alexametrics
33C
Malang
Sunday, 18 April 2021

Perkuat Sektor Pangan, Syngenta Edukasi Teknologi Ke Petani di Malang

MALANG – Perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi dan juga pandemi Covid-19 yang masih berlangsung membuat pemerintah terus memperkuat sektor pertanian dan menjaga stok pangan nasional agar tetap aman. Hal ini dikarenakan pertanian di Indonesia masih sangat bergantung pada kondisi musim. Banyaknya lahan tadah hujan yang akan kesulitan saat musim kemarau membuat petani harus dapat memanfaatkan musim penghujan dengan semaksimal mungkin. Oleh karena itu melakukan percepatan tanam adalah salah satu solusi yang dapat dilakukan.

Kabupaten Malang sebagai salah satu penghasil padi di Jawa Timur yang produksinya mencapai 13,734 ton per tahun memiliki Indeks Pertanaman tiga kali dalam satu tahun. Yaitu pada bulan Desember – Maret untuk musim tanam satu, April – Juli untuk musim tanam dua, dan Agustus – November untuk musim tanam tiga. Indeks Pertanaman ini dilakukan selain untuk menjaga stabilitas pangan juga dapat memberi dampak signifikan pada peningkatan pendapatan petani.

Untuk membantu petani meraih hasil panen maksimal, 25 Februari lalu PT Syngenta Indonesia mengadakan ‘’Gelar Teknologi Syngenta untuk Persiapan Lahan Padi’’ di Desa Glanggang, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

Kegiatan utama acara ini adalah berbagi informasi terkait teknologi dari Syngenta untuk membantu petani dalam melakukan persiapan lahan dan juga memperkenalkan teknologi alat semprot (sprayer) Close Loop Knapsack System (CLKS) yang inovatif dan modern untuk mengaplikasikan produk perlindungan tanaman. Kegiatan Gelar Teknologi Syngenta ini dihadiri oleh perwakilan Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dinas Pertanian Kabupaten Malang, Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), dan Himpunan Produsen dan Penangkar Benih. Semua aktivitas dalam kegiatan ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat untuk menjaga semua pihak yang hadir agar tetap aman.

Kepala Subdirektorat Pestisida dari Kementerian Pertanian, Lolita Tasik Taparan mengatakan bahwa pemerintah mendukung petani untuk mencapai Indeks Pertanaman tiga kali per tahun untuk mencapai ketahanan pangan. “Oleh karena itu perlu adanya teknologi pertanian yang mengedepankan keamanan dan keselamatan seperti yang sekarang diperkenalkan oleh Syngenta,” ucapnya.

Petani diajak melek teknologi untuk meningkatkan volume panen (ist)

Dalam acara ini ada lima pos yang memberikan informasi edukatif kepada petani. Di pos pertama ada informasi mengenai proses persiapan lahan. Dalam budidaya tanaman padi, persiapan lahan merupakan tahap yang membutuhkan waktu lama sekitar 3 – 4 minggu jika dilakukan secara tradisional.

Selain itu, proses ini membutuhkan banyak tenaga kerja dengan biaya yang tidak sedikit. Tetapi dengan menggunakan teknologi dari Syngenta waktu untuk persiapan lahan dapat dipersingkat menjadi hanya sekitar satu minggu yang tentunya mempercepat proses tanam. Teknologi dari Syngenta ini juga dapat memutus siklus hama yang ada di lahan dan mengembalikan unsur hara tanah sehingga bisa mengurangi penggunaan pupuk anorganik. Midzon Johannis, Head of Sustainability Syngenta mengatakan Syngenta adalah salah satu pelopor Tahapan Persiapan Lahan dengan menggunakan produk perlindungan tanamanan yang telah dipercaya petani yaitu Gramoxone.

Di pos kedua para petani diperkenalkan dengan teknologi alat semprot baru Close Loop Knapsack System (CLKS) untuk mengaplikasikan produk perlindungan tanaman. Teknologi CLKS ini praktis karena petani tidak perlu menakar dan mencampur sehingga tidak membutuhkan banyak peralatan. Selain itu penggunaan produk perlindungan tanaman menjadi aman karena tidak ada resiko kontaminasi saat pencampuran, tangki sprayer hanya berisi air dan aman saat penyimpanan.

Arya Yudhistira, Analis Kebijakan Ahli Muda sebagai perwakilan dari Kementerian Perindustrian yang hadir di lokasi turut menyampaikan bahwa bila CLKS ini sudah diproduksi secara massal maka tidak perlu impor lagi dan harganya bisa lebih terjangkau.

Kemudian di pos ketiga petani mendapat informasi mengenai praktik budidaya padi agar hasil panen maksimal. Informasi yang disampaikan tidak hanya mengenai proses pengolahan lahan yang baik, tetapi juga bagaimana memilih varietas unggul, pengaturan jarak tanam, pengairan yang baik, dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di setiap fase penting pertumbuhan tanaman padi.

Terkait dengan peningkatan produktivitas tanaman padi, salah satu program nyata yang diinisiasi oleh tim Syngenta di Jawa Timur adalah dengan membentuk komunitas yang dikenal sebagai Komunitas Padi 10 Ton. Komunitas ini dibentuk untuk membantu petani meningkatkan hasil pertaniannya hingga 10 ton/hektar atau lebih dengan menggunakan teknologi Syngenta dan praktik budidaya yang tepat. Sampai saat ini sudah ada 56 Komunitas Padi 10 Ton yang tersebar di seluruh Jawa Timur.

Keberadaan Komunitas Padi 10 Ton membantu petani meningkatkan kualitas dan kuantitas panen sehingga dapat mendukung peningkatan kesejahteraan petani dan swasembada pangan nasional.

Selain itu, Syngenta juga membangun Saung TAMA (Tani Maju) yang dapat digunakan oleh petani untuk saling berbagi ilmu agar petani dapat maju dan sejahtera bersama. Semua informasi ini dapat didapatkan di pos keempat. Tak lupa sebagai bentuk tanggung jawab kepada petani dan juga lingkungan, Syngenta juga memberikan informasi mengenai Lima Aturan Emas yang dapat diikuti oleh petani untuk meminimalisir paparan dari penggunaan produk perlindungan tanaman. Hal ini penting karena pada kenyataannya di lapangan aspek kesehatan dan keselamatan petani saat menggunakan produk perlindungan tanaman masih perlu ditingkatkan.

Syngenta percaya hanya dengan praktik budidaya pertanian yang baik, penggunaan teknologi pertanian yang tepat, dan mengikuti aturan penggunaan produk perlindungan tanaman maka hasil pertanian dapat maksimal dan kesehatan serta keamanan petani tetap terjaga. (*)

MALANG – Perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi dan juga pandemi Covid-19 yang masih berlangsung membuat pemerintah terus memperkuat sektor pertanian dan menjaga stok pangan nasional agar tetap aman. Hal ini dikarenakan pertanian di Indonesia masih sangat bergantung pada kondisi musim. Banyaknya lahan tadah hujan yang akan kesulitan saat musim kemarau membuat petani harus dapat memanfaatkan musim penghujan dengan semaksimal mungkin. Oleh karena itu melakukan percepatan tanam adalah salah satu solusi yang dapat dilakukan.

Kabupaten Malang sebagai salah satu penghasil padi di Jawa Timur yang produksinya mencapai 13,734 ton per tahun memiliki Indeks Pertanaman tiga kali dalam satu tahun. Yaitu pada bulan Desember – Maret untuk musim tanam satu, April – Juli untuk musim tanam dua, dan Agustus – November untuk musim tanam tiga. Indeks Pertanaman ini dilakukan selain untuk menjaga stabilitas pangan juga dapat memberi dampak signifikan pada peningkatan pendapatan petani.

Untuk membantu petani meraih hasil panen maksimal, 25 Februari lalu PT Syngenta Indonesia mengadakan ‘’Gelar Teknologi Syngenta untuk Persiapan Lahan Padi’’ di Desa Glanggang, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

Kegiatan utama acara ini adalah berbagi informasi terkait teknologi dari Syngenta untuk membantu petani dalam melakukan persiapan lahan dan juga memperkenalkan teknologi alat semprot (sprayer) Close Loop Knapsack System (CLKS) yang inovatif dan modern untuk mengaplikasikan produk perlindungan tanaman. Kegiatan Gelar Teknologi Syngenta ini dihadiri oleh perwakilan Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dinas Pertanian Kabupaten Malang, Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), dan Himpunan Produsen dan Penangkar Benih. Semua aktivitas dalam kegiatan ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat untuk menjaga semua pihak yang hadir agar tetap aman.

Kepala Subdirektorat Pestisida dari Kementerian Pertanian, Lolita Tasik Taparan mengatakan bahwa pemerintah mendukung petani untuk mencapai Indeks Pertanaman tiga kali per tahun untuk mencapai ketahanan pangan. “Oleh karena itu perlu adanya teknologi pertanian yang mengedepankan keamanan dan keselamatan seperti yang sekarang diperkenalkan oleh Syngenta,” ucapnya.

Petani diajak melek teknologi untuk meningkatkan volume panen (ist)

Dalam acara ini ada lima pos yang memberikan informasi edukatif kepada petani. Di pos pertama ada informasi mengenai proses persiapan lahan. Dalam budidaya tanaman padi, persiapan lahan merupakan tahap yang membutuhkan waktu lama sekitar 3 – 4 minggu jika dilakukan secara tradisional.

Selain itu, proses ini membutuhkan banyak tenaga kerja dengan biaya yang tidak sedikit. Tetapi dengan menggunakan teknologi dari Syngenta waktu untuk persiapan lahan dapat dipersingkat menjadi hanya sekitar satu minggu yang tentunya mempercepat proses tanam. Teknologi dari Syngenta ini juga dapat memutus siklus hama yang ada di lahan dan mengembalikan unsur hara tanah sehingga bisa mengurangi penggunaan pupuk anorganik. Midzon Johannis, Head of Sustainability Syngenta mengatakan Syngenta adalah salah satu pelopor Tahapan Persiapan Lahan dengan menggunakan produk perlindungan tanamanan yang telah dipercaya petani yaitu Gramoxone.

Di pos kedua para petani diperkenalkan dengan teknologi alat semprot baru Close Loop Knapsack System (CLKS) untuk mengaplikasikan produk perlindungan tanaman. Teknologi CLKS ini praktis karena petani tidak perlu menakar dan mencampur sehingga tidak membutuhkan banyak peralatan. Selain itu penggunaan produk perlindungan tanaman menjadi aman karena tidak ada resiko kontaminasi saat pencampuran, tangki sprayer hanya berisi air dan aman saat penyimpanan.

Arya Yudhistira, Analis Kebijakan Ahli Muda sebagai perwakilan dari Kementerian Perindustrian yang hadir di lokasi turut menyampaikan bahwa bila CLKS ini sudah diproduksi secara massal maka tidak perlu impor lagi dan harganya bisa lebih terjangkau.

Kemudian di pos ketiga petani mendapat informasi mengenai praktik budidaya padi agar hasil panen maksimal. Informasi yang disampaikan tidak hanya mengenai proses pengolahan lahan yang baik, tetapi juga bagaimana memilih varietas unggul, pengaturan jarak tanam, pengairan yang baik, dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di setiap fase penting pertumbuhan tanaman padi.

Terkait dengan peningkatan produktivitas tanaman padi, salah satu program nyata yang diinisiasi oleh tim Syngenta di Jawa Timur adalah dengan membentuk komunitas yang dikenal sebagai Komunitas Padi 10 Ton. Komunitas ini dibentuk untuk membantu petani meningkatkan hasil pertaniannya hingga 10 ton/hektar atau lebih dengan menggunakan teknologi Syngenta dan praktik budidaya yang tepat. Sampai saat ini sudah ada 56 Komunitas Padi 10 Ton yang tersebar di seluruh Jawa Timur.

Keberadaan Komunitas Padi 10 Ton membantu petani meningkatkan kualitas dan kuantitas panen sehingga dapat mendukung peningkatan kesejahteraan petani dan swasembada pangan nasional.

Selain itu, Syngenta juga membangun Saung TAMA (Tani Maju) yang dapat digunakan oleh petani untuk saling berbagi ilmu agar petani dapat maju dan sejahtera bersama. Semua informasi ini dapat didapatkan di pos keempat. Tak lupa sebagai bentuk tanggung jawab kepada petani dan juga lingkungan, Syngenta juga memberikan informasi mengenai Lima Aturan Emas yang dapat diikuti oleh petani untuk meminimalisir paparan dari penggunaan produk perlindungan tanaman. Hal ini penting karena pada kenyataannya di lapangan aspek kesehatan dan keselamatan petani saat menggunakan produk perlindungan tanaman masih perlu ditingkatkan.

Syngenta percaya hanya dengan praktik budidaya pertanian yang baik, penggunaan teknologi pertanian yang tepat, dan mengikuti aturan penggunaan produk perlindungan tanaman maka hasil pertanian dapat maksimal dan kesehatan serta keamanan petani tetap terjaga. (*)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru