alexametrics
29 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Kisah Para Mualaf Menjalani Kehidupan Barunya (23)

Setelah Masuk Islam, Tak Gampang Marah Lagi

Sebelum masuk Islam, Yusuf (bukan nama asli) mengaku sebagai pribadi yang keras dan temperamental. Sedikit ada masalah, emosinya tak terkendali. Kini semua sudah berubah. Dia menjadi sosok yang kalem. Berikut kisahnya yang diungkapkan pada wartawan Jawa Pos Radar Malang, Galih R. Praasetyo.

——————————–

Yusuf tampak tidak percaya diri. Beberapa kali dia menanyakan alasan Jawa Pos Radar Malang ingin wawancara tentang kisahnya menjadi seorang mualaf. Bagi dia, tidak ada yang spesial dari perjalanan spiritualnya. ”Saya takut kisah saya kurang menarik,” ujarnya.

Setelah diyakinkan, akhirnya, selang beberapa menit pria berusia 29 tahun itu mau bercerita. Perlahan-lahan dengan intonasi suara yang pelan Yusuf menjelaskan kalau tertariknya dia dengan Islam berawal dari rasa penasaran.

Saat umur 19 tahun, Yusuf punya rasa keingintahuan yang kuat terkait ibadah salat. Ada dua ibadah salat yang membuatnya penasaran. Pertama adalah salat Idul Fitri. Kedua, salat Jumat. Nah, dari ibadah yang terakhir itulah dia sedikit mengetahui bagaimana wajah Islam sebenarnya. ”Dari khotbah yang disampaikan pada salat Jumat itulah saya tumbuh rasa penasaran tentang Islam,” jelasnya.

Yusuf menggambarkan, khotbah yang mengena hatinya adalah saat khatib membahas Islam yang selalu menjunjung perdamaian. ”Ketika itu yang membuat hati saya bergetar adalah ketika orang yang ceramah (khotib) mengatakan: Islam itu merupakan agama penuh kasih dan penyayang,” kenangnya. Setelah itu, hatinya terus bergejolak. Raga dan pikirannya seperti didorong untuk belajar Islam.

Seiring waktu berjalan, dorongan untuk belajar Islam terus tumbuh dalam hatinya. Puncaknya adalah ketika momen Lebaran. Pria asal Jakarta itu mengaku kalau merasakan ketenteraman batin saat melihat orang pergi ke masjid untuk menjalankan salat Idul Fitri. ”Namun, saat itu saya tidak langsung percaya suasana itu. Setelah membuktikan sendiri dan mengkaji, ternyata benar, alam semesta seperti memberikan support kepada manusia yang tengah beribadah khusyuk pada Allah SWT,” jelas pria yang berprofesi sebagai pengusaha itu.

Dia terus mempelajari tentang Islam. Yusuf tidak hanya menemukan bagaimana magisnya salat, lebih jauh dia juga mengetahui bagaimana indah dan sempurnanya Islam. Sebab, segala sesuatunya ada aturan yang jelas di dalam Islam. Aturannya apabila dijalankan mampu membawa seseorang dalam kondisi kebaikan. Misalnya larangan minuman keras. Apabila ditelusuri, menurut Yusuf manfaatnya adalah untuk kesehatan. ”Mereka yang rajin menjalankan salat niscaya juga Allah SWT berikan kebugaran,” tuturnya.

Menurut dia, gerakan dalam salat bisa bermanfaat untuk kesehatan. Keindahan Islam itulah yang membuat Yusuf pada 2017 lalu akhirnya memeluk Islam. Pilihan tersebut ternyata mendapatkan dukungan dari saudaranya. Termasuk dari sang ibu yang sebelumnya merupakan seorang muslim.

Keluarga besarnya yang menjunjung tinggi kerukunan beragama membuat pilihannya tersebut tidak mendapatkan respons negatif. Keluarganya yang berbeda agama saling mendukung dan menghormati. ”Kami saling tenggang rasa dan mendukung keyakinan masing-masing,” paparnya.

Empat tahun menjadi mualaf, Yusuf mengaku kalau kehidupannya banyak sekali mengalami perubahan. Salah satu yang paling dirasakannya saat ini sudah bisa mengendalikan emosi. Padahal, sebelum menjadi mualaf, dia sosok yang kaku. Pemarah. Apabila ada sesuatu yang tidak disukai, dia gampang marah. ”Saya itu orangnya keras, Mas,” tuturnya.

Namun, dia melanjutkan, setelah masuk Islam, sifat-sifat tersebut hilang. Dia lebih tenang dan tidak mudah marah menghadapi sesuatu yang tidak pas. ”Karena Islam, saya jadi lebih baik dan sabar,” ungkap Yusuf.

Dia menyadari, kalau ada masalah, tidak harus diselesaikan dengan marah. Cukup curhat dengan Sang Pencipta, segala problem seperti perlahan-lahan diringankan dengan menemukan solusi-solusinya. ”Kendati tidak instan selesai, tapi perasaan dan pikiran jadi lebih tenang setelah curhat dengan Allah SWT,” terangnya.

Karena itulah, usai menjadi mualaf, masalah-masalah yang acap kali mendatanginya selalu dia hadapi tanpa rasa takut. Termasuk saat bisnis mengalami gejolak, Yusuf mengaku tetap tenang. Dirinya yakin segala sesuatu pasti ada jalannya asalkan seseorang itu benar-benar meminta kepada Zat yang Maha Segalanya, yakni Allah SWT.

Walaupun banyak kemudahan didapatkannya, Yusuf enggan untuk terlena. Dia mengakui saat ini terus belajar agama. Khususnya adalah memahami Alquran. Kenapa begitu? Karena menurut dia semua hal ada di bumi sudah tertulis dalam kitab suci tersebut. Jadi apabila ingin selamat dunia dan akhirat, maka pedoman atau petunjuknya adalah Alquran. (rmc/c1/abm)

Sebelum masuk Islam, Yusuf (bukan nama asli) mengaku sebagai pribadi yang keras dan temperamental. Sedikit ada masalah, emosinya tak terkendali. Kini semua sudah berubah. Dia menjadi sosok yang kalem. Berikut kisahnya yang diungkapkan pada wartawan Jawa Pos Radar Malang, Galih R. Praasetyo.

——————————–

Yusuf tampak tidak percaya diri. Beberapa kali dia menanyakan alasan Jawa Pos Radar Malang ingin wawancara tentang kisahnya menjadi seorang mualaf. Bagi dia, tidak ada yang spesial dari perjalanan spiritualnya. ”Saya takut kisah saya kurang menarik,” ujarnya.

Setelah diyakinkan, akhirnya, selang beberapa menit pria berusia 29 tahun itu mau bercerita. Perlahan-lahan dengan intonasi suara yang pelan Yusuf menjelaskan kalau tertariknya dia dengan Islam berawal dari rasa penasaran.

Saat umur 19 tahun, Yusuf punya rasa keingintahuan yang kuat terkait ibadah salat. Ada dua ibadah salat yang membuatnya penasaran. Pertama adalah salat Idul Fitri. Kedua, salat Jumat. Nah, dari ibadah yang terakhir itulah dia sedikit mengetahui bagaimana wajah Islam sebenarnya. ”Dari khotbah yang disampaikan pada salat Jumat itulah saya tumbuh rasa penasaran tentang Islam,” jelasnya.

Yusuf menggambarkan, khotbah yang mengena hatinya adalah saat khatib membahas Islam yang selalu menjunjung perdamaian. ”Ketika itu yang membuat hati saya bergetar adalah ketika orang yang ceramah (khotib) mengatakan: Islam itu merupakan agama penuh kasih dan penyayang,” kenangnya. Setelah itu, hatinya terus bergejolak. Raga dan pikirannya seperti didorong untuk belajar Islam.

Seiring waktu berjalan, dorongan untuk belajar Islam terus tumbuh dalam hatinya. Puncaknya adalah ketika momen Lebaran. Pria asal Jakarta itu mengaku kalau merasakan ketenteraman batin saat melihat orang pergi ke masjid untuk menjalankan salat Idul Fitri. ”Namun, saat itu saya tidak langsung percaya suasana itu. Setelah membuktikan sendiri dan mengkaji, ternyata benar, alam semesta seperti memberikan support kepada manusia yang tengah beribadah khusyuk pada Allah SWT,” jelas pria yang berprofesi sebagai pengusaha itu.

Dia terus mempelajari tentang Islam. Yusuf tidak hanya menemukan bagaimana magisnya salat, lebih jauh dia juga mengetahui bagaimana indah dan sempurnanya Islam. Sebab, segala sesuatunya ada aturan yang jelas di dalam Islam. Aturannya apabila dijalankan mampu membawa seseorang dalam kondisi kebaikan. Misalnya larangan minuman keras. Apabila ditelusuri, menurut Yusuf manfaatnya adalah untuk kesehatan. ”Mereka yang rajin menjalankan salat niscaya juga Allah SWT berikan kebugaran,” tuturnya.

Menurut dia, gerakan dalam salat bisa bermanfaat untuk kesehatan. Keindahan Islam itulah yang membuat Yusuf pada 2017 lalu akhirnya memeluk Islam. Pilihan tersebut ternyata mendapatkan dukungan dari saudaranya. Termasuk dari sang ibu yang sebelumnya merupakan seorang muslim.

Keluarga besarnya yang menjunjung tinggi kerukunan beragama membuat pilihannya tersebut tidak mendapatkan respons negatif. Keluarganya yang berbeda agama saling mendukung dan menghormati. ”Kami saling tenggang rasa dan mendukung keyakinan masing-masing,” paparnya.

Empat tahun menjadi mualaf, Yusuf mengaku kalau kehidupannya banyak sekali mengalami perubahan. Salah satu yang paling dirasakannya saat ini sudah bisa mengendalikan emosi. Padahal, sebelum menjadi mualaf, dia sosok yang kaku. Pemarah. Apabila ada sesuatu yang tidak disukai, dia gampang marah. ”Saya itu orangnya keras, Mas,” tuturnya.

Namun, dia melanjutkan, setelah masuk Islam, sifat-sifat tersebut hilang. Dia lebih tenang dan tidak mudah marah menghadapi sesuatu yang tidak pas. ”Karena Islam, saya jadi lebih baik dan sabar,” ungkap Yusuf.

Dia menyadari, kalau ada masalah, tidak harus diselesaikan dengan marah. Cukup curhat dengan Sang Pencipta, segala problem seperti perlahan-lahan diringankan dengan menemukan solusi-solusinya. ”Kendati tidak instan selesai, tapi perasaan dan pikiran jadi lebih tenang setelah curhat dengan Allah SWT,” terangnya.

Karena itulah, usai menjadi mualaf, masalah-masalah yang acap kali mendatanginya selalu dia hadapi tanpa rasa takut. Termasuk saat bisnis mengalami gejolak, Yusuf mengaku tetap tenang. Dirinya yakin segala sesuatu pasti ada jalannya asalkan seseorang itu benar-benar meminta kepada Zat yang Maha Segalanya, yakni Allah SWT.

Walaupun banyak kemudahan didapatkannya, Yusuf enggan untuk terlena. Dia mengakui saat ini terus belajar agama. Khususnya adalah memahami Alquran. Kenapa begitu? Karena menurut dia semua hal ada di bumi sudah tertulis dalam kitab suci tersebut. Jadi apabila ingin selamat dunia dan akhirat, maka pedoman atau petunjuknya adalah Alquran. (rmc/c1/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru