alexametrics
26.1 C
Malang
Wednesday, 1 December 2021

Kanker Payudara Mulai Intai Para Gadis

MALANG – Ini fakta lain seputar penyakit kanker payudara di Malang raya. Kepada Jawa Pos Radar Malang, dokter spesialis onkologi dr Wisnubroto SpB(K) Onk menyebut bila 70 persen kasus yang ada belum diketahui penyebabnya secara pasti. ”Kalau 20 persen (penyebab)-nya memang dari faktor genetik atau keturunan,” terangnya.

Sementara itu, 10 persen penyebab lainnya dari faktor pengaruh mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2, yang merupakan jenis gen penekan tumor. Ketika berfungsi normal, gen itu bisa membantu mencegah pertumbuhan sel tak terkendali, yang biasanya menyebabkan kasus tumor ganas. Ketika gen BRCA mengalami kerusakan mutasi, hal itu dapat mengarah pada pengembangan payudara dan kanker ovarium yang diturunkan.

Sejak 15 tahun menangani penyakit kanker, Wisnubroto menyebut bila umumnya kanker payudara diidap warga berusia 45 sampai 50 tahun. Namun dalam 5 tahun terakhir, dia melihat bila pengidapnya mulai merambah warga-warga berusia 30 tahun ke atas. ”Sehingga kami bersama para dokter internasional juga sedang membahas ini, kenapa terjadi peningkatan (kasus) untuk (perempuan) yang usia 32 tahunan,” terang pria yang pernah praktik di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang itu.

Di beberapa kasus, pihaknya juga menemukan kanker payudara pada warga yang masih remaja. ”Ada sekitar 5 orang yang pernah saya tangani, mereka usianya di bawah 20 tahun, dan itu karena faktor keturunan,” bebernya. Untuk menekan jumlah kasus baru, Wisnubroto menyebut beberapa langkah yang bisa dilakukan para perempuan. Seperti menyusui sampai 2 tahun untuk mereka yang sudah menikah dan punya anak. Langkah lainnya yakni melakukan kebiasaan hidup sehat dengan rutin berolahraga.

Kepada Jawa Pos Radar Malang, dia juga menyebut bila kehamilan hingga berkali-kali bisa menurunkan risiko kanker payudara. ”Karena (hamil) itu berpengaruh pada penurunan yang memicu kanker payudara,” terangnya. Secara umum, dia menyebut bila kanker payudara itu tidak bisa dicegah. Akan tetapi, perempuan yang jadi pihak paling rawan bisa melakukan deteksi dini untuk mengetahui stadiumnya sejak awal. Hal itu akan berguna untuk tahap pertolongan pertama bagi penderita kanker payudara.

”Kalau stadiumnya masih rendah, besar kemungkinan angka harapan hidupnya tinggi, begitupun sebaliknya,” jelas dokter yang kini praktik di RS Lavalette dan RS Panti Waluya Sawahan itu. Bila kanker sudah berada di stadium 4, angka harapan hidupnya bakal lebih sedikit, sekitar 15 persen saja. Sementara untuk stadium 3, angka harapan hidupnya sekitar 30 sampai 40 persen. Sementara stadium 2, harapan hidupnya masih 70 persen. Sedangkan stadium satu, harapan hidupnya sampai 90 persen.

Langkah deteksi dini yang paling efektif yakni rutin mengecek bagian payudara. Ketika menemukan benjolan di sekitar payudara, kewaspadaan perlu ditingkatkan. ”Yang tahu ada perubahan atau tidaknya pada payudaranya ya perempuan itu sendiri,” kata Wisnubroto.
Bila menemukan perubahan, dia menyebut bila tindakan yang harus diambil adalah berkonsultasi pada orang yang berkompeten seperti dokter.

Dokter lain yang kerap menangani pasien kanker payudara dr Yosephine Pratiwi juga mengatakan bila pasiennya kebanyakan berusia 40 tahun ke atas. Selain faktor internal, dia juga menyebut beberapa faktor eksternal yang bisa jadi penyebabnya. ”Faktor ekternal misalnya pengaruh dari gaya hidup dan pola makan. Sedangkan faktor internal bisa dari keturunan nenek atau ibunya,” kata alumnus Universitas Wijaya Kusuma Surabaya itu.

Dokter yang praktik di Apotek Kondang Waras, Karangploso, itu menyebut bila selama ini pihaknya banyak menekankan pentingnya menjaga pola makan. ”Tapi tetap, gejala sekecil apa pun harus berobat ke rumah sakit, biar kami tahu jinak atau ganas,” kata dia. Asupan buah dan sayuran menurutnya cukup baik untuk para perempuan. ”Hindari makanan yang dibakar, intinya di pola makan dan istirahat harus cukup,” tandasnya. (ulf/by/rmc)

MALANG – Ini fakta lain seputar penyakit kanker payudara di Malang raya. Kepada Jawa Pos Radar Malang, dokter spesialis onkologi dr Wisnubroto SpB(K) Onk menyebut bila 70 persen kasus yang ada belum diketahui penyebabnya secara pasti. ”Kalau 20 persen (penyebab)-nya memang dari faktor genetik atau keturunan,” terangnya.

Sementara itu, 10 persen penyebab lainnya dari faktor pengaruh mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2, yang merupakan jenis gen penekan tumor. Ketika berfungsi normal, gen itu bisa membantu mencegah pertumbuhan sel tak terkendali, yang biasanya menyebabkan kasus tumor ganas. Ketika gen BRCA mengalami kerusakan mutasi, hal itu dapat mengarah pada pengembangan payudara dan kanker ovarium yang diturunkan.

Sejak 15 tahun menangani penyakit kanker, Wisnubroto menyebut bila umumnya kanker payudara diidap warga berusia 45 sampai 50 tahun. Namun dalam 5 tahun terakhir, dia melihat bila pengidapnya mulai merambah warga-warga berusia 30 tahun ke atas. ”Sehingga kami bersama para dokter internasional juga sedang membahas ini, kenapa terjadi peningkatan (kasus) untuk (perempuan) yang usia 32 tahunan,” terang pria yang pernah praktik di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang itu.

Di beberapa kasus, pihaknya juga menemukan kanker payudara pada warga yang masih remaja. ”Ada sekitar 5 orang yang pernah saya tangani, mereka usianya di bawah 20 tahun, dan itu karena faktor keturunan,” bebernya. Untuk menekan jumlah kasus baru, Wisnubroto menyebut beberapa langkah yang bisa dilakukan para perempuan. Seperti menyusui sampai 2 tahun untuk mereka yang sudah menikah dan punya anak. Langkah lainnya yakni melakukan kebiasaan hidup sehat dengan rutin berolahraga.

Kepada Jawa Pos Radar Malang, dia juga menyebut bila kehamilan hingga berkali-kali bisa menurunkan risiko kanker payudara. ”Karena (hamil) itu berpengaruh pada penurunan yang memicu kanker payudara,” terangnya. Secara umum, dia menyebut bila kanker payudara itu tidak bisa dicegah. Akan tetapi, perempuan yang jadi pihak paling rawan bisa melakukan deteksi dini untuk mengetahui stadiumnya sejak awal. Hal itu akan berguna untuk tahap pertolongan pertama bagi penderita kanker payudara.

”Kalau stadiumnya masih rendah, besar kemungkinan angka harapan hidupnya tinggi, begitupun sebaliknya,” jelas dokter yang kini praktik di RS Lavalette dan RS Panti Waluya Sawahan itu. Bila kanker sudah berada di stadium 4, angka harapan hidupnya bakal lebih sedikit, sekitar 15 persen saja. Sementara untuk stadium 3, angka harapan hidupnya sekitar 30 sampai 40 persen. Sementara stadium 2, harapan hidupnya masih 70 persen. Sedangkan stadium satu, harapan hidupnya sampai 90 persen.

Langkah deteksi dini yang paling efektif yakni rutin mengecek bagian payudara. Ketika menemukan benjolan di sekitar payudara, kewaspadaan perlu ditingkatkan. ”Yang tahu ada perubahan atau tidaknya pada payudaranya ya perempuan itu sendiri,” kata Wisnubroto.
Bila menemukan perubahan, dia menyebut bila tindakan yang harus diambil adalah berkonsultasi pada orang yang berkompeten seperti dokter.

Dokter lain yang kerap menangani pasien kanker payudara dr Yosephine Pratiwi juga mengatakan bila pasiennya kebanyakan berusia 40 tahun ke atas. Selain faktor internal, dia juga menyebut beberapa faktor eksternal yang bisa jadi penyebabnya. ”Faktor ekternal misalnya pengaruh dari gaya hidup dan pola makan. Sedangkan faktor internal bisa dari keturunan nenek atau ibunya,” kata alumnus Universitas Wijaya Kusuma Surabaya itu.

Dokter yang praktik di Apotek Kondang Waras, Karangploso, itu menyebut bila selama ini pihaknya banyak menekankan pentingnya menjaga pola makan. ”Tapi tetap, gejala sekecil apa pun harus berobat ke rumah sakit, biar kami tahu jinak atau ganas,” kata dia. Asupan buah dan sayuran menurutnya cukup baik untuk para perempuan. ”Hindari makanan yang dibakar, intinya di pola makan dan istirahat harus cukup,” tandasnya. (ulf/by/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru