alexametrics
20.5 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Gila! 279 Juta Data Penduduk Indonesia Bocor

RADAR MALANG – Kabar mengejutkan kembali hadir di platform sosial media Twitter. Dikabarkan data identitas dari 279 juta penduduk Indonesia kembali bocor dan diperjual-belikan melalui Raid Forum dengan akun bernama ‘Kotz’.

Informasi pribadi dalam data bocor itu mencakup Nomor Induk Kependudukan (NIK), nama, alamat, nomor telepon bahkan kabarnya juga jumlah gaji.

Informasi ini mengemuka berdasarkan cuitan akun Twitter @ndagels dan @nuicemedia yang diunggah pada Kamis (20/5). Dalam tangkapan layar yang ditampilkan dan beredar luas, keduanya tampak menampilkan nama penjual yang menggunakan nama akun Kotz.

Pakar keamanan siber sekaligus Kepala lembaga riset siber Communication & Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha, mengungkapkan bahwa data yang bocor ini bukan dari sistem server Dukcapil. Namun, dari salah satu instansi pemerintah yaitu BPJS.

“Sepertinya yang bocor bukan dari sistem servernya Dukcapil tempat data EKTP, tetapi dari BPJS Kesehatan kalau dilihat dari sampel datanya,” kata Pratama dilansir dari Jawapos, Jumat (21/5).

Sampel data yang dimaksud berisikan dari informasi mengenai nomor identitas kependudukan (NIK), nomor HP, alamat, alamat e-mail, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), tempat tanggal lahir, jenis kelamin, jumlah tanggungan dan data pribadi lainnya.

Parahnya lagi, untuk membuktikan kebenaran data 279 juta penduduk Indonesia yang bocor, hacker tersebut juga memberikan sampel gratis berisi 1 juta data penduduk Indonesia. Si penjual juga mencantumkan alamat kontak Telegram kotz1234567.

Sampel tersebut diunggah ke laman berbagi filebayfiles,anonfiles, dan mega.nz. Sejauh ini belum diketahui dari mana data tersebut bocor. Data tersebut dijual dengan harga 0,15 Bitcoin.

Namun, Pratama masih belum bisa memastikan mengenai kebenaran data yang bocor ini berasal dari mana dan menunggu kepastian ini dari tanggapan BPJS Kesehatan.

Saat dikonfirmasi, Kepala Humas BPJS Kesehatan M. Iqbal Anas Ma’ruf mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan penyelidikan.

“Saat ini kami sedang melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan apakah data tersebut berasal dari BPJS Kesehatan atau bukan,” ucapnya saat dikonfirmasi.

Dia melanjutkan, pihaknya sudah mengerahkan tim khusus untuk sesegera mungkin melacak dan menemukan sumbernya.

“Namun perlu kami tegaskan bahwa BPJS Kesehatan konsisten memastikan keamanan data peserta BPJS Kesehatan dilindungi sebaik-baiknya,” lanjut dia.

Terakhir, Iqbal menyampaikan, dengan big data kompleks yang tersimpan di server BPJS, pihaknya memiliki sistem pengamanan data yang ketat dan berlapis sebagai upaya menjamin kerahasiaan data tersebut, termasuk di dalamnya data peserta JKN-KIS.

“Di samping itu, secara rutin kami juga melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memberikan perlindungan data yang lebih maksimal,” tandas Iqbal.

Penulis: Nanda Monica AJ

RADAR MALANG – Kabar mengejutkan kembali hadir di platform sosial media Twitter. Dikabarkan data identitas dari 279 juta penduduk Indonesia kembali bocor dan diperjual-belikan melalui Raid Forum dengan akun bernama ‘Kotz’.

Informasi pribadi dalam data bocor itu mencakup Nomor Induk Kependudukan (NIK), nama, alamat, nomor telepon bahkan kabarnya juga jumlah gaji.

Informasi ini mengemuka berdasarkan cuitan akun Twitter @ndagels dan @nuicemedia yang diunggah pada Kamis (20/5). Dalam tangkapan layar yang ditampilkan dan beredar luas, keduanya tampak menampilkan nama penjual yang menggunakan nama akun Kotz.

Pakar keamanan siber sekaligus Kepala lembaga riset siber Communication & Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha, mengungkapkan bahwa data yang bocor ini bukan dari sistem server Dukcapil. Namun, dari salah satu instansi pemerintah yaitu BPJS.

“Sepertinya yang bocor bukan dari sistem servernya Dukcapil tempat data EKTP, tetapi dari BPJS Kesehatan kalau dilihat dari sampel datanya,” kata Pratama dilansir dari Jawapos, Jumat (21/5).

Sampel data yang dimaksud berisikan dari informasi mengenai nomor identitas kependudukan (NIK), nomor HP, alamat, alamat e-mail, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), tempat tanggal lahir, jenis kelamin, jumlah tanggungan dan data pribadi lainnya.

Parahnya lagi, untuk membuktikan kebenaran data 279 juta penduduk Indonesia yang bocor, hacker tersebut juga memberikan sampel gratis berisi 1 juta data penduduk Indonesia. Si penjual juga mencantumkan alamat kontak Telegram kotz1234567.

Sampel tersebut diunggah ke laman berbagi filebayfiles,anonfiles, dan mega.nz. Sejauh ini belum diketahui dari mana data tersebut bocor. Data tersebut dijual dengan harga 0,15 Bitcoin.

Namun, Pratama masih belum bisa memastikan mengenai kebenaran data yang bocor ini berasal dari mana dan menunggu kepastian ini dari tanggapan BPJS Kesehatan.

Saat dikonfirmasi, Kepala Humas BPJS Kesehatan M. Iqbal Anas Ma’ruf mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan penyelidikan.

“Saat ini kami sedang melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan apakah data tersebut berasal dari BPJS Kesehatan atau bukan,” ucapnya saat dikonfirmasi.

Dia melanjutkan, pihaknya sudah mengerahkan tim khusus untuk sesegera mungkin melacak dan menemukan sumbernya.

“Namun perlu kami tegaskan bahwa BPJS Kesehatan konsisten memastikan keamanan data peserta BPJS Kesehatan dilindungi sebaik-baiknya,” lanjut dia.

Terakhir, Iqbal menyampaikan, dengan big data kompleks yang tersimpan di server BPJS, pihaknya memiliki sistem pengamanan data yang ketat dan berlapis sebagai upaya menjamin kerahasiaan data tersebut, termasuk di dalamnya data peserta JKN-KIS.

“Di samping itu, secara rutin kami juga melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memberikan perlindungan data yang lebih maksimal,” tandas Iqbal.

Penulis: Nanda Monica AJ

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/