alexametrics
20.2 C
Malang
Friday, 1 July 2022

Sembilan Hari Napak Tilas Spiritual ke Mesir, Palestina dan Yordania (4): Merinding, Melihat Langsung Helai Rambut Firaun Yang Masih Utuh

Yang paling mengesankan ketika berada di Museum Mesir, Kairo, adalah ketika berada di ruangan khusus yang menyimpan mumi para Firaun. Ada Firaun yang naik tahta di usia 9 tahun, meninggal di usia 19 tahun, dan harta peninggalannya masih utuh sampai sekarang.

***

Setelah salat Dhuhur dan Ashar dijamak di Masjid Amru bin Ash, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Museum Mesir: The Museum of Antiquites. Masih di sekitar Kota Kairo. Lebih tepatnya berlokasi di dekat Tahrir Square, jantungnya Kota Kairo.

Mustafa Mukhtar, guide lokal yang menemani kami selama di Mesir menjelaskan bahwa Museum Mesir ini menampung sedikitnya 120 ribu artefak Mesir dari masa ke masa. “Itu pun tak semuanya dipamerkan. Karena pertimbangan keamanan,” ceritanya.

Dan museum Mesir ini termasuk tua. Sebab, keberadaannya digagas sejak tahun 1835 M. “Museum dibangun karena pada saat itu untuk melindungi berbagai situs arkeologi yang banyak dijarah,” tuturnya.

Ketika terjadi huru-hara dan berujung pada revolusi Mesir tahun 2011, museum ini sempat menjadi korban. Sejumlah koleksi di dalamnya dijarah. Hilang. Ada juga yang dirusak. Di antaranya dua mumi dilaporkan hancur. Gara-gara huru-hara tersebut, museum ini sempat tutup selama empat tahun. Dan baru dibuka kembali pada Oktober 2015.

Siang itu, kami tiba di depan museum Mesir. Di sana sudah banyak turis yang bergerombol. Kebanyakan adalah turis asing bule. Mereka tidak langsung masuk ke area dalam museum. Sebab, di halaman museum, terdapat beberapa patung yang menarik para pengunjung untuk berfoto selfie. Untuk masuk, pengunjung harus membayar 160 Pound Mesir (sekitar Rp 160 ribu). Jika membawa kamera, membayar tambahan USD 3. Untuk transaksi pembayaran, di Mesir memang sering menggunakan mata uang dolar Amerika.

Bangunan museum yang didominasi cat pink kecoklat-coklatan itu terdiri dari dua lantai. Lantai dasar dan lantai dua. Selama menyusuri ruangan demi ruangan di dalam museum itu, kami dijelaskan oleh Mustafa. Berada di dalam museum itu, serasa menyelami kehidupan Mesir kuno.

SEJAK 1835 M: Penulis dan patung Firaun di museum Mesir.

Di lantai dasar, kami melihat berbagai koleksi papyrus. Papyrus adalah sejenis tanaman air yang tumbuh di tepi dan lembah Sungai Nil. Bangsa Mesir kuno menggunakan tanaman ini untuk membuat kertas. Dan sejak tahun 3500 SM, bangsa Mesir Kuno sudah memanfaatkan papyrus untuk membuat kertas. Berbagai potongan papyrus itu menunjukkan penggunaan bahasa Mesir Kuno, Arab, Yunani dan latin serta huruf hieroglif.

Di lantai dasar kami juga melihat koleksi koin dari emas, perak dan perunggu. Ada pula berbagai artefak, meja, puluhan patung, peti mati dari batu (sarkofagus) dari masa Mesir Kuno 1550 – 1069 SM. Benda-benda itu dulunya ditemukan di berbagai penggalian situs arkeologi. Termasuk melalui piramida, kuil-kuil kuno serta di dalam padang pasir. Sejumlah sarkofagus yang dipamerkan dalam museum itu ada yang terbuat dari batu diukir dengan indahnya. Rapi. Membuktikan betapa tingginya seni pahat Mesir Kuno.

Kami lantas melanjutkan perjalanan di dalam museum, hingga menuju ke lantai dua. Di lantai dua ini, perhatian saya tertuju pada barang-barang berharga yang menurut penjelasan Mustafa, hampir semuanya ditemukan di kompleks pemakaman Firaun Tutankhamun. Dia adalah firaun paling terkenal dari semua firaun yang menjadi penguasa Mesir. Mengapa disebut paling terkenal?

Karena ketika muminya ditemukan oleh arkeolog Inggris Howard Carter pada 16 Februari 1923 di Lembah Para Raja, Mesir, makamnya relatif masih utuh. Kondisi seperti ini berbeda dibandingkan dengan penggalian mumi untuk firaun-firaun lainnya yang kebanyakan banyak tak utuhnya. Ketika Carter menemukan mumi Tutankhamun, lebih dari 3.500 artefak telah ditemukan di kompleks pemakamannya. Termasuk topeng wajah Firaun yang terbuat dari 11 kg emas murni. Sejak saat itu lah, topeng emas ini menjadi ikon global peradaban Mesir Kuno.

Tutankhamun pun menjadi ikon populer dari peradaban Mesir Kuno setelah makam dan muminya ditemukan. Artefak lain yang ditemukan dari makam Raja Tut (julukan Tutankhamun) mencakup berbagai perhiasan, vas, pot, peti besar dengan dekorasi indah, serta beberapa senjata dan instrument yang diyakini para sejarawan digunakan Raja Tut semasa hidupnya. Juga ada kursi berlapis emas dan sejumlah permata serta aneka perhiasan emas yang dipajang dalam ruangan tersendiri.

Menyaksikan berbagai artefak peninggalan Raja Tut yang masih utuh itu, saya pun heran. Bagaimana bisa? Padahal, Raja Tut yang menurut para sejarawan naik tahta pada usia 9 tahun dan meninggal di usia 19 tahun itu diperkirakan memerintah pada 3.300 tahun lalu. Selama ribuan tahun berlalu, tapi barang-barang peninggalannya masih utuh. Ini lah menunjukkan betapa tingginya peradaban Mesir Kuno saat itu.

Masih di lantai dua Museum Mesir, kami melanjutkan rute berikutnya. Yakni ke Royal Mummies Chamber. Ini adalah tempat khusus penyimpanan mumi-mumi Firaun. Untuk bisa masuk ke ruangan itu, harus membayar lagi. USD 8 per orang. Aturannya pun sangat ketat. Yakni tak boleh memotret. Ruangan itu pun dijaga ketat.

Begitu mulai masuk, saya mulai merinding. Baru kali ini saya melihat langsung mumi para firaun. Selama ini, saya tahu mumi hanya dari film, dan dari buku-buku bacaan. Tapi kali ini, saya melihat langsung mumi-mumi para Firaun yang berkuasa sejak 3000-an tahun lalu itu.

Ada 11 mumi yang berada di ruangan itu. Masing-masing disimpan di dalam kotak kaca sangat tebal. Subhanallah, tubuh mumi-mumi itu kelihatan utuh. Mulai dari kepala, leher, badan hingga kaki. Terlihat juga helai rambutnya. Bahkan, gigi-giginya ada yang tampak kelihatan. Tinggi rata-rata mumi itu 160-an centi meter. Entah lah, apakah tinggi para Firaun itu memang segitu, atau aslinya lebih tinggi, tapi karena diawetkan ribuan tahun hingga tingginya menyusut. Yang jelas, keberadaan mumi-mumi ini semakin menunjukkan betapa tinggi teknologi pengawetan mayat pada masa Mesir Kuno tersebut.

Di antara 11 mumi itu, tertulis ada Firaun Sneferu, diperkirakan berkuasa sekitar tahun 2.620 SM. Ada pula Firaun Akhenaten yang diperkirakan berkuasa sekitar tahun 1.350 SM. Yang paling menarik perhatian saya, adalah mumi dari Firaun Ramses II, yang menurut Mustafa, dan juga para sejarawan, diyakini sebagai Firaun di zaman Nabi Musa AS (alaihissalam).

Ingatan saya lantas terbayang pada kisah Nabi Musa AS yang kala itu bersama kaumnya dikejar-kejar Firaun. Nabi Musa pun berhasil membelah lautan dengan mukjizat tongkatnya. Masih dikejar oleh Firaun. Tapi, di tengah lautan, Allah SWT lantas menenggelamkan Firaun bersama bala tentaranya. Kisah dramatis tersebut diceritakan di dalam Alquran. Dan hari itu, Ramses II yang diyakini sebagai Firaun di zaman Nabi Musa, jasadnya ada di depan saya. Sempat merinding saya ketika melihat jasad dengan warna seperti tubuh yang hangus itu.

Apakah betul, Ramses II adalah Firaun di zaman Nabi Musa? Menurut perkiraan sejarawan, Ramses II memerintah pada abad ke 12 SM. Dia termasuk Firaun ketiga dari Dinasti ke-19 Firaun Mesir, dan disebut-sebut paling kuat karena berhasil berkuasa selama 66 tahun (1279 – 1213 SM). Untuk meneliti apakah Ramses II adalah Firaun di era Nabi Musa, pemerintah Mesir, saat itu di bawah pemerintahan Presiden Anwar Sadat, mengijinkan Maurice Bucaille, ilmuwan Prancis terkemuka yang juga dokter ahli bedah untuk melakukan penelitian.

Selama melakukan penelitian, Bucaille sampai harus menerbangkan mumi Ramses II ke Prancis pada 26 September 1976. Kala itu sampai harus diangkut dengan pesawat militer Angkatan Udara Prancis. Di Prancis, mumi Ramses II ditreatment, karena terdapat infeksi jamur yang merusak jasadnya. Selama di Prancis, mumi Ramses II dirawat secara khusus di Paris Musee de I’Homme (Paris Museum of Man) di Trocaclero, sebuah cabang dari Museum Sejarah Paris.

Setelah dirawat dan jasadnya direstorasi, mumi Ramses II diterbangkan kembali ke Mesir pada 10 Mei 1977. Bucaille pun melanjutkan penelitiannya. Dengan kemampuan otopsi yang dia punyai, dia berusaha mengungkap penyebab kematian para raja Mesir kuno itu. Akhirnya, dari penelitiannya itu, dia berhasil menyimpulkan bahwa ada salah seorang Firaun yang jasadnya mengandung garam. Kandungan garam pada tubuh sang mumi Firaun itu membuktikan bahwa dia telah mati karena tenggelam di laut. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut, dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

Firaun yang mati karena tenggelam ini lah yang lantas dikaitkan dengan kisah Nabi Musa AS. Tapi, menurut Bucaille, Firaun yang mati tenggelam itu adalah Merneptah. Dia adalah anak ke-13 dari 162 anak Ramses II. Merneptah yang berlatar belakang militer itu memerintah Mesir selama hampir 10 tahun, mulai 1213 – 1203 SM.

Menurut kesimpulan Bucaille, Firaun yang tenggelam ketika mengejar Nabi Musa adalah Merneptah, putera Ramses II. Jadi, Nabi Musa mengalami dua pemerintahan. Pemerintahan Ramses II dan anaknya, Merneptah. Pada masa kekuasaan yang panjang dari Ramses II itu, banyak patung dirinya dibuat. Ukurannya hingga 8 meter. Beratnya mencapai 80 ton. Patung-patung itu dipersembahkan rakyat Mesir untuk sang raja, Ramses II. Umur yang panjang (diperkirakan hingga 96 tahun), kaya, banyak anak, lalu dipuja-puja rakyatnya, membuat Ramses II lupa diri. Dan dia akhirnya mengakui dirinya sebagai Tuhan.

Laporan Bucaille ini dia tulis dengan judul: Les Momies des Pharaons et la Midecine (Mumi Firaun: Sebuah Penelitian Medis Modern). Atas tulisannya ini, dia mendapatkan penghargaan: Le prix Diane-Potier-Boes dari Academie Frantaise dan Prix General dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.

Menyaksikan fakta, bahwa mumi-mumi Firaun itu sampai sekarang masih bisa dilihat, termasuk muminya Firaun di zaman Nabi Musa AS, ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Seperti yang Dia firmankan dalam Al Quran surat Yunus 92: “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Firaun), supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami,”

Konon, Bucaille kala itu sangat heran dan takjub dengan relevansi antara ayat 92 dari surat Yunus itu dengan realitas yang terjadi. Maka, dia lantas tertarik meneliti Alquran. Dan hasil penelitiannya itu dia terbitkan menjadi sebuah buku berjudul: La Bible, le Coran et la Science (The Bible, The Quran and Science) di tahun 1976. “Maha benar Allah, dengan segala firmanNya”. (bersambung/dilengkapi dari berbagai sumber)

Yang paling mengesankan ketika berada di Museum Mesir, Kairo, adalah ketika berada di ruangan khusus yang menyimpan mumi para Firaun. Ada Firaun yang naik tahta di usia 9 tahun, meninggal di usia 19 tahun, dan harta peninggalannya masih utuh sampai sekarang.

***

Setelah salat Dhuhur dan Ashar dijamak di Masjid Amru bin Ash, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Museum Mesir: The Museum of Antiquites. Masih di sekitar Kota Kairo. Lebih tepatnya berlokasi di dekat Tahrir Square, jantungnya Kota Kairo.

Mustafa Mukhtar, guide lokal yang menemani kami selama di Mesir menjelaskan bahwa Museum Mesir ini menampung sedikitnya 120 ribu artefak Mesir dari masa ke masa. “Itu pun tak semuanya dipamerkan. Karena pertimbangan keamanan,” ceritanya.

Dan museum Mesir ini termasuk tua. Sebab, keberadaannya digagas sejak tahun 1835 M. “Museum dibangun karena pada saat itu untuk melindungi berbagai situs arkeologi yang banyak dijarah,” tuturnya.

Ketika terjadi huru-hara dan berujung pada revolusi Mesir tahun 2011, museum ini sempat menjadi korban. Sejumlah koleksi di dalamnya dijarah. Hilang. Ada juga yang dirusak. Di antaranya dua mumi dilaporkan hancur. Gara-gara huru-hara tersebut, museum ini sempat tutup selama empat tahun. Dan baru dibuka kembali pada Oktober 2015.

Siang itu, kami tiba di depan museum Mesir. Di sana sudah banyak turis yang bergerombol. Kebanyakan adalah turis asing bule. Mereka tidak langsung masuk ke area dalam museum. Sebab, di halaman museum, terdapat beberapa patung yang menarik para pengunjung untuk berfoto selfie. Untuk masuk, pengunjung harus membayar 160 Pound Mesir (sekitar Rp 160 ribu). Jika membawa kamera, membayar tambahan USD 3. Untuk transaksi pembayaran, di Mesir memang sering menggunakan mata uang dolar Amerika.

Bangunan museum yang didominasi cat pink kecoklat-coklatan itu terdiri dari dua lantai. Lantai dasar dan lantai dua. Selama menyusuri ruangan demi ruangan di dalam museum itu, kami dijelaskan oleh Mustafa. Berada di dalam museum itu, serasa menyelami kehidupan Mesir kuno.

SEJAK 1835 M: Penulis dan patung Firaun di museum Mesir.

Di lantai dasar, kami melihat berbagai koleksi papyrus. Papyrus adalah sejenis tanaman air yang tumbuh di tepi dan lembah Sungai Nil. Bangsa Mesir kuno menggunakan tanaman ini untuk membuat kertas. Dan sejak tahun 3500 SM, bangsa Mesir Kuno sudah memanfaatkan papyrus untuk membuat kertas. Berbagai potongan papyrus itu menunjukkan penggunaan bahasa Mesir Kuno, Arab, Yunani dan latin serta huruf hieroglif.

Di lantai dasar kami juga melihat koleksi koin dari emas, perak dan perunggu. Ada pula berbagai artefak, meja, puluhan patung, peti mati dari batu (sarkofagus) dari masa Mesir Kuno 1550 – 1069 SM. Benda-benda itu dulunya ditemukan di berbagai penggalian situs arkeologi. Termasuk melalui piramida, kuil-kuil kuno serta di dalam padang pasir. Sejumlah sarkofagus yang dipamerkan dalam museum itu ada yang terbuat dari batu diukir dengan indahnya. Rapi. Membuktikan betapa tingginya seni pahat Mesir Kuno.

Kami lantas melanjutkan perjalanan di dalam museum, hingga menuju ke lantai dua. Di lantai dua ini, perhatian saya tertuju pada barang-barang berharga yang menurut penjelasan Mustafa, hampir semuanya ditemukan di kompleks pemakaman Firaun Tutankhamun. Dia adalah firaun paling terkenal dari semua firaun yang menjadi penguasa Mesir. Mengapa disebut paling terkenal?

Karena ketika muminya ditemukan oleh arkeolog Inggris Howard Carter pada 16 Februari 1923 di Lembah Para Raja, Mesir, makamnya relatif masih utuh. Kondisi seperti ini berbeda dibandingkan dengan penggalian mumi untuk firaun-firaun lainnya yang kebanyakan banyak tak utuhnya. Ketika Carter menemukan mumi Tutankhamun, lebih dari 3.500 artefak telah ditemukan di kompleks pemakamannya. Termasuk topeng wajah Firaun yang terbuat dari 11 kg emas murni. Sejak saat itu lah, topeng emas ini menjadi ikon global peradaban Mesir Kuno.

Tutankhamun pun menjadi ikon populer dari peradaban Mesir Kuno setelah makam dan muminya ditemukan. Artefak lain yang ditemukan dari makam Raja Tut (julukan Tutankhamun) mencakup berbagai perhiasan, vas, pot, peti besar dengan dekorasi indah, serta beberapa senjata dan instrument yang diyakini para sejarawan digunakan Raja Tut semasa hidupnya. Juga ada kursi berlapis emas dan sejumlah permata serta aneka perhiasan emas yang dipajang dalam ruangan tersendiri.

Menyaksikan berbagai artefak peninggalan Raja Tut yang masih utuh itu, saya pun heran. Bagaimana bisa? Padahal, Raja Tut yang menurut para sejarawan naik tahta pada usia 9 tahun dan meninggal di usia 19 tahun itu diperkirakan memerintah pada 3.300 tahun lalu. Selama ribuan tahun berlalu, tapi barang-barang peninggalannya masih utuh. Ini lah menunjukkan betapa tingginya peradaban Mesir Kuno saat itu.

Masih di lantai dua Museum Mesir, kami melanjutkan rute berikutnya. Yakni ke Royal Mummies Chamber. Ini adalah tempat khusus penyimpanan mumi-mumi Firaun. Untuk bisa masuk ke ruangan itu, harus membayar lagi. USD 8 per orang. Aturannya pun sangat ketat. Yakni tak boleh memotret. Ruangan itu pun dijaga ketat.

Begitu mulai masuk, saya mulai merinding. Baru kali ini saya melihat langsung mumi para firaun. Selama ini, saya tahu mumi hanya dari film, dan dari buku-buku bacaan. Tapi kali ini, saya melihat langsung mumi-mumi para Firaun yang berkuasa sejak 3000-an tahun lalu itu.

Ada 11 mumi yang berada di ruangan itu. Masing-masing disimpan di dalam kotak kaca sangat tebal. Subhanallah, tubuh mumi-mumi itu kelihatan utuh. Mulai dari kepala, leher, badan hingga kaki. Terlihat juga helai rambutnya. Bahkan, gigi-giginya ada yang tampak kelihatan. Tinggi rata-rata mumi itu 160-an centi meter. Entah lah, apakah tinggi para Firaun itu memang segitu, atau aslinya lebih tinggi, tapi karena diawetkan ribuan tahun hingga tingginya menyusut. Yang jelas, keberadaan mumi-mumi ini semakin menunjukkan betapa tinggi teknologi pengawetan mayat pada masa Mesir Kuno tersebut.

Di antara 11 mumi itu, tertulis ada Firaun Sneferu, diperkirakan berkuasa sekitar tahun 2.620 SM. Ada pula Firaun Akhenaten yang diperkirakan berkuasa sekitar tahun 1.350 SM. Yang paling menarik perhatian saya, adalah mumi dari Firaun Ramses II, yang menurut Mustafa, dan juga para sejarawan, diyakini sebagai Firaun di zaman Nabi Musa AS (alaihissalam).

Ingatan saya lantas terbayang pada kisah Nabi Musa AS yang kala itu bersama kaumnya dikejar-kejar Firaun. Nabi Musa pun berhasil membelah lautan dengan mukjizat tongkatnya. Masih dikejar oleh Firaun. Tapi, di tengah lautan, Allah SWT lantas menenggelamkan Firaun bersama bala tentaranya. Kisah dramatis tersebut diceritakan di dalam Alquran. Dan hari itu, Ramses II yang diyakini sebagai Firaun di zaman Nabi Musa, jasadnya ada di depan saya. Sempat merinding saya ketika melihat jasad dengan warna seperti tubuh yang hangus itu.

Apakah betul, Ramses II adalah Firaun di zaman Nabi Musa? Menurut perkiraan sejarawan, Ramses II memerintah pada abad ke 12 SM. Dia termasuk Firaun ketiga dari Dinasti ke-19 Firaun Mesir, dan disebut-sebut paling kuat karena berhasil berkuasa selama 66 tahun (1279 – 1213 SM). Untuk meneliti apakah Ramses II adalah Firaun di era Nabi Musa, pemerintah Mesir, saat itu di bawah pemerintahan Presiden Anwar Sadat, mengijinkan Maurice Bucaille, ilmuwan Prancis terkemuka yang juga dokter ahli bedah untuk melakukan penelitian.

Selama melakukan penelitian, Bucaille sampai harus menerbangkan mumi Ramses II ke Prancis pada 26 September 1976. Kala itu sampai harus diangkut dengan pesawat militer Angkatan Udara Prancis. Di Prancis, mumi Ramses II ditreatment, karena terdapat infeksi jamur yang merusak jasadnya. Selama di Prancis, mumi Ramses II dirawat secara khusus di Paris Musee de I’Homme (Paris Museum of Man) di Trocaclero, sebuah cabang dari Museum Sejarah Paris.

Setelah dirawat dan jasadnya direstorasi, mumi Ramses II diterbangkan kembali ke Mesir pada 10 Mei 1977. Bucaille pun melanjutkan penelitiannya. Dengan kemampuan otopsi yang dia punyai, dia berusaha mengungkap penyebab kematian para raja Mesir kuno itu. Akhirnya, dari penelitiannya itu, dia berhasil menyimpulkan bahwa ada salah seorang Firaun yang jasadnya mengandung garam. Kandungan garam pada tubuh sang mumi Firaun itu membuktikan bahwa dia telah mati karena tenggelam di laut. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut, dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

Firaun yang mati karena tenggelam ini lah yang lantas dikaitkan dengan kisah Nabi Musa AS. Tapi, menurut Bucaille, Firaun yang mati tenggelam itu adalah Merneptah. Dia adalah anak ke-13 dari 162 anak Ramses II. Merneptah yang berlatar belakang militer itu memerintah Mesir selama hampir 10 tahun, mulai 1213 – 1203 SM.

Menurut kesimpulan Bucaille, Firaun yang tenggelam ketika mengejar Nabi Musa adalah Merneptah, putera Ramses II. Jadi, Nabi Musa mengalami dua pemerintahan. Pemerintahan Ramses II dan anaknya, Merneptah. Pada masa kekuasaan yang panjang dari Ramses II itu, banyak patung dirinya dibuat. Ukurannya hingga 8 meter. Beratnya mencapai 80 ton. Patung-patung itu dipersembahkan rakyat Mesir untuk sang raja, Ramses II. Umur yang panjang (diperkirakan hingga 96 tahun), kaya, banyak anak, lalu dipuja-puja rakyatnya, membuat Ramses II lupa diri. Dan dia akhirnya mengakui dirinya sebagai Tuhan.

Laporan Bucaille ini dia tulis dengan judul: Les Momies des Pharaons et la Midecine (Mumi Firaun: Sebuah Penelitian Medis Modern). Atas tulisannya ini, dia mendapatkan penghargaan: Le prix Diane-Potier-Boes dari Academie Frantaise dan Prix General dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.

Menyaksikan fakta, bahwa mumi-mumi Firaun itu sampai sekarang masih bisa dilihat, termasuk muminya Firaun di zaman Nabi Musa AS, ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Seperti yang Dia firmankan dalam Al Quran surat Yunus 92: “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Firaun), supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami,”

Konon, Bucaille kala itu sangat heran dan takjub dengan relevansi antara ayat 92 dari surat Yunus itu dengan realitas yang terjadi. Maka, dia lantas tertarik meneliti Alquran. Dan hasil penelitiannya itu dia terbitkan menjadi sebuah buku berjudul: La Bible, le Coran et la Science (The Bible, The Quran and Science) di tahun 1976. “Maha benar Allah, dengan segala firmanNya”. (bersambung/dilengkapi dari berbagai sumber)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/