alexametrics
30.4 C
Malang
Monday, 16 May 2022

Perdayai Sahabat lewat Bisnis Buah-buahan, Tilep Rp 8 Miliar

MALANG KOTA- Ini harus menjadi pelajaran bagi siapa saja untuk lebih berhati-hati memilih teman. Jangan sampai teman yang sudah dianggap sebagai sahabat sendiri, ternyata justru “memukul” dari belakang. Boleh bersahabat dengan siapa saja, namun jangan mudah member kepercayaan secara penuh. Apalagi kalau sudah urusan duit.

Ini seperti yang dialami  Anastasha Carolyna, 25, warga Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru. Uangnya segede Rp 8 miliar raib diduga akibat tertipu teman dekatnya sendiri: Kinanti Rahayu, 21, juga warga Kelurahan Mojolangu. Kinanti ini dulu juga teman satu kampus dengan Carolyna. Hubungan keduanya begitu dekat. Namun tega-teganya Kinanti membawa lari Rp 8 miliar milik Carolyna. Kasus ini sudah dilaporkan Carolyna ke Polresta Malang Kota.

CEK AKSI PENIPUAN: Anastasha Carolyna (tengah) ketika menelusuri usaha buah-buahan yang dilakukan Kinanti di Pasar Batu , Juni 2021 lalu. (Carolyna for Radar Malang)

Dari data yang dihimpun koran ini, kasus ini berawal dari  join bisnis buah-buahan antara Carolyna dan Kinanti.  Keduanya mendirikan CV. Carolyna sebagai komanditer, sementara Kinanti sebagai direktur perusahaan.

Jauh sebelum pembentukan perusahaan, sekitar bulan Agustus 2020, Kinanti mengajak untuk membuat usaha yang bergerak di perdagangan buah. Saat itu, terduga mengatakan bahwa pembagian keuntungan dalam perusahaan setiap transaksi cukup lumayan. Sehingga Carolyna tertarik investasi dana. Belakangan, ada orang lain yang juga investasi di perusahaan itu. “Awalnya itu dia bilang mau dagang jeruk. Harganya Rp 800 ribu per satu kuintal,” kata dia pada Rabu (9/2).

Pola pembayaran untung per dua minggu itu nampak konsisten sehingga kepercayaan kepada terduga makin tinggi. Pada 21 Januari 2021, keduanya membuat suatu perusahaan dagang dengan komoditas aneka buah seperti alpukat, pisang, rambutan dan lain sebagainya. Saat itu, sasaran dagangnya ialah 19 pasar se-Malang Raya yang menurut Kinanti sudah siap menerima dagangannya. Semuanya memerlukan modal sebesar Rp 2,1 miliar yang disuntik Carolyna.

Janji Kinanti saat itu, hasil pembagian untung akan naik. Sampai April 2021, laporan keuangan makin tidak jelas dan setoran harian yang dijanjikan pada awal pembentukan kian menghilang. Beragam alasan dikemukakan. Mulai lima pasar berhenti operasi selama dua bulan dan lain-lain. “Alasannya bulan Mei ada longsor di Pujon dan Kasembon, pasar yang dituju kena semua. Total tagihan yang mencapai ratusan juta rupiah,” papar Carolyna menirukan dalih Kinanti.

Sebenarnya Carolyna sudah merasa janggal dengan alasan sahabatnya itu. Namun karena peran dia di CV dibatasi, dia tidak bisa terlalu jauh masuk ke teknis usaha. Sementara Kinanti selama ini dianggap paling mengetahui kondisi lapangan.

Barulah pada bulan Juni 2021, di mana ke-19 aktivitas dagang perusahaan ke pasar berhenti total, kala itu, Kinanti mengatakan bahwa ada pembaruan harga. Hal itu pun membuat gusar dia dan investor yang lain. Karena sudah dianggap tidak menguntungkan, Carolyna minta Kinanti mengembalikan dana investasi. Namun seperti kebiasaan orang yang tidak punya itikad baik, Kinanti terlalu banyak alasan. Ini yang membuat Carolyna kehilangan kesabaran.

Pada bulan Juni 2021 Carolyna beserta suaminya berinisiatif untuk mengecek pasar. Salah satunya di Pasar Batu, di mana ia menemukan bahwa kegiatan jual beli yang selama ini dilaporkan lancar ternyata tidak ada alias fiktif. Apalagi, kepala pasar yang selama ini disebut dalam laporan bernama Bambang ternyata bernama Agus Suryadi. Kecurigaan jika dirinya ditipu makin kuat ketika dia bertemu dengan staf gudang pasar yang menceritakan tidak pernah ada pembelian dalam jumlah besar. Hanya ada satu sampai dua krat dengan laporan Rp 500 ribu, padahal aslinya hanya Rp 200 ribu.

Carolyna pun hanya geleng-geleng kepala mengetahui kenyataan tersebut. Padahal satu waktu di gudang pasar tersebut sempat divideokan buah dalam jumlah banyak dan diakui seluruhnya komoditi milik CV. Tapi ternyata milik seseorang bernama Rukiman. Temuan fiktif lain datang ketika mengunjungi Pasar Oro-Oro Dowo dan Pasar Merjosari. Apabila dikalkulasikan berdasarkan tagihan dan laporan, kerugian yang dialami Carol mencapai Rp 8,7 miliar, empat kali lipat dari modal awal.

Informasi yang diterima wartawan koran ini, rupanya Kinanti merupakan residivis kasus penipuan. Hal itu dikuatkan dengan munculnya nama terduga di Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri (PN) Malang, di mana dia dua kali mendapat vonis pada tahun 2017 dan sekali pada 2018. Semua perkara tersebut berkutat pada penipuan dan penggelapan dalam jual beli kamera digital. Carol pun melaporkan kejadian yang dia alami ke Polresta Malang Kota pada 30 November 2021.

Ternyata, terduga juga telah menipu Siswanto, 48 asal Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru. Ketika itu, Kinanti melihat mobil Suzuki Ertiga miliknya dan ditawarkan untuk bergabung dalam usaha sewa mobil. “Kebetulan waktu itu dia ngontrak di tempat saya, Carol itu pun pernah satu kontrakan juga,” kata dia.

Desember 2020, Kinanti mengontrak sendiri di tempat Siswanto. Di sana, dia melihat mobil Ertiga itu yang jarang digunakan korban, Kinanti pun menawarkan kerjasama, lalu diberikan instagram milik Carol agar korban percaya. Lalu keduanya membuat perjanjian di notaris. Sekitar September 2021, tiba saatnya untuk membayarkan pajak lima tahunan. Karena kadung percaya dengan terduga dan posisi korban sedang bekerja di luar Pulau Jawa, BPKB asli mobil nopol N 1696 CX tersebut diberikan, tujuannya untuk membenahi administrasi dan pajak mobil itu.

Betapa kagetnya ketika dia pulang dan hendak mengambil mobilnya pada Oktober 2021, Kinanti tidak mengembalikan sama sekali dengan alasan mobil masih disewakan dan alasan lainnya. Akhirnya setelah didesak baru mengaku kalau mobil digadaikan, BPKB itu dimasukkan leasing BFI. “Sudah dikonfirmasi, ternyata baru nyicil satu bulan lalu menghilang tidak dibayar,” papar Siswanto.

Pelaku diketahui juga menggelapkan satu mobil merk Toyota Rush tahun 2015 putih atas nama ibu Bagus. Rupanya, cara memperoleh mobil itu dengan cara yang sama, yakni dengan dalih mau membetulkan pajaknya.

Hingga kini, terhimpun ada 18 korban penipuan yang dilakukan Kinanti. Informasi yang diterima, Kinanti juga menipu seorang warga negara asing asal Tiongkok pada Desember 2021. Warga asing tersebut memberikan uang sebesar Rp 30 juta yang digunakan untuk membeli tiket pulang. Terduga kala itu beralasan ibunya sakit parah harus segera dioperasi. Semuanya diketahui digunakan untuk keperluan pribadi dan memanjakan kekasihnya yang berinisal I.

Rata-rata, korban penipuan memberikan uang dengan rentang nominal Rp 5 juta sampai Rp 585 juta. Semuanya tidak pernah kembali, kemungkinan, Kinanti telah kabur keluar Malang Raya. Diketahui bahwa Kinanti kerap berpindah tempat, kuat dugaan ia tinggal di suatu kompleks perumahan untuk mencari korban, begitu didapatkan, ia pun kabur.

Jawa Pos Radar Malang sempat berusaha untuk menghubungi terduga melalui pesan singkat WhatsApp. Sayang, nomor tersebut nampak tidak terpakai karena centang satu. Lain cerita dengan ibu Kinanti yang bernama Sumarti. Da tidak mau mengkonfirmasi soal kasus yang dilakukan anaknya. “Saya sedang ada acara keluarga, temui saya besok,” singkat dia melalui sambungan telepon.

Baik Carolyna, dan Siswanto sudah melaporkan perkaranya ke Polresta Malang Kota. Sayang, Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Budi Hermanto mengaku belum mengetahui perkara ini. “Silahkan koordinasi dengan Kasat Reskrim,” ucap dia. Hingga kini, pesan singkat yang dikirimkan ke Kasat Reskrim Polresta Malang Kota Kompol Tinton Yudha Riambodo tidak kunjung dijawab, ia pun tidak merespons telepon yang dilakukan wartawan koran ini. (biy/abm)

MALANG KOTA- Ini harus menjadi pelajaran bagi siapa saja untuk lebih berhati-hati memilih teman. Jangan sampai teman yang sudah dianggap sebagai sahabat sendiri, ternyata justru “memukul” dari belakang. Boleh bersahabat dengan siapa saja, namun jangan mudah member kepercayaan secara penuh. Apalagi kalau sudah urusan duit.

Ini seperti yang dialami  Anastasha Carolyna, 25, warga Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru. Uangnya segede Rp 8 miliar raib diduga akibat tertipu teman dekatnya sendiri: Kinanti Rahayu, 21, juga warga Kelurahan Mojolangu. Kinanti ini dulu juga teman satu kampus dengan Carolyna. Hubungan keduanya begitu dekat. Namun tega-teganya Kinanti membawa lari Rp 8 miliar milik Carolyna. Kasus ini sudah dilaporkan Carolyna ke Polresta Malang Kota.

CEK AKSI PENIPUAN: Anastasha Carolyna (tengah) ketika menelusuri usaha buah-buahan yang dilakukan Kinanti di Pasar Batu , Juni 2021 lalu. (Carolyna for Radar Malang)

Dari data yang dihimpun koran ini, kasus ini berawal dari  join bisnis buah-buahan antara Carolyna dan Kinanti.  Keduanya mendirikan CV. Carolyna sebagai komanditer, sementara Kinanti sebagai direktur perusahaan.

Jauh sebelum pembentukan perusahaan, sekitar bulan Agustus 2020, Kinanti mengajak untuk membuat usaha yang bergerak di perdagangan buah. Saat itu, terduga mengatakan bahwa pembagian keuntungan dalam perusahaan setiap transaksi cukup lumayan. Sehingga Carolyna tertarik investasi dana. Belakangan, ada orang lain yang juga investasi di perusahaan itu. “Awalnya itu dia bilang mau dagang jeruk. Harganya Rp 800 ribu per satu kuintal,” kata dia pada Rabu (9/2).

Pola pembayaran untung per dua minggu itu nampak konsisten sehingga kepercayaan kepada terduga makin tinggi. Pada 21 Januari 2021, keduanya membuat suatu perusahaan dagang dengan komoditas aneka buah seperti alpukat, pisang, rambutan dan lain sebagainya. Saat itu, sasaran dagangnya ialah 19 pasar se-Malang Raya yang menurut Kinanti sudah siap menerima dagangannya. Semuanya memerlukan modal sebesar Rp 2,1 miliar yang disuntik Carolyna.

Janji Kinanti saat itu, hasil pembagian untung akan naik. Sampai April 2021, laporan keuangan makin tidak jelas dan setoran harian yang dijanjikan pada awal pembentukan kian menghilang. Beragam alasan dikemukakan. Mulai lima pasar berhenti operasi selama dua bulan dan lain-lain. “Alasannya bulan Mei ada longsor di Pujon dan Kasembon, pasar yang dituju kena semua. Total tagihan yang mencapai ratusan juta rupiah,” papar Carolyna menirukan dalih Kinanti.

Sebenarnya Carolyna sudah merasa janggal dengan alasan sahabatnya itu. Namun karena peran dia di CV dibatasi, dia tidak bisa terlalu jauh masuk ke teknis usaha. Sementara Kinanti selama ini dianggap paling mengetahui kondisi lapangan.

Barulah pada bulan Juni 2021, di mana ke-19 aktivitas dagang perusahaan ke pasar berhenti total, kala itu, Kinanti mengatakan bahwa ada pembaruan harga. Hal itu pun membuat gusar dia dan investor yang lain. Karena sudah dianggap tidak menguntungkan, Carolyna minta Kinanti mengembalikan dana investasi. Namun seperti kebiasaan orang yang tidak punya itikad baik, Kinanti terlalu banyak alasan. Ini yang membuat Carolyna kehilangan kesabaran.

Pada bulan Juni 2021 Carolyna beserta suaminya berinisiatif untuk mengecek pasar. Salah satunya di Pasar Batu, di mana ia menemukan bahwa kegiatan jual beli yang selama ini dilaporkan lancar ternyata tidak ada alias fiktif. Apalagi, kepala pasar yang selama ini disebut dalam laporan bernama Bambang ternyata bernama Agus Suryadi. Kecurigaan jika dirinya ditipu makin kuat ketika dia bertemu dengan staf gudang pasar yang menceritakan tidak pernah ada pembelian dalam jumlah besar. Hanya ada satu sampai dua krat dengan laporan Rp 500 ribu, padahal aslinya hanya Rp 200 ribu.

Carolyna pun hanya geleng-geleng kepala mengetahui kenyataan tersebut. Padahal satu waktu di gudang pasar tersebut sempat divideokan buah dalam jumlah banyak dan diakui seluruhnya komoditi milik CV. Tapi ternyata milik seseorang bernama Rukiman. Temuan fiktif lain datang ketika mengunjungi Pasar Oro-Oro Dowo dan Pasar Merjosari. Apabila dikalkulasikan berdasarkan tagihan dan laporan, kerugian yang dialami Carol mencapai Rp 8,7 miliar, empat kali lipat dari modal awal.

Informasi yang diterima wartawan koran ini, rupanya Kinanti merupakan residivis kasus penipuan. Hal itu dikuatkan dengan munculnya nama terduga di Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri (PN) Malang, di mana dia dua kali mendapat vonis pada tahun 2017 dan sekali pada 2018. Semua perkara tersebut berkutat pada penipuan dan penggelapan dalam jual beli kamera digital. Carol pun melaporkan kejadian yang dia alami ke Polresta Malang Kota pada 30 November 2021.

Ternyata, terduga juga telah menipu Siswanto, 48 asal Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru. Ketika itu, Kinanti melihat mobil Suzuki Ertiga miliknya dan ditawarkan untuk bergabung dalam usaha sewa mobil. “Kebetulan waktu itu dia ngontrak di tempat saya, Carol itu pun pernah satu kontrakan juga,” kata dia.

Desember 2020, Kinanti mengontrak sendiri di tempat Siswanto. Di sana, dia melihat mobil Ertiga itu yang jarang digunakan korban, Kinanti pun menawarkan kerjasama, lalu diberikan instagram milik Carol agar korban percaya. Lalu keduanya membuat perjanjian di notaris. Sekitar September 2021, tiba saatnya untuk membayarkan pajak lima tahunan. Karena kadung percaya dengan terduga dan posisi korban sedang bekerja di luar Pulau Jawa, BPKB asli mobil nopol N 1696 CX tersebut diberikan, tujuannya untuk membenahi administrasi dan pajak mobil itu.

Betapa kagetnya ketika dia pulang dan hendak mengambil mobilnya pada Oktober 2021, Kinanti tidak mengembalikan sama sekali dengan alasan mobil masih disewakan dan alasan lainnya. Akhirnya setelah didesak baru mengaku kalau mobil digadaikan, BPKB itu dimasukkan leasing BFI. “Sudah dikonfirmasi, ternyata baru nyicil satu bulan lalu menghilang tidak dibayar,” papar Siswanto.

Pelaku diketahui juga menggelapkan satu mobil merk Toyota Rush tahun 2015 putih atas nama ibu Bagus. Rupanya, cara memperoleh mobil itu dengan cara yang sama, yakni dengan dalih mau membetulkan pajaknya.

Hingga kini, terhimpun ada 18 korban penipuan yang dilakukan Kinanti. Informasi yang diterima, Kinanti juga menipu seorang warga negara asing asal Tiongkok pada Desember 2021. Warga asing tersebut memberikan uang sebesar Rp 30 juta yang digunakan untuk membeli tiket pulang. Terduga kala itu beralasan ibunya sakit parah harus segera dioperasi. Semuanya diketahui digunakan untuk keperluan pribadi dan memanjakan kekasihnya yang berinisal I.

Rata-rata, korban penipuan memberikan uang dengan rentang nominal Rp 5 juta sampai Rp 585 juta. Semuanya tidak pernah kembali, kemungkinan, Kinanti telah kabur keluar Malang Raya. Diketahui bahwa Kinanti kerap berpindah tempat, kuat dugaan ia tinggal di suatu kompleks perumahan untuk mencari korban, begitu didapatkan, ia pun kabur.

Jawa Pos Radar Malang sempat berusaha untuk menghubungi terduga melalui pesan singkat WhatsApp. Sayang, nomor tersebut nampak tidak terpakai karena centang satu. Lain cerita dengan ibu Kinanti yang bernama Sumarti. Da tidak mau mengkonfirmasi soal kasus yang dilakukan anaknya. “Saya sedang ada acara keluarga, temui saya besok,” singkat dia melalui sambungan telepon.

Baik Carolyna, dan Siswanto sudah melaporkan perkaranya ke Polresta Malang Kota. Sayang, Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Budi Hermanto mengaku belum mengetahui perkara ini. “Silahkan koordinasi dengan Kasat Reskrim,” ucap dia. Hingga kini, pesan singkat yang dikirimkan ke Kasat Reskrim Polresta Malang Kota Kompol Tinton Yudha Riambodo tidak kunjung dijawab, ia pun tidak merespons telepon yang dilakukan wartawan koran ini. (biy/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/