RADAR MALANG – Second Account atau akun kedua biasanya memiliki isi konten yang menampilkan hal-hal yang lebih personal, santai, dan tidak perlu pikir panjang, berbeda dengan akun utama yang menampilkan lebih formal.
Sekarang ini, terjadi fenomena memamerkan isi second account di media sosial yang semakin populer, terutama di kalangan anak muda.
Banyak anak-anak muda, terutama Gen Z memiliki akun kedua sebagai bentuk pengekspresian dirinya yang lebih leluasa.
Selain itu, berikut alasan lain yang diungkapkan oleh seorang Psikolog mengenai alasan gen Z cenderung memiliki second account:
Tertekan dituntut tampil sempurna di media sosial
Media sosial, terutama instagram dianggap memiliki fokus pada estetika dan konten visual yang mengutamakan kesempurnaan.
Sehingga dengan adanya second account, mereka tidak perlu lagi merasa tertekan akan kesempurnaan dalam media sosialnya.
Membangun citra di akun pertama
Dengan adanya media sosial, seseorang dapat melakukan personal branding dengan mudah, sehingga menciptakan akun media sosial yang formal.
Dengan adanya akun kedua, akun tersebut bisa digunakan sebagai bentuk ekspresi bebas seseorang tanpa perlu ragu dinilai buruk.
Takut dinilai dan dihakimi lewat media sosialnya
Kebiasaan untuk selalu dinilai, dihakimi, hingga divalidasi melalui fitur yang disediakan media sosial ternyata memiliki efek yang cukup serius bagi kondisi mental seseorang.
Mereka yang merasa takut dengan hal tersebut, memilih untuk memiliki second account sebagai media sosial ternyamannya.
Di sisi lain, biasanya, gen Z juga suka oversharing atau berlebihan dalam berbagi, terlebih mengenai hal personal.
Solusi dari hal ini adalah dengan berbagi di second account agar audiens yang terlibat tidak banyak dan hanya orang-orang yang dikenal dekat saja.
Singkatnya, alasan adanya fenomena second account ini adalah untuk menjaga privasi agar lebih terjaga, mengurangi tekanan sosial, dan mampu mengekspresikan diri.
Fenomena pamer isi second account menunjukkan bahwa gen Z membutuhkan akan ruang yang lebih bebas di media sosial, di mana pengguna dapat mengekspresikan diri tanpa tekanan sosial yang tinggi. (fi)
Editor : A. Nugroho