alexametrics
32C
Malang
Friday, 23 April 2021

Tagih Janji Pak Wali, Jadi Alasan Aremania MMGA Lempar ’Surat Cinta’

MALANG KOTA – Barangkali ini cara lain yang bisa dilakukan oknum Aremania ketika sejumlah pintu mewujudkan satu Arema yang diidamkan menemui jalan buntu. Yakni dengan mengintimidasi Wali Kota Malang Sutiaji. Caranya pun bisa dibilang kreatif. Melempar puluhan pesawat kertas berisi ”surat cinta” untuk Pak Wali Kota di rumah dinas Jalan Ijen 2, Kota Malang, Senin petang (5/4). Isinya antara lain: Tuntaskan, Selamat Yayasan Arema.

Cara-cara ”intimidasi kreatif” ini termasuk pertama kali terjadi di Kota Malang. Apalagi di rumah dinas wali kota. Ini sebagai bentuk menagih janji wali kota yang akan membantu mencari solusi menuntaskan kasus dualisme Arema yang sudah terjadi sekitar 10 tahun.

Juru bicara Aremania dengan jargon Make Malang Great Again (MMGA) Andi Sinyo mengakui jika aksi lempar pesawat kertas itu memang dilakukan murni spontanitas. Itu untuk memperjuangkan kebenaran. Yakni menuntut kembali hidupnya Yayasan Arema. Sebab, saat ini Yayasan Arema tidak jelas, buntutnya ada dua Arema di Malang. Efek dari dua Arema ini, suporter menjadi terbelah. Jika ini terus dibiarkan, dikhawatirkan ada gesekan. Karena itu, MMGA mendesak hanya ada satu Arema.

Ikhitar MMGA sudah ke berbagai pihak, di antaranya menemui mantan ketua Dewan Pembina Yayasan Arema Darjoto Setyawan, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI La Nyalla Mattalitti, Ketua Umum PSSI Pusat M. Iriawan (Iwan Bule), dan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Zainudin Amali.

Termasuk juga sudah menghadap Wali Kota Malang Sutiaji. Hanya, sejauh ini dinilai masih belum ada solusi berarti. Sebagai bentuk luapan belum terwujudnya aspirasi itulah, maka terjadi aksi lempar pesawat kertas tersebut untuk menagih janji wali kota. ”Kami sudah melakukan dialog kepada Pemkot Malang, tapi selalu berdalih bilang bukan ranahnya,” ungkap Andi Sinyo kemarin (6/4).

Dia menegaskan, aksi tersebut tak sampai ada kekerasan berupa pelemparan flare. Gerakan tersebut murni dilakukan Aremania untuk menyuarakan aspirasi. Apalagi, seminggu yang lalu juga telah dijanjikan Pemkot Malang untuk menyelesaikan konflik dualisme. Namun, belum juga ada ujung yang menggembirakan.

Dialog demi dialog terus dilakukan Aremania. Pengiriman surat demi surat untuk menyelesaikan dualisme gencar dilakukan. Proses pengaduan aspirasi telah mereka lakukan dengan baik-baik. Namun, hasil dari dialog itu seolah menguap tanpa ada kejelasan. Menurut Sinyo, polemik seperti ini yang menjadi beban psikologi massa. (rmc/arl/adn/c1/abm)

MALANG KOTA – Barangkali ini cara lain yang bisa dilakukan oknum Aremania ketika sejumlah pintu mewujudkan satu Arema yang diidamkan menemui jalan buntu. Yakni dengan mengintimidasi Wali Kota Malang Sutiaji. Caranya pun bisa dibilang kreatif. Melempar puluhan pesawat kertas berisi ”surat cinta” untuk Pak Wali Kota di rumah dinas Jalan Ijen 2, Kota Malang, Senin petang (5/4). Isinya antara lain: Tuntaskan, Selamat Yayasan Arema.

Cara-cara ”intimidasi kreatif” ini termasuk pertama kali terjadi di Kota Malang. Apalagi di rumah dinas wali kota. Ini sebagai bentuk menagih janji wali kota yang akan membantu mencari solusi menuntaskan kasus dualisme Arema yang sudah terjadi sekitar 10 tahun.

Juru bicara Aremania dengan jargon Make Malang Great Again (MMGA) Andi Sinyo mengakui jika aksi lempar pesawat kertas itu memang dilakukan murni spontanitas. Itu untuk memperjuangkan kebenaran. Yakni menuntut kembali hidupnya Yayasan Arema. Sebab, saat ini Yayasan Arema tidak jelas, buntutnya ada dua Arema di Malang. Efek dari dua Arema ini, suporter menjadi terbelah. Jika ini terus dibiarkan, dikhawatirkan ada gesekan. Karena itu, MMGA mendesak hanya ada satu Arema.

Ikhitar MMGA sudah ke berbagai pihak, di antaranya menemui mantan ketua Dewan Pembina Yayasan Arema Darjoto Setyawan, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI La Nyalla Mattalitti, Ketua Umum PSSI Pusat M. Iriawan (Iwan Bule), dan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Zainudin Amali.

Termasuk juga sudah menghadap Wali Kota Malang Sutiaji. Hanya, sejauh ini dinilai masih belum ada solusi berarti. Sebagai bentuk luapan belum terwujudnya aspirasi itulah, maka terjadi aksi lempar pesawat kertas tersebut untuk menagih janji wali kota. ”Kami sudah melakukan dialog kepada Pemkot Malang, tapi selalu berdalih bilang bukan ranahnya,” ungkap Andi Sinyo kemarin (6/4).

Dia menegaskan, aksi tersebut tak sampai ada kekerasan berupa pelemparan flare. Gerakan tersebut murni dilakukan Aremania untuk menyuarakan aspirasi. Apalagi, seminggu yang lalu juga telah dijanjikan Pemkot Malang untuk menyelesaikan konflik dualisme. Namun, belum juga ada ujung yang menggembirakan.

Dialog demi dialog terus dilakukan Aremania. Pengiriman surat demi surat untuk menyelesaikan dualisme gencar dilakukan. Proses pengaduan aspirasi telah mereka lakukan dengan baik-baik. Namun, hasil dari dialog itu seolah menguap tanpa ada kejelasan. Menurut Sinyo, polemik seperti ini yang menjadi beban psikologi massa. (rmc/arl/adn/c1/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru