alexametrics
28.1 C
Malang
Thursday, 7 July 2022

Sembilan Hari Napak Tilas Spiritual ke Mesir, Palestina, dan Yordania (27): Benang Merah Petra, antara Kaum Tsamud dan Kaum Nabatean

Ketika berada di Petra, menyaksikan pahatan dan ukiran di dinding gunung-gunung batu itu, saya membayangkan tentang Kaum Tsamud, umatnya Nabi Saleh Alaihissalam (AS). Apakah Petra ada kaitannya dengan Kaum Tsamud?
***

Ini masih tentang perjalanan di kawasan Petra, yang menjadi destinasi andalan Yordania. Petra berasal dari Bahasa Yunani. Yang artinya: batu. Sesuai namanya, Petra memang merupakan suatu lanskap pemandangan alam yang terdiri dari deretan gunung-gunung batu. Setidaknya ada empat daya tarik destinasi tersebut.
Pertama, gunung-gunung batu itu seperti berkumpul membentuk satu klaster. Bentuk dari pegunungan batu itu pun bervariasi. Mulai dari yang landai berupa perbukitan serta lembah, hingga menjulang tinggi dengan bentuknya yang bervariasi. Mulai dari yang berbentuk seperti pohon jamur. Hingga yang bentuknya runcing. Tinggi setiap gunung pun berbeda-beda. Mulai 10-an meter hingga 100-an meter. Dan klaster dari gunung-gunung batu itu terbagi menjadi dua. Sisi kanan dan kiri. Di tengah-tengahnya itu berupa lorong yang bisa dilalui, membentuk satu jalur. Lebarnya mulai dari 3 meter hingga 10 meter.
Kedua, lorong di antara dua tebing gunung batu yang berimpitan yang bisa dilalui itu, mengarah ke sebuah tempat yang disebut The Treasury atau Al Khazneh. Sebuah istana yang dipahat, diukir, dan dilubangi pada dinding gunung yang berbatu. Inilah salah satu destinasi andalan di Petra dan menjadi ikon Petra. Bahkan menjadi salah satu ikon Yordania.
Sayangnya, kami berada di Al Khazneh saat siang hari. Ada yang menyarankan, tiba di Al Khazneh sebaiknya pagi hari sekitar pukul 07.00. Sebab, saat itu, warna dinding dari Al Khazneh akan menjadi merah merona ketika diterpa sinar matahari pagi. Makanya, Al Khazneh atau The Treasury dijuluki The Red Rose City.
Ketiga, gunung-gunung batu yang berkelompok di Petra itu tampak indah ketika terkena sinar matahari. Warna asalnya yang cokelat kekuning-kuningan, bisa berubah menjadi jingga hingga merona merah, jika terpapar sinar matahari.
Keempat, gunung-gunung berbatu itu rata-rata dipahat, diukir, dan dilubangi dengan indahnya. Dan dengan rapinya. Ada yang dipahat dan diukir berbentuk pilar. Ada yang dipahat membentuk pintu, daun pintu, serta jendela. Ada pula yang berupa bangunan kuil pemujaan.
Empat daya tarik itulah yang membuat Petra begitu mengesankan dan memesona. Hingga masuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Dengan daya tariknya yang kuat itu, membuat Petra juga beberapa kali dijadikan lokasi syuting film-film box office dunia. Di antaranya ”Indiana Jones” dan ”Transformers”.
Lantas, bagaimana sejarah dari Petra? Apakah Petra terkait dengan keberadaan Kaum Tsamud, umatnya Nabi Saleh Alaihissalam (AS)?
Tentu ada alasannya, mengapa Petra dikaitkan dengan Kaum Tsamud. Sebab, Kaum Tsamud dikenal sebagai kaum yang pandai dan piawai memahat dan mengukir dinding-dinding gunung yang berbatu, untuk dijadikan rumah, kuil, dan istana. Hal ini seperti disebutkan di dalam Alquran Surat Al A’raf ayat 74: ”Dan ingatlah kalian ketika Allah menjadikan kalian pengganti setelah kaum ‘Ad, dan menempatkan kalian di bumi, di mana kamu membuat istana dari tanahnya dan memahat gunung menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah kalian nikmat-nikmat Allah dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi”.
Ayat ini menceritakan tentang kaum Tsamud (yang menggantikan kaum ’Ad, umat Nabi Hud AS) yang diberi oleh Allah kemampuan untuk memahat gunung menjadi rumah dan istana.
Keterangan lain disebutkan dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 149: ”Dan kalian pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin”. Maksud dari rajin di sini adalah dengan cerdas, terampil, dan ulet.
Karena itu, begitu menyaksikan gunung yang dipahat di Petra untuk dijadikan rumah dan istana, wajar jika dikaitkan dengan Kaum Tsamud. Lantas, bagaimana ini bisa dijelaskan?
Sebuah versi sejarah menyebutkan, bahwa Petra itu dulunya adalah kawasan yang dihuni oleh Suku atau Kerajaan Nabatean atau Nabatiah. Petra dijadikan ibu kota dari Nabatean. Eksistensi dari suku Nabatean dapat dilihat, pada bangunan Al Khazneh yang ukirannya terlihat sangat apik. Ada dua pahatan berbentuk elang di atas bangunan. Dan itu disebut-sebut sebagai simbol dewa laki-laki pemimpin Nabatean, Dushara. Ada juga pahatan Dewi Mesir dan Dewi Nabatean Al Uzza. Serta ada beberapa pahatan lainnya yang sudah tak begitu jelas bentuknya.
Kaum Nabatean mendiami Petra diperkirakan sejak tahun 312 SM, jauh sebelum kekaisaran Romawi ada. Mereka mengendalikan jalur perdagangan kuno yang membentang dari Tepi Barat ke Yordania, menuju ke perbatasan utara di Semenanjung Arab.
Zaman keemasan Kaum Nabatean diperkirakan terjadi pada 100 SM hingga abad ke 1 M atau 100 M. Saat itu, diperkirakan ada sekitar 20 ribu jiwa yang tinggal di Petra. Dan pada saat itulah, mereka semakin giat memahat, mengukir, dan melubangi dinding-dinding gunung dengan keterampilan yang mereka miliki untuk dijadikan rumah dan istana.
Peradaban di Petra perlahan semakin pudar saat pemerintahan Bizantium semakin kuat. Tahun 106 Masehi, Kerajaan Nabatean dikuasai oleh Romawi. Di tangan Romawi, peradaban dan kehidupan Kerajaan Nabatean dilumpuhkan. Dan lama-lama lenyap ditelan bumi. Kejadian ini berlangsung sekitar tahun 700 M.
Kemudian, tahun 1812 M, David Robert dari Swiss, menemukan kembali Petra yang saat itu tertimbun reruntuhan akibat berbagai peristiwa alam yang berlangsung selama berabad-abad.
Lantas, bagaimana Kaum Nabatean ini dikaitkan dengan Kaum Tsamud? Kaum Tsamud hidup pada masa Nabi Saleh AS. Di mana lokasi pemukiman Kaum Tsamud? Merujuk pada Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar, dia mengatakan, suatu ketika Rasulullah SAW singgah bersama mereka di Hijr. Yakni di dekat bekas pemukiman Kaum Tsamud. Saat itu, mereka mencari air dari sumur-sumur yang dahulu dijadikan tempat minum oleh Kaum Tsamud. Jika merujuk pada riwayat ini, Kaum Tsamud tinggal di kawasan Hijr.
Kawasan Hijr saat ini berada di Arab Saudi. Sekitar 400-an kilometer dari Madinah, dan sekitar 500-an kilometer dari Petra. Oleh Pemerintah Arab Saudi Hijr atau Hegra didaftarkan sebagai World Heritage dengan nama Al-Hijr Archaeological Site. Dalam bahasa Arab disebut Mada’in Salih. Yang artinya: Kota Salih. Al Hijr diakui sebagai World Heritage oleh UNESCO pada 2008.
Dalam dokumen penominasian Al Hijr sebagai warisan dunia, disebutkan bahwa Al Hijr merupakan peninggalan peradaban Nabatean dari abad ke-1 SM hingga abad ke-1 M. Dan di Al Hijr, terdapat gunung-gunung batu yang dipahat dan diukir, sama indahnya dan sama rapinya seperti yang ada di Petra.
Maka, sejarah lantas menyebutkan, bahwa wilayah Bangsa Nabatea tak hanya di Petra. Tapi juga mencakup Al Hijr, yang saat itu dijadikan sebagai kota terbesar kedua setelah Petra.
Di sinilah benang merahnya antara Kaum Tsamud dan Kaum Nabatean. Setidaknya ada dua asumsi yang bisa dijadikan dasar keterkaitan antara Kaum Tsamud dan Kaum Nabatean. Pertama, adanya kesamaan tempat tinggal. Dijelaskan, merujuk pada riwayat Imam Ahmad yang dikutip Ibnu Katsir, Kaum Tsamud diyakini tinggal di kawasan Hijr. Dan kawasan Hijr ternyata juga pernah dijadikan pusat permukiman bagi Kaum Nabatean selain di Petra. Kedua, antara Kaum Tsamud dan Kaum Nabatean, sama-sama punya keahlian memahat dan mengukir dinding-dinding pegunungan batu untuk dijadikan rumah dan istana. Keahlian ini disebutkan di dalam Alquran.
Atas dasar dua asumsi itulah, maka patut diduga, bahwa Kaum Tsamud adalah nenek moyangnya Kaum Nabatean. Dan keahlian memahat dan mengukir dinding gunung itu diduga berhasil diwariskan secara turun temurun hingga berabad-abad lamanya.
Bagaimana kebenaran akan hal ini? Wallahu A’lam Bissowab. Bagi saya, keberadaan dari sebuah peradaban manusia yang piawai dalam memahat dan mengukir gunung-gunung yang sampai sekarang masih bisa disaksikan peninggalannya, semakin membuktikan kebenaran dari Alquran. Karena Alquran menyebutkan, tentang adanya suatu kaum yang punya kemampuan memahat dan mengukir dinding-dinding gunung. Dan Petra, bagi saya adalah ayat-ayat Allah yang ditunjukkan kepada manusia. Dan menurut saya, Petra adalah bukti ke-Maha Benaran Allah, dengan segala firman-Nya.
Berada di Petra, tidak terasa ketika hari menjelang sore. Alhamdulillah, saya cukup kuat untuk berjalan kaki pulang-pergi sejauh sekitar 4 kilometer untuk menikmati dan menjelajahi Petra, meski hanya setengah hari. Dari Petra kami langsung menuju ke Amman, Ibu Kota Yordania.
Tapi sebelum masuk ke Kota Amman, kami mampir di sebuah restoran dengan menu masakan khas Yordania. Yakni sup gandum, dilengkapi dengan beberapa lauk di antaranya ayam goreng dengan racikan bawang bombay. Juga ada aneka ikan laut. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Ketika berada di Petra, menyaksikan pahatan dan ukiran di dinding gunung-gunung batu itu, saya membayangkan tentang Kaum Tsamud, umatnya Nabi Saleh Alaihissalam (AS). Apakah Petra ada kaitannya dengan Kaum Tsamud?
***

Ini masih tentang perjalanan di kawasan Petra, yang menjadi destinasi andalan Yordania. Petra berasal dari Bahasa Yunani. Yang artinya: batu. Sesuai namanya, Petra memang merupakan suatu lanskap pemandangan alam yang terdiri dari deretan gunung-gunung batu. Setidaknya ada empat daya tarik destinasi tersebut.
Pertama, gunung-gunung batu itu seperti berkumpul membentuk satu klaster. Bentuk dari pegunungan batu itu pun bervariasi. Mulai dari yang landai berupa perbukitan serta lembah, hingga menjulang tinggi dengan bentuknya yang bervariasi. Mulai dari yang berbentuk seperti pohon jamur. Hingga yang bentuknya runcing. Tinggi setiap gunung pun berbeda-beda. Mulai 10-an meter hingga 100-an meter. Dan klaster dari gunung-gunung batu itu terbagi menjadi dua. Sisi kanan dan kiri. Di tengah-tengahnya itu berupa lorong yang bisa dilalui, membentuk satu jalur. Lebarnya mulai dari 3 meter hingga 10 meter.
Kedua, lorong di antara dua tebing gunung batu yang berimpitan yang bisa dilalui itu, mengarah ke sebuah tempat yang disebut The Treasury atau Al Khazneh. Sebuah istana yang dipahat, diukir, dan dilubangi pada dinding gunung yang berbatu. Inilah salah satu destinasi andalan di Petra dan menjadi ikon Petra. Bahkan menjadi salah satu ikon Yordania.
Sayangnya, kami berada di Al Khazneh saat siang hari. Ada yang menyarankan, tiba di Al Khazneh sebaiknya pagi hari sekitar pukul 07.00. Sebab, saat itu, warna dinding dari Al Khazneh akan menjadi merah merona ketika diterpa sinar matahari pagi. Makanya, Al Khazneh atau The Treasury dijuluki The Red Rose City.
Ketiga, gunung-gunung batu yang berkelompok di Petra itu tampak indah ketika terkena sinar matahari. Warna asalnya yang cokelat kekuning-kuningan, bisa berubah menjadi jingga hingga merona merah, jika terpapar sinar matahari.
Keempat, gunung-gunung berbatu itu rata-rata dipahat, diukir, dan dilubangi dengan indahnya. Dan dengan rapinya. Ada yang dipahat dan diukir berbentuk pilar. Ada yang dipahat membentuk pintu, daun pintu, serta jendela. Ada pula yang berupa bangunan kuil pemujaan.
Empat daya tarik itulah yang membuat Petra begitu mengesankan dan memesona. Hingga masuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Dengan daya tariknya yang kuat itu, membuat Petra juga beberapa kali dijadikan lokasi syuting film-film box office dunia. Di antaranya ”Indiana Jones” dan ”Transformers”.
Lantas, bagaimana sejarah dari Petra? Apakah Petra terkait dengan keberadaan Kaum Tsamud, umatnya Nabi Saleh Alaihissalam (AS)?
Tentu ada alasannya, mengapa Petra dikaitkan dengan Kaum Tsamud. Sebab, Kaum Tsamud dikenal sebagai kaum yang pandai dan piawai memahat dan mengukir dinding-dinding gunung yang berbatu, untuk dijadikan rumah, kuil, dan istana. Hal ini seperti disebutkan di dalam Alquran Surat Al A’raf ayat 74: ”Dan ingatlah kalian ketika Allah menjadikan kalian pengganti setelah kaum ‘Ad, dan menempatkan kalian di bumi, di mana kamu membuat istana dari tanahnya dan memahat gunung menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah kalian nikmat-nikmat Allah dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi”.
Ayat ini menceritakan tentang kaum Tsamud (yang menggantikan kaum ’Ad, umat Nabi Hud AS) yang diberi oleh Allah kemampuan untuk memahat gunung menjadi rumah dan istana.
Keterangan lain disebutkan dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 149: ”Dan kalian pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin”. Maksud dari rajin di sini adalah dengan cerdas, terampil, dan ulet.
Karena itu, begitu menyaksikan gunung yang dipahat di Petra untuk dijadikan rumah dan istana, wajar jika dikaitkan dengan Kaum Tsamud. Lantas, bagaimana ini bisa dijelaskan?
Sebuah versi sejarah menyebutkan, bahwa Petra itu dulunya adalah kawasan yang dihuni oleh Suku atau Kerajaan Nabatean atau Nabatiah. Petra dijadikan ibu kota dari Nabatean. Eksistensi dari suku Nabatean dapat dilihat, pada bangunan Al Khazneh yang ukirannya terlihat sangat apik. Ada dua pahatan berbentuk elang di atas bangunan. Dan itu disebut-sebut sebagai simbol dewa laki-laki pemimpin Nabatean, Dushara. Ada juga pahatan Dewi Mesir dan Dewi Nabatean Al Uzza. Serta ada beberapa pahatan lainnya yang sudah tak begitu jelas bentuknya.
Kaum Nabatean mendiami Petra diperkirakan sejak tahun 312 SM, jauh sebelum kekaisaran Romawi ada. Mereka mengendalikan jalur perdagangan kuno yang membentang dari Tepi Barat ke Yordania, menuju ke perbatasan utara di Semenanjung Arab.
Zaman keemasan Kaum Nabatean diperkirakan terjadi pada 100 SM hingga abad ke 1 M atau 100 M. Saat itu, diperkirakan ada sekitar 20 ribu jiwa yang tinggal di Petra. Dan pada saat itulah, mereka semakin giat memahat, mengukir, dan melubangi dinding-dinding gunung dengan keterampilan yang mereka miliki untuk dijadikan rumah dan istana.
Peradaban di Petra perlahan semakin pudar saat pemerintahan Bizantium semakin kuat. Tahun 106 Masehi, Kerajaan Nabatean dikuasai oleh Romawi. Di tangan Romawi, peradaban dan kehidupan Kerajaan Nabatean dilumpuhkan. Dan lama-lama lenyap ditelan bumi. Kejadian ini berlangsung sekitar tahun 700 M.
Kemudian, tahun 1812 M, David Robert dari Swiss, menemukan kembali Petra yang saat itu tertimbun reruntuhan akibat berbagai peristiwa alam yang berlangsung selama berabad-abad.
Lantas, bagaimana Kaum Nabatean ini dikaitkan dengan Kaum Tsamud? Kaum Tsamud hidup pada masa Nabi Saleh AS. Di mana lokasi pemukiman Kaum Tsamud? Merujuk pada Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar, dia mengatakan, suatu ketika Rasulullah SAW singgah bersama mereka di Hijr. Yakni di dekat bekas pemukiman Kaum Tsamud. Saat itu, mereka mencari air dari sumur-sumur yang dahulu dijadikan tempat minum oleh Kaum Tsamud. Jika merujuk pada riwayat ini, Kaum Tsamud tinggal di kawasan Hijr.
Kawasan Hijr saat ini berada di Arab Saudi. Sekitar 400-an kilometer dari Madinah, dan sekitar 500-an kilometer dari Petra. Oleh Pemerintah Arab Saudi Hijr atau Hegra didaftarkan sebagai World Heritage dengan nama Al-Hijr Archaeological Site. Dalam bahasa Arab disebut Mada’in Salih. Yang artinya: Kota Salih. Al Hijr diakui sebagai World Heritage oleh UNESCO pada 2008.
Dalam dokumen penominasian Al Hijr sebagai warisan dunia, disebutkan bahwa Al Hijr merupakan peninggalan peradaban Nabatean dari abad ke-1 SM hingga abad ke-1 M. Dan di Al Hijr, terdapat gunung-gunung batu yang dipahat dan diukir, sama indahnya dan sama rapinya seperti yang ada di Petra.
Maka, sejarah lantas menyebutkan, bahwa wilayah Bangsa Nabatea tak hanya di Petra. Tapi juga mencakup Al Hijr, yang saat itu dijadikan sebagai kota terbesar kedua setelah Petra.
Di sinilah benang merahnya antara Kaum Tsamud dan Kaum Nabatean. Setidaknya ada dua asumsi yang bisa dijadikan dasar keterkaitan antara Kaum Tsamud dan Kaum Nabatean. Pertama, adanya kesamaan tempat tinggal. Dijelaskan, merujuk pada riwayat Imam Ahmad yang dikutip Ibnu Katsir, Kaum Tsamud diyakini tinggal di kawasan Hijr. Dan kawasan Hijr ternyata juga pernah dijadikan pusat permukiman bagi Kaum Nabatean selain di Petra. Kedua, antara Kaum Tsamud dan Kaum Nabatean, sama-sama punya keahlian memahat dan mengukir dinding-dinding pegunungan batu untuk dijadikan rumah dan istana. Keahlian ini disebutkan di dalam Alquran.
Atas dasar dua asumsi itulah, maka patut diduga, bahwa Kaum Tsamud adalah nenek moyangnya Kaum Nabatean. Dan keahlian memahat dan mengukir dinding gunung itu diduga berhasil diwariskan secara turun temurun hingga berabad-abad lamanya.
Bagaimana kebenaran akan hal ini? Wallahu A’lam Bissowab. Bagi saya, keberadaan dari sebuah peradaban manusia yang piawai dalam memahat dan mengukir gunung-gunung yang sampai sekarang masih bisa disaksikan peninggalannya, semakin membuktikan kebenaran dari Alquran. Karena Alquran menyebutkan, tentang adanya suatu kaum yang punya kemampuan memahat dan mengukir dinding-dinding gunung. Dan Petra, bagi saya adalah ayat-ayat Allah yang ditunjukkan kepada manusia. Dan menurut saya, Petra adalah bukti ke-Maha Benaran Allah, dengan segala firman-Nya.
Berada di Petra, tidak terasa ketika hari menjelang sore. Alhamdulillah, saya cukup kuat untuk berjalan kaki pulang-pergi sejauh sekitar 4 kilometer untuk menikmati dan menjelajahi Petra, meski hanya setengah hari. Dari Petra kami langsung menuju ke Amman, Ibu Kota Yordania.
Tapi sebelum masuk ke Kota Amman, kami mampir di sebuah restoran dengan menu masakan khas Yordania. Yakni sup gandum, dilengkapi dengan beberapa lauk di antaranya ayam goreng dengan racikan bawang bombay. Juga ada aneka ikan laut. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/