alexametrics
26.6 C
Malang
Wednesday, 6 July 2022

Sembilan Hari Napak Tilas Spiritual ke Mesir, Palestina, dan Yordania (22): Tersentuh dengan Bacaan Qunut dan Sujud Tilawah di Al Qibli

Hari ketiga di Palestina, berarti hari terakhir mengunjungi Al Aqsho. Di tempat yang mulia dan diberkahi itu, saya merasakan pengalaman spiritual, pengalaman ibadah yang tak akan terlupakan. Juga bisa menyaksikan langsung ”mukjizat” peradaban dari bangunan Dome of The Rock.
***

Hari itu, Jumat, pukul 03.00 saya sudah bangun. Kami dijadwalkan untuk salat Subuh di Aqsho. Pukul 03.30 sudah harus berkumpul di lobi hotel. Selanjutnya diantar mini bus ke Al Aqsho.
Hari itu adalah hari ketiga saya di wilayah Palestina yang dikuasai Israel. Jika dihitung sejak berangkat, adalah hari ketujuh. Dan dari sisi rute, ini adalah rute kedua. Rute pertama ke Mesir. Sudah kami lalui. Rute kedua di Palestina/Israel. Juga sudah dilalui. Dan bersiap-siap ke rute selanjutnya: Yordania.
Pukul 03.30, saya sudah siap di lobi. Tak lama berselang, mini bus yang akan membawa kami ke Al Aqsho tiba. Hawa masih cukup dingin. Meski saya sudah mengenakan jaket, tetap saja hawa dingin serasa menusuk tulang. Hawa dingin menjadi tidak terasa, karena kami harus berjalan kaki menuju ke kompleks Al Aqsho. Dan saya percepat jalan kakinya. Setengah berlari. Mungkin karena ini, hawa dingin agak tidak terasa.
Tiba di Masjid Al Qibli, saya masih sempat salat Tahajud, salat Hajat, dan salat Witir. Setelah itu iktikaf sambil menunggu masuk waktu Subuh. Tak lama berselang, Subuh pun tiba. Suara azan di Al Qibli cukup merdu. Tanpa sadar, kedua mata saya berkaca-kaca. Seraya kembali bersyukur, akhirnya berkesempatan salat di masjid, tempat Rasulullah SAW menjadi imam para Nabi dan Rasul saat Isra Mikraj.
Saat salat Subuh, saya terkejut. Ketika sang imam di tengah-tengah membaca surat, tiba-tiba mengajak sujud. Kemudian berdiri lagi untuk melanjutkan membaca surat. Lalu rukuk, dan seterusnya. Rasanya, saya belum pernah mengalami hal seperti itu.
Usai salat Subuh, kami baru dijelaskan oleh KH Muzakky, yang membimbing kami selama tour, bahwa sujud yang dilakukan saat Subuh tadi adalah sujud tilawah. ”Setiap Jumat, saat salat Subuh, di masjid ini biasa melakukan itu,” katanya.
Jadi, sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan setelah membaca atau mendengar ayat sajdah. Ayat sajdah adalah ayat-ayat tertentu di dalam Alquran yang bila dibaca disunahkan bagi yang membaca dan mendengarnya untuk melakukan sujud tilawah. ”Di dalam Alquran ada 15 tempat ayat sajdah,” ujarnya.
Yakni: Al A’raf 206, Al Ra’du 15, Al Nahl 50, Al Isra 109, Maryam 58, Al Haj 18 dan 77, Al Furqan 60, Al Naml 26, Al Sajdah 15, Fushilat 38, Al Najm 62, Al Insiqaq 21, Al A’laq 19, dan Shad 24.
Adapun sujud tilawah ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim: ”Sungguh Nabi SAW membaca Alquran, beliau membaca surah yang terdapat ayat sajdah, lalu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud, hingga sebagian dari kami tak mendapat tempat untuk bersujud”.

MASIH MUDA: Penulis dengan Imam Masjid Al Aqsho Syeh Nidhol Gharbas.

Selain mendapat pengalaman sujud tilawah, bacaan qunut saat salat Subuh di Masjid Al Qibli sangatlah merdu dan menyentuh. Saya tidak akan pernah bisa melupakan hal ini. Dan saya tidak akan pernah melupakan sudut-sudut bangunan Masjid Al Qibli dan Masjid Kubah As Sakhra yang saya datangi. Meski baru sekali ke sana.
Masjid Al Qibli sarat dengan nilai spiritual yang tinggi. Selain pernah menjadi kiblat pertama salat, juga pernah menjadi tempat di mana Rasulullah SAW pernah mengimami salat para Nabi dan Rasul pada peristiwa Isra Mikraj.
Sedangkan Masjid Kubah As Sakhra (Dome of The Rock), sarat dengan arsitektur yang adiluhung. Arsitektur Dome of The Rock terlihat menyerupai mahkota raksasa. Terdiri dari kubah berlapis emas dengan diameter sekitar 20 meter di bagian dalam, dan tingginya sekitar 20 meter. Di bawah kubah terdapat bangunan berbentuk lingkaran yang dilengkapi dengan 16 jendela kaca berwarna yang memungkinkan sinar matahari masuk. Bangunan berbentuk lingkaran dengan 16 jendela ini berfungsi sebagai leher yang menghubungkan kubah emas dengan pundak berbentuk octagon di bagian bawah.
Satu sisi, kompleks Al Aqsho begitu mengesankan. Inilah yang disebut sebagai ”mukjizat” peradaban. Tapi, pada sisi lainnya, saya prihatin. Untuk tempat sepenting itu nilai sejarahnya, dan untuk tempat semulia itu, yang datang ke sana sangatlah terbatas. Itu karena tempat tersebut saat ini dikuasai Israel. Mereka membuat aturan yang sangat ketat. Sebagian besar pengunjung adalah orang-orang Arab lokal yang umurnya 50 tahun ke atas, dan beberapa rombongan turis muslim dari sejumlah negara. Saking ketatnya aturan Israel, muslim dari negara Yordania dan Mesir yang berbatasan langsung dan punya hubungan diplomatik dengan Israel pun tak mudah untuk bisa masuk ke Al Aqsho.
Setelah salat Subuh di Al Qibli, kami diajak berdoa bersama oleh KH Muzakky di depan Masjid Al Qibli. Saat berdoa itu, kami rata-rata menangis. Menangis haru, karena bersyukur telah bisa bersujud di karpetnya Al Aqsho. Juga menangis sedih, harus meninggalkan Al Aqsho. Dalam doa kami itu, kami sangat ingin mengunjungi lagi Al Aqsho. Bersama istri dan anak-anak kami.
Usai berdoa, kami beruntung, karena secara kebetulan bisa bertemu dengan imam Masjid Al Aqsho yang tadi memimpin salat Subuh. Namanya Syeh Nidhol Gharbas. Masih muda. Wajahnya putih bersih. Senyum selalu mengembang di wajahnya. Mengenakan serban yang diikatkan di kepalanya, serta berjubah. Dia tampak sangat bergembira begitu mengetahui kami berasal dari Indonesia. Kami juga minta doa kepadanya.
Setelah berdoa, kami diminta untuk segera kembali ke hotel. Sebab, harus segera check out. Hari itu, adalah hari terakhir kami berada di Palestina. Selanjutnya, akan melanjutkan perjalanan menuju ke Yordania.
Pukul 08.30 kami sudah siap untuk check out. Bus yang akan membawa kami pun sudah siap. Maka, kami pun berangkat menuju ke perbatasan Israel-Yordania. Pukul 09.45 kami sudah masuk ke King Hussein Border. Lebih dahulu kami harus melewati Imigrasi Israel. Di Imigrasi Israel tak lama. Lancar. Berbeda sama sekali ketika akan masuk ke Israel. Yang waktu itu luuaaamaaa. Yang waktu itu ketat sekali pemeriksaannya. Dalam hati saya mengumpat. Tapi, bagaimana lagi. Demi bisa mengunjungi Al Aqsho. Sayonara Palestina. Sayonara Al Aqsho.
Keluar dari Imigrasi Israel, kami pun masuk ke Imigrasi Yordania. Pemeriksaan di Imigrasi Yordania tak setegang dan seketat di saat masuk ke Imigrasi Israel. Petugas di Imigrasi Yordania pun lebih ramah. Pukul 11.00, kami sudah berada di wilayah Yordania. Tak lama menunggu, kami sudah disapa seorang pria ramah. Masih muda. Kira-kira 27 tahun. Namanya Majid. Dialah yang menjadi guide lokal kami selama berada di Yordania. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Hari ketiga di Palestina, berarti hari terakhir mengunjungi Al Aqsho. Di tempat yang mulia dan diberkahi itu, saya merasakan pengalaman spiritual, pengalaman ibadah yang tak akan terlupakan. Juga bisa menyaksikan langsung ”mukjizat” peradaban dari bangunan Dome of The Rock.
***

Hari itu, Jumat, pukul 03.00 saya sudah bangun. Kami dijadwalkan untuk salat Subuh di Aqsho. Pukul 03.30 sudah harus berkumpul di lobi hotel. Selanjutnya diantar mini bus ke Al Aqsho.
Hari itu adalah hari ketiga saya di wilayah Palestina yang dikuasai Israel. Jika dihitung sejak berangkat, adalah hari ketujuh. Dan dari sisi rute, ini adalah rute kedua. Rute pertama ke Mesir. Sudah kami lalui. Rute kedua di Palestina/Israel. Juga sudah dilalui. Dan bersiap-siap ke rute selanjutnya: Yordania.
Pukul 03.30, saya sudah siap di lobi. Tak lama berselang, mini bus yang akan membawa kami ke Al Aqsho tiba. Hawa masih cukup dingin. Meski saya sudah mengenakan jaket, tetap saja hawa dingin serasa menusuk tulang. Hawa dingin menjadi tidak terasa, karena kami harus berjalan kaki menuju ke kompleks Al Aqsho. Dan saya percepat jalan kakinya. Setengah berlari. Mungkin karena ini, hawa dingin agak tidak terasa.
Tiba di Masjid Al Qibli, saya masih sempat salat Tahajud, salat Hajat, dan salat Witir. Setelah itu iktikaf sambil menunggu masuk waktu Subuh. Tak lama berselang, Subuh pun tiba. Suara azan di Al Qibli cukup merdu. Tanpa sadar, kedua mata saya berkaca-kaca. Seraya kembali bersyukur, akhirnya berkesempatan salat di masjid, tempat Rasulullah SAW menjadi imam para Nabi dan Rasul saat Isra Mikraj.
Saat salat Subuh, saya terkejut. Ketika sang imam di tengah-tengah membaca surat, tiba-tiba mengajak sujud. Kemudian berdiri lagi untuk melanjutkan membaca surat. Lalu rukuk, dan seterusnya. Rasanya, saya belum pernah mengalami hal seperti itu.
Usai salat Subuh, kami baru dijelaskan oleh KH Muzakky, yang membimbing kami selama tour, bahwa sujud yang dilakukan saat Subuh tadi adalah sujud tilawah. ”Setiap Jumat, saat salat Subuh, di masjid ini biasa melakukan itu,” katanya.
Jadi, sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan setelah membaca atau mendengar ayat sajdah. Ayat sajdah adalah ayat-ayat tertentu di dalam Alquran yang bila dibaca disunahkan bagi yang membaca dan mendengarnya untuk melakukan sujud tilawah. ”Di dalam Alquran ada 15 tempat ayat sajdah,” ujarnya.
Yakni: Al A’raf 206, Al Ra’du 15, Al Nahl 50, Al Isra 109, Maryam 58, Al Haj 18 dan 77, Al Furqan 60, Al Naml 26, Al Sajdah 15, Fushilat 38, Al Najm 62, Al Insiqaq 21, Al A’laq 19, dan Shad 24.
Adapun sujud tilawah ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim: ”Sungguh Nabi SAW membaca Alquran, beliau membaca surah yang terdapat ayat sajdah, lalu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud, hingga sebagian dari kami tak mendapat tempat untuk bersujud”.

MASIH MUDA: Penulis dengan Imam Masjid Al Aqsho Syeh Nidhol Gharbas.

Selain mendapat pengalaman sujud tilawah, bacaan qunut saat salat Subuh di Masjid Al Qibli sangatlah merdu dan menyentuh. Saya tidak akan pernah bisa melupakan hal ini. Dan saya tidak akan pernah melupakan sudut-sudut bangunan Masjid Al Qibli dan Masjid Kubah As Sakhra yang saya datangi. Meski baru sekali ke sana.
Masjid Al Qibli sarat dengan nilai spiritual yang tinggi. Selain pernah menjadi kiblat pertama salat, juga pernah menjadi tempat di mana Rasulullah SAW pernah mengimami salat para Nabi dan Rasul pada peristiwa Isra Mikraj.
Sedangkan Masjid Kubah As Sakhra (Dome of The Rock), sarat dengan arsitektur yang adiluhung. Arsitektur Dome of The Rock terlihat menyerupai mahkota raksasa. Terdiri dari kubah berlapis emas dengan diameter sekitar 20 meter di bagian dalam, dan tingginya sekitar 20 meter. Di bawah kubah terdapat bangunan berbentuk lingkaran yang dilengkapi dengan 16 jendela kaca berwarna yang memungkinkan sinar matahari masuk. Bangunan berbentuk lingkaran dengan 16 jendela ini berfungsi sebagai leher yang menghubungkan kubah emas dengan pundak berbentuk octagon di bagian bawah.
Satu sisi, kompleks Al Aqsho begitu mengesankan. Inilah yang disebut sebagai ”mukjizat” peradaban. Tapi, pada sisi lainnya, saya prihatin. Untuk tempat sepenting itu nilai sejarahnya, dan untuk tempat semulia itu, yang datang ke sana sangatlah terbatas. Itu karena tempat tersebut saat ini dikuasai Israel. Mereka membuat aturan yang sangat ketat. Sebagian besar pengunjung adalah orang-orang Arab lokal yang umurnya 50 tahun ke atas, dan beberapa rombongan turis muslim dari sejumlah negara. Saking ketatnya aturan Israel, muslim dari negara Yordania dan Mesir yang berbatasan langsung dan punya hubungan diplomatik dengan Israel pun tak mudah untuk bisa masuk ke Al Aqsho.
Setelah salat Subuh di Al Qibli, kami diajak berdoa bersama oleh KH Muzakky di depan Masjid Al Qibli. Saat berdoa itu, kami rata-rata menangis. Menangis haru, karena bersyukur telah bisa bersujud di karpetnya Al Aqsho. Juga menangis sedih, harus meninggalkan Al Aqsho. Dalam doa kami itu, kami sangat ingin mengunjungi lagi Al Aqsho. Bersama istri dan anak-anak kami.
Usai berdoa, kami beruntung, karena secara kebetulan bisa bertemu dengan imam Masjid Al Aqsho yang tadi memimpin salat Subuh. Namanya Syeh Nidhol Gharbas. Masih muda. Wajahnya putih bersih. Senyum selalu mengembang di wajahnya. Mengenakan serban yang diikatkan di kepalanya, serta berjubah. Dia tampak sangat bergembira begitu mengetahui kami berasal dari Indonesia. Kami juga minta doa kepadanya.
Setelah berdoa, kami diminta untuk segera kembali ke hotel. Sebab, harus segera check out. Hari itu, adalah hari terakhir kami berada di Palestina. Selanjutnya, akan melanjutkan perjalanan menuju ke Yordania.
Pukul 08.30 kami sudah siap untuk check out. Bus yang akan membawa kami pun sudah siap. Maka, kami pun berangkat menuju ke perbatasan Israel-Yordania. Pukul 09.45 kami sudah masuk ke King Hussein Border. Lebih dahulu kami harus melewati Imigrasi Israel. Di Imigrasi Israel tak lama. Lancar. Berbeda sama sekali ketika akan masuk ke Israel. Yang waktu itu luuaaamaaa. Yang waktu itu ketat sekali pemeriksaannya. Dalam hati saya mengumpat. Tapi, bagaimana lagi. Demi bisa mengunjungi Al Aqsho. Sayonara Palestina. Sayonara Al Aqsho.
Keluar dari Imigrasi Israel, kami pun masuk ke Imigrasi Yordania. Pemeriksaan di Imigrasi Yordania tak setegang dan seketat di saat masuk ke Imigrasi Israel. Petugas di Imigrasi Yordania pun lebih ramah. Pukul 11.00, kami sudah berada di wilayah Yordania. Tak lama menunggu, kami sudah disapa seorang pria ramah. Masih muda. Kira-kira 27 tahun. Namanya Majid. Dialah yang menjadi guide lokal kami selama berada di Yordania. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/