Kala Seleb Internet Doyan Bikin Kontroversi, Apa Kata Pengamat Digital Literacy?

RADARMALANGONLINE – Satu bulan terakhir warganet terus menerus ‘disuguhi’ aksi tak terpuji youtuber dan selebgram yang penuh kontroversi. Ujungnya? Tentu jadi topik ‘gosip’ di berbagai lini masa.

Mulai dari kasus prank Ferdian Paleka kepada kaum transpuan, komentar anti pakai masker beauty vlogger Indira Kalista, hingga yang paling hangat ‘Lelang Keperawanan’ dari selebgram Sarah Salsabila.

Beragam sensasi buatan ‘seleb’ dunia maya yang menghebohkan ini bisa terjadi seiring dari tingginya penetrasi internet. “Tidak bisa dipungkiri jika hal itu akan membuat masalah baru di masyarakat,” terang Isma Adila, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Braiwjaya Malang.

Isma melihat jika aksi kontroversi yang menjadi salah satu efek samping dari penetrasi Internet tersebut bukanlah hal asing di kalangan figur internet.

“Semuanya bikin kok, tapi levelnya berbeda. Selebgram/youtuber itu kan seperti ada tingkatan sebesar apa audiens-nya, nah pada level tingkatan selebgram dengan followers lebih sedikit, sebenarnya banyak tapi lebih ditolerir oleh warganet,” terangnya.

Terkait kasus Indira dan Sarah, Isma yang juga seorang pegiat literasi digital tersebut menilai jika tindakan keduanya masuk dalam kategori kontroversi yang negatif. “Isunya sensitif, jadi apa yang mereka posting menjadikan audience reaktif,” jelasnya.

Apakah kontroversi itu untuk mendompleng popularitas, seperti yang dituduhkan sebagian besar netizen, tidak bisa dibuktikan secara gamblang. “Perlu riset lebih dalam mengenai hal tersebut, namun yang jelas mereka dengan sensasinya jadi bahan perbincangan,” tukas Isma.

Banyaknya bahan perbicangan seputar kontroversi mau tak mau berimbas pada netter. “Munculnya respon dengan sentimen negatif,” jelas Isma. Pun bisa juga menimbulkan rasa jengah kepada sang seleb internet.

Tak jarang pula konten kontroversial sampai membuat penduduk dunia maya terbagi dalam kubu yang mendukung dan membela. Agar tidak sampai timbul debat panjang, penting untuk menyaring dan kroscek lebih dulu.

“Bahwa influencer idola itu juga bisa salah memahami sesuatu/memproduksi konten. Karena itu harus bisa menyaring konten dengan menantang common sense kita. Benar gak sih yang dilakukan si youtuber atau selebgram itu?,” terang Isma.

Penting juga untuk melatih diri berpikir kritis kala berhadapan dengan konten kontroversi. Warganet harus mulai berpikir ulang dan sadar jika menemukan konten yang hiperbola alias berlebihan.

Rajin kroscek turut diperlukan. Mencari tahu data dan fakta dibalik konten yang seliweran di linimasa baik untuk diri sendiri dan juga bantu mengedukasi orang lain. “Sebagai audience yang mengakses berita/informasi tidak boleh cepat menghakimi,” tegas Isma.

Sebagai tindakan preventif agar konten kontroversi tidak makin menjamur, konsep ‘Digital Competence’ memang harus digalakkan. Dalam literasi digital konsep ini terbagi dalam beberapa poin.

Pertama, kemampuan menggunakan teknologi digital secara bermakna dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, kemampuan mengevaluasi teknologi digital secara kritis. Dan yang terakhir motivasi berpartisipasi dalam budaya digital.

Penulis: Zhavirra Noor Rivdha
Foto: Istimewa
Editor: Indra M