alexametrics
27.1 C
Malang
Sunday, 29 May 2022

Ketegaran Yuniati, Tunadaksa yang Membesarkan Anak Berkebutuhan Khusus

SOSOK

SEJAK kecil Yuniati sudah akrab dengan cobaan. Di usia tiga tahun, dia mengalami sakit panas dan diduga mendapat penanganan yang salah. Suntikan yang diberikan dokter malah membuatnya mengalami kelainan pada kaki. Setahun kemudian kakinya semakin mengecil dan tidak bisa berjalan normal. Kondisi itu berlangsung hingga dia dewasa.

Pada 2003, Yuniati bertemu Bambang Nuryadi. Pria asal Kebalen itu memiliki keterbatasan pendengaran atau tunarungu. Mereka kemudian menikah karena perjodohan yang disusun oleh saudara kandung Yuniati. Satu tahun kemudian, keduanya dikaruniai seorang putri yang juga berkebutuhan khusus. Anisa Fadila Rahma Sari, demikian Yuniati dan Bambang memberi nama putri tunggal mereka.

Ketika lahir pada 2004, kondisinya normal dengan berat badan 26 kg dan panjang 48 cm. Hanya saja, di usia satu bulan, badan Anisa sempat berwarna kuning. Para kerabat pun sempat berkomentar jika Anisa kurang dijemur serta kurang mengonsumsi susu. Padahal, dua hal tersebut sudah diupayakan secara maksimal oleh Yuniati

“Akhirnya, saya konsultasi ke bidan tempat saya melahirkan. Oleh bidan, saya dirujuk ke salah satu dokter spesialis anak. Kata dokter tersebut, anak saya memiliki kelainan, tapi tidak bilang jenis kelainannya. Hanya perkembangannya lambat,” cerita Yuniati. Sempat merasa tenang, Yuniati kemudian kembali dibuat khawatir karena Anisa sempat batuk-batuk berdahak tiada henti. Ia pun membawa Anisa ke rumah sakit yang tak jauh dari tempat mereka tinggal. Dari hasil pemeriksaan, dokter rumah sakit mendiagnosis Anisa menderita down syndrome tingkat tinggi.

Namun, karena tidak memiliki biaya dan dilarang keluarga, Yuniati tak membawa Anisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut. ”Oleh salah satu keluarga yang mengantar periksa, pada waktu itu dibilang, wong anak sehat kok disuruh opname. Akhirnya, saya nurut saja sama dia dan memutuskan untuk kembali berkonsultasi ke dokter yang pertama, karena dokternya meyakinkan saya kalau Anisa tidak apa-apa,” terang wanita asal Makassar itu. Apa boleh dikata, perkataan dokter tersebut terbukti.

Perkembangan sang putri memang lambat. Anisa baru bisa berjalan saat berumur 2,5 tahun dengan bantuan benda-benda di sekelilingnya. Seiring berjalannya waktu, Anisa akhirnya bisa berjalan tanpa alat bantu. Hanya saja, kondisinya tidak mengalami perubahan. Misalnya, mengambil barang dengan mulut layaknya seekor kucing, acuh tak acuh jika diajak berkomunikasi oleh orang asing, asyik dalam dunianya sendiri, hingga kerap mengamuk atau melempar barang. Yuniati memutuskan untuk mendaftarkan Anisa ke TK yang ada di SLB negeri di Kedungkandang.

Sejak menerima pendidikan, dirinya merasakan perubahan sikap pada diri Anisa yang saat itu berusia enam tahun. Lebih tenang dan bisa diatur. Namun dua tahun setelahnya, Yuniati mendapat cobaan. Sang ibu mengalami sakit parah dan komplikasi, sehingga membuat perhatiannya terbelah antara sang suami, Anisa, maupun ibunya. ”Pendidikan Anisa terpaksa saya hentikan. Waktu saya banyak tersita untuk mengurus ibu, sehingga tidak bisa mengantar Anisa ke sekolah,” ujarnya.

Saat berhenti sekolah itu, Anisa kembali ke perilaku semula yang cenderung agresif atau hiperaktif. Kondisi itu berlangsung selama sekitar tujuh bulan. Anisa akhirnya bisa sekolah lagi setelah neneknya dibawa ke Makassar oleh kerabat Yuniati. Di masa kecil Anisa, Yuniati juga harus bersabar menerima cibiran atau omongan tidak mengenakkan dari orang lain. Saat pergi keluar rumah, ada saja yang menertawakan, bahkan menyebut Anisa gila. ”Padahal, dia enggak gila. Hanya kondisinya saja yang berbeda. Cuma ya sudah sabar, orang lain tidak merasakan,” ungkapnya sembari terisak.

Terlebih, saat Anisa beranjak remaja dan mengalami datang bulan. Sikapnya menjadi lebih agresif. Selain itu, sejak pandemi melanda, kegiatan pendidikan di SLB yang berlangsung secara daring menjadi tantangan bagi Yuniati. Ia harus bolak-balik mengambil atau mengumpulkan tugas milik Anisa. Karena tidak punya kendaraan, angkot menjadi satu-satunya alat transportasi untuk pergi ke sekolah Anisa. Cukup merepotkan sebagai penyandang tunadaksa.

Di sisi lain, sebagai ibu, Yuniati juga harus pintar-pintar mengatur perekonomian keluarganya. Disamping mengandalkan bantuan dari pemerintah dan santunan dari yayasan tempat Anisa bersekolah, perekonomian keluarga hanya ditunjang dengan penghasilan suami yang bekerja sebagai pegawai bengkel. ”Penghasilan suami hanya 250.000 setiap minggu. Untungnya, lingkungan kerja suami tidak terlalu mempermasalahkan kekurangannya,” terangnya. Dengan segala keterbatasan keluarganya, Yuniati mengaku tetap berusaha untuk bersyukur. Namun ada satu hal yang terus mengusik pikirannya. Yakni kehidupan Anisa di masa mendatang. ”Sekarang saya hanya bisa berdoa agar bisa mendampingi Anisa sampai kapan pun,” ujarnya. (*/fat)

 

SOSOK

SEJAK kecil Yuniati sudah akrab dengan cobaan. Di usia tiga tahun, dia mengalami sakit panas dan diduga mendapat penanganan yang salah. Suntikan yang diberikan dokter malah membuatnya mengalami kelainan pada kaki. Setahun kemudian kakinya semakin mengecil dan tidak bisa berjalan normal. Kondisi itu berlangsung hingga dia dewasa.

Pada 2003, Yuniati bertemu Bambang Nuryadi. Pria asal Kebalen itu memiliki keterbatasan pendengaran atau tunarungu. Mereka kemudian menikah karena perjodohan yang disusun oleh saudara kandung Yuniati. Satu tahun kemudian, keduanya dikaruniai seorang putri yang juga berkebutuhan khusus. Anisa Fadila Rahma Sari, demikian Yuniati dan Bambang memberi nama putri tunggal mereka.

Ketika lahir pada 2004, kondisinya normal dengan berat badan 26 kg dan panjang 48 cm. Hanya saja, di usia satu bulan, badan Anisa sempat berwarna kuning. Para kerabat pun sempat berkomentar jika Anisa kurang dijemur serta kurang mengonsumsi susu. Padahal, dua hal tersebut sudah diupayakan secara maksimal oleh Yuniati

“Akhirnya, saya konsultasi ke bidan tempat saya melahirkan. Oleh bidan, saya dirujuk ke salah satu dokter spesialis anak. Kata dokter tersebut, anak saya memiliki kelainan, tapi tidak bilang jenis kelainannya. Hanya perkembangannya lambat,” cerita Yuniati. Sempat merasa tenang, Yuniati kemudian kembali dibuat khawatir karena Anisa sempat batuk-batuk berdahak tiada henti. Ia pun membawa Anisa ke rumah sakit yang tak jauh dari tempat mereka tinggal. Dari hasil pemeriksaan, dokter rumah sakit mendiagnosis Anisa menderita down syndrome tingkat tinggi.

Namun, karena tidak memiliki biaya dan dilarang keluarga, Yuniati tak membawa Anisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut. ”Oleh salah satu keluarga yang mengantar periksa, pada waktu itu dibilang, wong anak sehat kok disuruh opname. Akhirnya, saya nurut saja sama dia dan memutuskan untuk kembali berkonsultasi ke dokter yang pertama, karena dokternya meyakinkan saya kalau Anisa tidak apa-apa,” terang wanita asal Makassar itu. Apa boleh dikata, perkataan dokter tersebut terbukti.

Perkembangan sang putri memang lambat. Anisa baru bisa berjalan saat berumur 2,5 tahun dengan bantuan benda-benda di sekelilingnya. Seiring berjalannya waktu, Anisa akhirnya bisa berjalan tanpa alat bantu. Hanya saja, kondisinya tidak mengalami perubahan. Misalnya, mengambil barang dengan mulut layaknya seekor kucing, acuh tak acuh jika diajak berkomunikasi oleh orang asing, asyik dalam dunianya sendiri, hingga kerap mengamuk atau melempar barang. Yuniati memutuskan untuk mendaftarkan Anisa ke TK yang ada di SLB negeri di Kedungkandang.

Sejak menerima pendidikan, dirinya merasakan perubahan sikap pada diri Anisa yang saat itu berusia enam tahun. Lebih tenang dan bisa diatur. Namun dua tahun setelahnya, Yuniati mendapat cobaan. Sang ibu mengalami sakit parah dan komplikasi, sehingga membuat perhatiannya terbelah antara sang suami, Anisa, maupun ibunya. ”Pendidikan Anisa terpaksa saya hentikan. Waktu saya banyak tersita untuk mengurus ibu, sehingga tidak bisa mengantar Anisa ke sekolah,” ujarnya.

Saat berhenti sekolah itu, Anisa kembali ke perilaku semula yang cenderung agresif atau hiperaktif. Kondisi itu berlangsung selama sekitar tujuh bulan. Anisa akhirnya bisa sekolah lagi setelah neneknya dibawa ke Makassar oleh kerabat Yuniati. Di masa kecil Anisa, Yuniati juga harus bersabar menerima cibiran atau omongan tidak mengenakkan dari orang lain. Saat pergi keluar rumah, ada saja yang menertawakan, bahkan menyebut Anisa gila. ”Padahal, dia enggak gila. Hanya kondisinya saja yang berbeda. Cuma ya sudah sabar, orang lain tidak merasakan,” ungkapnya sembari terisak.

Terlebih, saat Anisa beranjak remaja dan mengalami datang bulan. Sikapnya menjadi lebih agresif. Selain itu, sejak pandemi melanda, kegiatan pendidikan di SLB yang berlangsung secara daring menjadi tantangan bagi Yuniati. Ia harus bolak-balik mengambil atau mengumpulkan tugas milik Anisa. Karena tidak punya kendaraan, angkot menjadi satu-satunya alat transportasi untuk pergi ke sekolah Anisa. Cukup merepotkan sebagai penyandang tunadaksa.

Di sisi lain, sebagai ibu, Yuniati juga harus pintar-pintar mengatur perekonomian keluarganya. Disamping mengandalkan bantuan dari pemerintah dan santunan dari yayasan tempat Anisa bersekolah, perekonomian keluarga hanya ditunjang dengan penghasilan suami yang bekerja sebagai pegawai bengkel. ”Penghasilan suami hanya 250.000 setiap minggu. Untungnya, lingkungan kerja suami tidak terlalu mempermasalahkan kekurangannya,” terangnya. Dengan segala keterbatasan keluarganya, Yuniati mengaku tetap berusaha untuk bersyukur. Namun ada satu hal yang terus mengusik pikirannya. Yakni kehidupan Anisa di masa mendatang. ”Sekarang saya hanya bisa berdoa agar bisa mendampingi Anisa sampai kapan pun,” ujarnya. (*/fat)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/