***
Hari kedua di Mesir, rute perjalanan kami selanjutnya adalah menuju ke Aleksandria. Atau, orang Mesir menyebutnya Al Iskandariyah. Kami berangkat dari Hotel Grand Nile Tower pagi hari. Sekitar pukul 08.00 waktu setempat.
Saya sangat penasaran dengan Aleksandria. Pertama, karena belum pernah ke sana. Kedua, karena saya sering membaca kisah, yang terkait dengan kota itu. ”Kita akan menempuh perjalanan sekitar 4-5 jam,” kata Mustafa Mukhtar, guide lokal dari Manaya Indonesia yang mendampingi kami selama di Mesir, memecah lamunan saya, ketika bus mulai beranjak meninggalkan hotel di Kairo. Jarak antara Kota Kairo ke Aleksandria sekitar 236 kilometer. Ini hampir sama dengan jarak antara Surabaya–Solo.
Yang menarik, perjalanan kami kali ini ditemani oleh seorang polisi. Namanya Muhammad. Tingginya sekitar 170 meter. Atletis. Dia mengenakan stelan jas hitam-hitam. Berdasi. Mirip seragamnya paspampres. Saya sempat melihat senapan otomatis diselipkan di pinggangnya. ”Aturan di Mesir, untuk perjalanan antar kota, harus dikawal oleh polisi. Demi menjamin keamanan para wisatawan,” jelas Khadafi, owner Manaya Indonesia, perusahaan travel yang memberangkatkan kami.
Sepanjang perjalanan menuju ke Aleksandria, bangunan yang paling sering saya jumpai adalah masjid. Kebanyakan adalah masjid dengan arsitektur kuno. Maklum, Mesir dijuluki sebagai Negeri Seribu Masjid yang berarsitektur kuno.
Sebelum menuju ke Aleksandria, kami diajak mampir ke pabrik kertas yang diproduksi dari papyrus. Seperti pernah saya singgung pada catatan sebelumnya, papyrus adalah sejenis tanaman air yang tumbuh di tepi dan lembah Sungai Nil. Bangsa Mesir kuno menggunakan tanaman ini untuk membuat kertas. Dan sejak tahun 3500 SM, bangsa Mesir Kuno sudah memanfaatkan papyrus untuk membuat kertas. Di Museum Mesir, berbagai potongan papyrus itu menunjukkan penggunaan bahasa Mesir Kuno, Arab, Yunani, dan Latin serta huruf hieroglif.
Nah, hari itu, kami mengunjungi pabrik yang memproduksi kertas dari papyrus. Di tempat ini, kami menyaksikan peragaan bagaimana kertas dari papyrus diproduksi. Dulu, di zaman Mesir Kuno, huruf yang digunakan sebagai bahasa komunikasi adalah hieroglif. Konon, huruf inilah yang digunakan sebagai alat komunikasi tertulis di era Nabi Musa Alaihissalam (AS). Huruf hieroglif itulah yang ditulis di kertas papyrus. Huruf hieroglif sangat khas. Di mana setiap huruf digambarkan dengan simbol, dan setiap simbol punya makna. Misalnya, huruf A punya makna keras kepala. ”Huruf C simbolnya cangkir. Maknanya selalu minum. Huruf F simbolnya ular. Maknanya, orang yang suka sekali wanita. Banyak pacarnya,” demikian Mustafa mengajari kami satu per satu huruf hieroglif, lengkap dengan simbol dan maknanya.
Pabrik itu tetap memproduksi kertas papyrus hingga kini. Hanya saja, kertas itu digunakan sebagai latar untuk gambar, maupun kaligrafi. Sehingga jadilah pabrik itu memproduksi kertas papyrus untuk suvenir.
Dari pabrik kertas papyrus, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Aleksandria. Kondisi jalanan yang mulus dan relatif lancar, membuat kami sempat tertidur. Tak lama kemudian, suara Mustafa membangunkan kami. ”Bapak-Ibu, kita akan masuk ke Kota Aleksandria,” katanya.
Kami beranjak bangun. Saya lihat jam tangan, hampir pukul 12 siang waktu setempat. Begitu mata semakin terbuka, kami menyaksikan pemandangan indah. Sebuah kota yang berhadapan langsung dengan birunya Laut Mediterania. Baru kali ini saya menyaksikan indahnya Laut Mediterania. Berbaur dengan bebatuan yang menonjol di sana-sini. Pasir di sepanjang pantai pun tampak putih kekuning-kuningan. Jalanan di kota pun lebar. Sekitar 8 meter. ”Kota Aleksandria adalah kota terbesar kedua di Mesir setelah Kairo. Jumlah penduduknya sekitar 4 juta jiwa. Banyak orang kaya di Mesir punya rumah kedua di Aleksandria,” cerita Mustafa.
Jika dibandingkan dengan Kairo, Kota Aleksandria terlihat lebih rapi, lebih tertata, dan lebih bersih. Nuansa bangunan khas Eropa-nya begitu menonjol dengan didominasi warna putih gading dan kecokelatan.
Kota Aleksandria yang didominasi bangunan-bangunan kuno dengan pengaruh gaya Romawi itu berada di sepanjang tepi Laut Mediterania. Kira-kira 32 kilometer panjangnya. ”Aleksandria pernah menjadi ibu kota Mesir selama seribuan tahun,” cerita Mustafa.
Sejarah mencatat, Kota Aleksandria didirikan oleh Alexander Agung, penguasa Yunani saat itu. Seperti pernah saya ceritakan pada catatan sebelumnya, bahwa setelah dikuasai Persia, Mesir kemudian beralih dikuasai Yunani. Kekuasaan Persia hancur setelah dikalahkan Alexander Agung dari Yunani pada 331 SM. Sejak saat itulah, Mesir berada dalam kekuasaan Yunani.
Dan Alexander Agung kemudian membangun kota, yang kemudian dinamakan sesuai namanya, yakni Aleksandria. Untuk membangun kota ini, Alexander Agung mendatangkan sejumlah arsitek dari Yunani yang dikepalai Dinocrates. Sejak pertama kali didirikan, Alexander Agung menjadikan Aleksandria sebagai pusat dari peradaban Helenistik yang ada di Mesir. Helenisme adalah sebuah paham di dunia yang berbicara, berkelakuan dan hidup seperti orang Yunani.
Dan hingga kini, sisa-sisa bangunan bercorak Yunani kuno itu masih ada. Selanjutnya, kota itu dijadikan sebagai ibu kota Mesir. Hingga seribuan tahun.
Kota Aleksandria juga merupakan tempat asal dari Cleopatra. Seperti saya singgung di catatan sebelumnya, sejak dikuasai Yunani, para Firaun di Mesir adalah dari keturunan Yunani atau disebut ras Yunani. Firaun dari ras Yunani ini adalah dari Dinasti Ptolemaios. Dan Cleopatra adalah penguasa/Firaun terakhir. Dia kehilangan kekuasaannya setelah diserang Romawi pada tahun 30 SM.
Selain menjadi saksi masuknya peradaban Yunani dan Romawi, Aleksandria juga merupakan saksi sejarah hadirnya peradaban Islam. Ini setelah Mesir berhasil dikuasai pasukan Islam yang dipimpin Sahabat Amru bin Ash di era Khalifah Umar bin Khattab. Jejak peradaban Islam bisa dibuktikan dari sejumlah bangunan bersejarah yang beberapa di antaranya masih bisa disaksikan hingga saat ini.
AL MUNTAZAH: Penulis di areal istana Raja Faruq, raja terakhir Mesir di Kota Aleksandria.
Sebelum kami mendatangi situs-situs bersejarah yang merupakan jejak peradaban Islam di Aleksandria, kami makan siang lebih dulu. Kali ini, lokasinya keren. Yakni di sebuah restoran yang berada di pinggiran pantai di Laut Mediterania. Menunya pun istimewa. Yakni aneka ikan laut alias Sea Food. Saya lupa nama ikannya. Mirip Ikan Kembung. Yang jelas, sedap dan gurih. Nasinya pun khas Arab. Berlemak. Saya lahap sekali menyantapnya. Minumnya, air kelapa atau degan. Sungguh, ini pengalaman yang sulit dilupakan. Yakni, makan di Kota Aleksandria, tepat di pinggiran Laut Mediterania yang biru itu.
Setelah makan siang, kami menuju ke salah satu situs bersejarah yang menjadi jejak peradaban Islam. Yakni Istana Raja Faruq yang disebut Al Muntazah. Raja Faruq adalah raja terakhir yang sekaligus mengakhiri monarki di Mesir. Dia adalah raja terakhir dari Dinasti Muhammad Ali. Pada catatan sebelumnya saya sebutkan, Raja Muhammad Ali Pasha al-Mas’ud ibn Agha naik takhta pada 1769–1849. Saat itu Mesir berada pada pengaruh Dinasti Usmaniyah Turki (Ottoman).
Nah, Raja Faruq adalah keturunan terakhir Muhammad Ali yang menjadi raja. Dia naik takhta di usia 16 tahun pada 1936. Tapi pada 1953, Raja Faruq dikudeta oleh kekuatan militer yang dipimpin Gamal Abdul Nasser. Sejak saat itulah, sistem pemerintahan di Mesir berubah dari Monarki menjadi Republik. Dan pada akhirnya Gamal Abdul Nasser kemudian menjadi presiden. Setelah digulingkan, Raja Faruq kemudian diasingkan ke Monako hingga meninggal pada 1965. Kini, Istana Al Muntazah menjadi milik negara.
Kompleks Istana Al Muntazah terletak di tanah yang luas, tepat berada di pinggiran pantai Laut Mediterania. Inilah peninggalan Raja Faruq yang sampai sekarang kemegahan, kebesaran, dan keindahannya masih bisa disaksikan. Dan terlihat sangat terawat. Hingga saat ini sering digunakan sebagai tempat menerima tamu-tamu kenegaraan.
Begitu masuk ke areal istana, kami melewati areal taman yang luas. Lalu ada berderet-deret pohon kurma yang tingginya setinggi pohon kelapa. Tampak buah kurmanya bergelantungan. Mesir memang dikenal juga sebagai negeri penghasil kurma. Kurma di Mesir rasanya khas. ”Di seluruh Mesir ada sekitar 15 ribu pohon kurma,” kata Mustafa.
Selain ada deretan pohon kurma, juga ada beberapa bunga yang sebagian saya mengenalnya. Di antaranya Bougenville, Lantana Ungu, dan Kembang Sepatu. Sebetulnya ada banyak lagi jenisnya. Tapi, saya tak mengenalnya. Yang jelas, bunga-bunga itu tampak terawat, indah, dan warna-warni.
Di lahan seluas kira-kira 155 hektare itulah, Istana Al Muntazah dibangun. Warna cat bangunan istananya putih kekuning-kuningan. Lokasinya sangat eksotis. Karena berada di hamparan taman yang langsung menghadap ke Laut Mediterania yang biru, dan terkenal dengan desiran angin serta ombaknya yang melambai-lambai itu.
Istana Al Muntaza dibangun pada 1932 M, di era Raja Fuad I sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan. Dia adalah ayah dari Raja Faruq yang naik takhta pada 1936. Istana ini kemudian diwariskan kepada Raja Faruq. Konon, istana ini dulu sering digunakan Raja Faruq untuk berfoya-foya. Sehingga menimbulkan kebencian di kalangan rakyatnya. Makanya, dia begitu mudahnya digulingkan oleh militer.
Kami sempatkan berjalan kaki menyusuri areal taman di kompleks Al Muntaza itu. Dan tentu saja, kami tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto ria. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Radar Malang Administrator