila meski berhijab, dia tetap bisa berkarya yang bisa membuahkan prestasi. Dalam kesempatan bersaing di ajang Puteri Indonesia Jatim itu, dirinya mengusung tema advokasi tentang rumah inspiratif. Yakni, sebuah komunitas yang mempunyai misi ”jadilah pemuda Indonesia yang terus berprestasi, teruslah menginspirasi untuk negeri, mari berbagi dengan hati”.

”Sebenarnya komunitas tersebut sudah ada sejak tahun 2016 lalu. Didirikan oleh mahasiswa UM, dan sejak tahun itu pula saya menjadi volunteer di sana sampai sekarang,” kata dia. Komunitas tersebut ingin melestarikan kembali budaya membaca, permainan tradisional yang mulai dilupakan, serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya.

Dia berharap, dengan predikat yang diraihnya itu, dia bisa terus mengoptimalkan potensinya dalam dunia pageant. Sebab baginya, ajang Puteri Indonesia Jatim ini adalah sebuah platform yang dapat mendukung women empowerment (pemberdayaan perempuan).

”Dengan advokasi, masing-masing bisa berkontribusi untuk negeri, yang juga mendukung serta menginspirasi perempuan lainnya, bahwa perempuan itu bisa berdaya,” kata dia. (ulf/by/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru