alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 23 January 2022

Dampak Erupsi, Akses Malang-Lumajang Putus Total

AKSES TUTUP TOTAL: Jembatan Gladak Perak di kawasan Pronojiwo, Lumajang, yang berbatasan dengan ampelgading, Kabupaten Malang ini putus total kemarin.

 

KABUPATEN- Tujuh kecamatan di wilayah Kabupaten Malang berselimut abu vulkanik sore kemarin (4/12/21). Ini dampak dari erupsi Gunung Semeru yang mengeluarkan awan panas sekitar pukul 15.20 kemarin. Tujuh kecamatan itu antara lain Ampelgading, Tirtoyudo, Bantur, Jabung, Poncokusumo, Wajak, dan Dampit. Namun, tidak semua desa di tujuh kecamatan itu yang terkena abu bercampur air tersebut. Dari tujuh kecamatan itu, Desa Taman Satrian, Kecamatan Tirtoyudo yang dikabarkan mengalami hujan abu cukup pekat. Lainnya masih terkena  abu yang tipis.

Belum ada laporan kerugian material dari warga Kabupaten Malang dampak dari erupsi. Namun warga tetap diminta waspada. Ini mengantisipasi jika sampai ada erupsi susulan yang lebih besar lagi.   Sebagai antisipasi, sejumlah warga di sekitar perbatasan Malang-Lumajang sudah ada yang mengungsi. Seperti warga di Pronojiwo yang bersebelahan dengan Ampelgading, Kabupaten Malang. Bahkan khusus warga yang tinggal di radius 1 km sampai 5 km dari Gunung Semeru tidak boleh melakukan aktivitas.

Kabid Kedaruratan logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono mengatakan dampak tidak langsung sudah mulai dirasakan daerah-daerah yang berdekatan dengan Lumajang. “Menurut laporan sementara yang masuk, daerah yang sudah terkena hujan abu ada tujuh kecamatan,” terang Sadono dihubungi petang kemarin.

Dia menambahkan, dampak abu vulkanik yang menimpa daerah-daerah tersebut tidak terjadi merata. Namun, hanya sebagian saja terutama wilayah yang berdekatan dengan perbatasan Lumajang. Pihaknya terus melakukan pantauan dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk antisipasi segala potensi yang bakal terjadi.

Berdasar data dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) pada Sabtu (4/12/2021), sebelum terjadinya erupsi tersebut, Gunung Semeru sudah dinyatakan gunung api dengan level waspada. Dari hasil analisis visual sebelumnya, asap kawah tidak teramati saat Gunung Semeru meletus. Serta, terjadi guguran lava dengan jarak luncur 500-800 meter, dengan pusat guguran 500 meter di bawah kawah. Sedangkan, dari analisis kegempaannya diketahui bahwa telah terjadi gempa vulkanik yang berkaitan dengan letusan, guguran dan hembusan asap kawah sebanyak 54 kali gempa letusan atau erupsi, 4 kali gempa guguran, dan 18 kali gempa hembusan. Sehingga, erupsi Gunung Semeru yang terjadi tersebut membuat masyarakat di sekitar kawasan tersebut panik. Mereka berlari menjauhi asap pekat yang disertai abu-abu dan kerikil besar semburan dari gunung, menuju ke tempat aman untuk mengungsi. Bahkan ada sejumlah warga yang tidak terselamatkan. Tubuhnya tersambar asap panas hingga tubuhnya ada yang terkena luka bakar.

Camat Tirtoyudo, Kabupaten Malang Joanico Da Costa menjelaskan secara umum wilayahnya cukup terkendali. Memang di sebagian desa kena semburan hujan abu. Namun tidak sampai parah. ”Hanya abu tipis saja. Kecuali daerah Taman Satrian dan Wonoagung abunya agak pekat,” ujarnya.

Dampak lain terjadi di Dampit. Salah satu warga Amadanom Winarto menjelaskan, di desanya sejak pukul 16.00 sudah ada hujan abu. Tidak terlalu parah namun cukup mengganggu. Khususnya bagi pengendara motor atau mobil. Terbukti, sejumlah kaca depan mobil yang melintas tertutup abu. Kondisi ini cukup membahayakan. Karena itu sebagian pengendara memilih menepi untuk menunggu hujan abu reda. ”Hujan abu itu lama-lama bisa mengganggu warga. Namun sejauh ini secara umum masih aman-aman saja,” ungkap Winarto.

Beda dengan di Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo. Di sana, sejak siang, udara tiba-tiba dingin. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Bahkan awan mulai menghitam agak pekat yang ditambahi dengan hujan abu. ”Tapi hujan abunya tidak terlalu pekat. Namun dinginnya yang tidak seperti biasanya,” ungkap Kades Pandansari Zainal Abidin.

 

 

Di wilayah Kecamatan Ampelgading juga masih terpantau aman. Warga tidak terlalu panik. Apalagi di kawasan tersebut juga cukup sering tersiram hujan abu dari Gunung Semeru. Namun begitu, Camat Ampelgading Achmad Sovie Nuralam meminta warganya untuk siaga. Sewaktu-waktu terjadi erupsi lebih besar, mereka harus siap melakukan evakuasi. Pihak kecamatan juga on call siaga penuh sembari terus berkoordinasi dengan pihak terkait. Ini semata untuk melakukan antisipasi terhadap kemungkinan terburuk. ”Saya sudah koordinasi dengan masyarakat agar terus waspada,” ujarnya.

Diketahui bahwa di Kabupaten Malang sendiri sejak pukul 15.00 terjadi hujan. Hingga pukul 19.00 hujan masih turun tapi dengan intensitas rendah. Hujan yang mengguyur wilayah Malang ini tidak lama kemudian disusul dengan erupsi Gunung Semeru. Warga yang tinggal di sekitar Semeru itu seketika panik dan berhamburan menjauh dari daerah terdampak.

AKSES TUTUP TOTAL: Jembatan Gladak Perak di kawasan Pronojiwo, Lumajang, yang berbatasan dengan ampelgading, Kabupaten Malang ini putus total kemarin.

 

KABUPATEN- Tujuh kecamatan di wilayah Kabupaten Malang berselimut abu vulkanik sore kemarin (4/12/21). Ini dampak dari erupsi Gunung Semeru yang mengeluarkan awan panas sekitar pukul 15.20 kemarin. Tujuh kecamatan itu antara lain Ampelgading, Tirtoyudo, Bantur, Jabung, Poncokusumo, Wajak, dan Dampit. Namun, tidak semua desa di tujuh kecamatan itu yang terkena abu bercampur air tersebut. Dari tujuh kecamatan itu, Desa Taman Satrian, Kecamatan Tirtoyudo yang dikabarkan mengalami hujan abu cukup pekat. Lainnya masih terkena  abu yang tipis.

Belum ada laporan kerugian material dari warga Kabupaten Malang dampak dari erupsi. Namun warga tetap diminta waspada. Ini mengantisipasi jika sampai ada erupsi susulan yang lebih besar lagi.   Sebagai antisipasi, sejumlah warga di sekitar perbatasan Malang-Lumajang sudah ada yang mengungsi. Seperti warga di Pronojiwo yang bersebelahan dengan Ampelgading, Kabupaten Malang. Bahkan khusus warga yang tinggal di radius 1 km sampai 5 km dari Gunung Semeru tidak boleh melakukan aktivitas.

Kabid Kedaruratan logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono mengatakan dampak tidak langsung sudah mulai dirasakan daerah-daerah yang berdekatan dengan Lumajang. “Menurut laporan sementara yang masuk, daerah yang sudah terkena hujan abu ada tujuh kecamatan,” terang Sadono dihubungi petang kemarin.

Dia menambahkan, dampak abu vulkanik yang menimpa daerah-daerah tersebut tidak terjadi merata. Namun, hanya sebagian saja terutama wilayah yang berdekatan dengan perbatasan Lumajang. Pihaknya terus melakukan pantauan dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk antisipasi segala potensi yang bakal terjadi.

Berdasar data dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) pada Sabtu (4/12/2021), sebelum terjadinya erupsi tersebut, Gunung Semeru sudah dinyatakan gunung api dengan level waspada. Dari hasil analisis visual sebelumnya, asap kawah tidak teramati saat Gunung Semeru meletus. Serta, terjadi guguran lava dengan jarak luncur 500-800 meter, dengan pusat guguran 500 meter di bawah kawah. Sedangkan, dari analisis kegempaannya diketahui bahwa telah terjadi gempa vulkanik yang berkaitan dengan letusan, guguran dan hembusan asap kawah sebanyak 54 kali gempa letusan atau erupsi, 4 kali gempa guguran, dan 18 kali gempa hembusan. Sehingga, erupsi Gunung Semeru yang terjadi tersebut membuat masyarakat di sekitar kawasan tersebut panik. Mereka berlari menjauhi asap pekat yang disertai abu-abu dan kerikil besar semburan dari gunung, menuju ke tempat aman untuk mengungsi. Bahkan ada sejumlah warga yang tidak terselamatkan. Tubuhnya tersambar asap panas hingga tubuhnya ada yang terkena luka bakar.

Camat Tirtoyudo, Kabupaten Malang Joanico Da Costa menjelaskan secara umum wilayahnya cukup terkendali. Memang di sebagian desa kena semburan hujan abu. Namun tidak sampai parah. ”Hanya abu tipis saja. Kecuali daerah Taman Satrian dan Wonoagung abunya agak pekat,” ujarnya.

Dampak lain terjadi di Dampit. Salah satu warga Amadanom Winarto menjelaskan, di desanya sejak pukul 16.00 sudah ada hujan abu. Tidak terlalu parah namun cukup mengganggu. Khususnya bagi pengendara motor atau mobil. Terbukti, sejumlah kaca depan mobil yang melintas tertutup abu. Kondisi ini cukup membahayakan. Karena itu sebagian pengendara memilih menepi untuk menunggu hujan abu reda. ”Hujan abu itu lama-lama bisa mengganggu warga. Namun sejauh ini secara umum masih aman-aman saja,” ungkap Winarto.

Beda dengan di Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo. Di sana, sejak siang, udara tiba-tiba dingin. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Bahkan awan mulai menghitam agak pekat yang ditambahi dengan hujan abu. ”Tapi hujan abunya tidak terlalu pekat. Namun dinginnya yang tidak seperti biasanya,” ungkap Kades Pandansari Zainal Abidin.

 

 

Di wilayah Kecamatan Ampelgading juga masih terpantau aman. Warga tidak terlalu panik. Apalagi di kawasan tersebut juga cukup sering tersiram hujan abu dari Gunung Semeru. Namun begitu, Camat Ampelgading Achmad Sovie Nuralam meminta warganya untuk siaga. Sewaktu-waktu terjadi erupsi lebih besar, mereka harus siap melakukan evakuasi. Pihak kecamatan juga on call siaga penuh sembari terus berkoordinasi dengan pihak terkait. Ini semata untuk melakukan antisipasi terhadap kemungkinan terburuk. ”Saya sudah koordinasi dengan masyarakat agar terus waspada,” ujarnya.

Diketahui bahwa di Kabupaten Malang sendiri sejak pukul 15.00 terjadi hujan. Hingga pukul 19.00 hujan masih turun tapi dengan intensitas rendah. Hujan yang mengguyur wilayah Malang ini tidak lama kemudian disusul dengan erupsi Gunung Semeru. Warga yang tinggal di sekitar Semeru itu seketika panik dan berhamburan menjauh dari daerah terdampak.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru