alexametrics
25.4 C
Malang
Friday, 20 May 2022

Korban Arisan Fiktif Kota Malang Bertambah

MALANG KOTA – Ini masih soal kelanjutan kasus dugaan penipuan arisan fiktif yang diadukan oleh sejumlah peserta arisan ke Polresta Malang Kota. Setelah ada 3 orang yang mengadu Senin lalu (28/6), giliran kemarin (30/6) sebanyak 12 korban lainnya turut melaporkan ke Polresta Malang Kota. Mereka melaporkan NA, warga Bandulan, Kecamatan Sukun, atas dugaan kasus penipuan arisan fiktif.

Salah satu korban, Angga Putri Utami, 21, mengatakan, total yang mengadukan kasus arisan fiktif ini ada sebanyak 12 orang dengan total kerugiannya mencapai Rp 2 miliar. Nilai itu bila ditotal antara arisan reguler dan investasi. ”Kalau saya rugi Rp 29 juta,” imbuh warga Kedungkandang, Kota Malang, itu.

Mahasiswi Universitas Brawijaya itu menjelaskan, untuk update terbaru dari aduan para korban arisan fiktif itu pihaknya disarankan untuk mengirimkan somasi pada alamat keluarga pelaku. Tetapi, somasi ini sifatnya perorangan.

”Nanti misalnya somasi satu tidak dihiraukan, akan ada somasi kedua yang jaraknya 5 hari,” terangnya.

Kemudian, dia melanjutkan, jika somasi itu tetap tidak dihiraukan, maka para korban diminta untuk datang lagi dan akan diproses menjadi tindak pidana.

”Karena kata penyidiknya, kalau sudah kirim berkas somasi dan buktinya, maka pihaknya akan membantu proses pelacakan lokasi pelaku,” terang mahasiswi Fakultas Ilmu Pemerintahan di UB itu.

Untuk kronologinya, Angga mengisahkan, dulunya NA itu pernah mengikuti arisan yang dikelola oleh dirinya. Sehingga, mereka saling mengenal satu sama lain. ”Jadi ikut di saya dulu, dan tidak ada tanda-tanda mencurigakan,” terangnya.

Sehingga waktu NA menawarkan arisan dan investasi, dia langsung menyetujuinya. Meski awalnya hanya mengikuti dengan jumlah yang tidak banyak, sekitar Rp 1,3 juta, pada Juni dia menginvestasikan dengan nominal yang cukup besar. ”Janjinya akan cair pada Kamis lalu (24/6), yakni sebanyak Rp 30 juta,” bebernya.

Namun, dia melanjutkan, pada tanggal itu tiba, uang itu tidak dicairkan. Terlapor berdalih karena nominal uangnya dia yang paling banyak dan beralasan ATM-nya sudah limit serta dijanjikan akan dicairkan pada keesokan harinya. ”Tapi, besoknya tetap tidak dicairkan, saya langsung ke rumahnya,” bebernya

Namun, menurut informasi dari tetangganya, rumah tersebut sudah dijual sejak lama. Karena panik, dirinya mulai menginformasikan di grup arisan tersebut. ”Saya akhirnya ke alamat rumah orang tuanya, tapi keluarganya ribet juga, bahkan sempat tidak mengaku kalau keluarganya NA,” terangnya.

Selama ini, dia mengatakan, para korban sudah mencoba menghubungi terlapor namun tidak ada respons. ”Tapi tadi (kemarin), NA ini sempat mengirim klarifikasi di grup, dia beralasan kabur itu menjadi jalan amannya untuk dia,” ungkapnya.

Sebab, terlapor juga mengaku tidak ada solusi lain selain hal itu. Bahkan, terlapor juga meminta agar para korban meminta uangnya pada orang-orang yang sudah untung di investasi. ”Itu kan logikanya tidak masuk akal, dia juga bilang kalau mau dipolisikan tidak apa-apa,” pungkasnya.

Sebelumnya, 3 korban yang lainnya yang terlebih dulu mengadukan tersebut menyatakan kerugian sebesar Rp 26 juta. Yakni, korban berinisial AD, 2; RC, 19; dan DV, 25.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Kasatreskrim Polresta Malang Kota Kompol Tinton Yudha Riambodo membenarkan adanya aduan tersebut. Hanya, menurut dia, pihaknya masih akan mengumpulkan terlebih dahulu laporan pengaduan tersebut.

”Karena ini ada beberapa, makanya kami mau kumpulkan dulu, baru setelah itu kami pelajari satu-satu,” ungkapnya. Untuk langkah selanjutnya, dia menegaskan, jika memang itu kasus tindak pidana, maka pihaknya akan menindak secara tegas. (ulf/mas/rmc)

MALANG KOTA – Ini masih soal kelanjutan kasus dugaan penipuan arisan fiktif yang diadukan oleh sejumlah peserta arisan ke Polresta Malang Kota. Setelah ada 3 orang yang mengadu Senin lalu (28/6), giliran kemarin (30/6) sebanyak 12 korban lainnya turut melaporkan ke Polresta Malang Kota. Mereka melaporkan NA, warga Bandulan, Kecamatan Sukun, atas dugaan kasus penipuan arisan fiktif.

Salah satu korban, Angga Putri Utami, 21, mengatakan, total yang mengadukan kasus arisan fiktif ini ada sebanyak 12 orang dengan total kerugiannya mencapai Rp 2 miliar. Nilai itu bila ditotal antara arisan reguler dan investasi. ”Kalau saya rugi Rp 29 juta,” imbuh warga Kedungkandang, Kota Malang, itu.

Mahasiswi Universitas Brawijaya itu menjelaskan, untuk update terbaru dari aduan para korban arisan fiktif itu pihaknya disarankan untuk mengirimkan somasi pada alamat keluarga pelaku. Tetapi, somasi ini sifatnya perorangan.

”Nanti misalnya somasi satu tidak dihiraukan, akan ada somasi kedua yang jaraknya 5 hari,” terangnya.

Kemudian, dia melanjutkan, jika somasi itu tetap tidak dihiraukan, maka para korban diminta untuk datang lagi dan akan diproses menjadi tindak pidana.

”Karena kata penyidiknya, kalau sudah kirim berkas somasi dan buktinya, maka pihaknya akan membantu proses pelacakan lokasi pelaku,” terang mahasiswi Fakultas Ilmu Pemerintahan di UB itu.

Untuk kronologinya, Angga mengisahkan, dulunya NA itu pernah mengikuti arisan yang dikelola oleh dirinya. Sehingga, mereka saling mengenal satu sama lain. ”Jadi ikut di saya dulu, dan tidak ada tanda-tanda mencurigakan,” terangnya.

Sehingga waktu NA menawarkan arisan dan investasi, dia langsung menyetujuinya. Meski awalnya hanya mengikuti dengan jumlah yang tidak banyak, sekitar Rp 1,3 juta, pada Juni dia menginvestasikan dengan nominal yang cukup besar. ”Janjinya akan cair pada Kamis lalu (24/6), yakni sebanyak Rp 30 juta,” bebernya.

Namun, dia melanjutkan, pada tanggal itu tiba, uang itu tidak dicairkan. Terlapor berdalih karena nominal uangnya dia yang paling banyak dan beralasan ATM-nya sudah limit serta dijanjikan akan dicairkan pada keesokan harinya. ”Tapi, besoknya tetap tidak dicairkan, saya langsung ke rumahnya,” bebernya

Namun, menurut informasi dari tetangganya, rumah tersebut sudah dijual sejak lama. Karena panik, dirinya mulai menginformasikan di grup arisan tersebut. ”Saya akhirnya ke alamat rumah orang tuanya, tapi keluarganya ribet juga, bahkan sempat tidak mengaku kalau keluarganya NA,” terangnya.

Selama ini, dia mengatakan, para korban sudah mencoba menghubungi terlapor namun tidak ada respons. ”Tapi tadi (kemarin), NA ini sempat mengirim klarifikasi di grup, dia beralasan kabur itu menjadi jalan amannya untuk dia,” ungkapnya.

Sebab, terlapor juga mengaku tidak ada solusi lain selain hal itu. Bahkan, terlapor juga meminta agar para korban meminta uangnya pada orang-orang yang sudah untung di investasi. ”Itu kan logikanya tidak masuk akal, dia juga bilang kalau mau dipolisikan tidak apa-apa,” pungkasnya.

Sebelumnya, 3 korban yang lainnya yang terlebih dulu mengadukan tersebut menyatakan kerugian sebesar Rp 26 juta. Yakni, korban berinisial AD, 2; RC, 19; dan DV, 25.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Kasatreskrim Polresta Malang Kota Kompol Tinton Yudha Riambodo membenarkan adanya aduan tersebut. Hanya, menurut dia, pihaknya masih akan mengumpulkan terlebih dahulu laporan pengaduan tersebut.

”Karena ini ada beberapa, makanya kami mau kumpulkan dulu, baru setelah itu kami pelajari satu-satu,” ungkapnya. Untuk langkah selanjutnya, dia menegaskan, jika memang itu kasus tindak pidana, maka pihaknya akan menindak secara tegas. (ulf/mas/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/