alexametrics
21.4 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Tradisi Unik Sambut Nyepi di Bali, dari Mecaru Hingga Majuk-jukan

Ada sejumlah tradisi unik yang digelar Krama Desa Adat Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Provinsi Bali saat menyambut Hari Raya Nyepi. Mulai dari mecaru yang dilaksanakan sebanyak tiga kali dengan menggunakan sarana ayam, babi hingga sapi. Tak lupa pula ritual Mejuk-jukan yang dilaksanakan saat Pengrupukan. Hanya saja, mengingat masih pandemi, Mejuk-jukan pun hanya dilaksanakan secara simbolis saja.

SEJUMLAH krama pengayah terlihat sibuk mebat atau memasak di areal pewaregan (dapur) Pura Desa Bengkala pada Kamis (11/3) siang. Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, krama pengayah laki-laki ini bahu-membahu mempersiapkan bumbu lawar untuk Upacara Mecaru yang digelar pada Jumat (12/3) serangkaian menyambut hari Raya Nyepi.

Penyarikan Desa Adat Bengkala, Ketut Darpa saat ditemui Radar Bali (Radar Malang Jawapos Group) di Pura Desa menceritakan dalam setahun Krama Desa Adat Bengkala menggelar pecaruan sebanyak dua kali. Yakni pada Sasih Kenem dan Sasih Kesanga.

Khusus Sasih Kesanga, pecaruan pada umumnya digelar berkaitan dengan rangkaian Hari Raya Nyepi. Hanya saja, di Bengkala mecaru dilaksanakan sebanyak tiga kali. Sarananya pun berbeda. Yakni sarana ayam yang dihaturkan saat H-2 Nyepi dan dihaturkan di Pura Desa. Kemudian dua sarana lainnya yakni Babi di Pura Desa serta Sapi di Pura Dalam saat Pengrupukan.

Dikatakan Ketut Darpa, untuk pecaruan yang dilaksanakan dua hari sebelum Nyepi, menggunakan sarana ayam kampung pejantan. Setiap krama pengayah akan membawa satu ekor ayam kampung yang sudah layak dipotong.

“Jumlah krama pengayah di Desa Bengkala ada sekitar 678 orang. itu berarti ada 678 ekor ayam yang disembelih untuk acara pecaruan di Pura Desa,” ujar Ketut Darpa.

Darpa melanjutkan, lawar ayam yang telah dimasak oleh krama selanjutnya disantap bersama atau megibung di areal pura. Namun, karena situasi pandemi Covid-19, lawar tersebut bisa dinikmati di rumah masing-masing. Terpenting, lawar yang biasa disebut aci ini juga ditaburkan di areal perkebunan.

“Secara filosofis, lawar yang ditunas (dimohon, Red) krama ini sebagai simbol kesuburan. Dengan harapan agar desa kami senantiasa diberikan kesuburan, hasil pertanian berlimpah, dan krama hidup makmur,” jelasnya lagi.

Menariknya, dari pengalaman tahun sebelumnya, pelaksanaan mecaru dengan sarana ayam ini selalu memunculkan misteri. Dimana, dari ratusan ayam kampung yang dihaturkan krama, selalu saja ditemukan satu atau dua ekor ayam istimewa. Yakni ayam cemeng atau berwarnah hitam legam di seluruh tubuhnya.

“Padahal, krama tidak ada yang merasa membawa ayam berwarna hitam. Tetapi selalu mucul. Nah ayam cemeng itulah yang kerap digunakan sebagai dasar pecaruan. Ada juga ayam yang disambleh sebagai caru. Sisanya dimasak untuk lawar oleh krama,” tuturnya.

Lalu, apakah konsekuensinya jika pecaruan ayam tidak dilaksanakan? Darpa kembali berkisah. Pernah di tahun 1970-an, hanya menggunakan beberapa ekor saja saat pecaruan sebagai simbolis semata. Karena krama sempat berpikir jika menggunakan ratusan ekor ayam dinilai terlalu banyak.

Namun, apa yang terjadi? rupanya efisiensi sarana upacara membawa musibah. Desa Bengkala ditimpa wabah penyakit. Banyak krama meninggal tidak jelas. Pohon bertumbangan. Ayam peliharaan warga mati terkena penyakit.

Atas wabah tersebut, para penglingsir kemudian memohon petunjuk. “Ternyata sisip. Setelah dapat pawisik kemudian diminta agar tetap menghaturkan ratusan ekor ayam seperti semula. Sebab, acangan beliau juga ingin mendapat sesajen. Sehingga kami menghaturkan guru piduka dan kembali menggunakan ratusan ekor ayam seperti sedia kala,” kenangnya.

Sedangkan mecaru saat hari pengrupukan (H-1) ada dua jenis sarana yang digunakan. Yakni caru Babi yang dipersembahkan di depan Pura Desa tepatnya di catus pata. Babi yang digunakan haruslah berjenis kelamin pejantan. Bagian yang digunakan adalah ulu gempal. Seperti kaki, kulitnya, kepala dan iganya. “Jadi itu dihaturkan di piasan dan di catus pata,” ungkapnya.

Pada jam yang sama, krama juga melaksanakan pecaruan di Pura Dalem dengan menggunakan sarana satu ekor Sapi. Dimana, sapi yang digunakan itu adalah berjenis kelamin pejantan dan sudah ditelusuk (hidung dicokok).

Dengan syarat, Sapi yang digunakan untuk sarana caru tidak boleh cacat. “Lidahnya kalau putih, ya tidak bisa dipakai. Kukunya juga cacat, ya tidak bisa,” kata pria yang juga guru di SMPN 1 Kubutambahan ini.

Diungkapkan Darpa, pecaruan yang digelar Desa Adat Bengkala bersumber dari sebuah kutipan di Prasasti Bengkala. Dalam prasasti itu tersurat jika Desa Adat Bengkala wenang dan wajib menggelar pecaruan di sasih Kenem dan Kesanga. “Kami mensomia para bhuta kala, sehingga harmonis dengan manusia, tidak mengganggu,” imbuhnya.

Lalu bagaimana dengan tradisi Mejuk-jukan yang dilaksanakan saat pengrupukan?Nah, kalau tradisi mejuk-jukan juga akan digelar, namun secara simbolis, sehingga tidak menimbulkan keramaian dan kerumunan.

Prajuru adat akan meminta perwakilan sejumlah truna truni. Jumlahnya pun tak lebih dari delapan truna-truni. selain itu ada beberapa orang yang terlibat utuk prosesi nunas tirta.

“Kami sepakat tidak mengurangi sarana upakara. Hanya yang kita kurangi adalah orang yang terlibat, Sehingga tidak ada kerumunan,” imbuhnya.

Seperti diketahui ritual Majuk-jukan ini sudah berlangsung selama ratusan tahun dan diwariskan secara turun temurun. Tidak ada rujukan pasti yang melatarbelakangi digelarnya tradisi Majuk-jukan saat Pangrupukan Nyepi ini.

Namun, Ketut Darpa mendapatkan rujukan soal tradisi ini tahun 2007 silam ketika dirinya ikut berpartisipasi dalam penelitian arkeologi di Kubutambahan. Rujukan soal tradisi ritual Majuk-jukan ini tertuang dalam Prasasti Pakuan.

Sejak kejadian tersebut, Desa Pakuan memisahkan diri dari Desa Bengkala. Berdasarkan Prasasti Pakuan, ketika krama menghormati gadis cantik yang sempat dilecehkan itu sebagai ratu dalam bentuk Palinggih Ratu, sementara krama Desa Pakraman Bengkala membuat tradisi ritual Majukjukan sebagai simbol penghormatan kepada gadis dan wanita umumnya.

Ketut Darpa mengatakan, tradisi ritual Majuk-jukan hingga kini dipakai krama Desa Pakraman Bengkala sebagai salah satu gambaran dan peringatan bahwa keberadaan gadis atau wanita senantiasa harus dihormati.

Sumber: Jawapos

Ada sejumlah tradisi unik yang digelar Krama Desa Adat Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Provinsi Bali saat menyambut Hari Raya Nyepi. Mulai dari mecaru yang dilaksanakan sebanyak tiga kali dengan menggunakan sarana ayam, babi hingga sapi. Tak lupa pula ritual Mejuk-jukan yang dilaksanakan saat Pengrupukan. Hanya saja, mengingat masih pandemi, Mejuk-jukan pun hanya dilaksanakan secara simbolis saja.

SEJUMLAH krama pengayah terlihat sibuk mebat atau memasak di areal pewaregan (dapur) Pura Desa Bengkala pada Kamis (11/3) siang. Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, krama pengayah laki-laki ini bahu-membahu mempersiapkan bumbu lawar untuk Upacara Mecaru yang digelar pada Jumat (12/3) serangkaian menyambut hari Raya Nyepi.

Penyarikan Desa Adat Bengkala, Ketut Darpa saat ditemui Radar Bali (Radar Malang Jawapos Group) di Pura Desa menceritakan dalam setahun Krama Desa Adat Bengkala menggelar pecaruan sebanyak dua kali. Yakni pada Sasih Kenem dan Sasih Kesanga.

Khusus Sasih Kesanga, pecaruan pada umumnya digelar berkaitan dengan rangkaian Hari Raya Nyepi. Hanya saja, di Bengkala mecaru dilaksanakan sebanyak tiga kali. Sarananya pun berbeda. Yakni sarana ayam yang dihaturkan saat H-2 Nyepi dan dihaturkan di Pura Desa. Kemudian dua sarana lainnya yakni Babi di Pura Desa serta Sapi di Pura Dalam saat Pengrupukan.

Dikatakan Ketut Darpa, untuk pecaruan yang dilaksanakan dua hari sebelum Nyepi, menggunakan sarana ayam kampung pejantan. Setiap krama pengayah akan membawa satu ekor ayam kampung yang sudah layak dipotong.

“Jumlah krama pengayah di Desa Bengkala ada sekitar 678 orang. itu berarti ada 678 ekor ayam yang disembelih untuk acara pecaruan di Pura Desa,” ujar Ketut Darpa.

Darpa melanjutkan, lawar ayam yang telah dimasak oleh krama selanjutnya disantap bersama atau megibung di areal pura. Namun, karena situasi pandemi Covid-19, lawar tersebut bisa dinikmati di rumah masing-masing. Terpenting, lawar yang biasa disebut aci ini juga ditaburkan di areal perkebunan.

“Secara filosofis, lawar yang ditunas (dimohon, Red) krama ini sebagai simbol kesuburan. Dengan harapan agar desa kami senantiasa diberikan kesuburan, hasil pertanian berlimpah, dan krama hidup makmur,” jelasnya lagi.

Menariknya, dari pengalaman tahun sebelumnya, pelaksanaan mecaru dengan sarana ayam ini selalu memunculkan misteri. Dimana, dari ratusan ayam kampung yang dihaturkan krama, selalu saja ditemukan satu atau dua ekor ayam istimewa. Yakni ayam cemeng atau berwarnah hitam legam di seluruh tubuhnya.

“Padahal, krama tidak ada yang merasa membawa ayam berwarna hitam. Tetapi selalu mucul. Nah ayam cemeng itulah yang kerap digunakan sebagai dasar pecaruan. Ada juga ayam yang disambleh sebagai caru. Sisanya dimasak untuk lawar oleh krama,” tuturnya.

Lalu, apakah konsekuensinya jika pecaruan ayam tidak dilaksanakan? Darpa kembali berkisah. Pernah di tahun 1970-an, hanya menggunakan beberapa ekor saja saat pecaruan sebagai simbolis semata. Karena krama sempat berpikir jika menggunakan ratusan ekor ayam dinilai terlalu banyak.

Namun, apa yang terjadi? rupanya efisiensi sarana upacara membawa musibah. Desa Bengkala ditimpa wabah penyakit. Banyak krama meninggal tidak jelas. Pohon bertumbangan. Ayam peliharaan warga mati terkena penyakit.

Atas wabah tersebut, para penglingsir kemudian memohon petunjuk. “Ternyata sisip. Setelah dapat pawisik kemudian diminta agar tetap menghaturkan ratusan ekor ayam seperti semula. Sebab, acangan beliau juga ingin mendapat sesajen. Sehingga kami menghaturkan guru piduka dan kembali menggunakan ratusan ekor ayam seperti sedia kala,” kenangnya.

Sedangkan mecaru saat hari pengrupukan (H-1) ada dua jenis sarana yang digunakan. Yakni caru Babi yang dipersembahkan di depan Pura Desa tepatnya di catus pata. Babi yang digunakan haruslah berjenis kelamin pejantan. Bagian yang digunakan adalah ulu gempal. Seperti kaki, kulitnya, kepala dan iganya. “Jadi itu dihaturkan di piasan dan di catus pata,” ungkapnya.

Pada jam yang sama, krama juga melaksanakan pecaruan di Pura Dalem dengan menggunakan sarana satu ekor Sapi. Dimana, sapi yang digunakan itu adalah berjenis kelamin pejantan dan sudah ditelusuk (hidung dicokok).

Dengan syarat, Sapi yang digunakan untuk sarana caru tidak boleh cacat. “Lidahnya kalau putih, ya tidak bisa dipakai. Kukunya juga cacat, ya tidak bisa,” kata pria yang juga guru di SMPN 1 Kubutambahan ini.

Diungkapkan Darpa, pecaruan yang digelar Desa Adat Bengkala bersumber dari sebuah kutipan di Prasasti Bengkala. Dalam prasasti itu tersurat jika Desa Adat Bengkala wenang dan wajib menggelar pecaruan di sasih Kenem dan Kesanga. “Kami mensomia para bhuta kala, sehingga harmonis dengan manusia, tidak mengganggu,” imbuhnya.

Lalu bagaimana dengan tradisi Mejuk-jukan yang dilaksanakan saat pengrupukan?Nah, kalau tradisi mejuk-jukan juga akan digelar, namun secara simbolis, sehingga tidak menimbulkan keramaian dan kerumunan.

Prajuru adat akan meminta perwakilan sejumlah truna truni. Jumlahnya pun tak lebih dari delapan truna-truni. selain itu ada beberapa orang yang terlibat utuk prosesi nunas tirta.

“Kami sepakat tidak mengurangi sarana upakara. Hanya yang kita kurangi adalah orang yang terlibat, Sehingga tidak ada kerumunan,” imbuhnya.

Seperti diketahui ritual Majuk-jukan ini sudah berlangsung selama ratusan tahun dan diwariskan secara turun temurun. Tidak ada rujukan pasti yang melatarbelakangi digelarnya tradisi Majuk-jukan saat Pangrupukan Nyepi ini.

Namun, Ketut Darpa mendapatkan rujukan soal tradisi ini tahun 2007 silam ketika dirinya ikut berpartisipasi dalam penelitian arkeologi di Kubutambahan. Rujukan soal tradisi ritual Majuk-jukan ini tertuang dalam Prasasti Pakuan.

Sejak kejadian tersebut, Desa Pakuan memisahkan diri dari Desa Bengkala. Berdasarkan Prasasti Pakuan, ketika krama menghormati gadis cantik yang sempat dilecehkan itu sebagai ratu dalam bentuk Palinggih Ratu, sementara krama Desa Pakraman Bengkala membuat tradisi ritual Majukjukan sebagai simbol penghormatan kepada gadis dan wanita umumnya.

Ketut Darpa mengatakan, tradisi ritual Majuk-jukan hingga kini dipakai krama Desa Pakraman Bengkala sebagai salah satu gambaran dan peringatan bahwa keberadaan gadis atau wanita senantiasa harus dihormati.

Sumber: Jawapos

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/