alexametrics
23.6 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Waduh, Covid-19 Bisa Memicu Disfungsi Ereksi?

RADAR MALANG – Hasil penelitian ini boleh jadi akan membuat para pria menghela nafas panjang. Karena ada indikasi virus Covid-19 dapat menyebabkan gangguan seksual seperti disfungsi ereksi.

Covid-19 diketahui dapat merusak pembuluh darah, tak terkecuali pembulu darah yang memasok darah ke bagian penis. Para medis yang meneliti virus tersebut dengan mikroskop elektron menemukan partikel virus korona dalam sampel jaringan penis seperti dilansir Healthday Minggu (16/5).
Penelitian mengambil sample dua mantan pasien Covid -19 yang mendadak mengalami impotensi setelah terinfeksi virus enam dan delapan bulan sebelumnya. Hasil studi yang dibeber dalam Jurnal ‘World Journal of Men’s Health edisi 7 Mei 2021 itu mengungkapkan bukti adanya kerusakan pembuluh darah pada penis pasien Covid-19. Kondisnya berbeda dengan dua pria lain yang mengalami disfungsi ereksi namun tidak pernah terinfeksi.

“Kami menemukan bahwa virus mempengaruhi pembuluh darah yang mensuplai darah ke penis dan menyebabkan disfungsi ereksi,” kata peneliti senior Dr. Ranjith Ramasamy, Direktur Program Urologi Reproduktif di Miller School of Medicine University of Miami.

Kedua pria tersebut diketahui masih memiliki partikel Covid-19 di jaringan penis mereka, serta bukti disfungsi endotel, yakni suatu kondisi di mana lapisan pembuluh darah kecil tidak berfungsi dengan baik dan gagal memberikan suplai darah yang cukup ke beberapa bagian tubuh. ”’Kami tidak berpikir ini adalah efek sementara. Kami pikir ini bisa permanen,” kata Ramasamy.

Ia melaporkan bahwa mereka fokus untuk penelitian pada dua pasien Covid-19 yang pulih dan sedang menjalani operasi prostesis penis karena disfungsi ereksi yang dialaminya. Diketahui, kedua pria tersebut memiliki fungsi ereksi yang normal sebelum terinfeksi oleh virus.

Salah satu pria diketahui mengalami sakit parah setelah terpapar Covid-19 dan menghabiskan dua minggu perawatan di rumah sakit. Sementara pria satunya memiliki kasus Covid -19 dengan gejala ringan, tetapi menderita penyumbatan arteri dan tekanan darah tinggi sebelum terinfeksi.

“Saya cukup yakin dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan kita mungkin akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai prevalensi (memilih sampel secara acak dari seluruh populasi) dari disfungsi ereksi di antara pria positif Covid-19 tersebut,’ tambahnya.

Ramasamy juga menghimbau para mantan pasien Covid-19 yang menderita disfungsi ereksi untuk mencari pertolongan medis. “Jangan berpikir ini adalah sesuatu yang akan hilang dengan sendirinya. Kami pikir ini bisa menjadi efek jangka panjang, dan bukan sementara,” katanya.
Ada satu nasihat yang disampaikan Ramasamy yang mengkhawatirkan hal ini. “Dapatkan vaksinasi agar tidak tertular Covid-19,” kata Ramasamy.

”Masuk akal bahwa Covid-19 dapat memengaruhi pria dengan cara ini, mengingat kemampuan virus untuk menyebabkan peradangan dan merusak pembuluh darah,” tambah Dr Ash Tewari, Ketua Urologi di Icahn School of Medicine di Mount Sinai, di New York City.
Namun, Tewari mengingatkan bahwa para pria tidak boleh panik sampai penelitian lebih lanjut dilakukan. “Satu atau dua pasien tidak membuat fakta, tapi ini perlu diselidiki dari sudut pandang medis,” kata Tewari.

Penulis : Fanda Yusnia

RADAR MALANG – Hasil penelitian ini boleh jadi akan membuat para pria menghela nafas panjang. Karena ada indikasi virus Covid-19 dapat menyebabkan gangguan seksual seperti disfungsi ereksi.

Covid-19 diketahui dapat merusak pembuluh darah, tak terkecuali pembulu darah yang memasok darah ke bagian penis. Para medis yang meneliti virus tersebut dengan mikroskop elektron menemukan partikel virus korona dalam sampel jaringan penis seperti dilansir Healthday Minggu (16/5).
Penelitian mengambil sample dua mantan pasien Covid -19 yang mendadak mengalami impotensi setelah terinfeksi virus enam dan delapan bulan sebelumnya. Hasil studi yang dibeber dalam Jurnal ‘World Journal of Men’s Health edisi 7 Mei 2021 itu mengungkapkan bukti adanya kerusakan pembuluh darah pada penis pasien Covid-19. Kondisnya berbeda dengan dua pria lain yang mengalami disfungsi ereksi namun tidak pernah terinfeksi.

“Kami menemukan bahwa virus mempengaruhi pembuluh darah yang mensuplai darah ke penis dan menyebabkan disfungsi ereksi,” kata peneliti senior Dr. Ranjith Ramasamy, Direktur Program Urologi Reproduktif di Miller School of Medicine University of Miami.

Kedua pria tersebut diketahui masih memiliki partikel Covid-19 di jaringan penis mereka, serta bukti disfungsi endotel, yakni suatu kondisi di mana lapisan pembuluh darah kecil tidak berfungsi dengan baik dan gagal memberikan suplai darah yang cukup ke beberapa bagian tubuh. ”’Kami tidak berpikir ini adalah efek sementara. Kami pikir ini bisa permanen,” kata Ramasamy.

Ia melaporkan bahwa mereka fokus untuk penelitian pada dua pasien Covid-19 yang pulih dan sedang menjalani operasi prostesis penis karena disfungsi ereksi yang dialaminya. Diketahui, kedua pria tersebut memiliki fungsi ereksi yang normal sebelum terinfeksi oleh virus.

Salah satu pria diketahui mengalami sakit parah setelah terpapar Covid-19 dan menghabiskan dua minggu perawatan di rumah sakit. Sementara pria satunya memiliki kasus Covid -19 dengan gejala ringan, tetapi menderita penyumbatan arteri dan tekanan darah tinggi sebelum terinfeksi.

“Saya cukup yakin dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan kita mungkin akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai prevalensi (memilih sampel secara acak dari seluruh populasi) dari disfungsi ereksi di antara pria positif Covid-19 tersebut,’ tambahnya.

Ramasamy juga menghimbau para mantan pasien Covid-19 yang menderita disfungsi ereksi untuk mencari pertolongan medis. “Jangan berpikir ini adalah sesuatu yang akan hilang dengan sendirinya. Kami pikir ini bisa menjadi efek jangka panjang, dan bukan sementara,” katanya.
Ada satu nasihat yang disampaikan Ramasamy yang mengkhawatirkan hal ini. “Dapatkan vaksinasi agar tidak tertular Covid-19,” kata Ramasamy.

”Masuk akal bahwa Covid-19 dapat memengaruhi pria dengan cara ini, mengingat kemampuan virus untuk menyebabkan peradangan dan merusak pembuluh darah,” tambah Dr Ash Tewari, Ketua Urologi di Icahn School of Medicine di Mount Sinai, di New York City.
Namun, Tewari mengingatkan bahwa para pria tidak boleh panik sampai penelitian lebih lanjut dilakukan. “Satu atau dua pasien tidak membuat fakta, tapi ini perlu diselidiki dari sudut pandang medis,” kata Tewari.

Penulis : Fanda Yusnia

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/