alexametrics
26.5 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Kasus Kredit Macet, Kejati Tahan Eks Pimpinan Bank Jatim Kepanjen

MALANG KOTA – Dugaan kasus penyaluran kredit di luar prosedur yang sempat dialamatkan pada Bank Jatim Cabang Kepanjen, Kabupaten Malang akhirnya berujung penahanan. Setelah melakukan penyidikan sejak Maret 2020 lalu, kemarin (1/3) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim resmi melakukan menahan terhadap empat tersangka. Salah satunya adalah Mochamad Ridho Yunianto, mantan pimpinan Bank Jatim Cabang Kepanjen.

Ridho diduga menjadi ’dalang’ penyaluran kredit bermasalah mulai tahun 2017 hingga September 2019 lalu. Selain Ridho, Kejati juga menahan Edhowin Farisca Riawan, mantan penyelia kredit di Bank Jatim Cabang Kepanjen. Dua tersangka lainnya berstatus sebagai debitur, yakni Dwi Budianto dan Andi Pramono. ”Dengan mempertimbangkan alasan subyektif dan obyektif, penyidik mengatakan perlu untuk melakukan penahanan terhadap para tersangka yang bertempat di rutan cabang Kejati Jatim,” terang Kasi Penerangan Hukum (Penkum) Kejati Jatim, Anggara Suryanagara. Sesuai ketentuan, penahanan sementara itu bakal dilakukan selama 20 hari ke depan.

Kepada Jawa Pos Radar Malang, ia membeber kronologi kasus kredit bermasalah itu. Dijelaskan Anggara, dalam kurun waktu mulai tahun 2017 sampai September 2019 lalu, Bank Jatim Cabang Kepanjen telah merealisasikan kredit terhadap 10 kelompok debitur. Masing-masing kelompok terdiri dari 3-24 orang debitur. Dalam proses pengajuan kreditnya, tersangka Mochamad Ridho Yunianto dan Edhowin Farisca Riawan bekerjasama dengan para debitur penanggung jawab.

Nama Dwi Budianto dan Andi Pramono lah yang disebutnya menjadi debitur penanggung jawab itu. Kerja sama itu dilakukan untuk memproses dan merealisasikan pengajuan kredit yang tidak memenuhi ketentuan. ”Modus atau caranya berupa meminjam nama-nama orang lain yang tidak memenuhi syarat untuk menerima kredit,” beber Anggara. Berdasarkan informasi yang dihimpun koran ini, plafon pinjaman maksimal pada bank milik Pemprov Jatim di tingkat cabang senilai Rp 3 miliar.

Dasar itulah yang kemudian membuat skenario debitur kelompok dibuat. Sehingga jumlah pinjaman yang bisa didapat lebih banyak dari ketentuan plafon. Seiring perjalanan waktu, debitur kelompok itu mengalami kesulitan dalam mengangsur pinjaman. ”Karena nama-nama debitur yang dipinjam namanya tersebut tidak layak atau tidak memenuhi persyaratan untuk mendapatkan kredit, sebagaimana yang diajukan. Itu berakibat tidak terbayarnya angsuran kredit,” tambah Anggara.

Problem tersebut akhirnya ditetapkan Bank Jatim Cabang Kepanjen sebagai kredit Macet. Setelah kasus itu didalami petugas, diketahuilah dugaan kerugian keuangan negara. Salah satu dasarnya yakni laporan audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Jawa Timur nomor : 059/14/AUI/SAA/SPC/NOTA tanggal 15 April 2020 perihal revisi dan tambahan informasi terkait kerugian Bank Jatim atas permasalahan kredit di Kantor Bank Jatim Cabang Kepanjen.

Dalam laporan audit itu, kerugian Bank Jatim tercatat di angka Rp 100 miliar, lebih tepatnya Rp 100.018.133.170. ”Untuk penghitungan keuangan negaranya yang pasti, masih menunggu hasil penghitungan dari BPKP,” imbuh Anggara. Ia menyebut bila progres penghitungannya sudah mencapai 80 persen. Di tempat lain, Koordinator Tim kuasa hukum tersangka Dwi Budianto, Yacob Koen Njio SH MHum turut membenarkan kabar penahanan kliennya.

Menindaklanjuti hal itu, ia mengatakan bila pihaknya sudah menyiapkan beberapa upaya hukum. Salah satunya, dalam waktu dekat pihaknya akan mengajukan penangguhan penahanan. Alasannya, karena istri dari tersangka Budi saat ini tengah hamil tua. Bahkan sesuai hari prediksi kelahiran (HPL), diperkirakan anaknya bakal lahir 4 Maret mendatang. ”Jadi kami akan melakukan pengajuan penahan itu dalam waktu dekat ini, harinya belum bisa saya sebutkan,” kata dia saat dikonfirmasi koran ini.

Selain itu, Yacob juga mengatakan bila ibu dari tersangka Budi kini sudah lanjut usia. ”Usia ibunya sudah sekitar 103 tahun, dan saat ini dalam kondisi sakit,” imbuhnya. Di sisi lain, putra-putri dari tersangka juga diketahui masih kecil.”Istri, ibu dan anak-anaknya kini membutuhkan keberadaan klien kami di tengah-tengah mereka,” tambah dia. (rmc/ulf/by)

MALANG KOTA – Dugaan kasus penyaluran kredit di luar prosedur yang sempat dialamatkan pada Bank Jatim Cabang Kepanjen, Kabupaten Malang akhirnya berujung penahanan. Setelah melakukan penyidikan sejak Maret 2020 lalu, kemarin (1/3) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim resmi melakukan menahan terhadap empat tersangka. Salah satunya adalah Mochamad Ridho Yunianto, mantan pimpinan Bank Jatim Cabang Kepanjen.

Ridho diduga menjadi ’dalang’ penyaluran kredit bermasalah mulai tahun 2017 hingga September 2019 lalu. Selain Ridho, Kejati juga menahan Edhowin Farisca Riawan, mantan penyelia kredit di Bank Jatim Cabang Kepanjen. Dua tersangka lainnya berstatus sebagai debitur, yakni Dwi Budianto dan Andi Pramono. ”Dengan mempertimbangkan alasan subyektif dan obyektif, penyidik mengatakan perlu untuk melakukan penahanan terhadap para tersangka yang bertempat di rutan cabang Kejati Jatim,” terang Kasi Penerangan Hukum (Penkum) Kejati Jatim, Anggara Suryanagara. Sesuai ketentuan, penahanan sementara itu bakal dilakukan selama 20 hari ke depan.

Kepada Jawa Pos Radar Malang, ia membeber kronologi kasus kredit bermasalah itu. Dijelaskan Anggara, dalam kurun waktu mulai tahun 2017 sampai September 2019 lalu, Bank Jatim Cabang Kepanjen telah merealisasikan kredit terhadap 10 kelompok debitur. Masing-masing kelompok terdiri dari 3-24 orang debitur. Dalam proses pengajuan kreditnya, tersangka Mochamad Ridho Yunianto dan Edhowin Farisca Riawan bekerjasama dengan para debitur penanggung jawab.

Nama Dwi Budianto dan Andi Pramono lah yang disebutnya menjadi debitur penanggung jawab itu. Kerja sama itu dilakukan untuk memproses dan merealisasikan pengajuan kredit yang tidak memenuhi ketentuan. ”Modus atau caranya berupa meminjam nama-nama orang lain yang tidak memenuhi syarat untuk menerima kredit,” beber Anggara. Berdasarkan informasi yang dihimpun koran ini, plafon pinjaman maksimal pada bank milik Pemprov Jatim di tingkat cabang senilai Rp 3 miliar.

Dasar itulah yang kemudian membuat skenario debitur kelompok dibuat. Sehingga jumlah pinjaman yang bisa didapat lebih banyak dari ketentuan plafon. Seiring perjalanan waktu, debitur kelompok itu mengalami kesulitan dalam mengangsur pinjaman. ”Karena nama-nama debitur yang dipinjam namanya tersebut tidak layak atau tidak memenuhi persyaratan untuk mendapatkan kredit, sebagaimana yang diajukan. Itu berakibat tidak terbayarnya angsuran kredit,” tambah Anggara.

Problem tersebut akhirnya ditetapkan Bank Jatim Cabang Kepanjen sebagai kredit Macet. Setelah kasus itu didalami petugas, diketahuilah dugaan kerugian keuangan negara. Salah satu dasarnya yakni laporan audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Jawa Timur nomor : 059/14/AUI/SAA/SPC/NOTA tanggal 15 April 2020 perihal revisi dan tambahan informasi terkait kerugian Bank Jatim atas permasalahan kredit di Kantor Bank Jatim Cabang Kepanjen.

Dalam laporan audit itu, kerugian Bank Jatim tercatat di angka Rp 100 miliar, lebih tepatnya Rp 100.018.133.170. ”Untuk penghitungan keuangan negaranya yang pasti, masih menunggu hasil penghitungan dari BPKP,” imbuh Anggara. Ia menyebut bila progres penghitungannya sudah mencapai 80 persen. Di tempat lain, Koordinator Tim kuasa hukum tersangka Dwi Budianto, Yacob Koen Njio SH MHum turut membenarkan kabar penahanan kliennya.

Menindaklanjuti hal itu, ia mengatakan bila pihaknya sudah menyiapkan beberapa upaya hukum. Salah satunya, dalam waktu dekat pihaknya akan mengajukan penangguhan penahanan. Alasannya, karena istri dari tersangka Budi saat ini tengah hamil tua. Bahkan sesuai hari prediksi kelahiran (HPL), diperkirakan anaknya bakal lahir 4 Maret mendatang. ”Jadi kami akan melakukan pengajuan penahan itu dalam waktu dekat ini, harinya belum bisa saya sebutkan,” kata dia saat dikonfirmasi koran ini.

Selain itu, Yacob juga mengatakan bila ibu dari tersangka Budi kini sudah lanjut usia. ”Usia ibunya sudah sekitar 103 tahun, dan saat ini dalam kondisi sakit,” imbuhnya. Di sisi lain, putra-putri dari tersangka juga diketahui masih kecil.”Istri, ibu dan anak-anaknya kini membutuhkan keberadaan klien kami di tengah-tengah mereka,” tambah dia. (rmc/ulf/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/