Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dari Kanal YouTube, Berlanjut Dapur Rekaman

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Jumat, 10 Maret 2023 | 03:00 WIB
GANG VOICE : Wahyu GV Arema Voice. (Suharto/Radar Malang)
GANG VOICE : Wahyu GV Arema Voice. (Suharto/Radar Malang)
 

MALANG - Di era saat ini, siapa saja bisa berkarya. Memanfaatkan media sosial, karya musik bisa disebar lebih mudah.

Pentolan Arema Voice Wahyu GV berkisah, dulu di era 80-an atau 90-an, sebuah karya cukup susah mengudara di radio. Masuk dapur rekaman juga bukan urusan mudah.

Ada proses seleksi yang benar-benar ketat dari produser-produser musik. ”Apabila lagunya bagus, tapi tidak mempunyai nilai jual, ya tidak dilirik,” tuturnya.

Saat itu, musisi kerap dilema. Mau rekaman mandiri, biaya dikeluarkan cukup besar. Tapi, apabila tidak masuk label, juga cukup sulit bagi musisi atau band bisa dikenal.

Saat gabung band Gang Voice, Wahyu sudah beberapa kali merasakan pengalaman itu. Beberapa lagunya sempat ditolak karena tidak sesuai dengan pasar.

”Lagumu terlalu berat,” kata dia menirukan ucapan salah satu produser musik.
Baca Juga : Tampil 3 Jam, Dubes Tantowi Yahya Pukau Ratusan Pecinta Musik Country.

Meski begitu, Wahyu mengaku tetap menikmati masa-masa tersebut. Pasalnya, momentum itu lah yang membentuk mental dia dan rekan-rekannya.

Dari penolakan itu, dia dan rekan-rekannya semakin semangat dalam berkarya. Dia juga lebih bersemangat dalam mengembangkan skill bermain musik.

Poin itu diperlukan untuk mendapatkan golden ticket atau perhatian dari penikmat musik.

”Pendengar musik di Malang itu kritis. Bila sudah diterima di sini (Malang), maka punya potensi untuk ke nasional,” ucapnya.

Wahyu menyebut bila era saat ini adalah momentum yang baik untuk musisi di Malang terus berkarya. Sebab kini tak perlu label agar bisa dikenal secara nasional.

”Kanal-kanal YouTube bisa menjadi media untuk itu (memperkenalkan lagu),” tuturnya. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Dari pengamatannya, banyak musisi yang berasal dari platform-platform media sosial yang akhirnya mendapatkan kontrak dari label untuk rekaman. Atau membuat sebuah album.

”Apalagi saat ini di Malang juga ada Malang Creative Center (MCC) dan Kajoetangan, yang bisa wadah bagi para musisi untuk unjuk gigi,” tuturnya.

Terpisah, Emmanuel Herry Hartoto atau kerap disapa Toto Tewel juga melihat bila era saat ini adalah kesempatan emas bagi para musisi.

Khususnya dalam hal berkarya. Sebab, era keterbukaan membuat siapa saja bisa menghasilkan lagu sendiri.

”Ibaratnya sekarang itu tinggal klik saja. Beda sama dulu harus mengulik dari kaset di pemutar musik,” katanya.

Saat ini, dia juga melihat karya musik lebih mudah diterima orang. Ada dua hal yang menjadi alasannya.
Baca Juga : Nikmati Pameran Lukisan dengan Iringan Musik.

Pertama, variasi hiburan semakin banyak. Kedua, semakin banyak orang yang mengakses dunia hiburan.

Itu pula lah yang membuat genre musik bertransformasi secara cepat. Dia mencontohkan, hari ini bisa saja ada musisi yang bisa mengeluarkan single.

Dua hari selanjutnya, musisi itu bisa melakukan hal yang sama. Kondisi tersebut sulit terjadi zaman dulu.

Sebab, warna musiknya belum banyak. Dulu, masih berkutat dengan musik classic, rock, dan jazz saja.

”Sekarang kalau musisi tidak pintar itu rugi, karena sudah dimudahkan dengan teknologi,” ucap dia. (gp/by) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
##beritamalang #radarmalang ##thearistocrat #musik #jazz ##jawaposradarmalang #dreamtheater ##mediaonlinemalang ##beritamalanghariini ##casiopea ##guthriegovan ##radarmalanghariini