alexametrics
21.1 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Bukan Koran, Bukan Online, Ini Jawabannya…

Beberapa kawan bertanya kepada saya, tentang tagline: ”Bukan Koran, Bukan Online, tapi Radar Malang” yang dalam beberapa hari ini selalu tampil di halaman depan Jawa Pos Radar Malang. Apa maksudnya? Apakah berarti Jawa Pos Radar Malang sudah berganti platform tak lagi menjadi media cetak? Itu di antaranya pertanyaan yang disampaikan.

”Tunggu tanggal mainnya… nanti Anda akan tahu sendiri jika sudah saatnya,” demikian saya selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Dan inilah saatnya untuk menjelaskan:

Jawa Pos Radar Malang tidak berganti platform. Core business kami tetaplah print media. Dan, hingga akhir 2020 kami harus bersyukur kepada Allah SWT karena performa perusahaan kami masih tergolong sehat walafiat. Meski tak bisa dipungkiri, akibat kepungan pandemi, kami sempat turun untuk beberapa indikator. Namun, pada saat rapat evaluasi JPR (Jawa Pos Radar, yang membawahi 18 Radar di Jatim, Jateng, Jogja, dan Bali) 2020 Januari lalu, Radar Malang masih menjadi perusahaan yang berhasil membukukan laba terbesar. Bahkan, tidak hanya terbesar di antara 17 Radar di Jatim, Jateng, Jogja, dan Bali, tapi juga terbesar di antara koran-koran daerah milik Jawa Pos di seluruh Indonesia.

Tentu, ini semua tidak terlepas dari kepercayaan serta dukungan para pembaca, para pelanggan setia, para agen, dan juga para klien kepada kami. Dan, kami akan selalu menjaga kepercayaan tersebut dengan cara terus berbenah, terus berinovasi, dan terus memperbaiki kualitas.

Kami menyadari, performa perusahaan yang tergolong masih sehat ini jangan sampai membuai. Jangan sampai membuat kami terlena. Mumpung masih sehat, maka kami pun gencar untuk beradaptasi di era digital yang semakin kuat mengepung. Kami pun punya platform berita online. Dan, platform online kami semakin kuat dan semakin luas jangkauannya karena bersinergi dengan jaringan Radar-Radar lain melalui jawapos.com. Kami juga punya platform media sosial. Twitter, Instagram, Facebook, serta YouTube. Bahkan, kami juga punya platform yang lagi happening: TikTok.  Di antara beberapa platform kami di media sosial itu, ada yang sudah mulai menghasilkan revenue yang lumayan signifikan.

Berbagai platform tersebut, baik online maupun di media sosial, adalah bagian dari ikhtiar kami untuk tetap bisa bertahan di era digital seperti sekarang ini. Perubahan adalah sunatullah. Maka, jika ingin tetap bertahan hidup, maka harus mengikuti sunatullah itu. Yakni, harus mampu beradaptasi terhadap berbagai perubahan yang terjadi. Beradaptasi adalah ikhtiar. Dan ikhtiar adalah sebuah keniscayaan.

Karena itu, masih dalam bingkai ikhtiar agar tetap bisa beradaptasi terhadap perubahan, kami pun terus berinovasi.

Inovasi kami kali ini berangkat dari sebuah fenomena, bahwa generasi sekarang semakin jauh dari koran. Mereka tumbuh berkembang bersama gadget. Maka, ketika dewasa kelak, bisa jadi mereka tidak akan mengingat koran.

Menyadari hal ini, kami pun harus bersiap-siap menghadapinya. Koran tidak boleh berpikir sebagai koran. Artinya, kami harus menjadi ”more than newspaper”. Maka, Radar Malang pun harus menjadi news brand. Platform boleh apa saja, asalkan tetap ”Radar Malang”. Orang boleh tidak membaca koran dalam bentuk fisik berupa lembaran kertas. Karena mungkin ini dianggap generasi sekarang sudah sangat konvensional. Tapi, bagaimana caranya agar mereka tetap membaca koran, tapi dalam bentuk yang lain. Bagaimana caranya, agar mereka membaca koran dari gadgetnya masing-masing. Dari smartphone-nya masing-masing. Maka, kami pun melahirkan e-paper Radar Malang.

Bukankah e-paper sudah ada sejak beberapa tahun lalu? Bukankah sejumlah media cetak yang lain sudah mempunyai e-paper? Bahkan, sejumlah media online juga sudah punya e-paper? Lantas, apa bedanya e-paper Radar Malang dengan e-paper lainnya?

Kami berani mengatakan, bahwa e-paper kami berbeda dengan e-paper lainnya. Lantas, apa yang membuat e-paper Radar Malang berbeda?

Ibarat makanan, e-paper Radar Malang adalah ”menu baru” kami untuk pembaca. Dan sebagai sebuah ”menu baru”, rasanya tidak afdal kalau Anda tidak mencicipinya lebih dahulu. Setelah mencicipi, barulah menilai. Maka, kami pun rasanya sulit menceritakan melalui tulisan ini tentang menu baru kami ”e-paper Radar Malang” yang berbeda dengan e-paper lainnya.  Maka, silakan Anda mencicipi lebih dahulu ”menu baru” kami itu, yang tersedia mulai hari ini. Caranya: Anda cukup men-download aplikasi e-paper Radar Malang di Play Store (Android). Untuk sementara, memang baru bisa untuk Android. Anda yang punya Apple, harap bersabar ya.

 

(selengkapnya scan barcode di dekat tulisan ini)

Maka, Anda bisa membaca aneka informasi di Radar Malang melalui smartphone masing-masing.

Apakah e-paper Radar Malang sama dengan koran Radar Malang? Dari sisi cara membacanya sama. Jika membaca koran, terdapat halaman demi halaman yang harus dibuka. E-paper pun juga seperti itu. Sejumlah halaman harus dibuka satu per satu, menyerupai halaman-halaman koran.

Yang berbeda adalah dari sisi bentuk fisiknya. Koran, bentuk fisiknya berupa lembaran kertas. Sedangkan e-paper, bentuk fisiknya mengikuti gadget atau smartphone.

Dari sisi konten juga berbeda. Konten koran Radar Malang dan e-paper Radar Malang tidaklah sama.

Jadi, koran Radar Malang dan e-paper Radar Malang adalah dua hal yang berbeda. Mengapa harus dibikin berbeda? Seperti penjelasan kami di awal tulisan, bahwa secara performa, core business kami yakni print media berupa koran Jawa Pos Radar Malang masih cukup sehat. Karena itu, kami harus tetap melindungi core business kami tersebut. Bahwa kami me-launching e-paper, karena kami ingin memperluas segmen pembaca. Kami ingin, generasi gadget juga membaca Radar Malang, meski yang dibaca bukan koran Radar Malang. Inilah yang kelak akan semakin memperkuat brand news Radar Malang.

Dengan adanya e-paper, maka sekaligus kami bisa menjangkau pembaca diaspora kami. Mereka adalah warga Bumi Arema, atau setidaknya pernah bekerja, tinggal, dan kuliah di Malang, yang saat ini berada di luar Kota Malang atau di luar negeri. Tentu mereka rindu akan bacaan atau informasi yang proximity (kedekatan) Aremanya kuat. Sehingga, begitu mereka membaca informasi tentang Malang dengan segala dinamikanya, ini sekaligus bisa mengobati kerinduan mereka tentang Malang. Di sinilah perlunya e-paper Radar Malang hadir. Ini akan menjadi bacaan yang akan mendekatkan para pembaca di luar Kota Malang maupun di luar negeri dengan kampung halamannya: Malang Raya, melalui gadget mereka.

Jadi, jelaslah di sini, maksud dari tagline: Bukan Koran, Bukan Online, tapi Radar Malang. E-paper jelas bukan koran. E-paper juga bukan online. Tapi, kami tetaplah Radar Malang. Untuk para pelanggan setia kami dan untuk seluruh warga Bumi Arema di mana pun Anda berada, inilah: e-paper Radar Malang. Masukan, saran, kritikan dari Anda sangat kami butuhkan untuk perbaikan. (*)

Beberapa kawan bertanya kepada saya, tentang tagline: ”Bukan Koran, Bukan Online, tapi Radar Malang” yang dalam beberapa hari ini selalu tampil di halaman depan Jawa Pos Radar Malang. Apa maksudnya? Apakah berarti Jawa Pos Radar Malang sudah berganti platform tak lagi menjadi media cetak? Itu di antaranya pertanyaan yang disampaikan.

”Tunggu tanggal mainnya… nanti Anda akan tahu sendiri jika sudah saatnya,” demikian saya selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Dan inilah saatnya untuk menjelaskan:

Jawa Pos Radar Malang tidak berganti platform. Core business kami tetaplah print media. Dan, hingga akhir 2020 kami harus bersyukur kepada Allah SWT karena performa perusahaan kami masih tergolong sehat walafiat. Meski tak bisa dipungkiri, akibat kepungan pandemi, kami sempat turun untuk beberapa indikator. Namun, pada saat rapat evaluasi JPR (Jawa Pos Radar, yang membawahi 18 Radar di Jatim, Jateng, Jogja, dan Bali) 2020 Januari lalu, Radar Malang masih menjadi perusahaan yang berhasil membukukan laba terbesar. Bahkan, tidak hanya terbesar di antara 17 Radar di Jatim, Jateng, Jogja, dan Bali, tapi juga terbesar di antara koran-koran daerah milik Jawa Pos di seluruh Indonesia.

Tentu, ini semua tidak terlepas dari kepercayaan serta dukungan para pembaca, para pelanggan setia, para agen, dan juga para klien kepada kami. Dan, kami akan selalu menjaga kepercayaan tersebut dengan cara terus berbenah, terus berinovasi, dan terus memperbaiki kualitas.

Kami menyadari, performa perusahaan yang tergolong masih sehat ini jangan sampai membuai. Jangan sampai membuat kami terlena. Mumpung masih sehat, maka kami pun gencar untuk beradaptasi di era digital yang semakin kuat mengepung. Kami pun punya platform berita online. Dan, platform online kami semakin kuat dan semakin luas jangkauannya karena bersinergi dengan jaringan Radar-Radar lain melalui jawapos.com. Kami juga punya platform media sosial. Twitter, Instagram, Facebook, serta YouTube. Bahkan, kami juga punya platform yang lagi happening: TikTok.  Di antara beberapa platform kami di media sosial itu, ada yang sudah mulai menghasilkan revenue yang lumayan signifikan.

Berbagai platform tersebut, baik online maupun di media sosial, adalah bagian dari ikhtiar kami untuk tetap bisa bertahan di era digital seperti sekarang ini. Perubahan adalah sunatullah. Maka, jika ingin tetap bertahan hidup, maka harus mengikuti sunatullah itu. Yakni, harus mampu beradaptasi terhadap berbagai perubahan yang terjadi. Beradaptasi adalah ikhtiar. Dan ikhtiar adalah sebuah keniscayaan.

Karena itu, masih dalam bingkai ikhtiar agar tetap bisa beradaptasi terhadap perubahan, kami pun terus berinovasi.

Inovasi kami kali ini berangkat dari sebuah fenomena, bahwa generasi sekarang semakin jauh dari koran. Mereka tumbuh berkembang bersama gadget. Maka, ketika dewasa kelak, bisa jadi mereka tidak akan mengingat koran.

Menyadari hal ini, kami pun harus bersiap-siap menghadapinya. Koran tidak boleh berpikir sebagai koran. Artinya, kami harus menjadi ”more than newspaper”. Maka, Radar Malang pun harus menjadi news brand. Platform boleh apa saja, asalkan tetap ”Radar Malang”. Orang boleh tidak membaca koran dalam bentuk fisik berupa lembaran kertas. Karena mungkin ini dianggap generasi sekarang sudah sangat konvensional. Tapi, bagaimana caranya agar mereka tetap membaca koran, tapi dalam bentuk yang lain. Bagaimana caranya, agar mereka membaca koran dari gadgetnya masing-masing. Dari smartphone-nya masing-masing. Maka, kami pun melahirkan e-paper Radar Malang.

Bukankah e-paper sudah ada sejak beberapa tahun lalu? Bukankah sejumlah media cetak yang lain sudah mempunyai e-paper? Bahkan, sejumlah media online juga sudah punya e-paper? Lantas, apa bedanya e-paper Radar Malang dengan e-paper lainnya?

Kami berani mengatakan, bahwa e-paper kami berbeda dengan e-paper lainnya. Lantas, apa yang membuat e-paper Radar Malang berbeda?

Ibarat makanan, e-paper Radar Malang adalah ”menu baru” kami untuk pembaca. Dan sebagai sebuah ”menu baru”, rasanya tidak afdal kalau Anda tidak mencicipinya lebih dahulu. Setelah mencicipi, barulah menilai. Maka, kami pun rasanya sulit menceritakan melalui tulisan ini tentang menu baru kami ”e-paper Radar Malang” yang berbeda dengan e-paper lainnya.  Maka, silakan Anda mencicipi lebih dahulu ”menu baru” kami itu, yang tersedia mulai hari ini. Caranya: Anda cukup men-download aplikasi e-paper Radar Malang di Play Store (Android). Untuk sementara, memang baru bisa untuk Android. Anda yang punya Apple, harap bersabar ya.

 

(selengkapnya scan barcode di dekat tulisan ini)

Maka, Anda bisa membaca aneka informasi di Radar Malang melalui smartphone masing-masing.

Apakah e-paper Radar Malang sama dengan koran Radar Malang? Dari sisi cara membacanya sama. Jika membaca koran, terdapat halaman demi halaman yang harus dibuka. E-paper pun juga seperti itu. Sejumlah halaman harus dibuka satu per satu, menyerupai halaman-halaman koran.

Yang berbeda adalah dari sisi bentuk fisiknya. Koran, bentuk fisiknya berupa lembaran kertas. Sedangkan e-paper, bentuk fisiknya mengikuti gadget atau smartphone.

Dari sisi konten juga berbeda. Konten koran Radar Malang dan e-paper Radar Malang tidaklah sama.

Jadi, koran Radar Malang dan e-paper Radar Malang adalah dua hal yang berbeda. Mengapa harus dibikin berbeda? Seperti penjelasan kami di awal tulisan, bahwa secara performa, core business kami yakni print media berupa koran Jawa Pos Radar Malang masih cukup sehat. Karena itu, kami harus tetap melindungi core business kami tersebut. Bahwa kami me-launching e-paper, karena kami ingin memperluas segmen pembaca. Kami ingin, generasi gadget juga membaca Radar Malang, meski yang dibaca bukan koran Radar Malang. Inilah yang kelak akan semakin memperkuat brand news Radar Malang.

Dengan adanya e-paper, maka sekaligus kami bisa menjangkau pembaca diaspora kami. Mereka adalah warga Bumi Arema, atau setidaknya pernah bekerja, tinggal, dan kuliah di Malang, yang saat ini berada di luar Kota Malang atau di luar negeri. Tentu mereka rindu akan bacaan atau informasi yang proximity (kedekatan) Aremanya kuat. Sehingga, begitu mereka membaca informasi tentang Malang dengan segala dinamikanya, ini sekaligus bisa mengobati kerinduan mereka tentang Malang. Di sinilah perlunya e-paper Radar Malang hadir. Ini akan menjadi bacaan yang akan mendekatkan para pembaca di luar Kota Malang maupun di luar negeri dengan kampung halamannya: Malang Raya, melalui gadget mereka.

Jadi, jelaslah di sini, maksud dari tagline: Bukan Koran, Bukan Online, tapi Radar Malang. E-paper jelas bukan koran. E-paper juga bukan online. Tapi, kami tetaplah Radar Malang. Untuk para pelanggan setia kami dan untuk seluruh warga Bumi Arema di mana pun Anda berada, inilah: e-paper Radar Malang. Masukan, saran, kritikan dari Anda sangat kami butuhkan untuk perbaikan. (*)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/