***
Dari sebuah kawasan perbukitan di dekat Laut Mati, yang diyakini sebagai bekas Kota Sodom, tempat tinggalnya kaum Nabi Luth Alaihissalam (AS), kami melanjutkan perjalanan ke Kota Jericho. Sekitar satu jam berselang, tibalah kami ke Kota Jericho. Perjalanan menuju ke tempat ini, kondisi jalannya menurun.
Menjelang bus memasuki Kota Jericho, di suatu tempat tertulis papan: 0 m. Berarti, di titik itu, ketinggiannya sama dengan permukaan laut? Iya, memang. Dan setelah melewati papan dengan tulisan 0 m itu, perjalanan kami terus menurun. Berarti Kota Jericho berada di bawah permukaan laut? Iya, memang. Dan ini dijelaskan oleh Nazzi, guide lokal yang mendampingi kami selama berada di Palestina dan Israel. ”Kota Jericho terletak 300 meter di bawah permukaan laut,” katanya. Padahal, umumnya sebuah kawasan itu letaknya di atas permukaan laut.
Inilah uniknya Kota Jericho. Karena itu, kota ini disebut sebagai kota terendah di dunia. Dan kota ini juga disebut sebagai kota tertua di dunia, karena umurnya diperkirakan sudah lebih dari 10 ribu tahun. Ini berdasarkan penggalian yang dilakukan arkeolog dari Inggris bernama Kathleen Kenyon tahun 1952-1958.
Memasuki Kota Jericho, terasa bahwa kota ini sangat tradisional. Terlihat dari bangunan rumah-rumah penduduknya. Hampir tak saya jumpai bangunan megah. Dan Jericho ini termasuk kota kecil. ”Hanya dihuni sekitar 30 ribuan orang,” kata Nazzi.
Masuk di Kota Jericho, kami mampir ke sebuah restoran untuk makan siang. Kayaknya itu adalah restoran terbesar di Jericho. Dan restoran ini, kata Khadafi, owner Manaya Indonesia, travel yang memberangkatkan kami, adalah satu-satunya restoran di Jericho yang paling lengkap. Di restoran ini, kita mengambil sendiri menu makanannya. Seperti sistem all you can eat. Dan menunya beragam. Mulai dari sayuran, ikan-ikanan, hingga daging-dagingan.
Kota Jericho, menurut Nazzi, adalah masuk dalam negara Palestina. Mayoritas dihuni oleh orang-orang Palestina. Dan memang, di restoran itu, pemilik maupun para karyawannya adalah orang-orang Palestina.
Sebelum pendudukan Israel tahun 1948, Palestina adalah negara berdaulat. Negara ini selain membawahi Jericho, juga yang membawahi Jerussalem yang di dalamnya terdapat Masjidil Aqsho. Beberapa kawasan lain jalur Gaza, Tepi Barat Hebron, dulu masuk kawasan Palestina. Tapi setelah 1948 Palestina diduduki Israel, kawasan-kawasan itu dikuasai oleh Israel. Dan ruang gerak rakyat Palestina semakin lama semakin sempit dan dibatasi.
Sepanjang saya mengamati sudut-sudut Kota Jericho, terlihat bahwa kota ini tampak apa adanya. Padahal, dulunya kota ini berada di lokasi yang strategis. Karena posisinya yang strategis itulah, dalam sejarahnya kota ini sering menjadi ajang rebutan para penguasa dari berbagai negara. Akibatnya, kota ini sering porak-poranda. Gedung-gedung yang bisa jadi dulunya dibangun cukup megah, dihancurkan. Sehingga, yang ada saat ini, adalah bangunan kota apa adanya. Kalaupun kami harus ke Jericho, karena kota ini sangat bersejarah. Di kota inilah diyakini tempat lahirnya Nabi Isa AS.
Dari restoran, kami diajak ke salah satu tempat yang menjual aneka suvenir terbesar di Jericho. Pemiliknya orang Palestina. Begitu juga dengan para karyawannya. Saya belanja di tempat ini, saya niati membantu orang Palestina. Selain itu, barang-barang yang dijual juga bagus-bagus. Aneka tas, aksesori, minyak wangi, serta syal dan serbannya khas.
Toko tempat menjual aneka suvenir ini lokasinya agak tinggi. Sehingga dari tempat itu, saya bisa menyaksikan Kota Jericho yang sepi dan terasa sunyi itu. Tampak terlihat puing-puing di mana-mana. Berada di kota ini, terasa berada di kota yang kalah perang.
Dari toko suvenir kami melanjutkan perjalanan ke masjid dan makam Nabi Musa AS. Dalam perjalanan, kami melewati sebuah pohon bersejarah. Tingginya sekitar 10-15 meter. Nazzi menyebutnya ”pohon ara”. ”Pohon ini bagi umat Nasrani sangat bersejarah,” kata Nazzi.
SEPI PEZIARAH: Penulis di makamnya Nabi Musa AS di dalam Masjid Musa.
Perjalanan menuju ke makam Nabi Musa AS dari Kota Jericho menempuh jarak sekitar 11 kilometer, ke arah selatan. Kami pun tiba di lokasi, yang diyakini sebagai tempat Nabi Musa AS dimakamkan. Kawasan itu berada di sebuah perbukitan yang kering dan tandus. Saat kami ke sana, jam menunjukkan pukul 4 sore. Tak seperti makam-makam para waliyullah di Pulau Jawa, suasana pemakaman Nabi Musa AS sangat sepi. Sore itu, rombongan yang berziarah hanya kami.
Makam Nabi Musa AS berada di dalam kompleks Masjid Musa. Masjid itu terdiri dari dua lantai. Agak luas. Begitu kami masuk ke kompleks itu, banyak terdapat pilar-pilar masjid. Lantai di halaman masjid itu dipaving. Menuju ke dalam masjid utama, saya melihat ada beberapa ruangan kosong. Mungkin dipergunakan untuk majelis taklim.
Masuk ke masjid, tampak kondisi di dalamnya cukup terawat. Karpetnya berwarna merah. Kami salat Duhur dan Asar, jamak takhir qasar. Setelah itu, kami menuju ke sebuah ruangan di belakang. Ruangan itu dikunci. Di dalam ruangan itulah, diyakini sebagai makam Nabi Musa AS. Tak lama kemudian, datang seorang laki-laki tua, umurnya kira-kira 70-an tahun. Rupanya, dia adalah juru kunci makam Nabi Musa AS. Mengenakan serban di kepalanya, dia lantas membuka kunci ruangan itu.
Makam Nabi Musa AS ditutupi kain berwarna hijau. Lalu dilapisi dengan plastik. Makam itu cukup panjang. Lebih panjang dari ukuran makam biasanya. Setelah saya hitung, panjangnya enam langkah kaki. Lebarnya kira-kira 1,5 meter. Berarti Nabi Musa AS cukup tinggi ya? Wallahu A’lam Bisshowab. Si juru kunci sempat menunjukkan kepada kami, ada apa di balik penutup kain hijau pada makam Nabi Musa AS itu. Penutup kain hijau sempat sedikit diangkat, terlihat ada kerangka besi yang sangat tebal yang menempel di atas tanah. Bisa jadi, kerangka besi yang tebal itu untuk melindungi keberadaan makam Nabi Musa AS. Dipimpin KH Muzakky, yang mendampingi rombongan, kami berdoa di makam tersebut.
Seperti makam Nabi Ishak AS dan juga Nabi Harun AS, makam Nabi Musa AS juga ada versi lainnya. Yakni, terletak di Gunung Nebo, dengan ketinggian 817 meter, sekitar 40 kilometer dari Amman, Yordania. Mana yang benar? Wallahu A’lam Bisshowab. Yang terpenting, saya sudah berniat menziarahi makam Nabi Musa AS.
JADI TANDA: Tulisan Arab di makam Nabi Musa AS.
Kompleks masjid dan pemakaman Nabi Musa AS yang kami kunjungi saat itu, menurut catatan sejarah dibangun pada masa Dinasti Mamalik (Mamluk) pada tahun 1269 M. Sedangkan, penentuan lokasi makam sudah ada sejak Dinasti Ayubiah. Konon, makam Nabi Musa AS itu dibangun berdasarkan mimpinya Sultan Salahuddin Al Ayyubi. Dan juga berdasarkan kriteria yang terdapat dalam sebuah hadis: ”Seandainya aku di sana, maka sungguh akan aku perlihatkan kepada kalian kuburan Nabi Musa, di sebelah jalan, di bukit gundukan pasir berwarna merah” (HR Bukhari dan Muslim).
Kapan Nabi Musa AS wafat? Ada catatan sejarah yang menyebutkan bahwa Nabi Musa AS wafat diperkirakan pada 1407 SM. Kitab Qishashul Anbiya karya Ibnu Katsir menyebut, Nabi Musa AS wafat dalam usia 120 tahun. Kitab itu juga menceritakan bagaimana Nabi Musa AS wafat: Wahab bin Munabbih menyebutkan, bahwa suatu ketika Nabi Musa AS berjalan melewati para malaikat yang sedang menggali makam yang sangat indah dan megah, yang belum pernah dilihat oleh Nabi Musa AS. Lalu Nabi Musa AS bertanya: ”Wahai para malaikat Allah, kalian menggali makam ini untuk siapa?” Mereka menjawab: ”(makam ini) untuk seorang hamba di antara hamba-hamba Allah yang mulia. Jika engkau ingin menjadi hamba tersebut, masuklah ke liang lahat ini, berbaringlah di dalamnya, dan hadapkanlah dirimu kepada Tuhanmu. Bernapaslah engkau dengan perlahan,”. Nabi Musa AS melakukan hal itu, dan beliau pun wafat. Selanjutnya, para malaikat mensalatinya dan mengebumikannya di liang lahat itu.
Keutamaan Nabi Musa AS beberapa kali disebutkan di dalam Alquran dan hadis. Allah sering menyebutkan tentang Nabi Musa AS di dalam Alquran. Allah memuji Nabi Musa AS dan menceritakan kisahnya di dalam Kitab-Nya yang mulia beberapa kali. Baik dengan narasi yang panjang maupun yang pendek. Allah banyak memuji Nabi Musa AS dengan sebaik-baik pujian.(bersambung/dilengkapi dari berbagai sumber) Editor : Radar Malang Administrator