alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Dapat Bisikan, Pria di Malang Ini Diduga Bunuh Ibu Kandung

MALANG – Tengara sesosok mayat perempuan yang ditemukan Kamis lalu (11/2) di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung adalah korban pembunuhan diungkap Polres Malang. Korban bernama Mistrin, 56, warga Jalan Abiyoso, Desa Sumberpucung, Kecamatan Sumberpucung, diduga kuat telah dibunuh putra kandungnya sendiri, Arifudin Hamdy, 36. Seperti diketahui, kasus tersebut pertama kali mencuat setelah mayat korban ditemukan di bekas mes Pembangkitan Jawa–Bali (PJB) UP Brantas.

Saat ditemukan, mayatnya sudah berada dalam kondisi mengenaskan. Tubuh wanita tersebut terkubur setengah badan dalam keadaan terbalik dengan bagian perut ke atas tertanam, sementara bagian kakinya berada di atas. Kurang dari 24 jam sejak penemuan mayat tersebut, jajaran Polres Malang akhirnya berhasil membongkar motif kasus sekaligus tersangkanya. Jumat malam (12/2) polisi meringkus Arifudin Hamdy.

Kapolres Malang AKBP Hendri Umar memaparkan kronologi kasus pembunuhan itu. Dia menyebut bila kasus itu bermula dari aktivitas korban dan tersangka yang menemui dukun dari Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, pertengahan Januari lalu. ”Dari informasi yang didapat, mereka menanyakan keberadaan harta karun yang berada di sekitar kios tempat berjualan si korban,” jelas Hendri.

Setelah bertemu dengan dukun tersebut, ibu dan anak itu beranggapan ada harta karun yang tertanam di bangunan tua yang terbengkalai di PJB UP Brantas yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP) ditemukannya mayat Mistrin. ”Pada 26 Januari lalu korban meminjam cangkul dan sabit kepada tetangga kiosnya. Itu digunakan untuk menggali di area bangunan tua tersebut,” imbuh polisi kelahiran Solok, Sumatera Barat, itu.

Hendri menambahkan, korban sebenarnya sempat memerintahkan tersangka untuk tidak mengikutinya. Si anak juga mendapat perintah untuk menjaga kios milik keluarga. ”Namun, di tengah jalan si tersangka menyusul ke TKP,” tambahnya. Dari keterangan tersangka yang dihimpun polisi, korban juga dinyatakan tak sadarkan diri setelah melakukan penggalian. ”Iya, dari pengakuan si tersangka, saat itu korban dalam keadaan pusing,” kata perwira kelahiran 26 Februari 1981 tersebut.

Penelusuran polisi lainnya juga menyebut bila tersangka mengaku mendapat bisikan dari roh halus yang mengatakan bahwa dia harus mendorong korban ke dalam lubang yang telah digalinya. ”Saat itu tersangka berharap, setelah mendorong ibunya, maka akan keluar harta karunnya,” kata Hendri. Dorongan itulah yang membuat tubuh Mistrin tersungkur dan berada dalam posisi terbalik. Dari pengecekan TKP, ada dugaan bila tersangka juga sempat mengubur korban dengan bekas tanah galian.

Setelah menemukan korban, polisi lantas melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap mayat korban di RSSA Malang. Dari tahap itu, ditemukan fakta bahwa korban sudah meninggal sekitar dua pekan lalu.
Hasil pemeriksaan medis lainnya juga tidak mendapati tanda-tanda pemukulan terhadap korban. Polisi dan petugas medis tak menemukan luka dan memar bekas pukulan benda tumpul ataupun benda tajam. Hanya ada sedikit memar di bagian punggung korban yang ditemukan. Dari bekas luka itulah polisi mengindikasi adanya dugaan penganiayaan. ”Sehingga kasus ini kami nyatakan sebagai pembunuhan,” kata Hendri.

Sementara itu, Arifudin mengakui bila dia mendapat informasi adanya harta karun di bangunan tua tersebut. ”Kamu nanti akan dapat harta karun dan bisa membiayai keperluan keluarga,” kata dia menirukan kata-kata dari dukun yang sudah ditemuinya. Lebih lanjut, dia menyebut bila wujud dari harta karun itu nantinya berupa berlian. Dari sanalah dia dan ibunya akhirnya tergiur untuk mendapatkannya. ”Setelah itu, ibu saya menggali sendiri. Pas saya ke sana, orangnya sudah nggak sadar, mungkin pusingnya kambuh,” kata dia.

Senada dengan apa yang disampaikan Hendri, dia juga berdalih telah mendapatkan bisikan dari roh halus yang menyuruhnya untuk mendorong ibunya agar mendapatkan harta karun tersebut. ”Saya lihat ada yang narik dari tanah, di situ angker. Di lubangnya ada penghuninya,” imbuhnya. (rmc/ajh/c1/by)

MALANG – Tengara sesosok mayat perempuan yang ditemukan Kamis lalu (11/2) di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung adalah korban pembunuhan diungkap Polres Malang. Korban bernama Mistrin, 56, warga Jalan Abiyoso, Desa Sumberpucung, Kecamatan Sumberpucung, diduga kuat telah dibunuh putra kandungnya sendiri, Arifudin Hamdy, 36. Seperti diketahui, kasus tersebut pertama kali mencuat setelah mayat korban ditemukan di bekas mes Pembangkitan Jawa–Bali (PJB) UP Brantas.

Saat ditemukan, mayatnya sudah berada dalam kondisi mengenaskan. Tubuh wanita tersebut terkubur setengah badan dalam keadaan terbalik dengan bagian perut ke atas tertanam, sementara bagian kakinya berada di atas. Kurang dari 24 jam sejak penemuan mayat tersebut, jajaran Polres Malang akhirnya berhasil membongkar motif kasus sekaligus tersangkanya. Jumat malam (12/2) polisi meringkus Arifudin Hamdy.

Kapolres Malang AKBP Hendri Umar memaparkan kronologi kasus pembunuhan itu. Dia menyebut bila kasus itu bermula dari aktivitas korban dan tersangka yang menemui dukun dari Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, pertengahan Januari lalu. ”Dari informasi yang didapat, mereka menanyakan keberadaan harta karun yang berada di sekitar kios tempat berjualan si korban,” jelas Hendri.

Setelah bertemu dengan dukun tersebut, ibu dan anak itu beranggapan ada harta karun yang tertanam di bangunan tua yang terbengkalai di PJB UP Brantas yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP) ditemukannya mayat Mistrin. ”Pada 26 Januari lalu korban meminjam cangkul dan sabit kepada tetangga kiosnya. Itu digunakan untuk menggali di area bangunan tua tersebut,” imbuh polisi kelahiran Solok, Sumatera Barat, itu.

Hendri menambahkan, korban sebenarnya sempat memerintahkan tersangka untuk tidak mengikutinya. Si anak juga mendapat perintah untuk menjaga kios milik keluarga. ”Namun, di tengah jalan si tersangka menyusul ke TKP,” tambahnya. Dari keterangan tersangka yang dihimpun polisi, korban juga dinyatakan tak sadarkan diri setelah melakukan penggalian. ”Iya, dari pengakuan si tersangka, saat itu korban dalam keadaan pusing,” kata perwira kelahiran 26 Februari 1981 tersebut.

Penelusuran polisi lainnya juga menyebut bila tersangka mengaku mendapat bisikan dari roh halus yang mengatakan bahwa dia harus mendorong korban ke dalam lubang yang telah digalinya. ”Saat itu tersangka berharap, setelah mendorong ibunya, maka akan keluar harta karunnya,” kata Hendri. Dorongan itulah yang membuat tubuh Mistrin tersungkur dan berada dalam posisi terbalik. Dari pengecekan TKP, ada dugaan bila tersangka juga sempat mengubur korban dengan bekas tanah galian.

Setelah menemukan korban, polisi lantas melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap mayat korban di RSSA Malang. Dari tahap itu, ditemukan fakta bahwa korban sudah meninggal sekitar dua pekan lalu.
Hasil pemeriksaan medis lainnya juga tidak mendapati tanda-tanda pemukulan terhadap korban. Polisi dan petugas medis tak menemukan luka dan memar bekas pukulan benda tumpul ataupun benda tajam. Hanya ada sedikit memar di bagian punggung korban yang ditemukan. Dari bekas luka itulah polisi mengindikasi adanya dugaan penganiayaan. ”Sehingga kasus ini kami nyatakan sebagai pembunuhan,” kata Hendri.

Sementara itu, Arifudin mengakui bila dia mendapat informasi adanya harta karun di bangunan tua tersebut. ”Kamu nanti akan dapat harta karun dan bisa membiayai keperluan keluarga,” kata dia menirukan kata-kata dari dukun yang sudah ditemuinya. Lebih lanjut, dia menyebut bila wujud dari harta karun itu nantinya berupa berlian. Dari sanalah dia dan ibunya akhirnya tergiur untuk mendapatkannya. ”Setelah itu, ibu saya menggali sendiri. Pas saya ke sana, orangnya sudah nggak sadar, mungkin pusingnya kambuh,” kata dia.

Senada dengan apa yang disampaikan Hendri, dia juga berdalih telah mendapatkan bisikan dari roh halus yang menyuruhnya untuk mendorong ibunya agar mendapatkan harta karun tersebut. ”Saya lihat ada yang narik dari tanah, di situ angker. Di lubangnya ada penghuninya,” imbuhnya. (rmc/ajh/c1/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/