JawaPos.com – Operasional Light Rail Transit (LRT) Sumsel dianggap merugi. Pasalnya, dana yang dikeluarkan mencapai Rp 10 miliar perbulan. Sedangkan pemasukan hanya Rp 1 miliar perbulan.

Hal ini membuat Menteri Perhubungan (Menhub) pun gerah. Hingga, akhirnya angkat bicara. “Kita gak usah ngomong soal untung rugi karena secara umum angkutan ini untuk masyarakat,” kata Menhub RI, Budi Karya Sumadi saat ditemui di Palembang, Senin (11/2).

Berbicara soal subsidi, setiap angkutan masal di seluruh dunia manapun di subsidi jadi tidak ada istilah merugi.

Seperti contoh Singapura yang mengeluarkan jutaan dolar untuk mensubsidi LRT nya. Begitu juga di Jakarta, dimana subsidi yang dikucurkan hingga Rp 1,2 triliun sehingga masyarakat pun hanya membayar Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu.

Menurutnya, jika mau untung tentunya harus berintegrasi sehingga dengan adanya angkutan ini kota tidak macet dan lebih bergengsi.
Selain itu juga meningkatkan nilai tanah, pendapatan daerah dan ada pendapatan lain yang tersubsitusi sehingga mampu menjadi kota yang baik.

Menurutnya, subsidi ini dapat saja dihilangkan. Tapi, jika telah siap. Sedangkan, di Jakarta meski telah sekian lama tetap disubsidi karena belum mampu. Begitu juga di Singapura.

“Artinya, butuh waktu lama untuk melepas subsidi ini mengingat ini angkutan massal untuk masyarakat,” ujarnya.

Saat ini, upaya yang dilakukan bagaimana meningkatkan okupansi LRT itu sendiri. Menurutnya, untuk meningkatkan okupansi ini dapat dilakukan jika kebutuhan meningkat.
Seperti contoh meningkatnya integrasi antar moda, harga yang murah, dan aturan dari pemerintah daerah yang menekankan pegawai naik LRT.

“Jika ini dapat dilakukan maka tentunya ini pekerjaan mudah,” tutupnya.

Editor           : Yusuf Asyari

Reporter      : Alwi Alim