alexametrics
20.5 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Target Capaian Vaksin Booster di Malang Raya Rendah. Ini Penyebabnya!

MALANG KOTA – Vaksin booster sudah mulai diberikan kepada masyarakat sejak bulan Januari lalu. Namun hingga akhir pekan kemarin (12/3) jumlah warga di Malang Raya yang sudah disuntik vaksin lanjutan masih jauh dari harapan.

Di Kota Malang belum sampai 20 persen, sementara di Kota Batu baru sekitar 7,5 persen. Sedangkan di Kabupaten Malang malah kurang dari lima persen. Belum banyaknya warga yang terjangkau vaksin booster dipicu minimnya stok vaksin yang dimiliki masing-masing pemda (pemerintah daerah) di Malang Raya. Jatah vaksin yang dikirim pemerintah pusat, tak kunjung datang.

Sementara jumlah stok vaksin yang tersedia, masih diprioritaskan untuk warga yang belum menjalani vaksin dosis satu atau dua. Di Kabupaten Malang dan Kota Batu, stok vaksin booster sudah ludes sejak beberapa waktu lalu. Sementara di Kota Malang masih memiliki stok vaksin untuk dosis tiga, namun jenisnya hanya AstraZeneca. Capaian vaksinasi booster di Kota Malang yang baru 19 persen terbilang lumayan jika dibandingkan dua daerah lain di Malang Raya.

Sayangnya, beberapa puskesmas di Kota Malang terkendala dengan rendahnya minat masyarakat terhadap vaksinasi booster. Seperti yang terjadi di Puskesmas Mulyorejo. Pelaksanaan vaksinasi booster terbilang sepi peminat. “Kami sudah buka jadwal (vaksinasi) booster, tapi banyak lansia yang tidak datang, jadi itu kendala kami,” kata Kepala Puskesmas Mulyorejo drg Dinna Indarti. Dinna menambahkan, vaksin booster yang menggunakan jenis AstraZeneca juga kurang diminati.

Beberapa testimoni dari masyarakat terkait vaksin ini yang mengeluh terjangkit kejadian pasca ikut imunisasi (KIPI) mungkin jadi alasan utama. Untuk itu, dia masih menunggu jadwal dan dosis lain yang digunakan untuk vaksinasi booster. “Semoga saja ada alternatif, kami berharap ada dosis lain supaya minat masyarakat ikut vaksin booster tetap ada,” pinta Dinna.

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang hingga kini masih terkendala jatah pasokan vaksin yang kurang. Saat ini yang dinanti adanya tambahan vaksin jenis Pfizer atau Moderna. Yang repot, saat ini sebanyak 2.500 dosis vaksin AstraZeneca yang masih dimiliki telah memasuki expired date (ED) alias kedaluwarsa. ”Hampir di semua daerah termasuk Kota Malang kehabisan stok untuk vaksin booster. Yang ada hanya jenis AstraZeneca, namun akhirakhir ini banyak masyarakat yang pilih-pilih vaksin, sehingga vaksin jenis ini kurang diminati,” ungkap Plt Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Kota Malang drg Muhammad Zamroni.

Meski telah mendapat rekomendasi dari Kemenkes terkait perpanjangan penggunaan vaksin tersebut, Dinkes Kota Malang masih belum mendistribusikannya kepada masyarakat. ”Ada stigma negatif terkait efek atau KIPI yang ditimbulkannya, terutama bagi lansia menimbulkan ketakutan,” imbuh Zamroni. Padahal, efek vaksin tidak selalu sama pada setiap orang. Dari survei ke beberapa lansia, malah mereka tidak menderita KIPI setelah mendapat vaksin AstraZeneca.

Mereka yang merasakan KIPI justru masyarakat yang masuk dalam kategori usia muda. Tak hanya itu, masyarakat saat ini juga menilai vaksinasi reguler dosis pertama dan kedua dinilai sudah cukup. Pemahaman tersebut juga ikut berdampak pada minat masyarakat yang rendah. “Karena persyaratan sekarang ini belum mengharuskan booster. Masih dosis satu dan dua saja cukup, seperti untuk syarat perjalanan,” terang pria yang juga menjabat Ketua Persatuan Dokter Gigi (PDGI) Malang Raya itu.

Di tempat terpisah, Kapolres Malang, AKBP Ferli Hidayat menyebutkan, laporan tim lapangan memastikan stok vaksin booster memang terbatas. “Kalau soal sosialisasi sama sekali tak ada kendala. Karena, masyarakat pun menantikan vaksin booster. Persoalannya, stok vaksin yang memang terbatas. Yang kemarin aja sudah kita habiskan,” ujar Ferli kepada Jawa Pos Radar Malang, kemarin. Menurut alumnus Akpol 2004 ini, sisa stok booster Polres Malang hanya 200 dosis. Sedangkan, stok vaksin lain adalah Sinovac.

Ferli menyebut, Sinovac hanya bisa melayani vaksinasi dosis 1 dan 2 saja. Karena itu, pihaknya masih menyiagakan anggotanya untuk mendorong capaian dosis 1 dan 2. “Sasaran kita adalah lansia yang tidak komorbid. Kami akan dorong terus vaksinasi 1 dan 2. Sedangkan, untuk kebutuhan booster, kami sifatnya menunggu kedatangan stok. Baik dari Dinkes Kabupaten Malang maupun Polda Jatim. Begitu stok datang, akan kami gas lagi sosialisasi boosternya,” papar perwira kelahiran Palembang itu.(adn/fin/fif/nay)

MALANG KOTA – Vaksin booster sudah mulai diberikan kepada masyarakat sejak bulan Januari lalu. Namun hingga akhir pekan kemarin (12/3) jumlah warga di Malang Raya yang sudah disuntik vaksin lanjutan masih jauh dari harapan.

Di Kota Malang belum sampai 20 persen, sementara di Kota Batu baru sekitar 7,5 persen. Sedangkan di Kabupaten Malang malah kurang dari lima persen. Belum banyaknya warga yang terjangkau vaksin booster dipicu minimnya stok vaksin yang dimiliki masing-masing pemda (pemerintah daerah) di Malang Raya. Jatah vaksin yang dikirim pemerintah pusat, tak kunjung datang.

Sementara jumlah stok vaksin yang tersedia, masih diprioritaskan untuk warga yang belum menjalani vaksin dosis satu atau dua. Di Kabupaten Malang dan Kota Batu, stok vaksin booster sudah ludes sejak beberapa waktu lalu. Sementara di Kota Malang masih memiliki stok vaksin untuk dosis tiga, namun jenisnya hanya AstraZeneca. Capaian vaksinasi booster di Kota Malang yang baru 19 persen terbilang lumayan jika dibandingkan dua daerah lain di Malang Raya.

Sayangnya, beberapa puskesmas di Kota Malang terkendala dengan rendahnya minat masyarakat terhadap vaksinasi booster. Seperti yang terjadi di Puskesmas Mulyorejo. Pelaksanaan vaksinasi booster terbilang sepi peminat. “Kami sudah buka jadwal (vaksinasi) booster, tapi banyak lansia yang tidak datang, jadi itu kendala kami,” kata Kepala Puskesmas Mulyorejo drg Dinna Indarti. Dinna menambahkan, vaksin booster yang menggunakan jenis AstraZeneca juga kurang diminati.

Beberapa testimoni dari masyarakat terkait vaksin ini yang mengeluh terjangkit kejadian pasca ikut imunisasi (KIPI) mungkin jadi alasan utama. Untuk itu, dia masih menunggu jadwal dan dosis lain yang digunakan untuk vaksinasi booster. “Semoga saja ada alternatif, kami berharap ada dosis lain supaya minat masyarakat ikut vaksin booster tetap ada,” pinta Dinna.

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang hingga kini masih terkendala jatah pasokan vaksin yang kurang. Saat ini yang dinanti adanya tambahan vaksin jenis Pfizer atau Moderna. Yang repot, saat ini sebanyak 2.500 dosis vaksin AstraZeneca yang masih dimiliki telah memasuki expired date (ED) alias kedaluwarsa. ”Hampir di semua daerah termasuk Kota Malang kehabisan stok untuk vaksin booster. Yang ada hanya jenis AstraZeneca, namun akhirakhir ini banyak masyarakat yang pilih-pilih vaksin, sehingga vaksin jenis ini kurang diminati,” ungkap Plt Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Kota Malang drg Muhammad Zamroni.

Meski telah mendapat rekomendasi dari Kemenkes terkait perpanjangan penggunaan vaksin tersebut, Dinkes Kota Malang masih belum mendistribusikannya kepada masyarakat. ”Ada stigma negatif terkait efek atau KIPI yang ditimbulkannya, terutama bagi lansia menimbulkan ketakutan,” imbuh Zamroni. Padahal, efek vaksin tidak selalu sama pada setiap orang. Dari survei ke beberapa lansia, malah mereka tidak menderita KIPI setelah mendapat vaksin AstraZeneca.

Mereka yang merasakan KIPI justru masyarakat yang masuk dalam kategori usia muda. Tak hanya itu, masyarakat saat ini juga menilai vaksinasi reguler dosis pertama dan kedua dinilai sudah cukup. Pemahaman tersebut juga ikut berdampak pada minat masyarakat yang rendah. “Karena persyaratan sekarang ini belum mengharuskan booster. Masih dosis satu dan dua saja cukup, seperti untuk syarat perjalanan,” terang pria yang juga menjabat Ketua Persatuan Dokter Gigi (PDGI) Malang Raya itu.

Di tempat terpisah, Kapolres Malang, AKBP Ferli Hidayat menyebutkan, laporan tim lapangan memastikan stok vaksin booster memang terbatas. “Kalau soal sosialisasi sama sekali tak ada kendala. Karena, masyarakat pun menantikan vaksin booster. Persoalannya, stok vaksin yang memang terbatas. Yang kemarin aja sudah kita habiskan,” ujar Ferli kepada Jawa Pos Radar Malang, kemarin. Menurut alumnus Akpol 2004 ini, sisa stok booster Polres Malang hanya 200 dosis. Sedangkan, stok vaksin lain adalah Sinovac.

Ferli menyebut, Sinovac hanya bisa melayani vaksinasi dosis 1 dan 2 saja. Karena itu, pihaknya masih menyiagakan anggotanya untuk mendorong capaian dosis 1 dan 2. “Sasaran kita adalah lansia yang tidak komorbid. Kami akan dorong terus vaksinasi 1 dan 2. Sedangkan, untuk kebutuhan booster, kami sifatnya menunggu kedatangan stok. Baik dari Dinkes Kabupaten Malang maupun Polda Jatim. Begitu stok datang, akan kami gas lagi sosialisasi boosternya,” papar perwira kelahiran Palembang itu.(adn/fin/fif/nay)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/