alexametrics
20.8 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Tiga Bulan, Tiga Pemda Malang Raya Catat Investasi Rp 4,3 Triliun

MALANG – Ini bisa jadi pertanda kondisi perekonomian di Malang Raya mulai membaik dibandingkan tahun 2020 lalu. Kepercayaan dari investor mulai meningkat seiring dengan naiknya nilai investasi yang masuk ke Kabupaten dan Kota Malang serta Kota Batu.

Dari perhitungan Jawa Pos Radar Malang, bila ditotal ada investasi senilai Rp 4,3 triliun yang ditanamkan para investor di Malang Raya. Jumlah itu tercatat sepanjang triwulan pertama. Tepatnya mulai Januari hingga Maret lalu.

Kabupaten Malang menjadi daerah yang paling diminati investor di awal tahun ini. Pada triwulan pertama tahun 2021, tepatnya mulai Januari hingga Maret lalu, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Malang mencatat sudah ada sekitar 10 penanam modal yang berinvestasi di Kabupaten Malang. ”Nilai investasinya sekitar Rp 3,6 triliun,” terang Kepala DPMPTSP Kabupaten Malang Subur Hutagalung.

Dia mengakui bila iklim investasi di tahun ini sudah lebih baik dibandingkan tahun 2020 lalu. Sebagai perbandingan, dia menyebut bila sepanjang tahun 2020 lalu jumlah investasi di Kabupaten Malang berada di angka Rp 16,4 triliun. ”Rinciannya dari PMA (penanaman modal asing) senilai Rp 8,5 triliun, sedangkan untuk PMDN (penanaman modal dalam negeri) senilai Rp 7,9 triliun,” imbuhnya.

Sebagai contoh, pada Maret lalu, pabrik ragi di Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, sudah mulai dibangun. Pabrik itu diinvestasikan oleh investor dari Prancis. Di sisi lain, Subur juga menyebut bila sektor lain kini mulai menggeliat. ”Kalau potensi saat ini yang sedang ramai (dari sektor) properti, makanan minuman, dan UMKM,” tambahnya.

Di tempat yang berbeda, Bupati Malang H. M. Sanusi merinci ada beberapa penyebab yang membuat wilayahnya banyak dilirik investor. Seperti ketersediaan lahan dan juga kelengkapan infrastruktur. ”Kabupaten Malang juga akan dilintasi jalan tol dari Malang menuju Kepanjen, kemudian lanjut menuju Blitar,” kata politikus PDI perjuangan itu. Untuk kemudahan bagi para investor, Sanusi menyebut bila pihaknya sudah memiliki dasar hukum tertentu. Tercantum dalam pengesahan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2019tentang Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi. Aturan itu sudah diteken sejak 10 Desember 2020 lalu.

Di tempat lain, Sekretaris Kota (Sekkota) Malang Erik Setyo Santoso juga menyebut bila iklim investasi di Kota Malang pada triwulan pertama mulai bergairah. Dia menyebut angka realisasinya sudah meningkat 388,6 persen dibandingkan tahun lalu. Pada bulan Mei 2020 lalu, realisasi investasi Kota di Malang pada triwulan I berada di angka Rp 124,64 miliar.

”Pada triwulan pertama ini, kami mendapatkan realisasi sebesar Rp 484,36 miliar,” beber pria yang juga menjabat sebagai Plt kepala Dinas Ketenagakerjaan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Kadisnaker-PMPTSP) Kota Malang itu. Dia juga menyebut bila catatan itu sudah melampaui realisasi di triwulan I hingga triwulan IV tahun 2020. Sebab, di tahun lalu realisasi investasi di Kota Malang berada di angka Rp 292,83 miliar.

Hal senada juga disampaikan Kabid Perencanaan dan Pengembangan Iklim Penanaman Modal, DPMPTSP, dan Naker Kota Batu Bambang Supriyanto. Sampai triwulan pertama di tahun ini, dia mengatakan bila nilai investasi yang sudah masuk ke Kota Batu berada di angka Rp 230 miliar. Catatan itu menurutnya sudah memenuhi 35 persen dari total target. ”Setiap tahunnya, nilai investasi yang ditargetkan sebesar Rp 450 miliar,” kata dia.
Bambang menambahkan, nilai investasi itu berasal dari dua jenis data, yakni izin usaha mikro dan kecil (IUMK) dan non-IUMK. Untuk IUMK penyumbang nilai investasi terbanyak berasal dari sektor perdagangan dan jasa sejumlah 49 persen. Lalu, sektor tanaman pangan menyumbang 13 persen. Sementara sektor penginapan dan tempat makan menyumbang 11 persen. Sedangkan sektor industri makanan dan minuman menyumbang 6 persen. (rmc/fik/adn/nug/c1/by)

MALANG – Ini bisa jadi pertanda kondisi perekonomian di Malang Raya mulai membaik dibandingkan tahun 2020 lalu. Kepercayaan dari investor mulai meningkat seiring dengan naiknya nilai investasi yang masuk ke Kabupaten dan Kota Malang serta Kota Batu.

Dari perhitungan Jawa Pos Radar Malang, bila ditotal ada investasi senilai Rp 4,3 triliun yang ditanamkan para investor di Malang Raya. Jumlah itu tercatat sepanjang triwulan pertama. Tepatnya mulai Januari hingga Maret lalu.

Kabupaten Malang menjadi daerah yang paling diminati investor di awal tahun ini. Pada triwulan pertama tahun 2021, tepatnya mulai Januari hingga Maret lalu, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Malang mencatat sudah ada sekitar 10 penanam modal yang berinvestasi di Kabupaten Malang. ”Nilai investasinya sekitar Rp 3,6 triliun,” terang Kepala DPMPTSP Kabupaten Malang Subur Hutagalung.

Dia mengakui bila iklim investasi di tahun ini sudah lebih baik dibandingkan tahun 2020 lalu. Sebagai perbandingan, dia menyebut bila sepanjang tahun 2020 lalu jumlah investasi di Kabupaten Malang berada di angka Rp 16,4 triliun. ”Rinciannya dari PMA (penanaman modal asing) senilai Rp 8,5 triliun, sedangkan untuk PMDN (penanaman modal dalam negeri) senilai Rp 7,9 triliun,” imbuhnya.

Sebagai contoh, pada Maret lalu, pabrik ragi di Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, sudah mulai dibangun. Pabrik itu diinvestasikan oleh investor dari Prancis. Di sisi lain, Subur juga menyebut bila sektor lain kini mulai menggeliat. ”Kalau potensi saat ini yang sedang ramai (dari sektor) properti, makanan minuman, dan UMKM,” tambahnya.

Di tempat yang berbeda, Bupati Malang H. M. Sanusi merinci ada beberapa penyebab yang membuat wilayahnya banyak dilirik investor. Seperti ketersediaan lahan dan juga kelengkapan infrastruktur. ”Kabupaten Malang juga akan dilintasi jalan tol dari Malang menuju Kepanjen, kemudian lanjut menuju Blitar,” kata politikus PDI perjuangan itu. Untuk kemudahan bagi para investor, Sanusi menyebut bila pihaknya sudah memiliki dasar hukum tertentu. Tercantum dalam pengesahan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2019tentang Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi. Aturan itu sudah diteken sejak 10 Desember 2020 lalu.

Di tempat lain, Sekretaris Kota (Sekkota) Malang Erik Setyo Santoso juga menyebut bila iklim investasi di Kota Malang pada triwulan pertama mulai bergairah. Dia menyebut angka realisasinya sudah meningkat 388,6 persen dibandingkan tahun lalu. Pada bulan Mei 2020 lalu, realisasi investasi Kota di Malang pada triwulan I berada di angka Rp 124,64 miliar.

”Pada triwulan pertama ini, kami mendapatkan realisasi sebesar Rp 484,36 miliar,” beber pria yang juga menjabat sebagai Plt kepala Dinas Ketenagakerjaan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Kadisnaker-PMPTSP) Kota Malang itu. Dia juga menyebut bila catatan itu sudah melampaui realisasi di triwulan I hingga triwulan IV tahun 2020. Sebab, di tahun lalu realisasi investasi di Kota Malang berada di angka Rp 292,83 miliar.

Hal senada juga disampaikan Kabid Perencanaan dan Pengembangan Iklim Penanaman Modal, DPMPTSP, dan Naker Kota Batu Bambang Supriyanto. Sampai triwulan pertama di tahun ini, dia mengatakan bila nilai investasi yang sudah masuk ke Kota Batu berada di angka Rp 230 miliar. Catatan itu menurutnya sudah memenuhi 35 persen dari total target. ”Setiap tahunnya, nilai investasi yang ditargetkan sebesar Rp 450 miliar,” kata dia.
Bambang menambahkan, nilai investasi itu berasal dari dua jenis data, yakni izin usaha mikro dan kecil (IUMK) dan non-IUMK. Untuk IUMK penyumbang nilai investasi terbanyak berasal dari sektor perdagangan dan jasa sejumlah 49 persen. Lalu, sektor tanaman pangan menyumbang 13 persen. Sementara sektor penginapan dan tempat makan menyumbang 11 persen. Sedangkan sektor industri makanan dan minuman menyumbang 6 persen. (rmc/fik/adn/nug/c1/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/