alexametrics
21.9 C
Malang
Thursday, 26 May 2022

Di Dukuh Ampelsari, Umat Hindu Ikut Bangun Musala yang Muslim Bantu Bikin Pura

LIPUTAN KHUSUS RAMADAN 1443 H

Area pemakaman di Dukuh Ampelsari, Desa Sidorahayu, tampak bersih. Tidak banyak ilalang tumbuh. Bahkan tidak terlihat ranting pohon berserakan. Itu karena tiga hari lalu, warga dukuh tersebut telah kerja bakti membersihkan area pemakaman.

Aktivitas itu salah satu agenda rutin menjelang Ramadan. Menariknya, umat Hindu yang menjadi warga mayoritas juga aktif kerja bakti demi menghormati bulan suci umat Islam tersebut. Ya, begitulah salah satu bentuk toleransi yang ditunjukkan warga Ampelsari. Meski berbeda agama, namun urusan toleransi mereka sangat menjunjung tinggi.

Termasuk pendirian Pura Satya Graha Bakti sejak 50 tahun silam dan pembangunan Musala Nurul Iman, itu juga hasil kerja bersama warga beda agama. Ketua takmir Musala Nurul Iman Suliyanto, 52, saat ditemui di rumahnya menceritakan, kerukunan dengan umat Hindu diibaratkan nasi dan lauk yang tidak bisa dipisahkan. Saling melengkapi.

Rumah ibadah umat Islam di Dukuh Ampelsari itu dibangun bergotong royong dengan umat Hindu. ”Alhamdulillah harmonisasi kami sudah tertanam sejak lama. Kami saling membantu jika orang Hindu mengalami kesusahan,” katanya. Sebaliknya pendirian peribadatan umat Hindu, imbuh dia, umat Islam pun juga ikut bahu-membahu dalam membangun Pura Satya Graha Bakti itu.

Bahkan, jika ada orang Hindu meninggal dunia, yang menginformasikan kepada para warga di dukuh tersebut adalah orang Islam dengan menggunakan speaker di Musala Nurul Iman. Setelah menginformasikan menggunakan media speaker itu, umat Islam berbondong-bondong membawa terop kemudian dipakai selama proses kegiatan berlangsung. “Agar tersebar kepada masyarakat, Umat Hindu meminta untuk diumumkan menggunakan pengeras suara musala,” ungkapnya.

Selama bulan suci Ramadan ini, umat Islam tetap menjalankan rutinitas pada umumnya. Mulai dari tadarus, tarawih, hingga membangunkan sahur menggunakan pengeras suara. Kegiatan tadarus itu terbagi menjadi tiga bagian. Yaitu mulai dari orang dewasa, anak-anak, dan tadarus bagi kaum ibu-ibu. Untuk anak-anak sendiri dimulai dari Salat Asar hingga menjelang Magrib. Untuk orang dewasa terkhusus kaum pria sendiri dimulai setelah Tarawih.

Sedangkan untuk ibu-ibu, dimulai setelah Salat Subuh. “Biasanya ada pengajiannya. Tetapi untuk bulan suci ini kami belum mengagendakan,” tuturnya. Di tengah kerentanan usianya, Suliyanto masih rutin mengajarkan anak-anak megaji. Sebelum bulan Ramadan ini, Suliyanto mengajari membaca Al-Qur’an sampai hari ini. Terlihat sehabis Salat Asar, di Musala Nurul Iman dipadati puluhan anak-anak hasil didikannya mengaji di sana.

Meski mayoritas umat Hindu, mereka tidak pernah melarang soal ibadah muslim. Contohnya soal toa. Umat Islam menggunakan toa saat tadarus, umat Hindu tidak merasa terusik. Pun sebaliknya. Jika umat Hindu melakukan peribadatan, umat Islam menjalankan aktivitas seperti biasanya. Namun, untuk menjaga toleransi, selama bulan suci ini, kegiatan mengaji hanya berlangsung maksimal jam 21.00 WIB. ”Lewat dari jam 21.00, kami tidak menggunakan speaker,” katanya.

Pemangku Pura Satya Graha Bakti Sardi menceritakan, selama 50 tahun lebih hidup berdampingan dengan umat Islam, kerukunan dan kekeluargaan sudah tertanam. Umat Hindu dan Islam hidup rukun dan damai. Terlihat jika umat Hindu membutuhkan terop, umat Islam membawakannya. “Jika umat Hindu yang meninggal, umat Islam membantu. Kami merasa terbantu dan senang tinggal di desa ini,” katanya.

Sebagai bentuk penghargaan kepada umat Islam, umat Hindu akan mengagendakan buka puasa bersama di jam yang tidak ditentukan. Sardi akan mengajak umat Hindu untuk berkumpul bersama sebagai wujud kebersamaan guna menghormati muslim yang berpuasa. “Nanti kami akan agendakan buka puasa bersama. Kemarin sudah bersih-bersih makam, nanti buka puasa bersama,” tutupnya. (abm)

LIPUTAN KHUSUS RAMADAN 1443 H

Area pemakaman di Dukuh Ampelsari, Desa Sidorahayu, tampak bersih. Tidak banyak ilalang tumbuh. Bahkan tidak terlihat ranting pohon berserakan. Itu karena tiga hari lalu, warga dukuh tersebut telah kerja bakti membersihkan area pemakaman.

Aktivitas itu salah satu agenda rutin menjelang Ramadan. Menariknya, umat Hindu yang menjadi warga mayoritas juga aktif kerja bakti demi menghormati bulan suci umat Islam tersebut. Ya, begitulah salah satu bentuk toleransi yang ditunjukkan warga Ampelsari. Meski berbeda agama, namun urusan toleransi mereka sangat menjunjung tinggi.

Termasuk pendirian Pura Satya Graha Bakti sejak 50 tahun silam dan pembangunan Musala Nurul Iman, itu juga hasil kerja bersama warga beda agama. Ketua takmir Musala Nurul Iman Suliyanto, 52, saat ditemui di rumahnya menceritakan, kerukunan dengan umat Hindu diibaratkan nasi dan lauk yang tidak bisa dipisahkan. Saling melengkapi.

Rumah ibadah umat Islam di Dukuh Ampelsari itu dibangun bergotong royong dengan umat Hindu. ”Alhamdulillah harmonisasi kami sudah tertanam sejak lama. Kami saling membantu jika orang Hindu mengalami kesusahan,” katanya. Sebaliknya pendirian peribadatan umat Hindu, imbuh dia, umat Islam pun juga ikut bahu-membahu dalam membangun Pura Satya Graha Bakti itu.

Bahkan, jika ada orang Hindu meninggal dunia, yang menginformasikan kepada para warga di dukuh tersebut adalah orang Islam dengan menggunakan speaker di Musala Nurul Iman. Setelah menginformasikan menggunakan media speaker itu, umat Islam berbondong-bondong membawa terop kemudian dipakai selama proses kegiatan berlangsung. “Agar tersebar kepada masyarakat, Umat Hindu meminta untuk diumumkan menggunakan pengeras suara musala,” ungkapnya.

Selama bulan suci Ramadan ini, umat Islam tetap menjalankan rutinitas pada umumnya. Mulai dari tadarus, tarawih, hingga membangunkan sahur menggunakan pengeras suara. Kegiatan tadarus itu terbagi menjadi tiga bagian. Yaitu mulai dari orang dewasa, anak-anak, dan tadarus bagi kaum ibu-ibu. Untuk anak-anak sendiri dimulai dari Salat Asar hingga menjelang Magrib. Untuk orang dewasa terkhusus kaum pria sendiri dimulai setelah Tarawih.

Sedangkan untuk ibu-ibu, dimulai setelah Salat Subuh. “Biasanya ada pengajiannya. Tetapi untuk bulan suci ini kami belum mengagendakan,” tuturnya. Di tengah kerentanan usianya, Suliyanto masih rutin mengajarkan anak-anak megaji. Sebelum bulan Ramadan ini, Suliyanto mengajari membaca Al-Qur’an sampai hari ini. Terlihat sehabis Salat Asar, di Musala Nurul Iman dipadati puluhan anak-anak hasil didikannya mengaji di sana.

Meski mayoritas umat Hindu, mereka tidak pernah melarang soal ibadah muslim. Contohnya soal toa. Umat Islam menggunakan toa saat tadarus, umat Hindu tidak merasa terusik. Pun sebaliknya. Jika umat Hindu melakukan peribadatan, umat Islam menjalankan aktivitas seperti biasanya. Namun, untuk menjaga toleransi, selama bulan suci ini, kegiatan mengaji hanya berlangsung maksimal jam 21.00 WIB. ”Lewat dari jam 21.00, kami tidak menggunakan speaker,” katanya.

Pemangku Pura Satya Graha Bakti Sardi menceritakan, selama 50 tahun lebih hidup berdampingan dengan umat Islam, kerukunan dan kekeluargaan sudah tertanam. Umat Hindu dan Islam hidup rukun dan damai. Terlihat jika umat Hindu membutuhkan terop, umat Islam membawakannya. “Jika umat Hindu yang meninggal, umat Islam membantu. Kami merasa terbantu dan senang tinggal di desa ini,” katanya.

Sebagai bentuk penghargaan kepada umat Islam, umat Hindu akan mengagendakan buka puasa bersama di jam yang tidak ditentukan. Sardi akan mengajak umat Hindu untuk berkumpul bersama sebagai wujud kebersamaan guna menghormati muslim yang berpuasa. “Nanti kami akan agendakan buka puasa bersama. Kemarin sudah bersih-bersih makam, nanti buka puasa bersama,” tutupnya. (abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/