alexametrics
26.5 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Hadirkan 12 Desainer, MFM 2021 Usung Konsep Alasthyra

MALANG KOTA – Sebanyak 12 desainer yang mengikuti ajang Malang Fashion Movement (MFM) tahun 2021 berlomba menghadirkan kreasi busana terbaiknya untuk disuguhkan di ajang bergengsi tersebut. Karena tahun ini, MFM mengusung tema Alasthyra yang menjadi pijakan bagi para desainer ini. Kata Alasthyra sendiri diambil dari paduan Bahasa Jawa dan Sansekerta. Frasa alas berarti hutan dan sthyra yang bermakna kuat, tabah, terpercaya dan juga bisa diandalkan.

Dari tema besar itu, para desainer menghadirkan aneka gaun dengan beragam bentuk dan coraknya. Hal ini terlihat dalam agenda photo session di Agensi model Color Models Inc, Pertokoan Kompleks Taman Niaga Town Center, Jl. Soekarno Hatta, kemarin (15/3). Dalam agenda tersebut, seluruh desainer wajib membawa salah satu model yang akan dibawakan dalam acara puncak MFM. Beberapa ada yang berkonsep alam, tradisi hingga teknologi.

Seperti desainer Hany dengan brandnya Torilla Mode. “Tema yang saya bawa adalah Shibori Style Moslem Wear,” terang Hany. Tema yang diusungnya ini terinspirasi dari keadaan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) selama pandemi yang terpuruk. Oleh karena itu, dia melakukan kolaborasi dengan pengrajin batik Shibori dan pelaku UMKM lainnya. Dengan harapan bisa mendongkrak pendapatan mereka.

Ada lagi peserta dari kalangan siswa, yaitu siswa SMK Negeri 3 Malang. Desainer yang berjumlah 8 siswa ini menamai brand mereka dengan Threecan. Konsep yang diusung pun membawa jargon “Welcome 5G”. “Tema ini berangkat dari isu 5G di Indonesia,” kata salah seorang desainer Marwah. Style yang dibawakan terlihat sporty, easy going dan wearable dengan kombinasi warna biru dan putih. Ditambah dengan simbol-simbol teknologi yang menjadi ciri khas.

Ada juga yang mengusung tema “Bali Van Java” oleh desainer Yusi, pemilik brand Yusi The Mantra. “Sesuai temanya, gaunnya itu kombinasi antara kain Endek Bali dengan kebaya Kutubaru dan kebaya Kartini,” ujar Yusi yang berkolaborasi dengan brand Metamorph ini. Sentuhan bunga dari batik Encim makin menambah perpaduan warna-warna alam yang menggambarkan wanita cantik di tengah hutan.

Konsep perpaduan dua budaya juga diusung oleh brand Puspawarni Ready To Wear. “Temanya Kesengsem Batik Lasem, corak batiknya adalah perpaduan antara Cina dan Jawa Pesisir,” ungkap Debby. Dengan warna-warna alami seperti hijau daun dan coklat tanah, dia tampilkan dengan model yang casual sesuai dengan tema Alasthyra.

Sementara itu, Ana Sudibyo pemilik brand Ana Gown ini membawakan tema ” Dhaon Abirupa”. Dalam bahasan Sansakerta dhaon artinya daun dan abirupa artinya indah. “Koleksi saya kali ini bekerja sama dengan batik Sawunggaling Blitar yang membuat batik dari daun-daun yang indah yang dijadikan motif kainnya” terang Ana yang juga berprofesi sebagai notaris ini. Tema ini dia sesuaikan dengan tema MFM tahun ini tentang hutan dan alam.

Sementara brand The Chamber kolaborasi bersama Kyandra mengusung konsep “Glorious Maja”. “Konsep ini membawa kejayaan Kerajaan Majapahit masa lampau ke masa kini,” ujar Willy Ivan. Mereka mengkombinasikan antara batik dan gaun modern sehingga terlihat sangat anggun saat dikenakan. Terlebih warna gaun yang dipilih juga warna soft.

Ada juga yang terinspirasi jajan pasar yang disematkan pada gaun kreasinya. Itulah tema yang dibawakan brand Metamorph by Zack. “Tema Djajan Pasar ini terinspirasi dari kuliner tradisional Indonesia yang wajib dilestarikan,” ujar desainer Zack. Konsep kuliner tersebut, ia tuangkan dalam detail-detail seri baju anak dengan nuansa colourfull dan edgy.

Tema dengan seri anak-anak juga diusung oleh Nur Abidah dengan brand Keano Kids ini. “Temanya The Fairy, terinspirasi dari peri-peri cantik musim semi yang bisa terbang mengelilingi taman bunga,” ujar Nur Abidah. Warna-warna yang dipilih pun mewakili warna bebungaan seperti Lavender, Mawar dan Alamanda. Tema ini diambil menyesuaikan konsep stage MFM nantinya yang berada di alam terbuka.

Konsep yang terinspirasi dari dunia anak juga diusung oleh Lukman dengan brand Lynine. “Tema yang saya bawa adalah Kalopsia yang artinya sebuah khayalan hal indah dari sebuah kenyataan,” tutur Lukman. Khayalan itu kemudian dia realisasikan dalam bentuk baju yang menggambarkan imajinasi anak kecil yang unik. Desain yang dia buat terinspirasi dari channel TV swasta luar negeri Spacetoon yang menjadi surganya tontonan kartun anak-anak.

Sementara, tema nyentrik diusung oleh Andy Sugix bersama kakaknya Hefi Rosyid. “Tema kami Ultrasonic itu gambaran suara dan getaran yang frekuensinya terlalu tinggi bagi manusia,” kata Andy Sugix. Dia ingin karya yang dibawakannya memiliki kekuatan yang tinggi sama seperti ultrasonic. Terlihat dari desain nyentrik yang dibawakan, dengan paduan warna kontras dan aksen topi garis-garis.

Konsep kasual juga dibawakan oleh Gabrielle Jeans. “Konsep saya bawakan berbeda dari yang lainnya yang mungkin hanya diproduksi satu jenis itu saja. Kalau saya kan massal,” ungkap Gabrielle. Sehingga konsep baju yang dibawakan bisa dipakai oleh siapapun dengan gaya yang lebih santai. Dengan kombinasi celana jeans dan atasan kotak, cocok dipakai saat nongkrong bersama kawan.

Sementara itu desainer Migi Rihalasay membawakan tema “Semi”, yang diangkat dari harapan pada sebuah musim. Di mana banyak orang menanti, setelah musim hujan, datang musim semi yang akan menyambut musim kemarau. Di mana banyak harapan di pergantian musim menyambut hari baru. Seperti harapan agar Covid 19 cepat berlalu. Dengan design bernuansa warna cerah layaknya warna bunga dan kain dari bahan linen. “Ini sekaligus menggambarkan bahan yang nyaman dikenakan untuk musim semi yang akan datang ini,” ungkap Migi. (rmc/ref/mas)

MALANG KOTA – Sebanyak 12 desainer yang mengikuti ajang Malang Fashion Movement (MFM) tahun 2021 berlomba menghadirkan kreasi busana terbaiknya untuk disuguhkan di ajang bergengsi tersebut. Karena tahun ini, MFM mengusung tema Alasthyra yang menjadi pijakan bagi para desainer ini. Kata Alasthyra sendiri diambil dari paduan Bahasa Jawa dan Sansekerta. Frasa alas berarti hutan dan sthyra yang bermakna kuat, tabah, terpercaya dan juga bisa diandalkan.

Dari tema besar itu, para desainer menghadirkan aneka gaun dengan beragam bentuk dan coraknya. Hal ini terlihat dalam agenda photo session di Agensi model Color Models Inc, Pertokoan Kompleks Taman Niaga Town Center, Jl. Soekarno Hatta, kemarin (15/3). Dalam agenda tersebut, seluruh desainer wajib membawa salah satu model yang akan dibawakan dalam acara puncak MFM. Beberapa ada yang berkonsep alam, tradisi hingga teknologi.

Seperti desainer Hany dengan brandnya Torilla Mode. “Tema yang saya bawa adalah Shibori Style Moslem Wear,” terang Hany. Tema yang diusungnya ini terinspirasi dari keadaan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) selama pandemi yang terpuruk. Oleh karena itu, dia melakukan kolaborasi dengan pengrajin batik Shibori dan pelaku UMKM lainnya. Dengan harapan bisa mendongkrak pendapatan mereka.

Ada lagi peserta dari kalangan siswa, yaitu siswa SMK Negeri 3 Malang. Desainer yang berjumlah 8 siswa ini menamai brand mereka dengan Threecan. Konsep yang diusung pun membawa jargon “Welcome 5G”. “Tema ini berangkat dari isu 5G di Indonesia,” kata salah seorang desainer Marwah. Style yang dibawakan terlihat sporty, easy going dan wearable dengan kombinasi warna biru dan putih. Ditambah dengan simbol-simbol teknologi yang menjadi ciri khas.

Ada juga yang mengusung tema “Bali Van Java” oleh desainer Yusi, pemilik brand Yusi The Mantra. “Sesuai temanya, gaunnya itu kombinasi antara kain Endek Bali dengan kebaya Kutubaru dan kebaya Kartini,” ujar Yusi yang berkolaborasi dengan brand Metamorph ini. Sentuhan bunga dari batik Encim makin menambah perpaduan warna-warna alam yang menggambarkan wanita cantik di tengah hutan.

Konsep perpaduan dua budaya juga diusung oleh brand Puspawarni Ready To Wear. “Temanya Kesengsem Batik Lasem, corak batiknya adalah perpaduan antara Cina dan Jawa Pesisir,” ungkap Debby. Dengan warna-warna alami seperti hijau daun dan coklat tanah, dia tampilkan dengan model yang casual sesuai dengan tema Alasthyra.

Sementara itu, Ana Sudibyo pemilik brand Ana Gown ini membawakan tema ” Dhaon Abirupa”. Dalam bahasan Sansakerta dhaon artinya daun dan abirupa artinya indah. “Koleksi saya kali ini bekerja sama dengan batik Sawunggaling Blitar yang membuat batik dari daun-daun yang indah yang dijadikan motif kainnya” terang Ana yang juga berprofesi sebagai notaris ini. Tema ini dia sesuaikan dengan tema MFM tahun ini tentang hutan dan alam.

Sementara brand The Chamber kolaborasi bersama Kyandra mengusung konsep “Glorious Maja”. “Konsep ini membawa kejayaan Kerajaan Majapahit masa lampau ke masa kini,” ujar Willy Ivan. Mereka mengkombinasikan antara batik dan gaun modern sehingga terlihat sangat anggun saat dikenakan. Terlebih warna gaun yang dipilih juga warna soft.

Ada juga yang terinspirasi jajan pasar yang disematkan pada gaun kreasinya. Itulah tema yang dibawakan brand Metamorph by Zack. “Tema Djajan Pasar ini terinspirasi dari kuliner tradisional Indonesia yang wajib dilestarikan,” ujar desainer Zack. Konsep kuliner tersebut, ia tuangkan dalam detail-detail seri baju anak dengan nuansa colourfull dan edgy.

Tema dengan seri anak-anak juga diusung oleh Nur Abidah dengan brand Keano Kids ini. “Temanya The Fairy, terinspirasi dari peri-peri cantik musim semi yang bisa terbang mengelilingi taman bunga,” ujar Nur Abidah. Warna-warna yang dipilih pun mewakili warna bebungaan seperti Lavender, Mawar dan Alamanda. Tema ini diambil menyesuaikan konsep stage MFM nantinya yang berada di alam terbuka.

Konsep yang terinspirasi dari dunia anak juga diusung oleh Lukman dengan brand Lynine. “Tema yang saya bawa adalah Kalopsia yang artinya sebuah khayalan hal indah dari sebuah kenyataan,” tutur Lukman. Khayalan itu kemudian dia realisasikan dalam bentuk baju yang menggambarkan imajinasi anak kecil yang unik. Desain yang dia buat terinspirasi dari channel TV swasta luar negeri Spacetoon yang menjadi surganya tontonan kartun anak-anak.

Sementara, tema nyentrik diusung oleh Andy Sugix bersama kakaknya Hefi Rosyid. “Tema kami Ultrasonic itu gambaran suara dan getaran yang frekuensinya terlalu tinggi bagi manusia,” kata Andy Sugix. Dia ingin karya yang dibawakannya memiliki kekuatan yang tinggi sama seperti ultrasonic. Terlihat dari desain nyentrik yang dibawakan, dengan paduan warna kontras dan aksen topi garis-garis.

Konsep kasual juga dibawakan oleh Gabrielle Jeans. “Konsep saya bawakan berbeda dari yang lainnya yang mungkin hanya diproduksi satu jenis itu saja. Kalau saya kan massal,” ungkap Gabrielle. Sehingga konsep baju yang dibawakan bisa dipakai oleh siapapun dengan gaya yang lebih santai. Dengan kombinasi celana jeans dan atasan kotak, cocok dipakai saat nongkrong bersama kawan.

Sementara itu desainer Migi Rihalasay membawakan tema “Semi”, yang diangkat dari harapan pada sebuah musim. Di mana banyak orang menanti, setelah musim hujan, datang musim semi yang akan menyambut musim kemarau. Di mana banyak harapan di pergantian musim menyambut hari baru. Seperti harapan agar Covid 19 cepat berlalu. Dengan design bernuansa warna cerah layaknya warna bunga dan kain dari bahan linen. “Ini sekaligus menggambarkan bahan yang nyaman dikenakan untuk musim semi yang akan datang ini,” ungkap Migi. (rmc/ref/mas)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/