The Journey of Doodle Art: Menyusuri Perjalanan Seni “Coret-coret” di Indonesia

RADARMALANG – Ngaku deh, pasti kamu pernah mencoret-coret bagian belakang buku tulismu ketika bosan kan? Atau secara tidak sadar menghasilkan sebuah karya gambaran abstrak ketika sedang melamun?

Yang kamu lakukan itu bukan hanya sekadar coret-coret tidak penting, melainkan sebuah proses menciptakan karya seni baru yang kerap disebut dengan Doodle Art. Doodling didefinisikan sebagai kegiatan menggambar dalam keadaan tidak fokus atau sembari melakukan hal lain.

Ciri khasnya yang abstrak bikin doodle art memiliki kesan bebas dan unik. Jenis-jenis doodle yang populer pun beragam. Mulai dari gambaran kartun manusia, karakter fiksi, bentuk geometris hingga motif-motif abstrak yang tak terbatas.

Tulisan berbentuk 3 dimensi juga tidak jarang ditemui dalam sebuah doodle art. “Di Indonesia sendiri, yang paling banyak diminati sih doodle dengan karakter monster yang lucu atau bentuk bebungaan,” ujar founder komunitas Doodle Art Indonesia, Azalia Pramatatya.

Media yang digunakan pun bermacam-macam, mulai dari kertas, dinding, paper cup, cover buku, tote bag, apapun! Sedangkan alatnya yang paling sederhana yaitu pensil dan kertas. “Selebihnya, jika ingin menggunakan spidol, cat air, ataupun akrilik diperbolehkan saja,” jelas perempuan yang akrab disapa Anya tersebut.

Sure, doodle art is fun and stress-relieiving! Tapi, ternyata masih ada keuntungan lain lho di baliknya. “Misalnya aja, bisa dijadikan bisnis untuk hadiah ulang tahun atau wisuda. Bahkan, bisa juga dijadikan merchandise,” ujar Anya.

Jika ditekuni, seni yang hanya bermula dari lamunan ini bisa jadi karya yang menarik dan layak untuk dibagikan ke media sosial. Yap, dari situlah akhirnya doodle art mendapatkan panggung di dunia seni gambar.

“Perkembangannya pesat sekali, salah satunya adalah karena media sosial. Kecepatan penyebaran informasi melalui media sosial membuat semakin banyak yang tertarik dengan doodle art,” tutur Anya.

Alhasil, Anya punya kesempatan untuk makin mengembangkan komunitasnya. Mulanya, ia hanya iseng membuat akun @doodleartindonesia untuk me-repost gambar-gambar pegiat doodle art yang ditandai ke akun tersebut.

Dan dalam kurun waktu 4 tahun, ia berhasil memperluas jangkauan komunitasnya hingga tersebar di lebih dari 60 regional, salah satunya berada di Malang. “Doodle Art Indonesia juga punya berbagai kegiatan, baik di tingkat nasional maupun regional,” ujarnya.

Mulai dari meet up, lokakarya, kontes live doodle, kontes online, giveaway, pameran, kolaborasi lintas komunitas dan artwork exchange. “Yang paling seru adalah ketika menggambar serentak di media besar ketika meet up,” ceritanya.

Lewat kegiatan doodling yang dilakukan bareng komunitas, anggota tak hanya dapat meningkatkan skill teknisnya aja, tapi juga bisa sembari menambah teman dan meningkatkan kepercayaan diri pada karya. Memang, seringkali, tidak pede jadi alasan seseorang enggan berkarya.

Anya pun berpesan untuk tidak pernah berhenti mencoba dan cari inspirasi sebanyak mungkin. “Karena doodling sesungguhnya adalah kegiatan sederhana yang banyak orang bisa lakukan. Dengan banyak latihan dan mengembangkan karakter, kamu juga bisa kok jadi doodler yang hebat!”

Anya juga ngejelasin kalau kegiatan yang dilakukan bareng komunitas gak cuma berdampak positif pada skill doodling-nya aja, tapi juga bisa sembari menambah teman dan meningkatkan kepercayaan diri pada karya. “Jangan takut buat mencoba dan cari inspirasi sebanyak mungkin. Sisanya? Terus berlatih dan kembangkan karaktermu!” pungkasnya.

Penulis: Ananda Triana
Ilustrasi: Dzulhan Muhammad
Editor: Indra M