JawaPos.com – Kabar tentang ratusan mahasiswa yang tertipu program kuliah-magang di Taiwan langsung direspons Kemenristekdikti. Menristekdikti Mohamad Nasir sudah melakukan sejumlah konfirmasi.

Hasilnya, menurut dia, mahasiswa yang tertipu itu berangkat melalui jalur di luar kerja sama Kemenristekdikti dengan Taiwan. Nasir mengatakan sudah berkomunikasi dengan sejumlah instansi pada Rabu (2/1). Baik di Indonesia maupun Taiwan.

Dia berkesimpulan bahwa kasus kerja paksa di Taiwan itu dialami mahasiswa yang berangkat melalui calo. “Calo itu menawari siswa masuk ke perguruan tinggi di sana,” katanya saat dihubungi setelah membuka Rakernas Kemenristekdikti 2019 di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, kemarin (3/1).

Menurut dia, sebagian pendaftar yang berangkat lewat calo ternyata tidak diterima perguruan tinggi di Taiwan. Akhirnya, menurut Nasir, mereka bekerja di beberapa perusahaan di sana. Dia menegaskan, skema pemberangkatan yang melalui calo, kemudian tertipu di Taiwan, bukan tugas dan fungsi (tusi) Kemenristekdikti. Kecuali jika pemberangkatan tersebut melibatkan perguruan tinggi di Indonesia, barulah Kemenristekdikti turun tangan. Kemenristekdikti akan menjatuhkan sanksi kepada kampus yang terlibat dalam pengiriman studi ke luar negeri dengan skema ilegal.

Terkait ramainya kabar ratusan mahasiswa Indonesia direkrut kerja paksa, Nasir mengatakan, kerja sama resmi mereka dengan Taiwan tidak terpengaruh. “(Mahasiswa, Red) yang akan kami kirim itu sudah diminta (pihak Taiwan, Red) agar segera berangkat,” jelasnya. Nasir mengatakan, pada periode Januari sampai Februari bakal ada pengiriman 350 mahasiswa Indonesia ke Taiwan.

Pengiriman itu melalui skema resmi antara Kemenristekdikti dan Taiwan. Melalui program Industry Academia Collaboration (IAC). Pada April 2019 juga akan diberangkatkan kembali 1.000 mahasiswa. Nasir menegaskan, dengan skema resmi dari Kemenristekdikti, penempatan kuliah sudah jelas. Selain itu, sudah pasti diterima karena rekrutmen dan seleksinya dilakukan di Indonesia.

Dia lantas menjelaskan skema perkuliahan kerja sama Indonesia-Taiwan tersebut. Pada tahun pertama, mahasiswa melakukan kegiatan penuh di kampus atau laboratorium. Tahun berikutnya baru terjun magang di industri yang sudah bekerja sama dengan kampus penempatan di Taiwan. Tujuan magang itu, mahasiswa asal Indonesia bisa menerapkan kemampuannya. Juga, saat lulus nanti bisa mendapatkan ijazah sekaligus sertifikat kompetensi. Setelah lulus, apakah pulang ke Indonesia atau tetap di Taiwan adalah hak setiap mahasiswa.

Dari gegernya kasus ratusan mahasiswa yang tertipu di Taiwan tersebut, Nasir berharap masyarakat lebih hati-hati dan selektif. Khususnya jika ada iming-iming kuliah sambil bekerja di Taiwan ataupun negara lainnya. Sebaiknya masyarakat menanyakan ke Kemenristekdikti, apakah program itu resmi dari pemerintah. Nasir menjelaskan, program pengiriman mahasiswa untuk kuliah kemudian bekerja atau magang tersebut juga berjalan di Korea Selatan.

Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek-Dikti Kemenristekdikti Patdono Suwignjo menambahkan, pada prinsipnya, Kemenristekdikti tidak mengirim calon mahasiswa atau anak yang baru lulus SMA/SMK di Indonesia. Dia menjelaskan, yang dikirim sudah berstatus mahasiswa.

Patdono juga menjelaskan terkait pembiayaan. Dia mengatakan, selama kuliah di Indonesia, mereka bayar sendiri seperti biasanya. Kemudian, saat kuliah di Taiwan, biaya ditanggung kampus. Lalu, saat magang di industri, mereka mendapat bayaran dari industri. Dia menjelaskan, program itu di tingkat bawah dijalankan antara politeknik negeri di Indonesia dan politeknik di Taiwan. “Yang heboh itu kerja sama yang tidak diselenggarakan dengan baik,” tuturnya.

Ada pihak swasta, baik agensi, perguruan tinggi, maupun perorangan, yang mengirim mahasiswa ke Taiwan. Bahkan, dalam pengiriman itu, mahasiswa dipungut biaya. Kemudian, setelah sampai di Taiwan, mahasiswa tersebut rentan mengalami penipuan. “Sehingga ada yang telantar. Ada yang kerjaannya terlalu banyak sehingga waktu kuliah terlalu sedikit,” jelasnya.

Editor      : Ilham Safutra
Reporter : (wan/lyn/c10/oni)