alexametrics
21.1 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Masuk Musim Penghujan, BMKG imbau Waspadai Bencana Hidrometeorologi

MALANG KOTA – Musim penghujan diperkirakan akan mulai pada awal Oktober. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Malang menyebut, saat ini wilayah Malang Raya telah memasuki musim pancaroba.

Oleh karena itu, anomali cuaca masih harus diwaspadai oleh masyarakat Malang Raya. BMKG Stasiun Klimatologi Malang Edythya Ferlani W menuturkan, meski hujan diprediksi mulai turun awal Oktober, namun intensitasnya masih jarang terjadi.

Dia menyebutkan, di musim anomali cuaca, curah hujan biasanya mencapai 65 persen. Sedangkan bila di atas normal, hanya 35 persen. “Tapi puncak musim hujan di Jatim 83,3 persen terjadi di bulan Januari,” bebernya.

Menurutnya, koordinasi terkait dengan sistem peringatan dini dan update informasi kalender tanam telah mereka lakukan. Termasuk pemetaan lahan berpotensi banjir serta mengecek gerakan rencana optimalisasi waduk atau embung air. “Kami juga selalu update peringatan dini tiga hari sekali,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga mengidentifikasi daerah abrasi, infrastruktur berisiko dampak cuaca ekstrem hingga sumber daya listrik. “Termasuk pemetaan kawasan berisiko banjir,” tambahnya.

Di sisi lain, dia juga menghimbau agar masyarakat mewaspadai cuaca ekstrem pada musim hujan. Sebab, pada musim hujan rawan terjadi hujan deras, angin kencang dan petir. “Itu biasanya juga rawan tanah longsor, banjir dan puting beliung,” pungkasnya. (ulf/nay/rmc)

MALANG KOTA – Musim penghujan diperkirakan akan mulai pada awal Oktober. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Malang menyebut, saat ini wilayah Malang Raya telah memasuki musim pancaroba.

Oleh karena itu, anomali cuaca masih harus diwaspadai oleh masyarakat Malang Raya. BMKG Stasiun Klimatologi Malang Edythya Ferlani W menuturkan, meski hujan diprediksi mulai turun awal Oktober, namun intensitasnya masih jarang terjadi.

Dia menyebutkan, di musim anomali cuaca, curah hujan biasanya mencapai 65 persen. Sedangkan bila di atas normal, hanya 35 persen. “Tapi puncak musim hujan di Jatim 83,3 persen terjadi di bulan Januari,” bebernya.

Menurutnya, koordinasi terkait dengan sistem peringatan dini dan update informasi kalender tanam telah mereka lakukan. Termasuk pemetaan lahan berpotensi banjir serta mengecek gerakan rencana optimalisasi waduk atau embung air. “Kami juga selalu update peringatan dini tiga hari sekali,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga mengidentifikasi daerah abrasi, infrastruktur berisiko dampak cuaca ekstrem hingga sumber daya listrik. “Termasuk pemetaan kawasan berisiko banjir,” tambahnya.

Di sisi lain, dia juga menghimbau agar masyarakat mewaspadai cuaca ekstrem pada musim hujan. Sebab, pada musim hujan rawan terjadi hujan deras, angin kencang dan petir. “Itu biasanya juga rawan tanah longsor, banjir dan puting beliung,” pungkasnya. (ulf/nay/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/