alexametrics
28.1 C
Malang
Thursday, 7 July 2022

Ini Alasan Eropa-AS Suka Kopi Kabupaten Malang

PONCOKUSUMO – Sempat mengalami penurunan permintaan akibat pandemi, gairah sektor hortikultura, utamanya kopi belakangan membaik. Apalagi, kopi dari Bumi Kanjuruhan menjadi incaran konsumen dari Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Budiar Anwar mengatakan, permintaan ekspor kopi sempat mengalami penurunan sebanyak 15 persen akibat pandemi Covid-19. “Tapi berusanaan ekportir kopi di Kabupaten Malang yakni PT Asal Jaya tetap merintis kebun baru, luasnya sekitar 10 hektare,” kata Budiar ditemui di desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, kemarin (2/12).

Lokasinya berada di kaki Gunung Kawi, tepatnya di Kecamatan Kromengan. Varietas yang dikembangkan yakni jenis robusta. Mantan Kabag Humas Setda Kabupaten Malang itu menjelaskan beberapa faktor yang membuat pengusaha tetap berani untuk meningkatkan produksi kopi.

Dia menjelaskan, saat ini negara dengan produksi kopi terbesar masih didominasi oleh Vietnam. “Tapi usut punya usut, produksi mereka bisa tinggi itu karena digenjot dengan menggunakan pupuk organik. Jadi melimpah hasilnya,” terang Budiar.

Namun yang menjadi peluang, kata dia, negara konsumen kopi terbesar yakni Eropa dan Amerika Serikat (AS) kurang tertarik dengan produk Vietnam. “Mereka tidak senang karena bukan organik, maka sekarang pasar Amerika dan Eropa cenderung beralih ke Indonesia yang mayoritas masih menggunakan cara organik,” beber dia. Hal ini lah yang menjadi salah satu latar belakang perusahaan ekportir di Kabupaten Malang berani membuka lahan pertanian kopi baru.

Budiar menambahkan, saat ini total ada 26 ribu hektare lahan pertanian kopi yang tersebar di 30 kecamatan. Sekitar 23 ribu hektare di antaranya merupakan lahan kopi robusta. Sedangkan 3 ribu hektare sisanya dikembangkan untuk kopi jenis arabika.

Umumnya, kata dia, lahan kopi robusta berada di ketinggian kurang dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara jenis kopi arabika relatif berkembang dengan baik di ketinggian di atas 1.000 sampai 1.200 mdpl. “Untuk produksinya rata-rata antara 2 ton sampai 2,5 ton per hektare.  Maka jika ditotal, produksi kopi secara keseluruhan di Kabupaten Malang bisa mencapai 65 ribu ton untuk sekali panen.

PONCOKUSUMO – Sempat mengalami penurunan permintaan akibat pandemi, gairah sektor hortikultura, utamanya kopi belakangan membaik. Apalagi, kopi dari Bumi Kanjuruhan menjadi incaran konsumen dari Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Budiar Anwar mengatakan, permintaan ekspor kopi sempat mengalami penurunan sebanyak 15 persen akibat pandemi Covid-19. “Tapi berusanaan ekportir kopi di Kabupaten Malang yakni PT Asal Jaya tetap merintis kebun baru, luasnya sekitar 10 hektare,” kata Budiar ditemui di desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, kemarin (2/12).

Lokasinya berada di kaki Gunung Kawi, tepatnya di Kecamatan Kromengan. Varietas yang dikembangkan yakni jenis robusta. Mantan Kabag Humas Setda Kabupaten Malang itu menjelaskan beberapa faktor yang membuat pengusaha tetap berani untuk meningkatkan produksi kopi.

Dia menjelaskan, saat ini negara dengan produksi kopi terbesar masih didominasi oleh Vietnam. “Tapi usut punya usut, produksi mereka bisa tinggi itu karena digenjot dengan menggunakan pupuk organik. Jadi melimpah hasilnya,” terang Budiar.

Namun yang menjadi peluang, kata dia, negara konsumen kopi terbesar yakni Eropa dan Amerika Serikat (AS) kurang tertarik dengan produk Vietnam. “Mereka tidak senang karena bukan organik, maka sekarang pasar Amerika dan Eropa cenderung beralih ke Indonesia yang mayoritas masih menggunakan cara organik,” beber dia. Hal ini lah yang menjadi salah satu latar belakang perusahaan ekportir di Kabupaten Malang berani membuka lahan pertanian kopi baru.

Budiar menambahkan, saat ini total ada 26 ribu hektare lahan pertanian kopi yang tersebar di 30 kecamatan. Sekitar 23 ribu hektare di antaranya merupakan lahan kopi robusta. Sedangkan 3 ribu hektare sisanya dikembangkan untuk kopi jenis arabika.

Umumnya, kata dia, lahan kopi robusta berada di ketinggian kurang dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara jenis kopi arabika relatif berkembang dengan baik di ketinggian di atas 1.000 sampai 1.200 mdpl. “Untuk produksinya rata-rata antara 2 ton sampai 2,5 ton per hektare.  Maka jika ditotal, produksi kopi secara keseluruhan di Kabupaten Malang bisa mencapai 65 ribu ton untuk sekali panen.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/