alexametrics
22.3 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Demi Hormati Umat Kristiani,Warga Muslim Desa Peniwen Tak Kumandangkan Sahur

Sejumlah aturan tidak tertulis menjadi kesepakatan antarumat beragama di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Kesepakatan itu demi terus menjaga sikap toleransi. Untuk merekam seperti apa suasana malam Ramadan di desa mayoritas Kristen itu, Jawa Pos Radar Malang Hanifuddin Musa bersama Suharto bermalam di rumah warga. Berikut laporannya

“Sahur…sahur.” Suara speaker terdengar lirih di tengah keheningan Rabu dini hari (6/4). Suara itu berasal dari daerah nun jauh dari Desa Peniwen. Sementara di Desa Peniwen sendiri justru tidak ada kumandang sahur.

TIDAK DIFUNGSIKAN SAAT SAHUR: Meski ada alat pengeras suara di Masjid Mujahidin, namun hanya dipakai saat
azan saja. (SUHARTO/RADAR MALANG)

Karena umat Islam sepakat untuk tidak menyuarakan ajakan sahur dengan pengeras suara. Ini demi menghormati umat Kristiani yang sedang terlelap tidur. Sumari, salah satu warga muslim menjelaskan, walaupun tidak ada panggilan sahur di desanya, dia selalu bangun jika terdengar suara sahur di desa lain walaupun lirih.  Suara sahur terdengar mulai jam 02.00 malam, sampai jam 03.15 WIB. “Khusus di Desa Paniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, tidak ada orang yang membangunkan sahur menggunakan pengeras suara,” kata Sumari.

Dia menambahkan, warga di desanya memiliki toleransi tinggi. Warga yang tinggal di desa tersebut harus menjunjung tinggi arti toleransi. Hal itu sudah menjadi kewajiban bagi semua warga yang tinggal di sana. Ini karena mereka harus menyadari warga di Peniwen ada yang beragama Islam dan Kristen. Karena kesadaran toleransi itu, imbuh pria berusia 52 tahun ini menyebut masyarakat hidup damai, rukun, dan tentram. Antarwarga beda agama saling menghormati. Bahkan tidak jarang saling bantu pada hari raya masing-masing.

Saat pukul 03.00, Jawa Pos Radar Malang melihat warga bergegas menyiapkan menu sahur. Begitu juga Panti Asahun yang berada di bawah naungan Ustadz Kholiq. Satu persatu memadati ruang makan tanpa banyak bergumam. Mereka ada yang bangun sendiri, ada pula yang dibangunkan oleh pengurus di sana. Samari yang rumahnya lumayan berdampingan dengan Panti Asuhan itu mengatakan, terkadang dia sudah terbangun lebih dahulu saat pengurus membangunkan para santri. “Kalau di masjid milik Panti Asuhan Ar-Rahman tidak ada sahur-sahur. Hanya azan subuh saja di sana,” kata dia.

Walaupun tidak ada aturan mengikat tentang persoalan itu, namun, sebagai umat Islam di sana masih tetap menjungjung tinggi arti toleransi. Hal ini dikisahkan oleh ustadz M. Kholiq saat ditanyai perihal sahur menggunakan pengeras suara. “Masyarakat sudah memiliki handpone, biar mereka memasang alarm saja. Kasihan tetangga yang nommuslim, nanti terganggu,” imbuh dia.

Rina Wijayati, 29, juga menjelaskan, alasan tidak adanya ajakan sahur supaya umat Kristiani yang berada di sana tidak terganggu. ”Di sini hanya ada satu masjid yaitu Masjid Mujahidin, samping kanan, kiri, depan serta belakang umat Kristiani,” katanya. Walaupun tidak ada seruan sahur, dia masih bisa mendengar dari desa lain. Terdapat sayup-sayup sahur terdengar ke rumahnya. Selain terdengar itu, ia terkadang terbantu oleh suara gonggongan anjing yang berkeliaran di desanya. “Di sisi lain najis bagi umat Islam, tapi ada manfaatnya juga,” ucap dia sambil tertawa.

Sebelum menjelang sahur, umat Kristiani di sana rutin memberikan sebuah bingkisan untuk buka dan dan sahur. Dia menyebut, bingkisan itu berupa sayuran, ikan mentah, daging. “Saya sering diberi daging mentah, “ ucap dia. Begitu pun Rina. Ketika pihaknya memiliki rezeki lebih, dia akan memberikan bingkisan kepada tetangga nonmuslim sebagai wujud kerukunan antarumat beragama.

Sebenarnya sudah puluhan tahun lamanya di Desa Paniwen tanpa panggilan sahur. Semua warga muslim tidak meributkan persoalan itu. Terbukti saat Jawa Pos Radar Malang mendatangi desa tersebut, nampak masyarakat menganggapnya biasa-biasa saja. Salah satu sosok yang berpengaruh bagi umat Islam M. Kholiq pengasuh Panti Asuhan pernah bercerita, sebenarnya masjid itu sah-sah saja mengumandangkan sahur pada sepertiga malam saat bulan suci Ramadan, tapi itu tidak dilakukan itu demi kerukunan.

Padahal Yohanes Kriswandito salah satu perangkat desa di Desa Paniwen membolehkan mengumandangkan. “Bagi Ustadz Kholiq, mengganggu orang sedang tidur itu tidak boleh. Iya kalau kita hidup di lingkungan yang mayoritas muslim,” tutup Rina Wijayanti saat ditemui di rumahnya sekitar jam 22.00 WIB. (abm)

 

Sejumlah aturan tidak tertulis menjadi kesepakatan antarumat beragama di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Kesepakatan itu demi terus menjaga sikap toleransi. Untuk merekam seperti apa suasana malam Ramadan di desa mayoritas Kristen itu, Jawa Pos Radar Malang Hanifuddin Musa bersama Suharto bermalam di rumah warga. Berikut laporannya

“Sahur…sahur.” Suara speaker terdengar lirih di tengah keheningan Rabu dini hari (6/4). Suara itu berasal dari daerah nun jauh dari Desa Peniwen. Sementara di Desa Peniwen sendiri justru tidak ada kumandang sahur.

TIDAK DIFUNGSIKAN SAAT SAHUR: Meski ada alat pengeras suara di Masjid Mujahidin, namun hanya dipakai saat
azan saja. (SUHARTO/RADAR MALANG)

Karena umat Islam sepakat untuk tidak menyuarakan ajakan sahur dengan pengeras suara. Ini demi menghormati umat Kristiani yang sedang terlelap tidur. Sumari, salah satu warga muslim menjelaskan, walaupun tidak ada panggilan sahur di desanya, dia selalu bangun jika terdengar suara sahur di desa lain walaupun lirih.  Suara sahur terdengar mulai jam 02.00 malam, sampai jam 03.15 WIB. “Khusus di Desa Paniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, tidak ada orang yang membangunkan sahur menggunakan pengeras suara,” kata Sumari.

Dia menambahkan, warga di desanya memiliki toleransi tinggi. Warga yang tinggal di desa tersebut harus menjunjung tinggi arti toleransi. Hal itu sudah menjadi kewajiban bagi semua warga yang tinggal di sana. Ini karena mereka harus menyadari warga di Peniwen ada yang beragama Islam dan Kristen. Karena kesadaran toleransi itu, imbuh pria berusia 52 tahun ini menyebut masyarakat hidup damai, rukun, dan tentram. Antarwarga beda agama saling menghormati. Bahkan tidak jarang saling bantu pada hari raya masing-masing.

Saat pukul 03.00, Jawa Pos Radar Malang melihat warga bergegas menyiapkan menu sahur. Begitu juga Panti Asahun yang berada di bawah naungan Ustadz Kholiq. Satu persatu memadati ruang makan tanpa banyak bergumam. Mereka ada yang bangun sendiri, ada pula yang dibangunkan oleh pengurus di sana. Samari yang rumahnya lumayan berdampingan dengan Panti Asuhan itu mengatakan, terkadang dia sudah terbangun lebih dahulu saat pengurus membangunkan para santri. “Kalau di masjid milik Panti Asuhan Ar-Rahman tidak ada sahur-sahur. Hanya azan subuh saja di sana,” kata dia.

Walaupun tidak ada aturan mengikat tentang persoalan itu, namun, sebagai umat Islam di sana masih tetap menjungjung tinggi arti toleransi. Hal ini dikisahkan oleh ustadz M. Kholiq saat ditanyai perihal sahur menggunakan pengeras suara. “Masyarakat sudah memiliki handpone, biar mereka memasang alarm saja. Kasihan tetangga yang nommuslim, nanti terganggu,” imbuh dia.

Rina Wijayati, 29, juga menjelaskan, alasan tidak adanya ajakan sahur supaya umat Kristiani yang berada di sana tidak terganggu. ”Di sini hanya ada satu masjid yaitu Masjid Mujahidin, samping kanan, kiri, depan serta belakang umat Kristiani,” katanya. Walaupun tidak ada seruan sahur, dia masih bisa mendengar dari desa lain. Terdapat sayup-sayup sahur terdengar ke rumahnya. Selain terdengar itu, ia terkadang terbantu oleh suara gonggongan anjing yang berkeliaran di desanya. “Di sisi lain najis bagi umat Islam, tapi ada manfaatnya juga,” ucap dia sambil tertawa.

Sebelum menjelang sahur, umat Kristiani di sana rutin memberikan sebuah bingkisan untuk buka dan dan sahur. Dia menyebut, bingkisan itu berupa sayuran, ikan mentah, daging. “Saya sering diberi daging mentah, “ ucap dia. Begitu pun Rina. Ketika pihaknya memiliki rezeki lebih, dia akan memberikan bingkisan kepada tetangga nonmuslim sebagai wujud kerukunan antarumat beragama.

Sebenarnya sudah puluhan tahun lamanya di Desa Paniwen tanpa panggilan sahur. Semua warga muslim tidak meributkan persoalan itu. Terbukti saat Jawa Pos Radar Malang mendatangi desa tersebut, nampak masyarakat menganggapnya biasa-biasa saja. Salah satu sosok yang berpengaruh bagi umat Islam M. Kholiq pengasuh Panti Asuhan pernah bercerita, sebenarnya masjid itu sah-sah saja mengumandangkan sahur pada sepertiga malam saat bulan suci Ramadan, tapi itu tidak dilakukan itu demi kerukunan.

Padahal Yohanes Kriswandito salah satu perangkat desa di Desa Paniwen membolehkan mengumandangkan. “Bagi Ustadz Kholiq, mengganggu orang sedang tidur itu tidak boleh. Iya kalau kita hidup di lingkungan yang mayoritas muslim,” tutup Rina Wijayanti saat ditemui di rumahnya sekitar jam 22.00 WIB. (abm)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/