alexametrics
26.5 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Restu, Warga Binaan yang Dipercaya Jadi Guru Lukis dan Tari oleh Sesama Tahanan

SOSOK

PERAWAKAN Restu Eka Briantitasari yang mungil membuat siapa pun tak percaya bahwa perempuan itu tahun ini akan menginjak usia 32 tahun. Pembawaannya yang ceria dan murah tawa turut menyamarkan usia perempuan yang akrab disapa Restu itu. Dia menjadi warga binaan karena kasus pembunuhan.

Meski ingatan sekuat tenaga dia kubur dalam-dalam, Restu mengaku tak pernah bisa lepas dari rasa penyesalan. Sebab, dirinya masih tak habis pikir mengapa dirinya sampai tega menghabisi nyawa seseorang. Mendadak raut wajahnya yang ceria seakan lenyap ditelan air muka penyesalan. Suaranya sedikit bergetar saat Restu mencoba menceritakan kembali peristiwa tujuh tahun silam itu. Suaranya berat saat mengatakan dirinya habis akal karena himpitan ekonomi. Restu ingat betapa dirinya harus berjuang hidup di Surabaya. Sebab, sejak 2011 Restu harus meninggalkan kampung halamannya di Blitar untuk menempuh pendidikan tinggi di Kota Pahlawan itu

Sejak itu pula Restu harus memutar otak untuk mengatur jatah saku dari orang tuanya yang tidak seberapa. Akhirnya, saat ia benar-benar buntu dihimpit ekonomi terlintas oleh dirinya untuk merampas uang milik temannya. “Saat itu korban adalah adik tingkat saya. Saya melakukannya (membunuh, red) dengan teman saya,” ujarnya sambil sesekali membenahi posisi maskernya. Lebih lanjut Restu mengatakan tak ada niat sama sekali untuk menghabisi nyawa adik tingkatnya itu. Saat itu, Restu bersama temannya mengajak korban untuk ke Bromo. “Kebetulan adik tingkat saya itu perias. Saya bilang ada yang butuh jasa rias untuk foto prewedding di Bromo,” ungkapnya. Lalu, mereka berangkat bersama-sama menuju Bromo.

Namun, sampai di Nongkojajar, Restu dan temannya berhenti di sebuah tempat sepi dan melancarkan niat buruknya itu. Restu dan temannya merampas semua barang milik adik tingkatnya itu. Restu mengaku kaget karena korban melakukan perlawanan. Dari situlah aksi saling pukul terjadi. Tentu saja Restu dan temannya punya kekuatan lebih untuk mengendalikan satu lawan. Akhirnya, tanpa disengaja perlawanan yang diberikan Restu dan temannya itu membuat korban kehilangan nyawa. Restu mengaku peristiwa itu menjadi titik terendah dalam hidupnya. Baginya itu menjadi pelajaran yang amat berharga dalam hidupnya.

Seketika air mukanya berubah saat wartawan koran ini bertanya tentang kegemarannya dalam menggambar. Sorot matanya yang sebelumnya redup kini kembali bercahaya. Restu tampak semangat menceritakan hobi menggambarnya yang sudah dia gemari sejak kecil. “Saya suka menggambar apa saja dan sering ikut lomba dulu,” tuturnya sambil sesekali kembali menyuguhkan gelak tawanya yang renyah.

Meski sering mengikuti lomba, Restu mengaku tak pernah menang. Itulah yang membuat dirinya terus termotivasi untuk lebih meningkatkan kemampuan menggambarnya. Salah satunya dengan mengambil Jurusan Seni Rupa di salah satu universitas swasta di Surabaya. Ya, itulah saat di mana Restu banyak belajar sekaligus menerima cobaan terberat dalam hidupnya. Perempuan kelahiran Bondowoso itu mengaku sempat bekerja sebagai guru lukis di sekolah TK. Selain untuk menyalurkan hobi, melukis itu juga untuk menyambung kebutuhan hidupnya di kota perantauan.

Keharusannya untuk bekerja itulah yang juga menyebabkan dia tak bisa menyelesaikan pendidikannya tepat waktu. Ia harus menambah waktu studi di semester sembilan sebelum akhirnya Restu terpaksa di-DO (drop out) dari kampus karena kasus yang menjerat dirinya. “Saya hancur saat itu, saya merasa tidak punya masa depan lagi,” ucapnya dengan nada serius. Namun siapa sangka, hobinya itu kini sangat dibutuhkan di dalam lapas. Restu mengaku masih bisa melakukan hobinya itu di dalam lapas. Meski hanya sebatas menggambar di sebuah buku tulis bergaris. Hingga kini Restu menyebut menggambarlah satu-satunya pelariannya dari rasa bosan dan sedih. “Kalau saya sedang merasakan apa saja pasti saya gambar. Karena kalau sudah menggambar ada rasa puas dalam diri saya,” tuturnya.

Selain itu, sekitar empat tahun lalu Restu juga pernah menyabet juara lomba melukis yang diadakan oleh Lapas Perempuan Kelas IIA Malang. Dari situlah bakatnya banyak diketahui petugas lapas dan temantemannya. Sampai akhirnya, saat ada kegiatan untuk pengecatan tembok lapas kini tak hanya dipoles dengan warnawarna polos. Namun, juga dilengkapi lukisan-lukisan indah yang memanjakan mata. “Jadi hampir semua lukisan yang ada di dinding lapas ini adalah sketsa saya atas permintaan bapak dan ibu petugas,” ungkapnya bangga. Lukisan buah pikiran Restu itu berhasil menyulap lapas yang terkesan menyeramkan itu menjadi tempat yang sedikit ramah.

Goresan-goresan kuas yang membentuk pohon-pohon, daun, lengkap dengan kupukupu yang seolah beterbangan membuat pemandangan lapas menjadi sejuk. Bakat seni yang ia akui mengalir dari ibunya itu tak berhenti sampai menggambar saja. Pernah tergabung dalam sebuah sanggar tari saat SD hingga SMP membuatnya juga menguasai gerakan tari. Tak heran saat di dalam lapas pun Restu kerap mewakili Lapas Perempuan Kelas IIA Malang maju dalam lomba-lomba tari. “Beberapa kali menang dan sekarang aktif sebagai pelatih tari di sini (Lapas Perempuan Kelas IIA Malang, red),” imbuhnya. Kepiawaiannya memang tak diragukan. Beberapa teman yang dia latih juga berhasil menorehkan prestasi.

Salah satunya dalam ajang lomba yang digelar Kemenkum HAM tahun 2021. “Saat itu ada dua tim yang dikirim. Salah satunya berhasil menjadi juara favorit. Padahal pesertanya saat itu seratus lebih,” ujarnya penuh bahagia. Ekspresi bahagianya itu bertambah saat anak pertama dari dua bersaudara itu menceritakan bahwa tahun 2022 ini dirinya akan bebas. Restu tak sabar untuk bisa segera menghirup udara segar di luar lapas. Sebab, dirinya segera ingin kembali berkumpul dengan keluarganya.

Di samping itu, Restu mengaku juga ingin lebih mengasah kemampuannya dalam melukis. “Saya masih suka sedih kalau melihat hasil lukisan yang bagus. Saya ingin bisa melukis sebagus itu juga,” ujarnya dengan nada yang kembali rendah. Selain itu, Restu juga punya gambaran untuk kembali mengajar. Sebab, memilih jurusan pendidikan seni rupa ia tahu betul bahwa yang ia impikan adalah menjadi seorang pengajar. “Saya membayangkan setelah bebas saya akan kembali mengajar gambar untuk anakanak. Apalagi di dekat rumah saya ada TK,” ucapnya dengan penuh harapan. (abm)

 

Pewarta: Fajar Andre Setiawan

SOSOK

PERAWAKAN Restu Eka Briantitasari yang mungil membuat siapa pun tak percaya bahwa perempuan itu tahun ini akan menginjak usia 32 tahun. Pembawaannya yang ceria dan murah tawa turut menyamarkan usia perempuan yang akrab disapa Restu itu. Dia menjadi warga binaan karena kasus pembunuhan.

Meski ingatan sekuat tenaga dia kubur dalam-dalam, Restu mengaku tak pernah bisa lepas dari rasa penyesalan. Sebab, dirinya masih tak habis pikir mengapa dirinya sampai tega menghabisi nyawa seseorang. Mendadak raut wajahnya yang ceria seakan lenyap ditelan air muka penyesalan. Suaranya sedikit bergetar saat Restu mencoba menceritakan kembali peristiwa tujuh tahun silam itu. Suaranya berat saat mengatakan dirinya habis akal karena himpitan ekonomi. Restu ingat betapa dirinya harus berjuang hidup di Surabaya. Sebab, sejak 2011 Restu harus meninggalkan kampung halamannya di Blitar untuk menempuh pendidikan tinggi di Kota Pahlawan itu

Sejak itu pula Restu harus memutar otak untuk mengatur jatah saku dari orang tuanya yang tidak seberapa. Akhirnya, saat ia benar-benar buntu dihimpit ekonomi terlintas oleh dirinya untuk merampas uang milik temannya. “Saat itu korban adalah adik tingkat saya. Saya melakukannya (membunuh, red) dengan teman saya,” ujarnya sambil sesekali membenahi posisi maskernya. Lebih lanjut Restu mengatakan tak ada niat sama sekali untuk menghabisi nyawa adik tingkatnya itu. Saat itu, Restu bersama temannya mengajak korban untuk ke Bromo. “Kebetulan adik tingkat saya itu perias. Saya bilang ada yang butuh jasa rias untuk foto prewedding di Bromo,” ungkapnya. Lalu, mereka berangkat bersama-sama menuju Bromo.

Namun, sampai di Nongkojajar, Restu dan temannya berhenti di sebuah tempat sepi dan melancarkan niat buruknya itu. Restu dan temannya merampas semua barang milik adik tingkatnya itu. Restu mengaku kaget karena korban melakukan perlawanan. Dari situlah aksi saling pukul terjadi. Tentu saja Restu dan temannya punya kekuatan lebih untuk mengendalikan satu lawan. Akhirnya, tanpa disengaja perlawanan yang diberikan Restu dan temannya itu membuat korban kehilangan nyawa. Restu mengaku peristiwa itu menjadi titik terendah dalam hidupnya. Baginya itu menjadi pelajaran yang amat berharga dalam hidupnya.

Seketika air mukanya berubah saat wartawan koran ini bertanya tentang kegemarannya dalam menggambar. Sorot matanya yang sebelumnya redup kini kembali bercahaya. Restu tampak semangat menceritakan hobi menggambarnya yang sudah dia gemari sejak kecil. “Saya suka menggambar apa saja dan sering ikut lomba dulu,” tuturnya sambil sesekali kembali menyuguhkan gelak tawanya yang renyah.

Meski sering mengikuti lomba, Restu mengaku tak pernah menang. Itulah yang membuat dirinya terus termotivasi untuk lebih meningkatkan kemampuan menggambarnya. Salah satunya dengan mengambil Jurusan Seni Rupa di salah satu universitas swasta di Surabaya. Ya, itulah saat di mana Restu banyak belajar sekaligus menerima cobaan terberat dalam hidupnya. Perempuan kelahiran Bondowoso itu mengaku sempat bekerja sebagai guru lukis di sekolah TK. Selain untuk menyalurkan hobi, melukis itu juga untuk menyambung kebutuhan hidupnya di kota perantauan.

Keharusannya untuk bekerja itulah yang juga menyebabkan dia tak bisa menyelesaikan pendidikannya tepat waktu. Ia harus menambah waktu studi di semester sembilan sebelum akhirnya Restu terpaksa di-DO (drop out) dari kampus karena kasus yang menjerat dirinya. “Saya hancur saat itu, saya merasa tidak punya masa depan lagi,” ucapnya dengan nada serius. Namun siapa sangka, hobinya itu kini sangat dibutuhkan di dalam lapas. Restu mengaku masih bisa melakukan hobinya itu di dalam lapas. Meski hanya sebatas menggambar di sebuah buku tulis bergaris. Hingga kini Restu menyebut menggambarlah satu-satunya pelariannya dari rasa bosan dan sedih. “Kalau saya sedang merasakan apa saja pasti saya gambar. Karena kalau sudah menggambar ada rasa puas dalam diri saya,” tuturnya.

Selain itu, sekitar empat tahun lalu Restu juga pernah menyabet juara lomba melukis yang diadakan oleh Lapas Perempuan Kelas IIA Malang. Dari situlah bakatnya banyak diketahui petugas lapas dan temantemannya. Sampai akhirnya, saat ada kegiatan untuk pengecatan tembok lapas kini tak hanya dipoles dengan warnawarna polos. Namun, juga dilengkapi lukisan-lukisan indah yang memanjakan mata. “Jadi hampir semua lukisan yang ada di dinding lapas ini adalah sketsa saya atas permintaan bapak dan ibu petugas,” ungkapnya bangga. Lukisan buah pikiran Restu itu berhasil menyulap lapas yang terkesan menyeramkan itu menjadi tempat yang sedikit ramah.

Goresan-goresan kuas yang membentuk pohon-pohon, daun, lengkap dengan kupukupu yang seolah beterbangan membuat pemandangan lapas menjadi sejuk. Bakat seni yang ia akui mengalir dari ibunya itu tak berhenti sampai menggambar saja. Pernah tergabung dalam sebuah sanggar tari saat SD hingga SMP membuatnya juga menguasai gerakan tari. Tak heran saat di dalam lapas pun Restu kerap mewakili Lapas Perempuan Kelas IIA Malang maju dalam lomba-lomba tari. “Beberapa kali menang dan sekarang aktif sebagai pelatih tari di sini (Lapas Perempuan Kelas IIA Malang, red),” imbuhnya. Kepiawaiannya memang tak diragukan. Beberapa teman yang dia latih juga berhasil menorehkan prestasi.

Salah satunya dalam ajang lomba yang digelar Kemenkum HAM tahun 2021. “Saat itu ada dua tim yang dikirim. Salah satunya berhasil menjadi juara favorit. Padahal pesertanya saat itu seratus lebih,” ujarnya penuh bahagia. Ekspresi bahagianya itu bertambah saat anak pertama dari dua bersaudara itu menceritakan bahwa tahun 2022 ini dirinya akan bebas. Restu tak sabar untuk bisa segera menghirup udara segar di luar lapas. Sebab, dirinya segera ingin kembali berkumpul dengan keluarganya.

Di samping itu, Restu mengaku juga ingin lebih mengasah kemampuannya dalam melukis. “Saya masih suka sedih kalau melihat hasil lukisan yang bagus. Saya ingin bisa melukis sebagus itu juga,” ujarnya dengan nada yang kembali rendah. Selain itu, Restu juga punya gambaran untuk kembali mengajar. Sebab, memilih jurusan pendidikan seni rupa ia tahu betul bahwa yang ia impikan adalah menjadi seorang pengajar. “Saya membayangkan setelah bebas saya akan kembali mengajar gambar untuk anakanak. Apalagi di dekat rumah saya ada TK,” ucapnya dengan penuh harapan. (abm)

 

Pewarta: Fajar Andre Setiawan

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/