alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Seniman Malang Ini Lolos Lomba Cipta Lagu Dendang Nusantara

RADAR MALANG – Di dunia musik, nama Vigil Kristologus mungkin sangat asing. Padahal prestasinya cukup istimewa. Sejumlah 16 lagu sudah dia ciptakan. Yang terbaru, karyanya berjudul Rasa Indonesia sukses menempati urutan kedua di Lomba Cipta Lagu Dendang Nusantara yang diprakarsai oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI. Lagunya terpilih dari 185 karya dari seluruh Indonesia.

Dari Selat Malaka, sampai Banda Neira, Tanah Subur dan Kaya Semua Milik Kita. Cengkeh Lada dan Pala, Seluas Cakrawala, Anugerah Maha Kuasa, Bumi Khatulistiwa…

Begitu lirik lagu dengan nada menghentak karya Vigil Kristologus. Lalu, ada beberapa unsur-unsur nuansa etnik juga dimasukkan. Mulai dari Melayu sampai dengan lantunan Jawa seperti Madura. Lagu itulah yang menyita perhatian Lomba Cipta Lagu Dendang Nusantara.

Berjudul Rasa Indonesia lagu tersebut sukses masuk 10 lagu pilihan di Kompetisi Cipta Lagu Dendang Rempah Nusantara.

Vigil mengisahkan, keberhasilan karyanya lolos hingga masuk dalam 10 lagu pilihan Kompetisi Cipta Lagu Dendang Rempah Nusantara sangatlah di luar ekspektasi. Pria berusia 27 tahun memang bisa dikatakan tidak mematok target apa-apa ketika mengikuti ajang yang ditujukan untuk menghidupkan kembali sejarah Jalur Rempah Indonesia itu.

”Misinya ketika itu bukan untuk menang, namun ingin berkarya saja,” kata dia.

Karenanya, ketika menciptakan lagu tersebut, Vigil menjalani dengan santai namun tetap dikonsep dengan matang. ”Malah saat proses menulis lagunya itu, saya lakukan ketika jam senggang kala tidak ada kegiatan mengajar,” jelas warga Sawojajar yang berprofesi sebagai guru seni di SMPN 3 Malang itu.

Ia menceritakan, terkadang, ide muncul saat mengendarai motor dan langsung dituangkan dalam bentuk tulisan. Prosesnya memang dibiarkan mengalir. Cuma, dia menyebut, dia harus tetap menggali-gali sejarah tentang jalur rempah Indonesia seperti apa.

”Saya banyak baca dan ngobrol terkait bagaimana sebetulnya jalur rempah di Indonesia itu,” katanya.

Segala aktivitas itu berjalan selama satu minggu sampai mendapatkan lirik tepat. Baik diksi, makna, dan rimanya. Sedangkan untuk keseluruhan pembuatan lagu, menurut dia, tidak membutuhkan waktu yang lama.

Ketika melakukan rekaman alat-alat musik dan vokal tidak sampai memakan waktu panjang. ”Kira-kira untuk lagu Rasa Indonesia butuh waktu tiga minggu saja,” katanya. Menariknya, ini merupakan lomba pertama yang diikuti oleh Vigil.

Selama proses menciptakan sebuah karya lagu, kesulitan yang dihadapi Vigil adalah menentukan jadwal untuk bertemu rekan-rekannya. Seperti Eka Cakra (gitar), Anggar (vokalis), Risandi (bass), Gloria (keyboard), dan Bayu Biola.

”Alhasil, saat rekaman lagu ini kami tidak melakukan berbarengan,” katanya. Dia harus satu-satu melakukan take, baru setelah diaransemen menjadi komposisi lagu. Butuh waktu sekitar tiga minggu hingga menjadi komposisi lagu yang utuh.

Meski begitu, prosesnya dilewati dengan lancar. Maksudnya dengan bergembira, semua orang yang terlibat dalam lagu ciptanya disebutnya nyaman. Padahal, semuanya belum mendapatkan benefit.

Vigil sendiri tertarik mengikuti kompetisi lagu itu bukanlah tanpa alasan. Salah satu hal yang membuat berhasrat adalah karena memang menyukai musik tradisional. Baginya, musik tradisional adalah harta yang tidak ternilai.

”Ibarat merupakan sebuah jati diri bangsa harus tetap dijaga eksistensinya,” katanya.

Kenapa demikian? Menurutnya, Indonesia sangat kaya akan budaya. Setiap daerah mempunyai kebudayaan dan tradisi masing-masing. Alhasil, disebutnya apabila sampai hilang, maka karakter bangsa ini akan hilang.

”Harapan saya di sini (musik tradisional) adalah supaya ke depan anak, cucu, sampai generasi terbawah bisa melihat dan merasakan bagaimana kebudayaan Indonesia yang sangat beragam,” katanya.

Pemikiran itulah yang menjadi salah satu dasar kenapa dalam lirik lagunya ciptaannya tersebut dituliskan ”Cita rasa Indonesia merupakan permata dunia”. Diakui atau tidak, memang banyak negara asing yang kesengsem dengan kebudayaan, alam, dan rempah di Indonesia.

Selain menciptakan lagu Rasa Indonesia, Vigil sebelumnya telah menciptakan
beberapa karya. Saat ini ada sekitar 16 lagu yang telah diciptakannya. Biasanya dia juga dimintai tolong untuk membuat jingle lagu untuk sebuah produk.

”Ya minimal berusaha ada 1 lagu yang saya tulis dan ciptakan,” katanya.

Karena itu, alumnus Universitas Negeri Malang itu mengaku kalau kerap menunda untuk berlibur atau beli-beli sesuatu untuk menciptakan lagu.

”Meski tidak ada uang yang didapatkan dari aktivitas itu, namun ada kepuasan tersendiri jika bisa membuat sebuah karya,” ungkapnya. Dia yakin setiap karya sudah memiliki rezekinya masing-masing.

Lebih lanjut, Vigil juga acap kali pergi ke pedalaman Kalimantan untuk berusaha mendokumentasikan musik tradisional di sana. ”Dalam setiap pertemuan juga ada ilmu dan proses belajar saya lakukan dari aktivitas itu,” tuturnya. Cuma, dia melanjutkan, karena pandemi belum bisa melakukan untuk saat ini.

Menjadi seniman, bagi personel grup band Kos Atos bukan sebuah pilihan tanpa rintangan. Perjalanannya terbilang penuh liku. Stereotip terkait menjadi seniman kerap dijumpai ketika duduk bangku SMP.

”Banyak yang bilang ke saya, seniman itu masa depannya tidak jelas,” kenangnya sembari tersenyum. Namun tekadnya sudah bulat, jalan itu dinilai yang terbaik untuk saat ini. Namun, hal-hal semacam itulah yang terus menempa mentalnya.(gp/abm/rmc)

RADAR MALANG – Di dunia musik, nama Vigil Kristologus mungkin sangat asing. Padahal prestasinya cukup istimewa. Sejumlah 16 lagu sudah dia ciptakan. Yang terbaru, karyanya berjudul Rasa Indonesia sukses menempati urutan kedua di Lomba Cipta Lagu Dendang Nusantara yang diprakarsai oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI. Lagunya terpilih dari 185 karya dari seluruh Indonesia.

Dari Selat Malaka, sampai Banda Neira, Tanah Subur dan Kaya Semua Milik Kita. Cengkeh Lada dan Pala, Seluas Cakrawala, Anugerah Maha Kuasa, Bumi Khatulistiwa…

Begitu lirik lagu dengan nada menghentak karya Vigil Kristologus. Lalu, ada beberapa unsur-unsur nuansa etnik juga dimasukkan. Mulai dari Melayu sampai dengan lantunan Jawa seperti Madura. Lagu itulah yang menyita perhatian Lomba Cipta Lagu Dendang Nusantara.

Berjudul Rasa Indonesia lagu tersebut sukses masuk 10 lagu pilihan di Kompetisi Cipta Lagu Dendang Rempah Nusantara.

Vigil mengisahkan, keberhasilan karyanya lolos hingga masuk dalam 10 lagu pilihan Kompetisi Cipta Lagu Dendang Rempah Nusantara sangatlah di luar ekspektasi. Pria berusia 27 tahun memang bisa dikatakan tidak mematok target apa-apa ketika mengikuti ajang yang ditujukan untuk menghidupkan kembali sejarah Jalur Rempah Indonesia itu.

”Misinya ketika itu bukan untuk menang, namun ingin berkarya saja,” kata dia.

Karenanya, ketika menciptakan lagu tersebut, Vigil menjalani dengan santai namun tetap dikonsep dengan matang. ”Malah saat proses menulis lagunya itu, saya lakukan ketika jam senggang kala tidak ada kegiatan mengajar,” jelas warga Sawojajar yang berprofesi sebagai guru seni di SMPN 3 Malang itu.

Ia menceritakan, terkadang, ide muncul saat mengendarai motor dan langsung dituangkan dalam bentuk tulisan. Prosesnya memang dibiarkan mengalir. Cuma, dia menyebut, dia harus tetap menggali-gali sejarah tentang jalur rempah Indonesia seperti apa.

”Saya banyak baca dan ngobrol terkait bagaimana sebetulnya jalur rempah di Indonesia itu,” katanya.

Segala aktivitas itu berjalan selama satu minggu sampai mendapatkan lirik tepat. Baik diksi, makna, dan rimanya. Sedangkan untuk keseluruhan pembuatan lagu, menurut dia, tidak membutuhkan waktu yang lama.

Ketika melakukan rekaman alat-alat musik dan vokal tidak sampai memakan waktu panjang. ”Kira-kira untuk lagu Rasa Indonesia butuh waktu tiga minggu saja,” katanya. Menariknya, ini merupakan lomba pertama yang diikuti oleh Vigil.

Selama proses menciptakan sebuah karya lagu, kesulitan yang dihadapi Vigil adalah menentukan jadwal untuk bertemu rekan-rekannya. Seperti Eka Cakra (gitar), Anggar (vokalis), Risandi (bass), Gloria (keyboard), dan Bayu Biola.

”Alhasil, saat rekaman lagu ini kami tidak melakukan berbarengan,” katanya. Dia harus satu-satu melakukan take, baru setelah diaransemen menjadi komposisi lagu. Butuh waktu sekitar tiga minggu hingga menjadi komposisi lagu yang utuh.

Meski begitu, prosesnya dilewati dengan lancar. Maksudnya dengan bergembira, semua orang yang terlibat dalam lagu ciptanya disebutnya nyaman. Padahal, semuanya belum mendapatkan benefit.

Vigil sendiri tertarik mengikuti kompetisi lagu itu bukanlah tanpa alasan. Salah satu hal yang membuat berhasrat adalah karena memang menyukai musik tradisional. Baginya, musik tradisional adalah harta yang tidak ternilai.

”Ibarat merupakan sebuah jati diri bangsa harus tetap dijaga eksistensinya,” katanya.

Kenapa demikian? Menurutnya, Indonesia sangat kaya akan budaya. Setiap daerah mempunyai kebudayaan dan tradisi masing-masing. Alhasil, disebutnya apabila sampai hilang, maka karakter bangsa ini akan hilang.

”Harapan saya di sini (musik tradisional) adalah supaya ke depan anak, cucu, sampai generasi terbawah bisa melihat dan merasakan bagaimana kebudayaan Indonesia yang sangat beragam,” katanya.

Pemikiran itulah yang menjadi salah satu dasar kenapa dalam lirik lagunya ciptaannya tersebut dituliskan ”Cita rasa Indonesia merupakan permata dunia”. Diakui atau tidak, memang banyak negara asing yang kesengsem dengan kebudayaan, alam, dan rempah di Indonesia.

Selain menciptakan lagu Rasa Indonesia, Vigil sebelumnya telah menciptakan
beberapa karya. Saat ini ada sekitar 16 lagu yang telah diciptakannya. Biasanya dia juga dimintai tolong untuk membuat jingle lagu untuk sebuah produk.

”Ya minimal berusaha ada 1 lagu yang saya tulis dan ciptakan,” katanya.

Karena itu, alumnus Universitas Negeri Malang itu mengaku kalau kerap menunda untuk berlibur atau beli-beli sesuatu untuk menciptakan lagu.

”Meski tidak ada uang yang didapatkan dari aktivitas itu, namun ada kepuasan tersendiri jika bisa membuat sebuah karya,” ungkapnya. Dia yakin setiap karya sudah memiliki rezekinya masing-masing.

Lebih lanjut, Vigil juga acap kali pergi ke pedalaman Kalimantan untuk berusaha mendokumentasikan musik tradisional di sana. ”Dalam setiap pertemuan juga ada ilmu dan proses belajar saya lakukan dari aktivitas itu,” tuturnya. Cuma, dia melanjutkan, karena pandemi belum bisa melakukan untuk saat ini.

Menjadi seniman, bagi personel grup band Kos Atos bukan sebuah pilihan tanpa rintangan. Perjalanannya terbilang penuh liku. Stereotip terkait menjadi seniman kerap dijumpai ketika duduk bangku SMP.

”Banyak yang bilang ke saya, seniman itu masa depannya tidak jelas,” kenangnya sembari tersenyum. Namun tekadnya sudah bulat, jalan itu dinilai yang terbaik untuk saat ini. Namun, hal-hal semacam itulah yang terus menempa mentalnya.(gp/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/