***
Malam itu saya cepat-cepat tidur. Selain capek, saya sudah tak sabar menunggu keesokan harinya. Yakni, ingin salat Subuh di Al Aqsho. Sebenarnya, saya ingin lebih awal datang ke Al Aqsho. Ini mengacu pada kebiasaan saya setiap kali ke Tanah Suci. Baik saat haji maupun beberapa kali umrah. Saya selalu berangkat ke Masjidilharam ataupun Masjid Nabawi pukul 02.00. Sampai lanjut Subuh, terus Duha. Baru setelah itu balik ke maktab atau hotel.
Saya sebenarnya ingin seperti itu ketika di Aqsho. Tapi, dijelaskan oleh KH Muzakky, yang membimbing kami, dan juga Khadafi, owner Manaya Indonesia, travel yang membawa kami, bahwa Masjid Al Aqsho baru dibuka 30 menit sebelum waktu salat Subuh. Saat itu, waktu salat Subuh di Yerussalem pukul 04.30. Berarti, Al Aqsho baru dibuka pukul 04.00. Lagi-lagi, saya jengkel dengan Israel. Tapi, mau bagaimana lagi. Ini risikonya kalau Al Aqsho dikuasai Israel.
Malam itu kami diberi pengumuman, bagi yang ingin salat Subuh di Al Aqsho keesokan harinya, harus berkumpul di lobi hotel paling lambat pukul 03.30. Saya pun cepat-cepat tidur. Biar bisa segera menjumpai keesokan harinya.
Pukul 03.00 saya sudah bangun. Dan 30 menit kemudian, saya sudah berada di lobi hotel. Pagi itu, kami diantar mini bus menuju ke Al Aqsho. Hawa pagi sangat dingin. Menusuk tulang. Meski busnya mini, tetap saja tidak bisa masuk ke lokasi yang lebih dekat. Alias kami tetap harus jalan kaki, sekitar 1,5 kilometer menuju ke Aqsho.
Di pintu gerbang masuk kompleks Al Aqsho, tampak beberapa polisi Israel sudah berjaga-jaga. Mereka menggunakan seragam hitam-hitam, lengkap dengan senjata laras panjang.
DIJAGA POLISI ISRAEL: Penulis di depan Masjid Buroq.
Kebetulan masih belum azan Subuh. Saya mempercepat langkah. Tujuannya agar bisa salat tahiyat masjid, lalu salat Tahajud. Mumpung belum masuk waktu Subuh.
Kami salat Subuh di Al Qibli. Seperti saya ceritakan di catatan sebelumnya, Masjid Al Qibli adalah salah satu masjid utama di Al Aqsho. Di tempat inilah, dulu Rasulullah SAW menjadi imam salat yang diikuti arwah para Nabi dan Rasul saat Isra Mikraj.
Subuh itu, suasananya hampir sama dengan saat salat jamaah Magrib dan Isya sehari sebelumnya. Yakni, tak banyak yang ikut berjamaah. Pagi itu, yang ikut jamaah Subuh tak sampai sepertiga dari luasan ruangan masjid. Sehingga kami bisa leluasa memilih tempat.
Saat masuk ke rakaat kedua, di masjid itu sang imam membaca doa qunut. Sempat saya mengerti, di antara bacaan di dalam qunut yang cukup panjang itu ada doa yang mendoakan muslim-muslimat. Juga ada doa khusus untuk Masjid Al Aqsho. Saya sempat merinding mendengarkan bacaan-bacaan di dalam qunut yang dilantunkan dengan sangat indah dan menyentuh itu.
MIHRAB ZAKARIA: Di tempat ini dulu Nabi Zakaria AS memohon kepada Allah SWT agar diberikan keturunan.
Usai salat Subuh, kami diajak KH Muzakky berjalan-jalan mengelilingi tempat-tempat bersejarah di Al Aqsho. Tempat pertama adalah mihrab Zakaria yang terletak di sisi timur Masjid Al Qibli. Menurut definisinya, mihrab diartikan sebagai dinding yang berbentuk ceruk, yang berfungsi sebagai arah kiblat, dan biasanya terdapat di dalam masjid bagian depan.
”Di mihrab ini Nabi Zakaria AS dulu berdoa agar diberikan keturunan. Dan akhirnya Allah mengabulkan doa Nabi Zakaria AS dengan memberikan keturunan bernama Yahya, yang kemudian menjadi Nabi dan Rasul,” cerita KH Muzakky. ”Biasanya banyak yang berdoa agar diberi keturunan di mihrab Zakaria ini,” lanjutnya. Kisah tentang Nabi Zakaria AS yang berdoa agar diberikan keturunan itu disebutkan di dalam Alquran Surat Maryam ayat 1-11.
Dari mihrab Zakaria, kami menuju ke mihrab Umar bin Khattab. Lokasinya di sayap kiri tengah dekat mihrab Zakaria. Seperti disebutkan pada catatan sebelumnya, saat membebaskan Yerussalem dari Romawi, Khalifah Umar pernah datang ke Al Aqsho. Dan mihrab itu diberi nama Umar bin Khattab untuk menandai bahwa di tempat itu Khalifah Umar pernah salat.
Setelah dari mihrab Umar bin Khattab, kami menuju ke mihrab utama Masjid Aqsho di Al Qibli. Dekat dengan mihrab utama itu, yakni di sebelah kanan agak maju ke depan, terdapat mimbar yang penuh dengan ukiran indah. Mimbar tersebut juga cukup tinggi. Ini mimbar yang bersejarah. Dinamakan Mimbar Salahuddin Al Ayyubi. Seperti disebutkan pada catatan sebelumnya, Sultan Salahuddin Al Ayyubi-lah yang membebaskan Yerussalem dari penguasaan tentara salib pada 1187 M.
BUKIT ZAITUN: Di tempat inilah, konon Yahudi ingin membangun ulang kuilnya, jejak dari Nabi Sulaiman AS.
Mimbar itu juga disebut sebagai mimbar Nuruddin, karena dulunya memang dibuat di Aleppo (sebuah kota di Suriah) atas perintah Sultan Nuruddin Zanki yang saat itu menjadi sultan di Suriah (1118–1174 M). Mimbar itu dibuat jauh sebelum Salahuddin Al Ayyubi menaklukkan Yerussalem. Mimbar itu dibikin sebagai obsesi dari Sultan Nuruddin yang menginginkan kebebasan Al Quds atau Yerussalem. Sayangnya, 13 tahun sebelum Yerussalem berhasil dibebaskan Sultan Salahuddin, Sultan Nuruddin wafat.
Oleh Sultan Salahuddin, mimbar itu diboyong dari Aleppo ke Yerussalem, dan diletakkan di dalam Masjid Al Aqsho Al Qibli. Mimbar itu sangat indah. Terbuat sepenuhnya dari kayu dan diukir dengan desain geometri dan motif tumbuhan. Tiga bagian utamanya, yakni pintu, tangga, dan podium dihubungkan satu sama lain dengan menggunakan teknik penyambung tanpa paku yang cukup canggih. Pada mimbar itu juga terpahat kaligrafi ayat-ayat Alquran serta inskripsi wakaf dari Nuruddin Zanki dan anaknya serta nama seniman yang membuatnya, Akhtarini.
Di bawah mihrab utama itu, sebenarnya ada satu lagi mihrab. Yakni mihrab Maryam. Sejarah menyebutkan, bahwa Maryam adalah gadis suci yang diasuh dan dirawat oleh Nabi Zakaria AS. Dan sebuah keterangan menyebutkan, bahwa di salah satu bangunan Al Aqsho itulah, Nabi Zakaria AS membuat kamar untuk Maryam.
Mihrab ini, menurut beberapa ahli sejarah, diyakini seperti yang disebutkan di dalam Alquran surat Al Maidah ayat 37: ”Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, dia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: ”Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: ”Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.
Sayangnya kami tidak bisa masuk ke mihrab Maryam. Karena saat itu ruangannya dikunci dan tertutup untuk pengunjung. Di bawah mihrab utama itulah, juga diyakini terutama oleh kaum Yahudi sebagai tempat menyimpan peninggalan Nabi Sulaiman AS.
BIRTH PLACE VIRGIN MARY: Penulis di depan pintu rumah yang diyakini dulu tempat Maryam melahirkan Isa Al Masih.
Menurut klaim Yahudi, ada peninggalan kuil (sinagog) Solomon (Nabi Sulaiman AS) yang mereka anggap sebagai lambang kekuatan. Mereka meyakini bahwa fondasi kuil tersebut berada di bawah Masjid Al Aqsho, dan telah runtuh. Para ahli sejarah Yahudi menyatakan, Sulaiman membangun sebuah kuil (sinagog) yang bernama Baitallah atau Haekal. Haekal ini menjadi tempat ritual peribadatan umat Yahudi pertama yang indah dan megah. Dan di tengah Haekal terdapat sebuah batu hitam bernama Sakhra al Muqaddasah.
Atas dasar itulah, konon, kaum Yahudi punya ambisi atau rencana besar untuk membongkar Masjid Al Aqsho, dan selanjutnya akan membangun kembali kuil lambang kekuatan di era Solomon tadi. Kaum Yahudi mengklaim, bahwa satu-satunya tempat yang bagus untuk pembangunan kembali kuil lambang kekuatan itu terletak di Bukit Zaitun. Bukit Zaitun ini terletak di antara Masjid Al Aqsho Al Qibli, dan Kubah As Sakhra (The Dome of The Rock). Di tempat ini, pemandangannya sangat bagus dan posisinya juga sangat strategis untuk memantau sekitarnya.
Dari mihrab utama Masjid Al Aqsho Al Qibli, kami keluar. Kami diajak menuju ke Masjid Buroq. Masjid kecil ini terletak di sudut barat daya kompleks Masjid Al Aqsho. Meski disebut masjid, tapi tempat ini tak lagi dipergunakan untuk tempat salat. Dinamakan buroq, karena dulu, di tempat itu, diyakini Rasulullah SAW mengikat buroq, kendaraan yang membawa beliau dalam Isra Mikraj. Saat kami menuju ke Masjid Buroq, tempat itu dijaga tiga polisi Israel. Dua perempuan dan satu laki-laki. Wajah mereka tegang. Posisi mereka siaga, dengan senjata laras panjang otomatisnya.
Dari Masjid Buroq, kami berjalan-jalan, menjumpai puing-puing pilar dari batu alam. ”Ini konon adalah puing-puing dari kerajaan Nabi Sulaiman AS,” cerita KH Muzakky.
Setelah kami berjalan-jalan di spot-spot yang bersejarah, kami meninggalkan kompleks Al Aqsho. Ketika kami berjalan melewati perkampungan penduduk, kami berhenti di sebuah bangunan. Ada pintu besi. Tapi posisi terkunci. Di atas pintu itu tertulis: Birth Place Virgin Mary. Rupanya, itu adalah tempat yang diyakini sebagai rumah Maryam saat melahirkan Nabi Isa AS. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Radar Malang Administrator