alexametrics
30.6 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Kisah Para Mualaf Menjalani Kehidupan Barunya (30-habis)

Dengar Suara Azan, Tinggalkan Semua Kerjaan untuk Salat

Spirit kegamanaan Dr dr H Sugiharta Tandya SpPK begitu tinggi. Dia yang masuk Islam sejak 2010 itu seperti tidak mau ketinggalan waktu salat sedetik pun. Begitu dengar suara azan, pria kelahiran 9 September 1947 ini bergegas wudu dan menjalankan salat. Berikut penuturannya kepada wartawan Jawa Pos Radar Malang, Galih R. Prasetyo.

——————
Langkah Dr dr H Sugiharta Tandya SpPK dipercepat. Kumandang suara azan membuatnya bergegas untuk mengambil air wudu lalu menunaikan ibadah salat. Meski waktu salat Duhur masih panjang, dia tidak mau menunda-menunda untuk bertemu dengan Allah SWT. Segala urusan yang berhubungan duniawi, seperti pekerjaan, dia tinggalkan sebentar. ”Rasanya dalam hati ini ada yang mengganjal apabila tidak segera menjalankan salat,” ucapnya tegas.

Karena itulah, pria yang akrab disapa Dr Tandya itu selalu berusaha menjaga salat secara rutin. Di menyebut, ibadah itu tidak hanya wajib, tapi juga mampu memberikan banyak efek positif kepada mereka yang menjalankan. Salah satu yang sering dirasakannya adalah salat membuatnya jadi lebih tenteram dan tidak gampang menaruh pikiran buruk kepada seseorang.

”Doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT membuat hati ini jadi lebih tenang. Selain itu, membuat saya lebih sabar, ikhlas, dan positive thinking,” papar suami dari Hj Aminah Najmah SHI MHI MKn itu. Berkat hal itu, selain saat wajib, dirinya mengaku kalau berusaha mendirikan salat sunah yang dinilainya banyak keutamaan bisa dirasakan orang yang menjalankannya.

Lebih lanjut, di balik ketaatannya menjalankan ibadah salat, Dr Tandya mengaku kalau acap kali tersentuh hatinya ketika mendengar suara azan. Di mana dia merasakan getaran dalam hati dan timbul keinginan besar untuk segera mendirikan ibadah wajib tersebut. ”Alhamdulilah rasa tersebut muncul sebelum dan sesudah saya menjadi mualaf,” paparnya. Menurut dia, bisa merasakan hal itu sangatlah nikmat. Sebab, itu juga membuat dirinya jadi lebih tenang.

Dari hal-hal itu, Dr Tandya mengaku kalau sangat bersyukur diberikan kesempatan Allah SWT memeluk agama Islam. Baginya, Islam mengatur semua lini kehidupan manusia. Mulai dari hal-hal kecil sampai dengan yang besar ada doa-doanya. Misalnya adalah makan sampai keluar rumah untuk bekerja.

Menjadi mualaf itu tidaklah muncul secara tiba-tiba. Ada proses sejak dirinya masih kecil. Di mana perkenalannya dengan Islam dimulai dari kebiasaan dia mengikuti acara-acara Islam. ”Saat kecil itu kerap diajak tetangga untuk ikut kegiatan tahlil atau maulid nabi,” tuturnya. Lalu, lanjutnya, acap kali melihat mbah buyut melakukan ibadah salat.

Lambat laun, hal-hal semacam itu membuatnya mulai menaruh ketertarikan kepada Islam. Namun, ketika itu ternyata Allah SWT mempunyai jalan lain untuk Dr Tandya. Jalan takdirnya tidak langsung membuatnya memeluk Islam. Namun, pria berusia 74 tahun itu harus terlebih dulu menganut kepercayaan lainnya. Lingkungan sekitar disebutnya menjadi salah satu faktor penyebab hal tersebut,

Meski tidak langsung menjadi mualaf, namun Islam masih tersimpan di hati pria yang kini menjabat sebagai ketua DPD Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang Raya itu. Di mana dia tetap belajar tentang agama Islam. Disebutnya, dia banyak membaca dan belajar tentang Islam dari buku-buku. ”Selama 12 tahun sebelum menjadi mualaf pada tahun 2010 lalu, saya terus belajar tentang Islam,” tuturnya.

Menyelami ajaran Islam dalam kurun waktu bertahun-tahun, Dr Tandya mengaku kalau menemukan banyak keistimewaan tentang Islam. Salah satunya adalah Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Dijelaskannya, Islam tidak membedakan agama apa pun atau suku bangsa, semuanya oleh Allah SWT dirahmati. Termasuk hewan, tumbuhan, dan semua jagat raya. ”Bagi saya hal itu sangatlah konsekuen,” jelasnya.

Selain hal itu, yang membuatnya tertarik masuk Islam adalah konsep ketuhanan yang ada di dalamnya. Di mana diakuinya dalam ajaran Islam Tuhan hanya satu. Hal itu dia nilai sangat konsekuen. ”Islam itu benar-benar menjalankan akidah, tiada Tuhan selain Allah,” jelasnya. Lalu, lanjutnya, kita diutus untuk menjunjung tinggi Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya. Di mana apabila meneladani kisahnya, ada banyak kebaikan yang didapatkan.

Nah, setelah mendalami Islam itu. Allah SWT akhirnya memberikan jalan untuk Dr Tandya masuk Islam. Pada 2010 lalu dia mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu, di tahun yang sama, dia diberi kesempatan Allah SWT untuk berkunjung ke tanah suci. Disusul pada 2015, dia menjalankan ibadah haji. Untuk melengkapi ibadahnya, oleh Allah SWT Dr Tandya juga dipertemukan dengan jodohnya yakni Aminah Najmah.

Saat ini bersama PITI Malang Raya, Dr Tandya dan para rekan-rekannya terus melakukan kegiatan sosial. Mulai dari berbagi, sampai dengan melaksanakan kajian-kajian keagamaan. ”Alhamdulillah selain diberikan nikmat beribadah, Allah juga memberikan kesempatan saya bersama PITI untuk berbagi kepada sesama,” jelasnya. (rmc/c1/abm)

Spirit kegamanaan Dr dr H Sugiharta Tandya SpPK begitu tinggi. Dia yang masuk Islam sejak 2010 itu seperti tidak mau ketinggalan waktu salat sedetik pun. Begitu dengar suara azan, pria kelahiran 9 September 1947 ini bergegas wudu dan menjalankan salat. Berikut penuturannya kepada wartawan Jawa Pos Radar Malang, Galih R. Prasetyo.

——————
Langkah Dr dr H Sugiharta Tandya SpPK dipercepat. Kumandang suara azan membuatnya bergegas untuk mengambil air wudu lalu menunaikan ibadah salat. Meski waktu salat Duhur masih panjang, dia tidak mau menunda-menunda untuk bertemu dengan Allah SWT. Segala urusan yang berhubungan duniawi, seperti pekerjaan, dia tinggalkan sebentar. ”Rasanya dalam hati ini ada yang mengganjal apabila tidak segera menjalankan salat,” ucapnya tegas.

Karena itulah, pria yang akrab disapa Dr Tandya itu selalu berusaha menjaga salat secara rutin. Di menyebut, ibadah itu tidak hanya wajib, tapi juga mampu memberikan banyak efek positif kepada mereka yang menjalankan. Salah satu yang sering dirasakannya adalah salat membuatnya jadi lebih tenteram dan tidak gampang menaruh pikiran buruk kepada seseorang.

”Doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT membuat hati ini jadi lebih tenang. Selain itu, membuat saya lebih sabar, ikhlas, dan positive thinking,” papar suami dari Hj Aminah Najmah SHI MHI MKn itu. Berkat hal itu, selain saat wajib, dirinya mengaku kalau berusaha mendirikan salat sunah yang dinilainya banyak keutamaan bisa dirasakan orang yang menjalankannya.

Lebih lanjut, di balik ketaatannya menjalankan ibadah salat, Dr Tandya mengaku kalau acap kali tersentuh hatinya ketika mendengar suara azan. Di mana dia merasakan getaran dalam hati dan timbul keinginan besar untuk segera mendirikan ibadah wajib tersebut. ”Alhamdulilah rasa tersebut muncul sebelum dan sesudah saya menjadi mualaf,” paparnya. Menurut dia, bisa merasakan hal itu sangatlah nikmat. Sebab, itu juga membuat dirinya jadi lebih tenang.

Dari hal-hal itu, Dr Tandya mengaku kalau sangat bersyukur diberikan kesempatan Allah SWT memeluk agama Islam. Baginya, Islam mengatur semua lini kehidupan manusia. Mulai dari hal-hal kecil sampai dengan yang besar ada doa-doanya. Misalnya adalah makan sampai keluar rumah untuk bekerja.

Menjadi mualaf itu tidaklah muncul secara tiba-tiba. Ada proses sejak dirinya masih kecil. Di mana perkenalannya dengan Islam dimulai dari kebiasaan dia mengikuti acara-acara Islam. ”Saat kecil itu kerap diajak tetangga untuk ikut kegiatan tahlil atau maulid nabi,” tuturnya. Lalu, lanjutnya, acap kali melihat mbah buyut melakukan ibadah salat.

Lambat laun, hal-hal semacam itu membuatnya mulai menaruh ketertarikan kepada Islam. Namun, ketika itu ternyata Allah SWT mempunyai jalan lain untuk Dr Tandya. Jalan takdirnya tidak langsung membuatnya memeluk Islam. Namun, pria berusia 74 tahun itu harus terlebih dulu menganut kepercayaan lainnya. Lingkungan sekitar disebutnya menjadi salah satu faktor penyebab hal tersebut,

Meski tidak langsung menjadi mualaf, namun Islam masih tersimpan di hati pria yang kini menjabat sebagai ketua DPD Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang Raya itu. Di mana dia tetap belajar tentang agama Islam. Disebutnya, dia banyak membaca dan belajar tentang Islam dari buku-buku. ”Selama 12 tahun sebelum menjadi mualaf pada tahun 2010 lalu, saya terus belajar tentang Islam,” tuturnya.

Menyelami ajaran Islam dalam kurun waktu bertahun-tahun, Dr Tandya mengaku kalau menemukan banyak keistimewaan tentang Islam. Salah satunya adalah Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Dijelaskannya, Islam tidak membedakan agama apa pun atau suku bangsa, semuanya oleh Allah SWT dirahmati. Termasuk hewan, tumbuhan, dan semua jagat raya. ”Bagi saya hal itu sangatlah konsekuen,” jelasnya.

Selain hal itu, yang membuatnya tertarik masuk Islam adalah konsep ketuhanan yang ada di dalamnya. Di mana diakuinya dalam ajaran Islam Tuhan hanya satu. Hal itu dia nilai sangat konsekuen. ”Islam itu benar-benar menjalankan akidah, tiada Tuhan selain Allah,” jelasnya. Lalu, lanjutnya, kita diutus untuk menjunjung tinggi Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya. Di mana apabila meneladani kisahnya, ada banyak kebaikan yang didapatkan.

Nah, setelah mendalami Islam itu. Allah SWT akhirnya memberikan jalan untuk Dr Tandya masuk Islam. Pada 2010 lalu dia mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu, di tahun yang sama, dia diberi kesempatan Allah SWT untuk berkunjung ke tanah suci. Disusul pada 2015, dia menjalankan ibadah haji. Untuk melengkapi ibadahnya, oleh Allah SWT Dr Tandya juga dipertemukan dengan jodohnya yakni Aminah Najmah.

Saat ini bersama PITI Malang Raya, Dr Tandya dan para rekan-rekannya terus melakukan kegiatan sosial. Mulai dari berbagi, sampai dengan melaksanakan kajian-kajian keagamaan. ”Alhamdulillah selain diberikan nikmat beribadah, Allah juga memberikan kesempatan saya bersama PITI untuk berbagi kepada sesama,” jelasnya. (rmc/c1/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/