alexametrics
25.9 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Konsumsi Listrik Warga Malang Meningkat. Pertanda Ekonominya Mulai Menggeliat

MALANG KOTA – Tanda-tanda kegiatan ekonomi Kota Malang menggeliat dapat dilihat dari peningkatan jumlah konsumsi listrik. Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) PLN Malang mencatat ada kenaikan penggunaan litrik pada Januari 2022 jika dibandingkan tahun lalu.

Di Januari lalu, konsumsi listrik mencapai 222,84 gigatwatt hour (GWh) dengan growth atau pertumbuhan GWh sebesar 4,71 persen. Angka growth itu meningkat drastis dari periode yang sama tahun lalu yakni -2,79 persen. “Kondisi ini dipengaruhi kegiatan ekonomi yang kembali berangsur normal setelah ada pembatasan-pembatasan di tahun 2021,” ujar Manager UP3 PLN Malang Krisantus H Setyawan Rabu (2/3) lalu.

Untuk semakin mendorong pemulihan ekonomi di tengah pandemi Kota Malang, melalui pernyataan Kris, UP3 PLN Malang ikut mensukseskan program nasional berupa pemberian stimulus bagi pelanggan sesuai dengan kebijakan pemerintah. Selain itu juga turut aktif mempromosikan program promo Tambah Daya. “Dengan harapan konsumsi energi listrik di masyarakat bisa bertambah. Serta berbagai kemudahan layanan yang didapat melalui aplikasi PLN Mobile,” ujar mantan kepala UP3 Banyuwangi ini.

Kenaikan konsumsi listrik di Kota Malang ini rupanya menarik perhatian pengamat makro ekonomi Joko Budi Santoso SE ME. Kepada Radar Malang, Joko mengamini bahwa pergerakan energi linear dengan pertumbuhan ekonomi. “Sebab energi dibutuhkan dalam proses produksi barang dan jasa,” imbuh Joko. Lebih lanjut peneliti senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) itu menjelaskan bahwa meningkatnya konsumsi listrik mengindikasikan aktivitas perekonomian yang meningkat pula. “Itu berarti sektor industri mulai bergerak kembali. Khususnya industri sedang dan besar,” kata Joko.

Dosen FEB UB itu menambahkan, bahwa konsumsi listrik rumah tangga juga erat kaitannya dengan geliat usaha mikro dan industri mikro. Hal itu dikarenakan listrik bagi usaha mikro maupun industri mikro pada umumnya menyatu dengan konsumsi listrik rumah tangga. Misalnya untuk kebutuhan harian seperti lampu, memasak, setrika, mencuci dan lain-lain.

Menurut pemaparan Joko, teori tersebut pada umumnya akan berlaku pada negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Sedangkan negara maju pada umumnya akan mengurangi konsumsi listrik karena kemajuan teknologi dan kebijakan go green yang lebih efisien penggunaan energi listrik untuk industri dan rumah tangga. “Harapannya daya beli ikut meningkat sehingga lebih memacu perekonomian Kota Malang,” pungkas Joko.

Pewarta: Mita Berliana

 

MALANG KOTA – Tanda-tanda kegiatan ekonomi Kota Malang menggeliat dapat dilihat dari peningkatan jumlah konsumsi listrik. Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) PLN Malang mencatat ada kenaikan penggunaan litrik pada Januari 2022 jika dibandingkan tahun lalu.

Di Januari lalu, konsumsi listrik mencapai 222,84 gigatwatt hour (GWh) dengan growth atau pertumbuhan GWh sebesar 4,71 persen. Angka growth itu meningkat drastis dari periode yang sama tahun lalu yakni -2,79 persen. “Kondisi ini dipengaruhi kegiatan ekonomi yang kembali berangsur normal setelah ada pembatasan-pembatasan di tahun 2021,” ujar Manager UP3 PLN Malang Krisantus H Setyawan Rabu (2/3) lalu.

Untuk semakin mendorong pemulihan ekonomi di tengah pandemi Kota Malang, melalui pernyataan Kris, UP3 PLN Malang ikut mensukseskan program nasional berupa pemberian stimulus bagi pelanggan sesuai dengan kebijakan pemerintah. Selain itu juga turut aktif mempromosikan program promo Tambah Daya. “Dengan harapan konsumsi energi listrik di masyarakat bisa bertambah. Serta berbagai kemudahan layanan yang didapat melalui aplikasi PLN Mobile,” ujar mantan kepala UP3 Banyuwangi ini.

Kenaikan konsumsi listrik di Kota Malang ini rupanya menarik perhatian pengamat makro ekonomi Joko Budi Santoso SE ME. Kepada Radar Malang, Joko mengamini bahwa pergerakan energi linear dengan pertumbuhan ekonomi. “Sebab energi dibutuhkan dalam proses produksi barang dan jasa,” imbuh Joko. Lebih lanjut peneliti senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) itu menjelaskan bahwa meningkatnya konsumsi listrik mengindikasikan aktivitas perekonomian yang meningkat pula. “Itu berarti sektor industri mulai bergerak kembali. Khususnya industri sedang dan besar,” kata Joko.

Dosen FEB UB itu menambahkan, bahwa konsumsi listrik rumah tangga juga erat kaitannya dengan geliat usaha mikro dan industri mikro. Hal itu dikarenakan listrik bagi usaha mikro maupun industri mikro pada umumnya menyatu dengan konsumsi listrik rumah tangga. Misalnya untuk kebutuhan harian seperti lampu, memasak, setrika, mencuci dan lain-lain.

Menurut pemaparan Joko, teori tersebut pada umumnya akan berlaku pada negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Sedangkan negara maju pada umumnya akan mengurangi konsumsi listrik karena kemajuan teknologi dan kebijakan go green yang lebih efisien penggunaan energi listrik untuk industri dan rumah tangga. “Harapannya daya beli ikut meningkat sehingga lebih memacu perekonomian Kota Malang,” pungkas Joko.

Pewarta: Mita Berliana

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/