alexametrics
30.7 C
Malang
Wednesday, 25 May 2022

Duh, Anak Bunuh Bapak Kandung di Dampit Malang setelah Depresi Tujuh Tahun

KABUPATEN – Tragis. Seorang pria berusia 65 tahun tewas akibat kebrutalan anak kandungnya di Dusun Krajan, Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, kemarin (5/1). Pria bernama Suradi itu mengembuskan napas terakhir setelah terluka parah di bagian leher dan pundak akibat sabetan celurit Hudi Cahyono, anaknya sendiri yang berusia 38 tahun.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 07.00 itu berlangsung sangat cepat. Hudi yang diketahui mengalami depresi sejak tujuh tahun lalu, tiba-tiba saja mengamuk. Dia menyerang ayahnya menggunakan celurit. Ponimi, kakak perempuan Hudi sempat berusaha menolong ayahnya. Namun perempuan berusia 48 tahun itu malah terkena sabetan celurit di tangannya. Ponimi pun lari untuk menyelamatkan diri.

Sejumlah warga yang mendengar keributan itu langsung mendatangi lokasi. Salah satunya adalah Kepala Urusan Umum Desa Jambangan Sabar Santoso. ”Waktu saya datang pertama kali menggunakan sepeda motor, Pak Suradi masih bernapas. Dia kami pindahkan ke rumah anaknya yang berada di sekitar lokasi kejadian,” ujar Sabar. Namun saat Sabar kembali dengan membawa ambulans, Suradi sudah meninggal dunia.

Bersama warga dan perangkat desa, Sabar akhirnya berhasil meringkus Hudi yang masih dalam kondisi emosi. Pria kekar dan berambut gondrong itu pun diikat menggunakan tali tampar sambil menunggu polisi datang. ”Kami takut membahayakan orang lain dan menjadi bulan-bulanan massa. Waktu polisi datang langsung saya minta dibawa ke Polsek Dampit,” imbuh Sabar.

Terkait kondisi Hudi yang depresi juga diakui Marsim, saudara ipar Suradi. Pria 56 tahun itu menyebut Hudi mengalami gangguan mental sejak tujuh tahun belakangan. ”Penyebabnya karena masalah ekonomi. Kemudian istrinya menggugat cerai dan pergi bekerja ke Hongkong,” kata Marsim saat dijumpai di kamar mayat Rumah Sakit dr Saiful Anwar, Rabu (5/1).

Marsim pula yang ikut mengamankan Hudi dengan cara mengikat kaki dan tangannya agar tidak menimbulkan kekacauan lebih parah. Namun upaya itu tidak mudah. Karena memiliki badan besar dan berotot,  Hudi berhasil memutus tali yang mengikatnya dengan  mudah. Butuh waktu sekitar setengah jam bagi Marsim dan warga untuk menaklukkan Hudi. Itu pun setelah pelaku dipukul dengan kayu di bagian leher dan kakinya.

Sebelumnya, Hudi sempat bekerja sebagai pegawai leasing. Namun sejak peristiwa yang membuatnya depresi pada 2015 lalu, dia tidak lagi bekerja dan hanya tinggal di rumah orang tuanya. Karena ibu Hudi sudah meninggal dunia, dia akhirnya dirawat oleh Suradi dan Ponimi.

Menurut Marsim, kegiatan sehari-hari Suradi adalah mencari pakan untuk  ternak sapi yang dipeliharanya. Beberapa waktu lalu, salah satu sapi miliknya dijual untuk biaya renovasi rumah.  Sementara rumahnya diperbaiki, Hudi disuruh tinggal di rumah tetangga.

Proses perbaikan rumah Suradi sudah berjalan sejak 10 hari. Selama itu pula, Hudi semakin sering mengamuk. ”Tiga hari sebelum kejadian, Hudi sempat mengancam pemilik rumah yang dia tempati menggunakan senjata tajam,” imbuh Marsim. (iik/biy/fat)

 

 

KABUPATEN – Tragis. Seorang pria berusia 65 tahun tewas akibat kebrutalan anak kandungnya di Dusun Krajan, Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, kemarin (5/1). Pria bernama Suradi itu mengembuskan napas terakhir setelah terluka parah di bagian leher dan pundak akibat sabetan celurit Hudi Cahyono, anaknya sendiri yang berusia 38 tahun.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 07.00 itu berlangsung sangat cepat. Hudi yang diketahui mengalami depresi sejak tujuh tahun lalu, tiba-tiba saja mengamuk. Dia menyerang ayahnya menggunakan celurit. Ponimi, kakak perempuan Hudi sempat berusaha menolong ayahnya. Namun perempuan berusia 48 tahun itu malah terkena sabetan celurit di tangannya. Ponimi pun lari untuk menyelamatkan diri.

Sejumlah warga yang mendengar keributan itu langsung mendatangi lokasi. Salah satunya adalah Kepala Urusan Umum Desa Jambangan Sabar Santoso. ”Waktu saya datang pertama kali menggunakan sepeda motor, Pak Suradi masih bernapas. Dia kami pindahkan ke rumah anaknya yang berada di sekitar lokasi kejadian,” ujar Sabar. Namun saat Sabar kembali dengan membawa ambulans, Suradi sudah meninggal dunia.

Bersama warga dan perangkat desa, Sabar akhirnya berhasil meringkus Hudi yang masih dalam kondisi emosi. Pria kekar dan berambut gondrong itu pun diikat menggunakan tali tampar sambil menunggu polisi datang. ”Kami takut membahayakan orang lain dan menjadi bulan-bulanan massa. Waktu polisi datang langsung saya minta dibawa ke Polsek Dampit,” imbuh Sabar.

Terkait kondisi Hudi yang depresi juga diakui Marsim, saudara ipar Suradi. Pria 56 tahun itu menyebut Hudi mengalami gangguan mental sejak tujuh tahun belakangan. ”Penyebabnya karena masalah ekonomi. Kemudian istrinya menggugat cerai dan pergi bekerja ke Hongkong,” kata Marsim saat dijumpai di kamar mayat Rumah Sakit dr Saiful Anwar, Rabu (5/1).

Marsim pula yang ikut mengamankan Hudi dengan cara mengikat kaki dan tangannya agar tidak menimbulkan kekacauan lebih parah. Namun upaya itu tidak mudah. Karena memiliki badan besar dan berotot,  Hudi berhasil memutus tali yang mengikatnya dengan  mudah. Butuh waktu sekitar setengah jam bagi Marsim dan warga untuk menaklukkan Hudi. Itu pun setelah pelaku dipukul dengan kayu di bagian leher dan kakinya.

Sebelumnya, Hudi sempat bekerja sebagai pegawai leasing. Namun sejak peristiwa yang membuatnya depresi pada 2015 lalu, dia tidak lagi bekerja dan hanya tinggal di rumah orang tuanya. Karena ibu Hudi sudah meninggal dunia, dia akhirnya dirawat oleh Suradi dan Ponimi.

Menurut Marsim, kegiatan sehari-hari Suradi adalah mencari pakan untuk  ternak sapi yang dipeliharanya. Beberapa waktu lalu, salah satu sapi miliknya dijual untuk biaya renovasi rumah.  Sementara rumahnya diperbaiki, Hudi disuruh tinggal di rumah tetangga.

Proses perbaikan rumah Suradi sudah berjalan sejak 10 hari. Selama itu pula, Hudi semakin sering mengamuk. ”Tiga hari sebelum kejadian, Hudi sempat mengancam pemilik rumah yang dia tempati menggunakan senjata tajam,” imbuh Marsim. (iik/biy/fat)

 

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/