alexametrics
26.1 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Selama Ramadan, Umat Islam dan Kristen di Desa Peniwen Saling Bagi Sembako

LIPUTAN RAMADAN 1443 H

Daftar buku buka puasa di Panti Asuhan Ar-Rahman dan Masjid Mujahidin Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang hampir penuh dengan sejumlah nama. Bagi tamu yang ingin mengadakan buka puasa bersama di panti tersebut, harus menulis nama di buku itu supaya tidak berbarengan dengan warga lain.

Begitulah cerita rentetan buka puasa bersama di sana. Bangunan seluas setengah hektar yang sebelum tahun 2000 dikenal sebutan Panti Asuhan Kanasih itu, pada bulan suci Ramadan banyak dikunjungi oleh masyarakat untuk mengadakan buka puasa bersama. Termasuk umat Kristiani. Mereka tidak saja warga Peniwen, ada pula dari Desa Slorok, Kromengan, dan Balokan. Mereka rutin mengadakan buka puasa bersama di masjid tersebut dengan anak panti dan warga muslim di sana. “Orang yang sudah siap mengadakan buka puasa bersama di masjid ini hampir penuh, tanggaltanggalnya sudah ada yang mesan,” jelas M. Kholiq, Pendiri Panti Asuhan

Warga yang bersedekah membawa makanan untuk buka puasa. Ketika makanan berlebih, dibagikan kepada umat Kristiani yang tinggal di sekitar masjid. Kebersamaan warga begitu kental. Dan kondisi ini sudah terjadi berpuluh-puluh tahun silam. Walaupun berbeda keyakinan, mereka sangat tenang. Saling menghormati satu sama lain. ”Kerukunan di sini ibaratnya air di kedalaman itu, tenang,” imbuh M. Kholiq. Salah satu umat Kristiani yang sering bersedekah nasi kotak dan sembako ke masjid adalah Priyato Wicaksono.

BERBAGI: Tokoh Kristen Priyato Wicaksono
(kanan) menyerahkan bantuan buka puasa ke
Ustad Doni untuk anak panti asuhan. (SUHARTO/RADAR MALANG)

Dijelaskan Kholiq, selama bulan suci tahun lalu, Priyato Wijaksono yang akrab di sapa Tiyo selalu mengadakan buka puasa bersama. Tak hanya buka puasa bersama, dia juga sering memberikan sembako ke Panti Asuhan Ar-Rahman. Selain Pak Tiyo, ada juga Ibu Yuli dan Ibu Lutfi. Keduanya umat Kristiani yang hampir setiap bulan satu kali mendermakan sebagian hartanya untuk anak Panti Asuhan dan Masjid Mujahidin. “Alhamdulillah di Desa Peniwen ini sangat harmonis. Panti juga mengagendakan setiap satu bulan rutin membagikan 100 sembako kepada warga muslim dan nonmuslim di sekitaran Panti Asuhan Ar-Rahman,” ujarnya.

Walaupun secara keyakinan berbeda, hal itu bukan menjadi penghalang untuk saling menderma. Kholiq menyebut, kedua agama tersebut saling membagi bingkisan (sembako, uang, dan makanan).Seperti halnya Pak Tiyo. Katanya, dia salah satu orang yang sangat dermawan di Desa Peniwen. Untuk memastikan kebenaran cerita, Jawa Pos Radar Malang mengunjungi rumah Prio Wicaksono itu.

Dia mengatakan, pihaknya sering membawakan ratusan nasi kotak. “Walaupun sedikit, semoga bisa membantu. Saya dengan Ustadz Kholiq kenal dekat, terkadang saya sumbang seadanya, terkadang pula ngajak warga. Ada yang menyumbang ikan lele, ayam, lalu kita masak dan buka bersama di masjid itu. Salutnya, anak-anak panti saat malam Jumat, mereka tidak adzan menggunakan speaker,” kata Tiyo yang berprofesi sebagai guru SDN 1 Peniwen.

Untuk diketahui,alasan umat Islam tidak Adzan ketika malam Jumat, sebab umat Kristiani di Desa Peniwen sedang menjalankan kebaktian. Kebaktian itu merupakan rutinitas ibadah yang dilaksanakan setiap malam Jumat. Semua masyarakat berkumpul di salah satu rumah yang sudah dijadikan tempat khusus. “Kalau umat Islam menyebutnya tahlilan. Rekan-rekan sebenarnya sudah menyuruh untuk adzan ketika malam Jumat, kita umat Kristiani tidak merasa terganggu. Nah, sejak itu Alhamdulillah mereka adzan menggunakan speaker sampai sekarang. Semoga kerukunan ini terus berlanjut sampai kapan pun,” tutup dia. (abm)

LIPUTAN RAMADAN 1443 H

Daftar buku buka puasa di Panti Asuhan Ar-Rahman dan Masjid Mujahidin Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang hampir penuh dengan sejumlah nama. Bagi tamu yang ingin mengadakan buka puasa bersama di panti tersebut, harus menulis nama di buku itu supaya tidak berbarengan dengan warga lain.

Begitulah cerita rentetan buka puasa bersama di sana. Bangunan seluas setengah hektar yang sebelum tahun 2000 dikenal sebutan Panti Asuhan Kanasih itu, pada bulan suci Ramadan banyak dikunjungi oleh masyarakat untuk mengadakan buka puasa bersama. Termasuk umat Kristiani. Mereka tidak saja warga Peniwen, ada pula dari Desa Slorok, Kromengan, dan Balokan. Mereka rutin mengadakan buka puasa bersama di masjid tersebut dengan anak panti dan warga muslim di sana. “Orang yang sudah siap mengadakan buka puasa bersama di masjid ini hampir penuh, tanggaltanggalnya sudah ada yang mesan,” jelas M. Kholiq, Pendiri Panti Asuhan

Warga yang bersedekah membawa makanan untuk buka puasa. Ketika makanan berlebih, dibagikan kepada umat Kristiani yang tinggal di sekitar masjid. Kebersamaan warga begitu kental. Dan kondisi ini sudah terjadi berpuluh-puluh tahun silam. Walaupun berbeda keyakinan, mereka sangat tenang. Saling menghormati satu sama lain. ”Kerukunan di sini ibaratnya air di kedalaman itu, tenang,” imbuh M. Kholiq. Salah satu umat Kristiani yang sering bersedekah nasi kotak dan sembako ke masjid adalah Priyato Wicaksono.

BERBAGI: Tokoh Kristen Priyato Wicaksono
(kanan) menyerahkan bantuan buka puasa ke
Ustad Doni untuk anak panti asuhan. (SUHARTO/RADAR MALANG)

Dijelaskan Kholiq, selama bulan suci tahun lalu, Priyato Wijaksono yang akrab di sapa Tiyo selalu mengadakan buka puasa bersama. Tak hanya buka puasa bersama, dia juga sering memberikan sembako ke Panti Asuhan Ar-Rahman. Selain Pak Tiyo, ada juga Ibu Yuli dan Ibu Lutfi. Keduanya umat Kristiani yang hampir setiap bulan satu kali mendermakan sebagian hartanya untuk anak Panti Asuhan dan Masjid Mujahidin. “Alhamdulillah di Desa Peniwen ini sangat harmonis. Panti juga mengagendakan setiap satu bulan rutin membagikan 100 sembako kepada warga muslim dan nonmuslim di sekitaran Panti Asuhan Ar-Rahman,” ujarnya.

Walaupun secara keyakinan berbeda, hal itu bukan menjadi penghalang untuk saling menderma. Kholiq menyebut, kedua agama tersebut saling membagi bingkisan (sembako, uang, dan makanan).Seperti halnya Pak Tiyo. Katanya, dia salah satu orang yang sangat dermawan di Desa Peniwen. Untuk memastikan kebenaran cerita, Jawa Pos Radar Malang mengunjungi rumah Prio Wicaksono itu.

Dia mengatakan, pihaknya sering membawakan ratusan nasi kotak. “Walaupun sedikit, semoga bisa membantu. Saya dengan Ustadz Kholiq kenal dekat, terkadang saya sumbang seadanya, terkadang pula ngajak warga. Ada yang menyumbang ikan lele, ayam, lalu kita masak dan buka bersama di masjid itu. Salutnya, anak-anak panti saat malam Jumat, mereka tidak adzan menggunakan speaker,” kata Tiyo yang berprofesi sebagai guru SDN 1 Peniwen.

Untuk diketahui,alasan umat Islam tidak Adzan ketika malam Jumat, sebab umat Kristiani di Desa Peniwen sedang menjalankan kebaktian. Kebaktian itu merupakan rutinitas ibadah yang dilaksanakan setiap malam Jumat. Semua masyarakat berkumpul di salah satu rumah yang sudah dijadikan tempat khusus. “Kalau umat Islam menyebutnya tahlilan. Rekan-rekan sebenarnya sudah menyuruh untuk adzan ketika malam Jumat, kita umat Kristiani tidak merasa terganggu. Nah, sejak itu Alhamdulillah mereka adzan menggunakan speaker sampai sekarang. Semoga kerukunan ini terus berlanjut sampai kapan pun,” tutup dia. (abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/