RADARMALANG – Beberapa waktu yang lalu ramai diperbincangkan berita mengenai seorang polisi yang diduga melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap anak dan istrinya. Kejadian bermula dari rekaman suara saat kejadian yang diunggah oleh putrinya sendiri dalam akun instagram pribadinya @aurelliarenatha_ (25/7/2020) tersebut viral di media sosial.

Rekaman tersebut berisi suara teriakan minta tolong dari sang korban saat kekerasan berlangsung, pelaku juga menghancurkan ponsel yang menjadi barang bukti perselingkuhannya. Korban juga sempat membagikan beberapa gambar dari bagian tubuhnya yang luka akibat kekerasan tersebut dan langsung melapor pada polisi setempat serta meminta untuk mencabut jabatan sang ayah. Namun, di hari yang sama pelaku justru ikut melaporkan balik istri dan anaknya dengan tuduhan yang sama.

Kekerasan rumah tangga ternyata tidak hanya berhubungan dengan kekerasan fisik, tapi juga psikologi. Kekerasan juga termasuk ketika seorang anak tinggal di lingkungan yang penuh dengan perilaku kekerasan. Dilansir dari American Family Physician (28/7/2020), ada lebih dari 3,2 juta anak yang menyaksikan sendiri kekerasan di dalam rumahnya terjadi beberapa kali.

Pada anak-anak, tentu membawa dampak tersendiri, seperti trauma fisik dan trauma psikologis yang mungkin akan dibawanya hingga beranjak dewasa. Bahkan proses penyembuhan trauma tersebut akan membutuhkan waktu yang lama. Lalu apa sajakah dampak kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak-anak?

1. Trauma Emosional dan Psikologi
Umumnya, anak yang tinggal dalam kondisi mengalami kekerasan akan mengalami trauma emosional dan psikologi serta mengalami beberapa masalah perilaku. Hal itu sebagai dampak dari perasaan takut serta tensi tinggi yang selalu muncul saat berada di rumah. Dikutip dari Domestic Violence Prevention Centre Gold Coast Inc, anak yang melihat ibunya diancam, direndahkan atau diserang secara fisik dan seksual akan merespon otomatis terhadap kekerasan dengan memanipulasi pelaku yang ingin melukai ibunya.

2. Penurunan Fungsi Otak
Dilansir dari alodokter.com, efek kekerasan pada anak juga dapat mempengaruhi struktur dan perkembangan otak, hingga penurunan fungsi otak di bagian tertentu. Sehingga berpotensi menimbulkan efek jangka panjang pada sang anak hingga dewasa, seperti mendapat gangguan kesehatan mental.

3. Perkembangan Emosi
Dampak lain dari kekerasan adalah perkembangan regulasi emosi yang dimiliki anak. Dikutip dari Pijarpsikologi, anak akan kehilangan kemampuan untuk menenangkan dirinya, menghindar dari kejadian-kejadian provokatif dan stimulus yang menimbulkan perasaan sedih, serta menahan diri dari sikap kasar yang didukung oleh emosi yang tidak terkendali. Mereka juga cenderung akan meniru sikap kasar hingga pengendalian emosi orang tuanya.

4. Tidak Mudah Percaya Orang Lain
Anak yang mengalami kekerasan akan merasa kehilangan figur seseorang yang bisa melidunginya, rasa kepercayaannya akan terkikis secara perlahan. Sehingga nantinya mereka akan kesulitan untuk menaruh kepercayaan dan keyakinan dari orang lain. Ia akan menganggap tidak ada orang yang bisa diandalkan untuk memberikan perlindungan.

5. Depresi
Dikutip dari womenshealth, anak yang pernah tinggal dalam praktek kekerasan dalam rumah tangga memiliki risiko yang besar untuk mengulangi hubungan dengan kekerasan seperti yang ia alami. Sikap murung yang dimiliki kemnungkinan besar berlanjut sebagai depresi, mereka kehilangan perasaan bahagia sehingga selalu dikelilingi oleh perasaan negatif. Tidak ada keinginan dari mereka untuk berpikir secara positif dan meningkatkan semangat.

Dampak kekerasan yang dimiliki anak-anak harus sesegera mungkin untuk ditangani, tentunya dengan penanganan yang tepat. Segeralah temui psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penanganan jangka panjang akibat kekerasan yang dialami.

Pewarta : Fairuz Raissa Syahira
Foto : dictio.id
Penyunting: Fia