alexametrics
23 C
Malang
Tuesday, 28 June 2022

Sembilan Hari Napak Tilas Spiritual ke Mesir, Palestina, dan Yordania (26): Nikmat Berkeringat, Lewati Lorong dan Impitan Tebing di Petra

Di Wadi Rum saya begitu terkesan. Di Petra, saya kembali terkesan. Saking terkesannya, sampai tidak terasa ”mandi” keringat menyaksikan ”atraksi alam” berupa gunung-gunung batu yang menjulang dan berimpit.
***

Meski hanya menginap semalam di Wadi Rum, cukuplah meninggalkan kesan yang indah bagi saya. Rasanya ingin bermalam lagi di sana.
Dari Wadi Rum kami menuju ke Petra. Pukul 08.00, setelah sarapan, kami berangkat. Selama melewati Wadi Rum, bus sengaja berjalan pelan. Rupanya memberi kesempatan kepada kami untuk melihat-lihat pemandangan alam di Wadi Rum. Meski melihat-lihatnya dari atas bus. Karena saat tiba, kami datang malam hari. Jadi, tak bisa menyaksikan pemandangan Wadi Rum yang indah di hamparan padang pasir nan luas itu.
Wadi Rum adalah salah satu gurun pasir paling menakjubkan di bumi. Pada catatan saya sebelumnya, berada di Wadi Rum serasa berada di planet lain. Karena itu, wajar jika ada yang menjuluki Wadi Rum sebagai Lembah Bulan. Karena kondisi tanahnya dan pegunungannya sungguh sangat khas. Di luar gambaran imajinasi manusia tentang gurun.
Selama di perjalanan, saya belum bisa langsung move on dengan kesan di Wadi Rum. Sempat terbayang-bayang kesan itu.
Dalam perjalanan, kami sempat melewati bekas rel kereta api yang sudah tidak terpakai. Saya sempat heran, kok ada rel kereta api? Majid, guide lokal dari Manaya Indonesia menjelaskan kepada kami, bahwa rel kereta api itu adalah bekas jalur kereta api Al Hijaz yang menghubungkan antara Istanbul-Madinah. ”Sekarang sudah tidak ada lagi jalur itu. Dulu ada 34 stasiun di sepanjang jalur itu,” cerita Majid.
Jalur Al Hijaz atau Hejaz Railway dibangun oleh Kesultanan Turki (Ottoman) mulai 1840 M di masa Sultan Abdul Hamid II. Dan baru bisa dioperasikan pada 1908. Rute Al Hijaz ini sebenarnya adalah menghubungkan antara Damaskus (Suriah)-Amman (Yordania)-Madinah (Arab Saudi). Jalur kereta api ini waktu itu merupakan bagian dari jalur kereta api yang menghubungkan Istanbul-Haifa (Israel). Dulu, wilayah-wilayah tersebut berada dalam kekuasaan Ottoman.
Dan tujuan utama membangun jalur kereta api itu ke Madinah adalah mempermudah dan mempercepat waktu perjalanan untuk beribadah haji. Sebelum ada jalur kereta api itu, perjalanan haji dari Damaskus menuju ke Makkah butuh waktu selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan dengan menunggangi unta. Dengan naik unta dari Damaskus ke Madinah, bisa menempuh perjalanan hingga 40 hari. Sehingga banyak calon jamaah haji yang sakit dan meninggal dunia dalam perjalanan. Dengan adanya jalur kereta api Al Hijaz itu, waktu perjalanan menjadi lebih singkat yakni 5 hari.
Sayangnya, jalur kereta api itu sekarang tinggal kenangan. Seiring jatuhnya Kekaisaran Ottoman. Dan seiring wilayah-wilayah itu telah menjadi negara sendiri-sendiri.
Setelah sekitar empat jam perjalanan, kami tiba di Petra. Jam menunjukkan pukul 12.19 waktu setempat. Rupanya, ini adalah salah satu destinasi andalan di Yordania. Ketika tiba di sana, sudah banyak mobil, mulai dari mobil pribadi, hingga bus pariwisata yang parkir. Berarti pengunjung sudah cukup banyak.
Di depan pintu gerbang terdapat tulisan: Welcome to Petra. Kami harus antre tiket. Cukup banyak turis yang datang hari itu. Majid yang mengantre. Kami hanya menunggu.
Kawasan wisata Petra berada di Provinsi Ma’an. Jaraknya sekitar 250 kilometer dari Kota Amman, Ibu Kota Yordania. Kawasan tersebut menempati lahan seluas sekitar 264 kilometer persegi.
Untuk masuk dan menjelajahi Petra, ada dua jenis tiket. Pertama, tiket untuk sekali datang. Kedua, tiket terusan. Kami membeli tiket yang sekali datang. Karena tiket terusan dibeli oleh pengunjung yang ingin menjelajahi Petra lebih dari satu hari. Maklum, dengan luas sekitar 264 kilometer persegi, butuh paling cepat tiga hari untuk menjelajahi seluruh wilayah Petra.
Harga tiket untuk sekali datang 50 Jordan Dinar per orang (sekitar Rp 1 juta dengan kurs 1 Jordan Dinar = Rp 20.700). Ada tiga cara untuk menikmati pemandangan Petra. Pertama, dengan menyewa gulf car elektrik. Bisa diisi hingga enam orang. Kedua, dengan naik kereta yang ditarik kuda. Ini hanya untuk dua orang. Baik naik gulf car maupun naik kereta kuda harus membayar. Dan ketiga, dengan jalan kaki. ”Kalau jalan kaki, dua kilometer berangkat, dan dua kilometer balik,” kata Majid. Jadi, pulang pergi empat kilometer.
Di antara rombongan kami, ada yang pakai gulf car, kereta kuda, ada juga yang jalan kaki. Saya termasuk yang jalan kaki. Selain sambil olahraga, dengan jalan kaki bisa leluasa berhenti untuk berfoto-foto. Saya berjalan kaki dengan Makhrus Soleh, teman satu rombongan yang sama-sama dari Malang.
Kami pun mulai berjalan. Awalnya ada dua jalur yang dibikin. Jalur untuk pejalan kaki, dan satunya jalur untuk mereka yang naik kuda. Tapi, dua jalur itu tak seberapa panjang. Lama-lama, jalurnya menyempit hingga cuma ada satu jalur saja.
Berjalan-jalan menyusuri kawasan Petra sama dengan berjalan di tengah gurun yang dikelilingi bukit-bukit berbatu. Saya merasa sedang memasuki dunia lain, seakan sedang kembali ke masa ribuan tahun lalu. Bukit-bukit batu itu rata-rata di bagian dindingnya dipahat. Juga dilubangi. Ada yang dilubangi untuk jendela. Ada yang dilubangi untuk pintu. Rupanya, zaman dulu kala ada yang tinggal di dalam rumah yang dipahat dan dilubangi di dalam batu itu.
Saya melewati makam obelisk yang terpahat di antara bukit-bukit batu yang berdiri kokoh. Meski kondisinya tidak lagi sempurna, tapi bentuknya masih kentara. Obelisk adalah pilar bersisi empat, yang mengecil ke atas, menyerupai bentuk limas, dan puncaknya meruncing seperti piramida. Biasanya bangunan itu digunakan untuk pemakaman ataupun kuil.
Di antara bukit-bukit berbatu itu ada beberapa pohon yang jarak antara pohon yang satu dengan lainnya agak jarang. Semakin saya berjalan, semakin menyempit jalannya. Beberapa kali melintas kereta kuda. Kondisi tanah yang saya lalui seperti jalanan makadam. Agak berbatu. Tapi agak rata. Tanahnya pun padat.
Semakin saya berjalan, semakin memasuki sebuah lorong yang diimpit dua tebing batu yang menjulang, yang tingginya bervariasi mulai sekitar 10 meter hingga 100-an meter. Dua tebing batu itu terkesan akan mengimpit. Jarak antara dua tebing batu itu mulai sekitar 3 meter hingga 10-an meter. Di sinilah kami berjalan. Ketika diterpa matahari, warna bukit berbatu itu begitu indahnya. Kecokelatan, dengan semburat jingga. Di beberapa tempat bahkan tampak merona, hingga merona merah.
Semakin jauh saya berjalan, gunung berbukit bebatuan di kanan kiri itu semakin tinggi. Saya sempat menyaksikan deretan gunung berbatu itu menyerupai seperti tanaman jamur. Indah sekali. Saya pun tak menyia-nyiakan untuk berhenti, sekadar berfoto. Entah sudah berapa kali saya berhenti untuk berfoto. Hingga berjalan sejauh dua kilometer menjadi tidak terasa, karena dihibur oleh pemandangan yang eksotis gunung berbatu di kanan kiri jalur yang saya lalui. Berkali-kali saya bertasbih. Saya benar-benar kagum dan terpana dengan perbukitan batu yang dinding-dindingnya kebanyakan diukir, dilubangi, dan dipahat dengan sangat indah dan rapi itu.
Tak terasa, meski tubuh bermandi keringat, saya tiba di puncak destinasi untuk yang memilih tiket sekali datang. Yakni di istana batu. Artinya, sebuah istana yang dipahat dan dibangun di dinding pegunungan yang berbatu. Istana itulah yang disebut The Treasury atau Al Khazneh. Dalam bahasa Arab berarti ruang harta. Inilah yang menjadi ikon sekaligus andalan destinasi wisata di Petra Yordania.
Karena keberadaan Al Khazneh itu, Petra ditahbiskan sebagai salah satu peninggalan arkeologi terkemuka di dunia. Di dalamnya tercatat ada sedikitnya 800 patung individu, termasuk makam, bangunan, kuil, jalanan, dan lain sebagainya. Situs ini sudah masuk dalam daftar warisan dunia (world heritage) UNESCO. Dan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Jika di Mesir, saya mengunjungi keajaiban dunia berupa piramida. Di Yordania, saya mengunjungi Petra. Jadi, dalam waktu tak sampai seminggu, dua keajaiban dunia sudah saya datangi.
Dinding Al Khazneh berwarna cenderung menyerupai merah jambu. Lebarnya sekitar 30 meter. Dan tingginya mencapai 43 meter. Dari depan tampak kokoh. Indah. Dan megah. Ada enam pilar di bagian depan. Di tengah ada pintu. Di depan bangunan itu dijaga oleh petugas. Sehingga tak bisa masuk ke dalam istana batu itu.
Lantas, bagaimana sejarah dari Petra? Mengapa disebut Petra? Bagaimana bisa begitu rapi dan indahnya pahatan pada dinding gunung yang berbatu itu? Akan saya jelaskan di catatan berikutnya. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Di Wadi Rum saya begitu terkesan. Di Petra, saya kembali terkesan. Saking terkesannya, sampai tidak terasa ”mandi” keringat menyaksikan ”atraksi alam” berupa gunung-gunung batu yang menjulang dan berimpit.
***

Meski hanya menginap semalam di Wadi Rum, cukuplah meninggalkan kesan yang indah bagi saya. Rasanya ingin bermalam lagi di sana.
Dari Wadi Rum kami menuju ke Petra. Pukul 08.00, setelah sarapan, kami berangkat. Selama melewati Wadi Rum, bus sengaja berjalan pelan. Rupanya memberi kesempatan kepada kami untuk melihat-lihat pemandangan alam di Wadi Rum. Meski melihat-lihatnya dari atas bus. Karena saat tiba, kami datang malam hari. Jadi, tak bisa menyaksikan pemandangan Wadi Rum yang indah di hamparan padang pasir nan luas itu.
Wadi Rum adalah salah satu gurun pasir paling menakjubkan di bumi. Pada catatan saya sebelumnya, berada di Wadi Rum serasa berada di planet lain. Karena itu, wajar jika ada yang menjuluki Wadi Rum sebagai Lembah Bulan. Karena kondisi tanahnya dan pegunungannya sungguh sangat khas. Di luar gambaran imajinasi manusia tentang gurun.
Selama di perjalanan, saya belum bisa langsung move on dengan kesan di Wadi Rum. Sempat terbayang-bayang kesan itu.
Dalam perjalanan, kami sempat melewati bekas rel kereta api yang sudah tidak terpakai. Saya sempat heran, kok ada rel kereta api? Majid, guide lokal dari Manaya Indonesia menjelaskan kepada kami, bahwa rel kereta api itu adalah bekas jalur kereta api Al Hijaz yang menghubungkan antara Istanbul-Madinah. ”Sekarang sudah tidak ada lagi jalur itu. Dulu ada 34 stasiun di sepanjang jalur itu,” cerita Majid.
Jalur Al Hijaz atau Hejaz Railway dibangun oleh Kesultanan Turki (Ottoman) mulai 1840 M di masa Sultan Abdul Hamid II. Dan baru bisa dioperasikan pada 1908. Rute Al Hijaz ini sebenarnya adalah menghubungkan antara Damaskus (Suriah)-Amman (Yordania)-Madinah (Arab Saudi). Jalur kereta api ini waktu itu merupakan bagian dari jalur kereta api yang menghubungkan Istanbul-Haifa (Israel). Dulu, wilayah-wilayah tersebut berada dalam kekuasaan Ottoman.
Dan tujuan utama membangun jalur kereta api itu ke Madinah adalah mempermudah dan mempercepat waktu perjalanan untuk beribadah haji. Sebelum ada jalur kereta api itu, perjalanan haji dari Damaskus menuju ke Makkah butuh waktu selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan dengan menunggangi unta. Dengan naik unta dari Damaskus ke Madinah, bisa menempuh perjalanan hingga 40 hari. Sehingga banyak calon jamaah haji yang sakit dan meninggal dunia dalam perjalanan. Dengan adanya jalur kereta api Al Hijaz itu, waktu perjalanan menjadi lebih singkat yakni 5 hari.
Sayangnya, jalur kereta api itu sekarang tinggal kenangan. Seiring jatuhnya Kekaisaran Ottoman. Dan seiring wilayah-wilayah itu telah menjadi negara sendiri-sendiri.
Setelah sekitar empat jam perjalanan, kami tiba di Petra. Jam menunjukkan pukul 12.19 waktu setempat. Rupanya, ini adalah salah satu destinasi andalan di Yordania. Ketika tiba di sana, sudah banyak mobil, mulai dari mobil pribadi, hingga bus pariwisata yang parkir. Berarti pengunjung sudah cukup banyak.
Di depan pintu gerbang terdapat tulisan: Welcome to Petra. Kami harus antre tiket. Cukup banyak turis yang datang hari itu. Majid yang mengantre. Kami hanya menunggu.
Kawasan wisata Petra berada di Provinsi Ma’an. Jaraknya sekitar 250 kilometer dari Kota Amman, Ibu Kota Yordania. Kawasan tersebut menempati lahan seluas sekitar 264 kilometer persegi.
Untuk masuk dan menjelajahi Petra, ada dua jenis tiket. Pertama, tiket untuk sekali datang. Kedua, tiket terusan. Kami membeli tiket yang sekali datang. Karena tiket terusan dibeli oleh pengunjung yang ingin menjelajahi Petra lebih dari satu hari. Maklum, dengan luas sekitar 264 kilometer persegi, butuh paling cepat tiga hari untuk menjelajahi seluruh wilayah Petra.
Harga tiket untuk sekali datang 50 Jordan Dinar per orang (sekitar Rp 1 juta dengan kurs 1 Jordan Dinar = Rp 20.700). Ada tiga cara untuk menikmati pemandangan Petra. Pertama, dengan menyewa gulf car elektrik. Bisa diisi hingga enam orang. Kedua, dengan naik kereta yang ditarik kuda. Ini hanya untuk dua orang. Baik naik gulf car maupun naik kereta kuda harus membayar. Dan ketiga, dengan jalan kaki. ”Kalau jalan kaki, dua kilometer berangkat, dan dua kilometer balik,” kata Majid. Jadi, pulang pergi empat kilometer.
Di antara rombongan kami, ada yang pakai gulf car, kereta kuda, ada juga yang jalan kaki. Saya termasuk yang jalan kaki. Selain sambil olahraga, dengan jalan kaki bisa leluasa berhenti untuk berfoto-foto. Saya berjalan kaki dengan Makhrus Soleh, teman satu rombongan yang sama-sama dari Malang.
Kami pun mulai berjalan. Awalnya ada dua jalur yang dibikin. Jalur untuk pejalan kaki, dan satunya jalur untuk mereka yang naik kuda. Tapi, dua jalur itu tak seberapa panjang. Lama-lama, jalurnya menyempit hingga cuma ada satu jalur saja.
Berjalan-jalan menyusuri kawasan Petra sama dengan berjalan di tengah gurun yang dikelilingi bukit-bukit berbatu. Saya merasa sedang memasuki dunia lain, seakan sedang kembali ke masa ribuan tahun lalu. Bukit-bukit batu itu rata-rata di bagian dindingnya dipahat. Juga dilubangi. Ada yang dilubangi untuk jendela. Ada yang dilubangi untuk pintu. Rupanya, zaman dulu kala ada yang tinggal di dalam rumah yang dipahat dan dilubangi di dalam batu itu.
Saya melewati makam obelisk yang terpahat di antara bukit-bukit batu yang berdiri kokoh. Meski kondisinya tidak lagi sempurna, tapi bentuknya masih kentara. Obelisk adalah pilar bersisi empat, yang mengecil ke atas, menyerupai bentuk limas, dan puncaknya meruncing seperti piramida. Biasanya bangunan itu digunakan untuk pemakaman ataupun kuil.
Di antara bukit-bukit berbatu itu ada beberapa pohon yang jarak antara pohon yang satu dengan lainnya agak jarang. Semakin saya berjalan, semakin menyempit jalannya. Beberapa kali melintas kereta kuda. Kondisi tanah yang saya lalui seperti jalanan makadam. Agak berbatu. Tapi agak rata. Tanahnya pun padat.
Semakin saya berjalan, semakin memasuki sebuah lorong yang diimpit dua tebing batu yang menjulang, yang tingginya bervariasi mulai sekitar 10 meter hingga 100-an meter. Dua tebing batu itu terkesan akan mengimpit. Jarak antara dua tebing batu itu mulai sekitar 3 meter hingga 10-an meter. Di sinilah kami berjalan. Ketika diterpa matahari, warna bukit berbatu itu begitu indahnya. Kecokelatan, dengan semburat jingga. Di beberapa tempat bahkan tampak merona, hingga merona merah.
Semakin jauh saya berjalan, gunung berbukit bebatuan di kanan kiri itu semakin tinggi. Saya sempat menyaksikan deretan gunung berbatu itu menyerupai seperti tanaman jamur. Indah sekali. Saya pun tak menyia-nyiakan untuk berhenti, sekadar berfoto. Entah sudah berapa kali saya berhenti untuk berfoto. Hingga berjalan sejauh dua kilometer menjadi tidak terasa, karena dihibur oleh pemandangan yang eksotis gunung berbatu di kanan kiri jalur yang saya lalui. Berkali-kali saya bertasbih. Saya benar-benar kagum dan terpana dengan perbukitan batu yang dinding-dindingnya kebanyakan diukir, dilubangi, dan dipahat dengan sangat indah dan rapi itu.
Tak terasa, meski tubuh bermandi keringat, saya tiba di puncak destinasi untuk yang memilih tiket sekali datang. Yakni di istana batu. Artinya, sebuah istana yang dipahat dan dibangun di dinding pegunungan yang berbatu. Istana itulah yang disebut The Treasury atau Al Khazneh. Dalam bahasa Arab berarti ruang harta. Inilah yang menjadi ikon sekaligus andalan destinasi wisata di Petra Yordania.
Karena keberadaan Al Khazneh itu, Petra ditahbiskan sebagai salah satu peninggalan arkeologi terkemuka di dunia. Di dalamnya tercatat ada sedikitnya 800 patung individu, termasuk makam, bangunan, kuil, jalanan, dan lain sebagainya. Situs ini sudah masuk dalam daftar warisan dunia (world heritage) UNESCO. Dan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Jika di Mesir, saya mengunjungi keajaiban dunia berupa piramida. Di Yordania, saya mengunjungi Petra. Jadi, dalam waktu tak sampai seminggu, dua keajaiban dunia sudah saya datangi.
Dinding Al Khazneh berwarna cenderung menyerupai merah jambu. Lebarnya sekitar 30 meter. Dan tingginya mencapai 43 meter. Dari depan tampak kokoh. Indah. Dan megah. Ada enam pilar di bagian depan. Di tengah ada pintu. Di depan bangunan itu dijaga oleh petugas. Sehingga tak bisa masuk ke dalam istana batu itu.
Lantas, bagaimana sejarah dari Petra? Mengapa disebut Petra? Bagaimana bisa begitu rapi dan indahnya pahatan pada dinding gunung yang berbatu itu? Akan saya jelaskan di catatan berikutnya. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/